
"Papiku menteri loh!"
"Kerjanya mikirin nasib rakyat, pembantunya presiden...."
Zea memandang ke arah pucuk dedaunan yang terdapat sinar terang langit senja diantara celah-celah daunnya yang saling bersentuhan seolah menari-nari ria bersama tawa canda sang angin. Sekelebat bayangan kecilnya yang bangga akan sang papa terlintas bak cuplikan film.
"Bangga?"
"Bangga dong!"
Lalu tiba-tiba tergantikan oleh wajah garang Ajay yang menyeringai dengan gigi-gigi kuning dan rambut kepang semrawutnya, ciri khas anak pantai kalo males nyisir rambut.
"Bapakmu itu, adalah manusia egois yang sukanya menyusahkan orang kecil macam kami.... Makhluk so suci yang so-soan tak suka uang!"
"Bapak kau itu paling senang ikut campur urusan kami-kami yang miskin. Padahal kerjanya cuma tinggal duduk saja di kursi sana ngurusi arisan berlian para bapak-bapak yang makan gaji buta!"
"Dunia terlalu keras nona, sedikit ikut campur urusan orang itu lebih baik. Tak usah mengatasnamakan hati nurani dan kewajiban, karena kami lebih paham kewajiban untuk memberi makan anak-anak kami...."
"Dunia memiliki hukum rimbanya sendiri, siapa yang kuat dan pintar dia yang bertahan, tidak usah terlalu naif dengan memikirkan hati nurani, karena orang-orang di luar sana tidak cukup berhati nurani untuk sekedar memberi makan anak-anak dan adik kami...."
Seketika pendengarannya akan dunia meredup dan sayup-sayup, justru degupan jantung yang semakin cepat lebih bergema ketimbang tangisan lirih Clemira.
**Deg--deg--deg--deg--deg--deg**....
Netra beningnya melihat sosok Sagara yang datang menembak habis para penjahat itu. Apakah ia kembali berhalusinasi? Ataukah justru itu malaikat yang Tuhan berikan untuk menjemputnya?
*Abang ini Zea gimana*?!
*Zea, stay with me, Ze*....
Zea.....
Nafasnya terasa semakin sesak, sampai-sampai Zea merasa jika pasokan oksigen di sekitarnya habis meski ia sudah berusaha menghirup sedalam mungkin, matanya terasa panas seiring dengan rasa panas di lengan sebelah kiri, tubuhnya seketika terpental jatuh hingga terbaring di tanah tak kuat menahan hentakan timah panas yang menembus lengan kirinya.
Zea melirik luka tembak di lengannya yang mulai melelehkan cairan merah membasahi jaket hijau Desta X kebangaannya, rasa sakit nan panas menjalari lengan hingga ke ulu hati.
Dalam dekapan Dina, ia masih tersadar untuk sekedar melihat Sagara menghabisi ketiga penjahat itu dalam 3 kali lesatan peluru, lalu selanjutnya dapat ia saksikan mereka berjatuhan bak hewan buruan di tangan lelaki yang ia gaungkan namanya dalam relung hati paling dalam. Sagara bahkan tak segan-segan menginjak habis-habisan Todi yang masih terlihat bernyawa, hingga ia benar-benar tak lagi bergerak.
Matanya melotot memerah ketika ajal menjemput, Zea dapat lihat seseorang yang ia kenali kalem, lebih banyak diam dan datar kini berubah beringas bak singa lapar dengan wajah dinginnya. Mematikan seperti elang yang mencengkram mangsa.
"Zea tetep terjaga bareng kita!" dengan suara bergetar Clemira menepuk-nepuk pipi Zea agar temannya itu tetap tersadar.
"Ze, jangan tidur!" Dina bahkan sudah sesenggukan dan membenarkan posisi kepala Zea di atas pangkuannya. Clemira melepaskan jaket miliknya, berusaha menyobek ujung kainnya namun rupanya sia-sia saja, jaketnya tak mau robek dengan begitu saja, semudah di adegan film.
__ADS_1
"Zea..."
"Abang!"
Sagara memastikan jika ketiganya sudah tak dapat melakukan perlawanan lagi, bahkan bergerak pun tidak. Sesegera mungkin Saga menghampiri Zea.
"Tekan lukanya pake jaketmu," pinta Sagara pada Clemira yang sesenggukan, diangguki adik sepupunya itu.
"Ze, denger abang?" tanya Sagara, alis Zea berkerut melihat Sagara namun tak ada jawaban yang keluar dari mulut manisnya.
Sagara mengambil sangkur dan menurunkan buff miliknya menyobek itu dengan sangkurnya, sejurus kemudian ia mengambil alih pekerjaan Clemira memberikan pertolongan pertama di luka tembak Zea, dengan membalut luka disana dengan buff dan jaket Zea yang ia robek bagian lengannya sebelumnya.
Air mata mengalir dari ekor mata Zea, "aww...aww, sakit ih!" keluhnya lantang memejamkan matanya.
"Akhirnya berkokok juga," gumam Dina terkekeh lega.
"Tahan sebentar, ini hanya pertolongan pertama, selanjutnya kamu harus segera mendapatkan pertolongan medis, lukanya sampai tembus gini." Ia begitu sigap mengikat lengan Zea.
"Abang jatoh dari langit," jawab Saga, membuat kedua alis Clemira naik seperti lengkungan pelangi, "ngga usah ngelawak, ngga lucu!" ujar Clemira, yang sontak saja didecaki Sagara, alisnya terangkat sebelah, tak ingin berlanjut pada perdebatan yang memusingkan Sagara meminta Zea untuk duduk, "bisa duduk?"
Zea masih menatap Sagara lekat, namun ia langsung memutus eye contactnya pada Sagara, seakan-akan kini Sagara adalah makhluk terbuas di mata Zea, "bisa," Zea mengangguk mengalihkan pandangannya.
Dina membantu Zea bangun, termasuk Sagara, namun kali ini Zea menyingkirkan tangan Sagara memancing kernyitan di dahi Saga. Tak mempermasalahkan itu, Saga berdiri dan memasukan kembali sangkurnya.
"Mana unit atau kompi abang?" tanya Clemira celingukan ke segala arah, tapi abangnya itu lebih fokus pada Zea, "bisa berdiri? Jalan sendiri? Kita harus bergerak dari sini, mencari tempat lebih aman," cecar Sagara, Zea mengangguk, "bisa."
Baru saja berucap demikian, Zea sedikit oleng dan terhuyung ketika Dina membantunya, "eeeh..."
Zea meringis ketika lengannya bergerak, rasanya ngilu, perih dan sakit, rasanya ingin menyerah saja. Terang saja, luka tembakan itu layaknya luka tusukan, menimbulkan robekan bahkan sampai tembus, mungkin saja sebentar lagi ia akan menggantikan sundel bolong, hanya bedanya kalau sundel bolong, bolongnya di perut hingga punggung, sementara dirinya bolong di lengan kiri.
Ia meringis kesakitan, meski tak sampai meraung-raung, Zea sesenggukan, "hey...hey...ngga apa-apa, kita bakalan keluar dari sini."
__ADS_1
Sagara refleks menangkup wajah cantik Zea yang begitu jelas tengah menghindari tatapannya, "kalo cuma luka tembak gini, ngga sampai mengenai area vital, insyaAllah bisa diatasi."
"Cuma?" Zea menatap Saga dengan mata berkaca-kaca, "udah mirip sundel bolong kw gini dibilang cuma?" ia menepis tangan Saga dengan sebelah tangan bebasnya.
Oke, salahkan mulut dan pemikiran Sagara yang tidak serumit wanita, salahkan hatinya yang tak peka dan tak perasaannya yang menganggap enteng penderitaan Zea, karena jiwa prajuritnya berbeda dengan jiwa barbie, Zea.
Sagara mengangguk mengiyakan ucapannya tadi dan ucapan Zea barusan, "sundel bolong?" tanya nya geli, sejauh itu Zea berpikir.
"Iyalah, bolong nembus gini apa namanya kalo bukan sundel bolong, donat?!"
Dina dan Clemira hampir menyemburkan tawanya, namun mereka tak berani melihat wajah keruh Zea.
Sagara menggelengkan kepalanya gemas, "jadi? Sundel bolong kita ini mau ikut jalan atau mau jadi penghuni hutan disini yang nangis-nangis diantara pohon-pohon gede?" tanya Sagara mendekat, ia meminta Zea melepas jaketnya, "lepas jaket kamu, biar abang bikin sling darurat ke leher buat lengan kamu...biar ngga kena guncangan."
Jelas Saga bukan sedang meminta, namun ia telah membebaskan satu tangan Zea yang lain dari jaket, dengan gerakan kilat, voalah! Sling lengan darurat dibuat Saga.
Lelaki itu tiba-tiba berjongkok di depan Zea, "kamu barusan kehilangan banyak da rah, abang tau sekarang pandangan kamu kunang-kunang, badan kamu lemas sampe jalan sempoyongan kaya tadi."
Zea mengurungkan langkahnya dan melihat sosok tegap yang belakangan ini ia puja dan puji berjongkok untuknya, rela menjadi kaki dan sandarannya, tapi kenapa kini ada rasa takut pada Sagara? Apa kejadian hari ini dan beberapa hari ke belakang adalah bentuk trauma tersendiri untuknya.
Clemira mencolek dan mendorong Zea pelan, "buruan! Ditawarin malah kaya ayam be go, langka banget bahkan ngga pernah gue liat abang gue ini nawarin ginian! Lo adalah cewek lain pertama selain gue yang ditawarin sedeket ini sama abang, bukannya ini impian lo?!"
Kini ia merasa ragu, kenapa rasa bimbang itu kini datang setelah Sagara mulai membuka dirinya untuk Zea? Apakah rasa suka dan kagum itu telah terkikis karena sosok mematikan Sagara barusan, atau justru kehidupan keras seorang prajurit.
"Abang ngga bisa jongkok selamanya," suara Sagara membuyarkan lamunan Zea.
"Ah kelamaan!" Clemira mendorong Zea agar secepatnya nemplok di punggung Saga, "nunggu lebaran mo nyet, lo baru mau naik...so jual mahal ah!"
Zea merasa tubuhnya naik terangkat, aroma maskulin yang menentramkan tercium di hidungnya, sebelah tangan Zea merayap canggung berpegangan di pundak Sagara, dan mereka berjalan menyusuri belantara bersama.
.
.
.
.
__ADS_1
.