
Banyak bumbu instan yang bisa dipakai sekarang dan Zea tak mau ambil pusing untuk itu.
Tak seperti pengantin baru lainnya yang menghabiskan waktu di awal pernikahan untuk gaspol membuat penerus, Zea dan Sagara terkesan lebih let it go with the flow saja, menikmati apa yang seharusnya dinikmati tanpa diburu-buru.
Bukan berarti, tugas Zea sepenuhnya Zea yang menanggung tanpa andil Saga, namun sudah menjadi tugasnya membimbing Zea termasuk dalam hal yang ia bisa namun Zea belum bisa.
"Abang lebih suka kalo rempahnya dihaluskan semua pake cobek, buatan sendiri lebih enak ketimbang buatan mesin, dek..." ujar Saga, lelaki ini tak malu-malu mengambil cobek batu dan menggelar duduk di bawah mirip tukang gado-gado, tak mungkin juga ia menghaluskan bumbu untuk ayam di atas meja miliknya, yang ada bukan bumbu yang halus melainkan mejanya.
"Jadi ini mubadzir dong?" tanya Zea mengangkat bungkusan bumbu instan yang ia beli tadi.
Sagara menggeleng, "bisa dipakai kalo adek memang malas bikin bumbu sendiri. Abang tetep makan."
Sagara mengajari Zea beberapa resep yang ia tau dan sering buat sendiri.
"Tau garam?" tanya Saga.
Zea mendelik sinis, "ya tau lah! Enak aja ngeremehin," cebiknya, Sagara mengangguk terkekeh.
"Yang ini garam, ini gula, ngga mungkin Ze ngga tau yang beginian, dari bentuk sama rasanya aja beda...ngga usah se'be go itu, please deh!" bola matanya memutar persis bola bekel.
"Ini lengkuas, ini jahe.." Zea menciumi beberapa rempah yang ada di kotak bumbu Saga, super lengkap! Curiga Sagara merangkap pekerjaan sebagai tukang masak di warteg.
Zea menebaknya dengan benar beberapa bumbu disitu, dan Saga mengangguk puas seraya tangan yang menumbuk bawang-bawangan beserta kunyit.
Zea yang duduk di samping Saga dengan ikut melantai di dapur menatap suaminya itu bertopang dagu, menampilkan senyam-senyum anjayudin mirip orang kurang sekilo, "abang lebih sexy kaya gini, ketimbang lagi telan jang..." ujarnya, "lebih keliatan rawwrrrr!" tawanya menambahkan.
Saga menghentikan tumbukannya dan membalas tatapan Zea, "kamu lebih sexy waktu belanja tadi, ketimbang pake baju-baju gaya, lebih keliatan wadidaw..." balasnya langsung dihadiahi tepukan pelan di lengannya dari Zea, wanita itu tertawa renyah, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Sagara menggombali Zea, apakah ia harus tumpengan sekarang?
"Abang sehat?" tanya nya. Saga mengangguk sekali namun yakin, "wal'afiat."
"Abang coba liat keluar, liat ngga matahari udah keluar buat menghangatkan bumi?" tanya Zea, Saga mengangguk meskipun ia tetap melakukan kegiatan menghaluskan bumbu masakan tanpa jeda.
Bahkan suara tumbukan di cobek batu itu sampai ke rumah tetangga sepertinya, tapi kedua insan yang sedang dimabuk asmara ini asik-asik saja mengobrol tanpa terganggu suara cobek yang memecah gendang telinga, kasihan ayam sayur di depan mereka yang mendadak berubah jadi kacang.
"Cahayanya tetep ngga bisa tembus masuk ke dalem rumah, soalnya minder. Abang tau dia minder sama siapa?"
"Engga." Saga melumuri bumbu itu pada potongan-potongan ayam yang telah dicuci bersih lalu memasukannya ke dalam panci.
__ADS_1
"Sama abang lah," jawab Zea, meski Saga sudah beranjak untuk menaruh panci di atas kompor diikuti Zea yang mengekor, keduanya tetap berinteraksi.
"Tau kenapa?"
"Engga..." gelengnya.
Cetrek! Kompor dinyalakan, dan Saga tak harus sampai membungkuk demi melihat besarnya api, nalurinya sudah terlatih.
"Soalnya cintanya abang lebih hangat, bisa nembus tulang sampe ke hati Zea...." lanjutnya menggelayuti leher Saga. Lelaki itu menatap istrinya dan tersenyum gemas, saking gemasnya ia refleks mengusap wajah Zea.
"Bisa aeee anak mama...." katanya.
"Abangggg! Tangan abang bekas bumbuuuu!"
Pukk! Zea menyarangkan pukulannya di dadha Saga.
"Astagfirullah, lupa dek!" Sagara tertawa tergelak, ini kali pertamanya juga ia tergelak seperti ini. Zea langsung manyun, meringis asin dan berlari ke arah kamar mandi demi membasuh wajah.
"Sini abang yang bersiin," Saga ikut menyusul Zea ke dalam kamar mandi, membantu istrinya membasuh wajah termasuk mencuci tangannya, Saga masih cengengesan, "maaf---maaf, abang ngga sengaja." Usapnya merangkum wajah semulus pipi bayi.
"Namanya juga khilaf," jawabnya masih terkekeh, "perih ngga?"
Zea menggeleng membuka matanya ketika kedua tangan Saga masih setia menangkup kedua rahangnya.
Mata itu mengerjap indah, membuat Saga terpesona akannya dan membangunkan naluri lelaki Saga untuk menghimpit tubuh Zea di dinding kamar mandi, menikmati suguhan terindah ciptaan Tuhan, karunia mencinta sungguh seindah ini.
Cengkraman erat kedua tangan Zea di punggung kaos Saga, menandakan jika ia dan Saga sedang melambung bersama, merasai dan mencecap manisnya madu kemesraan, menyatukan saliva hingga dapat merasakan apa yang masing-masing rasakan, lidah keduanya membelit bersama.
Aroma rempah dari dapur menyeruak menyadarkan kewarasan keduanya, "abang nanti ayamnya gosong," ucap Zea sedikit parau.
Sagara menggeleng, "engga. Abang taro air agak banyak, biar pada berenang ayamnya..." jawab Saga, Zea meledakan tawanya, "mana ada! Yang ada mereka kembung, kebanyakan dikasih air."
"Minggir, Ze mau bikin tumisan sayurannya." pinta Zea menepuk pan tat Saga nakal. Hanya menghabiskan waktu berdua begini, tak peduli dimana itu, terasa cukup, jika diiringi rasa bersyukur.
Sagara tidak sedingin dulu, ia berbeda dari sosok si ubin masjid yang ditemui Zea saat pertama kalinya, berbeda dari sosok prajurit yang menghabisi Ajay cs di hutan waktu lalu.
__ADS_1
Zea dan Saga seperti pasangan kekasih abg pada umumnya, Sagara dalam balutan pakaian casualnya tidak terlihat seperti seorang prajurit, meski sama tampannya saat ia berseragam. Diantara keramaian warga biasa, keduanya berjalan-jalan tanpa beban, meski beberapanya mengenali Zea sebagai anak menteri.
Saga hanya memakai topi dan kaos berkerah polo, serta celana jeans panjang tanpa ada embel-embel pakaian kesatuan ketika mengantar Zea ke kampus. Bahkan ia mengantar Zea memakai motor milik Dewa.
Lain halnya dengan Zea yang memang selalu tampil modis dimanapun dan kapanpun.
"Udah beres, minggu depan udah mulai masuk, langsung masuk sks materi baru...hufftt! Welcome to the jungle, Zee..." ucapnya mele nguh lelah, belum lagi nantinya tugas sebagai istri prajurit dari kesatuan yang akan semakin membuat Zea sibuk. Saga mengacak rambut Zea, "semangat ibu!" balasnya.
"Kapan kita ketemu umi? Bukannya besok kita berangkat?" Zea naik ke jok belakang dan langsung memeluk Saga, jok yang di desain untuk bikin seseorang osteoporosis itu sungguh menyiksa si penumpang di jok belakang, bikin trauma tulang-tulangnya.
"Sekarang, kita ke rumah papa Rangga dulu, buat pamitan. Baru ke rumah," Saga menstaterkan motornya dan melesat meninggalkan kampus ternama ibukota yang menjadi tempat istrinya menimba ilmu.
Tak ada lagi long distance relationship yang akan menjadi pemisah dirinya dan Zea sekarang, Zea benar-benar bersamanya sekarang.
.
.
.
.
.
__ADS_1