Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 63


__ADS_3

Zea berlarian rusuh persis anak SMA yang telat ujian, "semoga belum telat---semoga belum telat. Auto gagal kawin gue nanti!" gumamnya komat kamit, walaupun ngga sambil nyemil melati kaya mbah dukun.


Ia datang dengan kemeja putih dan celana sopan hitam persis mahasiswa magang, yang nantinya akan ia ganti dengan seragam khas istri prajurit demi berfoto bersama Sagara.


Prajurit piket yang berjaga di serambi sampai tertawa renyah melihat calon istri prajurit satu ini, yang benar saja! Calon istri prajurit itu tesnya cukup bikin otak muter, melihat tampilan Zea yang bisa dibilang baru gila kemaren sore, mereka sangsi jika gadis itu akan lolos.


Sagara bergegas keluar kantor ketika Zea mengabarinya jika ia sudah sampai di pangkalan.


"Kemana Ga?"


"Depan. Zea udah di depan," katanya sambil berlalu seraya tangannya memasukan ponsel ke dalam saku, sesekali Saga mengangguk dan hormat pada atasan yang melintas.


***


Ia melihat gadis yang sedang bicara dengan tentara piket sepaket dengan kehebohannya, menanyakan kantor administrasi dimana.


"Bang," sapa si prajurit piket diangguki Saga, ketika ia sudah menghampiri, senyum Zea terlukis ketika melihat arjuna-nya datang.


"Dek," panggil Saga, alisnya langsung naik melihat tampilan wadidaw Zea, bibirnya terku lum menahan kedutan geli melihat sang calon istri yang mirip bu Rt galak mau labrak pelakor, sama seperti kedua prajurit yang ada disana.


"Hayuk bang, Ze udah telat belum sih? Barusan macet soalnya," ucapnya beralasan, siapa tau Saga percaya.


"Udah siap emangnya?" tanya Saga.


"Siap! Banget malah, ngga liat gituh, Zea udah totalitas gini buat ketemu komandannya abang, pake baju kaya buat anak magang!" jumawanya percaya diri, yang justru membuat kedua junior Saga semakin tak kuat menahan kedutan di bibir akan tingkah Zea.


"Wah, selamat bang...pengajuan menikah?" tanya seorangnya basa basi, diangguki Saga.


"Ya udah, hayu masuk!" ajak Saga diangguki Zea.


"Ngomong-ngomong modelan rambut apa itu?" tunjuk Saga dengan dagunya sekilas.


Zea mengernyit kebingungan, tak biasanya Saga bertanya pasal penampilan, "kenapa emangnya? Biasanya juga kaya gini abang ngga pernah banyak tanya kaya dora." cebiknya melingkarkan tangan di lengan lelakinya.


"Aneh aja, setau abang roll rambut dipake di rumah, ngga sampe dipake keluar ketemu orang penting, kecuali tukang sayur."


Zea mengerjap mendengar ucapan Saga dan menghentikan langkahnya, tangannya terulur memegang roll di jidat yang masih membelit bagian poni, "ya Allah!" serunya, Saga terkekeh pelan tanpa suara, lucu saja ekspresi Zea saat menyadari sesuatu.


Gadis itu bukannya marah atau merasa malu, ia justru menertawakan ke bo dohannya sendiri.


"Untung belum masuk kantor ih!" ucapnya di sela-sela tawa, "kalo udah, auto malu Zea, bang! Calon istri perwira kok gila!" akuinya menurunkan roll'an dan segera mencari kaca, tak peduli jika ia sedang bercermin di depan jendela kantor kesatuan dan banyak orang di dalamnya.


"Kalo bisa itu rambut di iket dek, karena biasanya setau abang harus rapi terlihat telinga, jika tak berjilbab."


Zea menoleh dengan kernyitan, "biar apa? Biar keliatan tua? Justru bagus gini bang, digerai..." seperti biasa gadis ini memanglah keras kepala, selalu mendebat siapapun yang tak satu jalan pikiran dengannya meski dengan pertanyaan di luar nurul. Memang penghuni desa pulu-pulu satu ini selalu ngeyel kalo dibilangin.


"Biar rapi." Ralat Sagara.

__ADS_1


Ia mele nguh panjang, udah cape-cape pake roll, keramasan, terus pake conditioner, kalo ujungnya diiket-iket juga mah mendingan tadi ngga usah mandi sekalian, cukup cuci muka plus sikat gigi aja, ngga usah mubadzirin air buat keramas.


Tatapan Zea jatuh pada dua orang yang juga mengarah masuk ke dalam kantor, seketika jiwa julidnya berkobar layaknya kompor disirami bensin saat pandangan Zea jatuh pada sosok si wanita yang tak lain dan tak bukan adik dari Ankara.


Sama halnya dengan Zea, ia memandang Zea dengan tatapan penuh kebencian, seolah Zea adalah musuh yang harus dibasmi olehnya macam serangga.


"Lettu Sagara?" sapa seorang perwira mengulas senyum, yang si alnya ternyata kedua manusia beda gender itu berhenti menyapa Saga.


"Bang Rudi,"


"Weheyy, selamat Ga. Sekarang sudah naik pangkat. Ini---" tunjuknya pada Zea.


"Calon..."


"Jamilah, calon istri bang Sagara yang cantik dan imut, hasil persilangan antara menteri paling soleh serta tidak sombong dan ibu pengusaha yang kerjaannya sedekah, ngga kaya...." lidahnya mendorong pipi kanan hingga pipinya menonjol ke arah Luna.


"Yang disebelah..." ia tertawa ketika wajah Luna semakin keruh layaknya air kubangan tempat kuda nil berendam.


"Lo!" Luna mengepalkan tangannya ke arah Zea.


"Calm down---calm down sist, mukanya ngga usah dijelek-jelekin gitu, udah jelek juga!" senyum Zea mencibir.


"Dek," tegur Saga. Zea melemparkan sorot mata tak sukanya pada Luna, yang semenjak ia memutuskan perjodohannya denga Anka, adik dari kapten Anka itu selalu julit di akun sosial media milik Zea, apalagi saat mengetahui Sagara akan menikah, pupus sudah harapannya, terlebih tau fakta jika gadis yang dipinang Saga adalah Zea.


"Canda kalii, ngga usah serius amat lah, dunia udah terlalu sumpek sama orang serius!" lanjut Zea, namun sedetik kemudian ia melirik Saga dan tertawa karena baru menyadari jika lelaki disampingnya adalah salah satu golongan manusia yang jarang bercanda.


Rudi terkekeh melihat tingkah Zea padahal Saga sudah sempat menegurnya dengan mencolek-colek tangan Zea.


"Baru mau," jawab Rudi, "minta do'anya saja, biar lancar."


Luna mendelik sinis pada Rudi, "mas apaan sih, minta do'a sama dia...ngga perlu! Mas tau ngga dia tuh cewek ngga bener! Selingkuh dari bang Anka terus----" pandangannya beralih pada Saga dengan sorot mata nanar.


"Enak aja! Lo yang---" Saga langsung membekap dan menahan Zea demi terciptanya perdamaian dunia.


"Selamat Lun, bang Rud. Semoga lancar," angguk Saga menyelamati keduanya, terlihat jelas dari pandangan yang gadis itu lemparkan, jika ia masih menaruh rasa pada Saga, hanya saja Zea tak tau apa yang membuat Luna memutuskan menikah dengan Rudi.


Rudi tersenyum, "sama-sama Ga. Selamat juga, semoga kamu dan Jamilah..." Rudi hampir menyemburkan tawanya, di jaman seperti ini masih ada gadis cantik bernama Jamilah, jika melihat dari penampilan Zea, sangat sulit ia percaya kalau wajah secantik dan segaul Zea bernama Jamilah.


"Juga lancar. Mau masuk bareng?" tawarnya.


"Engga!" sentak Zea dan Luna kompak.


"Luna ngga mau barengan sama cewek tukang selingkuh dan rebut gebetan orang, mas." Sinisnya menghardik Zea.


Seketika mata indah itu membeliak tajam mendengar kata-kata Luna, seakan siap untuk menusuk lawannya dengan tatapan mata, "ssshhhhh---" Sagara langsung menarik Zea.


"Dek."

__ADS_1


"Dia bang. Dianya!" balas Zea.


Rudi cukup kebingungan dengan apa yang terjadi sebelumnya antara Zea dan Luna, namun ia lebih memilih tak bertanya di hadapan keduanya mengingat jika waktu terus bergulir, ia juga tak mau terjadi perkelahian disini antara Zea dan Luna.


"Ga, saya sama Luna duluan." ia menarik tangan Luna yang masih bersitatap dengan Zea.


"Ya bang." angguk Saga.


Zea masih mengontrol deru nafas yang mendadak cepat kaya nafas kuda, "abang kenal dia?"


Sagara mengangguk, "dia teman satu regu. Sama-sama letnan satu, tapi usianya lebih tua 3 tahun."


Mata Zea membola, "satu regu?!"


"Iya."


Seketika Zea menghirup nafasnya tanpa membuang untuk sejenak, "jadi...."


"Ya, jadi nanti kamu dan Luna akan satu regu juga."


"Bunuh aja Zea, bang!" serunya sewot. Saga terkekeh, "kok bunuh? Abang nikah sama siapa kalo gitu?"


Zea masih mencerna ucapan Saga barusan, seketika langit runtuh untuknya. Mengingat masa depannya pasti akan suram harus satu regu dengan nenek gayung macam Luna.


"Kamu yakin dek, mau ke dalem pake sendal jepit begitu?" tanya Saga lagi, belum Zea selesai dengan masalah satu, ia sudah kembali dikejutkan dengan hal lain yang lebih membuatnya terkejut.


Matanya melirik ke arah kaki-kaki putihnya, dimana jari-jari kaki Zea dapat terlihat bergerak bebas, "astagfirullah! Sejak kapan Zea pake sendal?! Perasaan tadi tuh Zea bawa sepatu!" serunya tak sadar.


Saga menyunggingkan senyumnya, "kamu tuh saking gugupnya atau saking ngga sabar mau ketemu komandan, sampai sepatu aja lupa pake?"


Sagara mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang dari sana, "assalamu'alaikum Git, ukuran sepatumu nomor berapa? Apa 39?" tanya Saga dengan tatapan hangat yang ia jatuhkan ke arah Zea yang juga menatapnya getir.


"Bisa saya pinjam, untuk calon istri saya?" tambah Saga, terlihat ia mengangguk dan bicara dengan Gita sampai Saga mematikan panggilannya.


"Nanti Gita kesini bawa sepatu punya dia, buat dipinjamkan..."


"Abang tau ukuran kaki Zea?" tanya Zea merasa tersentuh.


"Apa yang abang ngga tau. Bukannya kalo bawa barang seserahan nanti, abang harus tau ukuran pakaian, sepatu dan brand favorit kamu," jawabnya ia menarik dan merapikan rambut Zea, membawanya ke belakang dan menyatukannya menjadi satu.


"Coba menghadap ke belakang, abang ikatkan rambutnya biar rapi." pinta Saga.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2