Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 68


__ADS_3

"Yaaah..." seru Zea saat tak sengaja ia menjatuhkan celana piyamanya yang mendadak licin kaya belut, entah tangannya begitu sibuk sampai celananya merosot begitu saja tanpa tertangkap lagi kemudian basah di lantai kamar mandi, sebasah rambut yang baru saja ia keramasi.


Ingin ia berteriak, si alannnn! Namun ia urungkan mengingat Saga pasti akan terkejut dengan bahasa kalbunya yang bar-bar dan menegurnya karena telah mengumpat.


Rambut yang masih mengucurkan air dan semrawut itu terpaksa di garuknya karena mendadak gatal, "ini gimana keluarnya?" Zea menyesal hanya membawa handuk kecil untuk rambut saja yang bahkan tak cukup untuk membalut tubuh bagian bawahnya.


"Ah, tau gini tadi bawa handuk yang gede sekalian."


Emang dasar ia'nya saja yang ribet, ingin meminta tolong Saga, namun lelakinya itu sedang khusyuk makan, Zea membuka celah pintu kamar mandi sedikit dan mengintip Saga dari sana macam ngintipin anak bujang lagi telan jang.


"Abang ngga nungguin aku makan ih!" ia menggebrak pintu dari dalam sambil berteriak kesal karena ditinggal makan, padahal kan ekspektasinya pengantin baru itu suap-suapan, sepiring berdua sambil rebutan ayam manja kaya singa kelaparan, tapi memang Zea harus memaklumi karena mengingat makhluk di depannya itu sejenis pohon beringin, hidup tapi tak berhati.


Saga hanya menghela nafas ringan, sepertinya memang benar Zea itu sejenis siluman kera yang senengnya teriak-teriak, tak tau istri tersayangnya itu sodaraan sama toa yang doyannya koar-koar.


"Lama." jawab Saga, "nanti abang temenin adek makan. Makanya buruan mandinya. Kamu mandi apa tidur di dalem?"


"Main congklak!" tukasnya cepat.


"Abang celana aku jatoh ih," katanya. Saga hanya menoleh singkat ke arah pintu kamar mandi lalu kembali menyuapkan nasinya.


"Bangunin." dengan entengnya ia menjawab berkelakar.


"Ck. Ngga lucu..." jawab Zea membuat Saga mengulas senyuman geli.


"Tolong ambilin handuk ih, yang ini kecil susah dililitnya." Ujar Zea merengek.


"Tangan abang masih kotor dek, keluar aja ngga usah malu-malu, udah sah ini kok, pahala'lah buat istri yang mau buka-bukaan di depan suami," alasannya enggan memenuhi permintaan Zea karena sudah posisi enak menyuap, Saga juga bermaksud mengusili istrinya itu, mengetes seberapa berani anak gadis orang, apakah Zea tipe bar-bar tapi malu-malu mpuss seperti kebanyakan gadis atau justru ia memang lebih berani dari gadis lain seperti yang terlihat dari luar.


Namun sepertinya perkiraan Saga salah jika menganggap Zea akan marah-marah atau malu-malu mpuss, karena nyatanya Zea dengan berani keluar dari kamar mandi hanya memakai piyama bagian atas dan bawahan cawaatt saja, mengekspos sebagian tubuh bawahnya yang mulus bak pualam.


"Kaya gini?" tanya nya menantang berkacak pinggang setengah menggoda, sontak saja Saga langsung tersedak oleh campuran makanan, saliva dan keterkejutan melihat Zea begitu.


"Uhukkk---uhuuukkk!" Sagara menyambar gelas dan mengisi air minum untuknya.


"Hahaha...." tawanya, bukannya menepuk-nepuk punggung atau memberikan minum, Zea malah berlari kecil ke arah kamar sambil cekikikan.


"Yeee, katanya nantangin, giliran dijabanin abang yang kelimpungan sendiri!" serunya dari dalam kamar dan segera mengunci pintu kamar.


"Nakal!" seringai Saga bergegas mencuci tangannya bersama piring kotor bekasnya.


Sagara masih tahan naf suunya, kalau cuma membuka tirai bawah saja, ia masih bisa menahan hawa panas. Mungkin untuk jaman sekarang, gadis dengan bagian tubuh sexy terekspos itu sudah biasa, makanya jaman sekarang banyak sekali tindakan kriminal pele cehan, bukan hanya karena kaum adam yang mata keranjang saja, melainkan gadis jaman kini kebanyakan mengundang lebah untuk hinggap dengan penampilannya.


Zea mendudukan dirinya di atas ranjang, empukkk! Ia melongokan kepalanya ke arah ranjang Sagara, percaya! Keluarga Sagara horang kaya! Ngga mungkin pake ranjang butut bin bobrok, ketimbang gelontorin uang beberapa juta saja untuk beli ranjang mah hal kecil, kaya beli permen.


Disana ia mengoleskan lotion dan skin care sehabis mandi seperti biasanya, namun matanya mengedar meneliti sekitar demi mengabsen kekurangan dari rumah dinas Saga.


Mungkin rumah dinas Saga bisa dibilang cukup layak untuk ditinggali, cuma memang dasarnya mulut dan hati Zea yang julid saja membanding-bandingkan rumah dinas ini dengan rumahnya, yang jelas-jelas bak bumi dan khayangan.


"Lumayan sih, mirip kost'an gue lah. Cuma kamar mandinya aja yang jelek." ujarnya bergumam.


Ia keluar dari kamar setelah berganti piyama, dimana Saga sudah duduk di depan kursi ruang depan.


"Makan dulu." Titahnya, Zea mengangguk, mengingat perutnya pun sudah lapar, "katanya abang mau nemenin...."



Saga memperhatikan Zea yang lahap makan, sebagai seorang gadis yang baru beradaptasi hidup dengan seseorang di kesehariannya, Zea cukup cuek dan jauh dari kata canggung. Lihatlah betapa lahapnya ia menyuap di depan Sagara tanpa takut terlihat jelek atau malu sampai pipinya menggembung, dan itu cukup membuat Saga tersenyum gemas.



"Honeymoonnya kita tunda dulu berarti ya? Tapi nanti pasti bakalan susah lagi, bang." gerutunya dengan mulut penuh makanan.



"Ck. Apa Zea tunda aja dulu urusin administrasi kampusnya sampe kita selesai honeymoon? Kapan lagi kan, abang dapet cuti panjang?"



"Ya jangan gitu lah, ntar apa tanggapannya. Kaya seolah-olah kamu ngga serius buat nerusin kuliah," jawab Saga.

__ADS_1



"Terus gimana, masa ngga jadi ke Maldives'nya?" Zea langsung manyun dibuatnya, pundaknya mendadak turun bak daun yang layu.



"Kalo Maldivesnya dituker sama yang deket aja, di dalam negri gimana? Sekalian bantu umi sama Kalingga pindahan juga?" tawar Saga.



Alisnya langsung berkerut kisut, "pindahan?"



"Umi sama abi kan baru balik lagi ditugaskan di ibukota, jadi belum sepenuhnya mindahin barang-barang, dan sekolah Kalingga. Katanya bulan ini, Kalingga baru pindah sekolah di ibukota, bareng Panji."



"Jadi?"



"Kita honeymoon ke timur? Tempat dimana abang lahir, biar kamu tau tempat kelahiran abang..." tanya Saga hati-hati, pada Zea yang terkadang mode princessnya itu muncul tak tau situasi dan kondisi, "abang orang timur?! Kok ngga item?!" tanya nya.



"Emang orang timur mesti item semua? Kamu orang ibukota tapi ngga mirip ondel-ondel?" balas Saga.



"Ck! Masa ondel-ondel!" Zea mendelik membuat Saga terkekeh, "terus apa? Dodol?"



"Emang Zea selembek itu?"




Zea menatap Saga namun pikirannya itu sedang memikirkan tawaran suaminya, rencana indah yang sudah disusun rapi-rapi harus ambyar lagi karena urusan kampus.



"Gimana?"



Zea mele nguh, "daripada engga...ya udah deh." ia merengut kecewa.



Saga menyunggingkan senyum dan mengusap pucuk kepala Zea, "nice girl..."



"Abang siap-siap dulu, mau magrib di masjid." Ia beranjak dari duduknya, "terus, Zea ditinggal disini gitu?"



"Kalo adek mau ikut berjamaah di masjid, ya ayok." Jawab Saga sudah di dalam kamar.



"Ikut ah! Di rumah sendirian takut ada se tan!" ia segera beranjak dan mencuci tangan serta piring. Zea cukup mandiri untuk melakukan hal ini mengingat pernah lama berada di negri orang sendirian.



Zea tersenyum hangat melihat lipatan mukena pemberian Saga tadi sore, dan langsung ia pakai untuk solat pertama bersama kali ini.

__ADS_1



"Dek, ayok."



Seorang lelaki dengan songkok, kemko maroon dan sarung senada menjadi suguhan pemandangan indah waktu magrib di markas militer ini.



Zea mengangguk di balik mukena atasan yang sudah ia pakai, "yuk!"



Sungguh moment receh yang menurut Zea begitu berkesan, Saga mengunci pintu rumah dan berjalan bersama ke arah masjid.



"Masya Allahhhhhh, bikin gue greget Ga! Mentang-mentang penganten baru, mesti nempel berdua kemana-mana..." Luki menepuk bahu Izan gemas melihat Zea dan Saga pergi beribadah bersama.



"Ck! Lo gregetnya jangan ke gue!" pelotot Izan menepis tangan Luki.



"Mau bareng atau..." tanya Sagara merangkul Zea dari balutan mukenanya.



"Duluan aja, hati gue empet-empetan liat lo berdua..." ujar Luki.



Zea tertawa mendengarnya, "kalo gitu Zea sama abang duluan, bang Ki...bang Zan.." diangguki keduanya.



"Kayanya ntar malem bakalan ada gempa, Ki..." ujar Izan berseloroh terdengar oleh Zea dan Saga.



"Bukan gempa bang, tsunami!" balas Zea tak kalah kencang seraya melemparkan senyum, yang langsung ditarik Sagara, "udah telat, cepet." Mulut Zea ternyata cukup los dol kaya keran air.



Langkah keduanya bersambut dengan Rudi yang berjalan sendirian, sama-sama hendak ke masjid.



"Ga, Ze..." sapanya.



"Bang, sendirian?"



"Iya. Luna solat di rumah, biasalah katanya mager apalah itu..." jawabnya tersenyum getir melihat Saga dan Zea, yang notabenenya sama-sama pengantin baru.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2