Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 78


__ADS_3

Zea bergidik, bahkan ia mengusap-usap kulitnya mulai dari lengan, leher, dan kaki. Merasa jika geliat ulat-ulat itu menggerayanginya.


Saga yang sudah selesai dengan tawanya mendekati Zea, wanitanya itu nyengir geli melihat mama Katarina dan Friska melahap ulat yang masih hidup dalam sekali suap. Hanya dibuang bagian kepalanya saja.


"Ueekkk, hihhh!" ia memalingkan pandangan ke lain arah yang sudah berkaca-kaca saking gelinya dan menepuk-nepuk lutut pelan.


Saga menenggelamkan wajah Zea di dekapannya, lalu mengecup pucuk kepala Zea. Melihat reaksi dan ekspresi Zea, Saga tak tega melihatnya.


"Abang ngga akan minta kamu nyoba itu, apalagi maksa." Ia lantas mengambil air mineral dari noken yang saat istirahat tadi ia ambil alih dari kepala Zea, katanya wanitanya itu mendadak sakit kepala ketika noken terlalu lama menggantung di kepalanya.


"Minum dulu," titahnya.



Batang-batang pohon sagu telah dibawa oleh sebagian pemuda ke desa, sementara yang lain meneruskan perjalanan ke arah ladang ubi termasuk Zea dan Saga.



Lahan seluas satu hektar yang sengaja dibuka oleh warga ini, tentu saja sudah mendapatkan ijin dari pemerintah. Tidak seperti honeymoon kebanyakan, pasangan ini justru menghabiskan waktu bersama warga.



"Kaka!" Friska melambaikan tangannya meminta Zea menghentikan aksinya menggali tanah demi menemukan ubi dan segera makan ubi bakar buatannya.



"Nah! Kalo ini Zea suka!" gumamnya menepuk-nepuk celana kotor dengan tangan kotornya, tak ada lagi pakaian bersih setelah moment ini. *Honeymoon rasa adventure*.



Ia tertawa dan bersenda gurau sembari menikmati ubi bakar, "baru tau loh, ubi disini gede-gede uhhhhhh! Segede pa ha Zea tau ngga!" Zea bahkan memotret besaran ubi-ubi dengan dirinya di samping hasil panen.



"\# *Yang mau pesen ubi timur, p.o sebelum keabisan! Dijamin rasanya timur banget, seperti kamu menjadi cendrawasih*..." ucapnya mengetik itu di sosmednya. Mama Katarina tertawa melihat tingkah Zea, "anak menteri jual ubi, e?"



"Oh, yang menteri kan bapaknya, mama...kalo anaknya ya rakyat jelata..." jawab Zea sambil menikmati ubi matang nan manis di balik kulit gosongnya.



Harmonisasi manusia bersama alam ditunjukan dengan sikap peduli mereka, disaat manusia serakah lain berlomba-lomba merusak alam beserta ragam hayati di dalamnya. Warga kampung sini, mengajarkan Zea untuk selalu menghormati alam, dengan meregenerasi apa yang telah mereka ambil sebelumnya.



Zea mengamati sekelilingnya sambil menikmati air nira, ia sudah mandi dan sudah bersih sekarang. Hanya rasa lelah mendera setelah seharian ini bertualang.


Senja menyapanya di undakan teras rumah mama Katarina, "ngga mau gabung sama umi?" Saga ikut duduk di sampingnya.


Zea menggeleng, "lagi pengen nyimpen potret senjanya timur di ingatan," jawabnya so puitis. Saga terkekeh, "kalo emang kangen, nanti bisa kesini lagi."


Zea mengangguk-angguk setuju, "tapi mungkin akan susah."

__ADS_1


Tangan besar Saga meraih tangan Zea lalu membawanya menempel di bibir, cup!


"Umi bangun rumah disini, umi juga punya yayasan pemuda timur...jadi akan selalu ada waktu. Kalau abang sibuk, kamu duluan...nanti abang nyusul..." senyumnya mengerti jika kesulitan itu bermuara di pekerjaan Sagara.


"Siap-siap, sebentar lagi kita berangkat. Katanya mau honeymoon? Abang sudah booking hotel persis di tempat dimana kamu bisa melihat keindahan timur...."


Zea terkikik geli lalu menepuk bahu Saga, "gercep banget pak! Kejar setoran?"



Kardus-kardus oleh-oleh terpaksa Fara kirim lewat cargo, karena tak akan muat dan bermasalah nantinya jika hanya memesan seat biasa.



"Umi, abi sama Lingga duluan pulang. Hati-hati kalian, pulang bawa kabar baik!" umi Fara menegaskan pandangan saat kata terakhirnya.



Zea memandang Saga dengan lirikan geli, "beres! Umi mau berapa? 1, 2, 3, 4, 10?"



Al Fath bahkan menaikan alisnya, sementara Kalingga cengengesan.



"Mi, kita disini cuma mau menghabiskan waktu berdua selama 2 hari aja. Karena masa cuti Saga habis. Ngga mungkin langsung jadi..." bantah Saga.




TETOTT!



Zea tertawa melihat wajah suaminya, tangannya mendorong kepala Saga pelan, "maksud umi kemaren waktu transit, Ze sama umi liat tas lucu dari rotan sama batok kelapa, bang...kalo masih ada, umi mau titip dibeliin itu buat merchandise pas pertemuan sama ibu-ibu batalyon."



Kalingga menyemburkan tawanya, ketiga lelaki itu salah paham rupanya termasuk sang abi.



"Oh." Al Fath mode on kini terpasang di wajah Saga dan Al Fath.



"Kamu yang mikirnya udah ke anak aja..." colek Fara di hidung Saga. Zea semakin tergelak melihat wajah datar suaminya yang menyembunyikan rasa malu, sadar akan tawa bernada cibiran, Saga mendekap kepala Zea dan memasukannya ke ketiak, "aduhh ih!"



Saat announcer sudah memanggil, mereka masuk menggiring serta kenangan yang telah terpatri di dalam dadha. Mereka berpisah di penerbangan selanjutnya, ketika Fara dan Al Fath juga Kalingga melanjutkan penerbangan, Saga dan Zea meneruskan acara honeymoon keduanya.

__ADS_1



"Akhirnya jaring ikan bisa berguna juga sekarang," kekehnya menaik turunkan alis ketika sampai di hotel.



Hotel yang dipesan Saga tak main-main, berada di antara perbukitan, menawarkan pemandangan yang indah bak di Shangri-La (surga).



Digusurnya koper berisi pakaian serta perlengkapan mereka ke arah kamar, dan Zea melongokan wajahnya ke depan kaca yang menyuguhkan pemandangan kawasan ini.



"Mau istirahat dulu atau langsung?" tanya Saga menyusul Zea di depan jendela kamar.



Sontak saja alisnya berkerut dan menoleh kebingungan, "kemana?"



Saga menyunggingkan senyumnya, "to heaven.."



Tangannya merambat menjalari perut Zea, merapatkan posisi dan mengunci bi rahi. Si empunya meremang ketika hembusan nafas Saga menerpa kulit tengkuk dan sebagian telinga, membuat Zea lemah akannya.



Ranjang empuk nan besar memang di desain untuk pasangan yang ingin menghabiskan waktu malam yang panjang, sepertinya. Karena terbukti, seolah tak ada waktu lain lagi, keduanya melahap rakus surga dunia yang didamba.



Pakaian teronggok begitu saja dekat jendela kamar, tak peduli mereka menjadi saksi bisu, menggilanya sepasang pengantin baru di atas ranjang panas.



"Abanggghhhh!" ia menthesah dan melenguh ke sekian kalinya, seraya punggung yang melengkung sempurna ketika Saga menenggelamkan diri semakin dalam, permainan itu membuktikan jika stamina prajurit memang sekuat itu. Bunyi peraduan tak lagi ditutupi oleh lirih nada dari pemutar musik seperti waktu lalu, Saga memilih membiarkan itu menjadi pengiring keduanya meraih puncak. Semakin intens dan kencang, semakin Saga menggila dibuatnya, Zea begitu cantik di bawah kuasanya.



Kembali ia mengayun Zea yang telah bermandikan keringat meski AC dinyalakan, cengkraman kuat Zea di selimut adalah bukti nyata jika Sagara begitu mendambanya.



Sagara benar-benar menghabisi Zea, namun wanita itu dengan senang hati memberikannya. Bahkan Zea tak segan untuk berada di posisi atas, mengambil alih nahkoda kapal untuk berlayar di atas lautan kenik matan.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2