
Plak!
Zea menggaruk kakinya karena gatal, kalo bisa akan ia garuk dengan garpu biar paten terasanya, "abanggg....ini banyak banget nyamuknya, mana segede-gede ke bo lagi ih! Heran deh, emaknya nyamuk disini ngidamin apa sih," ucapnya parau diantara sadar dan tidak, tangannya menarik ujung selimut hingga menutupi leher. Namun tetap saja nyamuk nakal tak kenal rasa lelah, bagian leher ke bawah tertutup, maka mereka menyerbu telinga kaya minta di granat.
"Gerahhh...nyalain AC ihh," keluhnya lagi. Saga yang sama-sama baru saja terlelap terpaksa membuka kelopak matanya lagi demi kenyamanan di jantung hati.
"Lotion nyamuk, kamu bawa?" tanya Saga menyingkapkan selimut, memang kebiasaan yang sudah menda rah daging, sepertinya. Zea selalu seenak jidat memakai baju, Saga menggeleng, berdekatan dengan Zea memang harus kuat iman biar si Amin yang dibawah tidur anteng tak bangun kembali.
"Ada, di bagasi...itu apa sih, kamar..." ocehnya tak koheren karena kesadaran yang sedang berkelana di alam bawah sadarnya. Saga tertawa renyah mendengar ucapan yang sudah ngaler ngidul mirip orang mabuk. Mungkin maksudnya di koper, bagian persakuan, mungkin...intuisi dan nalurinya sebagai suami yang mengatakan maksud sang istri.
Ia memijit terlebih dahulu pangkal hidung dekat mata, agar dapat berjalan dengan benar lalu melangkah ke arah koper miliknya dan Zea.
Senyumnya tersungging manakala menemukan kain jaring yang sengaja Zea bawa di acara honeymoon mereka, niat mau adegan hot nan romantis malah ambyar. Sayang seribu sayang, moment yang seharusnya menjadi film 21 plus ter'the best abad ini harus digagalkan karena Zea melepas dan memasukan kembali baju jaring itu ke dalam koper dengan penuh kemarahan berhubung tak tahan dengan serangan nyamuk nakal, sehingga mereka bergu mul di dalam selimut sambil banjir keringat.
Saga mengoleskan lotion nyamuk di kulit seputih susu milik Zea, sementara si empunya sudah berangkat naik pesawat ke alam mimpi.
Zea menarik nafas panjang. Tidak sependek nafas di ibukota yang tersendat oleh polusi, disini ia bisa bebas menarik nafas panjang, bahkan tanpa dikeluarkan lagi pun terserah, jika ia mau menyimpannya di paru-paru sampai nanti kembali ke ibukota.
"Mandi dulu terus kita sarapan bareng. Ngga enak, tuan rumah sudah bangun dari tadi, umi juga udah di dapur..." Saga sudah siap dengan kaos dan celana pdh army.
"Abang mau kemana?"
"Bukan abang, tapi kita....agenda hari ini, nemenin mama Katarina dan om Ignat cari air nira, panen ubi sama sagu untuk acara makan-makan nanti. Pasti kamu suka," jawab Saga sukses membuat Zea menoleh malas, ia bahkan kembali menjatuhkan dirinya ke atas kasur, untung saja bukan menjatuhkan diri ke dalam kubangan dosa. Seorang princess seperti Zea disuruh jadi tarzanwati, auto menggulung kembali selimutnya cosplay jadi ulet sagu.
Beginilah sepertinya honeymoon ala prajurit, mirip-mirip petualangan si dora the explorer, ekspektasi bulan madu yang dibayangkan Zea nyatanya tak sesuai realita, mungkin ini salah satu contoh honeymoon antimainstream ala Sagara.
Pantas saja Saga meminta Zea untuk membekali diri dengan celana-celana panjang nan tebal seperti pdh, tidak seperti kebanyakan honeymoon yang isian bekal pakaiannya saja minim-minim, terkesan irit tempat di koper.
"Ini mah udah kaya si dora! My honeymoon my adventure," ocehnya ketus seraya mengepang rambut bak tomb rider. Percuma saja ia membekali diri dengan bikini one piece brand ternama, toh ia akan berbentol-bentol ria di sini.
Pagi-pagi, mereka sudah keluar dari pangkalan dan bergabung di rumah salah satu tetua kampung.
Suasana pangkalan militer disini, tak ubahnya di pangkalan militer ibukota, tak ada yang berbeda kecuali lattar tempatnya yang lebih mirip gambar pemandangan anak sd.
Gerbang pangkalan militer hijau telah mereka tinggalkan, berbelok sedikit ke arah perkampungan sekitar.
"Mau kemana kita? Ke hutan rimba!" oceh Zea.
"Mau kemana kita? Ke hutan rimba!" ocehnya lagi meledakan tawa Kalingga dan Fara sepanjang jalan, belum lagi tas ransel kecil yang nemplok di punggung Zea, wanita ini sudah mirip tokoh serial anak-anak.
Saga mengacak pucuk kepala istrinya yang sejal tadi mulutnya itu tak berhenti mengoceh, ala-ala vlogger adventure.
__ADS_1
"Pagi, pak!"
"Pagi pace,"
Al Fath tetap gagah meski usianya kini sudah tak muda lagi.
Zea melihat kehangatan yang diberikan warga untuk mereka, anak-anak berlarian senang dengan dunianya. Beberapa bapak-bapak kampung sudah bergerombol di rumah ketua kampung setempat, tak ada senjata atau tameng dan rompi anti peluru, anti panah, anti pelakor atau anti-anti lainnya yang dipakai. Hanya membawa golok dan tali saja sebagai perbekalan mereka, juga tabung bambu untuk membawa serta air nira.
Binatang an jink berlarian bebas disini, tak sedikit pula warga yang memelihara baa bii sebagai sumber makanan.
"Kapan sampai, pak Jendral? Mama?"
"Kemarin," jawab Fara duduk di undakan teras rumah mama Katarina. Kalingga terlihat melengos ke arah para pemuda kampung bergabung bersama teman-teman sebayanya.
"Mace, kami rindu. Sering-seringlah nanti main ke timur e...ibu jendral yang sekarang tak seperti mace," ujar wanita berusia sekitar 30an. Fara tersenyum menerima air minum, jamuan sang tuan rumah. Tatapan mereka sontak jatuh bersamaan ke arah belakang Fara, dimana Saga menggandeng Zea.
"Inikah nakali? Ale pu maitua, Saga? Cantikknya!" puji mama Katarina.
"Iya mama. Kenalkan Zea Arumi,"
Sementara Al Fath sudah duduk melantai, bersila di teras rumah dengan atap rumbia itu memberikan beberapa bungkus rokok. Tidak semua rumah disini tradisional, bahkan kebanyakan sudah terjamah modernisasi dan memilih memakai bahan bangunan kokoh.
"Kue lontar, kaka?" tawar seorang perempuan muda ke arah Zea.
"Maaf *kitorang* tak dapat hadir di acara pernikahan *kamorang*," sesalnya ramah.
"Tak papa kak Lucia. Kami mengerti..." jawab Saga. Zea hanya memasang senyuman saja disana dan lebih memilih memperhatikan suguhan makanan di depannya.
"Boleh Ze, coba?"
"Silahkan, silahkan..."
Ditatapnya Saga sekilas dengan sorot mata senang dan geli seraya tangan mencomot kue.
__ADS_1
"Umi, disini bareng mama Dumai dan nene....bantu siapin bumbu," ujar Fara.
"Ze mau ikut abang dan abi atau sama umi disini?" tanya Al Fath.
"Ze mau ikut abang aja," angguknya, mengingat disini hanya ada perempuan-perempuan tua, yang sudah pasti obrolannya bikin ngantuk.
"Biar de bersama sa saja, mace." Ujar mama Katarina merangkul Zea dari samping.
"Kenalkan, saya mama Katarina, dulu ibu sa adalah asisten rumah tangga mace Fara dan pace jendral..." ujarnya mengulas senyuman lebar.
"Zea," jawabnya singkat dan mengulas senyuman hangat. Saga beranjak dari duduknya untuk bergabung bersama abi Fath dan yang lain.
"Kalau begitu, mari...takut terlanjur siang dan air nira kurang sedap."
Zea menatap Saga dari gawang pintu, ketika lelaki itu sudah berada di luar, lalu Zea dirangkul mama Katarina beranjak, "ayok kaka, mari...mau pakai noken?" tawarnya menyodorkan tas serat kulit kayu Manduam atau batang anggrek dan tumbuhan lain yang biasa dipakai disini.
"Itu..." tunjuknya kebingungan, melihat mama Katarina menyampirkan talinya di kepala.
"Ya, noken...dipakai untuk membawa barang-barang serta bekal atau hasil panen..."
"OMG!" gumamnya kembali takjub dengan kekuatan dahi dan kepala mama-mama tanah timur.
"Berat?" tanya nya tapi Zea cukup dibuat penasaran, sepertinya lucu saja ia memakai noken. Fix, di ibukota sih ngga akan ada nih!
"Ze, mau coba mama!" pintanya excited, lalu ia mengeluarkan ponsel dan memotret diri sendiri.
Fara tertawa renyah, "orang kota datang kesini, kampungan ya neng?"
Zea tertawa ketika ketauan tengah berselfie ria memakai noken.
"Boleh ngga sih, nanti Ze bawa pulang? Lucu ihhh! Mau Ze bawa ngampus! Belum ada kan, yang bawa buku ke kampus pake beginian, dibawa pake noken di kepala?!"
.
.
.
.
__ADS_1
.