Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 58


__ADS_3

Tak ada baju khusus yang disiapkan Zea untuk jalan-jalan kali ini bersama Sagara, apalagi sampe pake baju zirahnya para pejuang. Hanya celana jeans dan swetter berhoddie.


Begini rasanya jalan sama calon suami, manis-manis rasa strawberry, Zea mesam-mesem sendiri di jok belakang Saga, meskipun motor butut yang menjadi tunggangan mereka.


"Kalo di England sekarang pasti udah masuk musim semi, bang. Kebetulan lagi festival..." ucapnya memiringkan kepala, dengan sesekali menarik kepalanya merapat pada pundak Saga, takut jika sampai tersabet pengguna jalan lain atau mobil auto buntung.


"Hm," jawabnya mirip penderita sariawan, sudah tak aneh! Zea memaklumi jika ia memilih sejenis makhluk mutan dari virus penyebab batuk yang sukanya berdehem sebagai calon suaminya. Sayang sekali Zea tak tau apa yang ada di pikiran Saga saat ini.


"Mau jajan apa?" tanya Saga.


"Emh. Sebentar..." Zea mengingat kembali masa-masa dulu bersama Saga, yang seringnya mengajak ia jajan makanan lowbudget. Sebenarnya Zea adalah gadis yang tak muluk-muluk, meskipun gaya hidupnya yang diterapkan mama Rieke dan papa Ranggalah membuat Zea meninggikan status sosialnya.


"Kita jajan di streetfood aja bang." jawab Zea.


Saga mengangkat alisnya sebelah, "yakin? Ngga mau cafe tempat biasa kamu nongkrong?" tanya Saga meyakinkan, padahal Zea ngga perlu so soan merendah begitu hanya untuk mengerti keuangan Saga, karena seharusnya gadis itu tau siapa Sagara.


Zea menggeleng membuat helm di kepalanya ikut bergoyang, "engga. Ze, mau jajanan anak-anak generasi micin, bang. Suka kangen, kalo nontonin yutup channelnya food blogger yang ngevlog street food tanah air gituh..." balasnya.


"Oh, oke."


Maka Sagara membawa Zea ke kawasan dimana streetfood ibukota berantakan menuhin bahu jalan bahkan sampe tumpah-tumpah ke jalan utama di sebuah taman kota.


Disinilah surganya sek_te pemuja aci dan telur-teluran ramah kantong berada, gerobak-gerobak yang menjajakan aneka jajanan berbahan aci dan telur berkumpul membentuk sebuah pasar kaget tersendiri setiap harinya, bahkan satuan polisi pp saja terkadang kewalahan untuk menertibkannya meskipun sudah digusur, dipukul pentungan, ditumpahin sampe abis dagangannya, dapet surat tilang, masuk dinsos tapi tetap saja kebutuhan akan biaya hidup memaksa mereka jadi siluman budeg, yang budeg akan peraturan daerah.


Zea tersenyum ketika Sagara memarkirkan motornya di satu lahan parkir darurat, "seumur-umur ini kali ketiganya, setelah dua kali Zea jajan bareng Clemira sama Dina ke car free day, bang." Akuinya, sebagai anak bungsu dan wadah dari tumpahnya kasih sayang mama, papa, dan Zico, Zea terkadang merasa hidupnya selalu dibatasi dari hal receh begini sehingga ia dianggap kampungan oleh Dina dan Clemira.


"Oh ya? Berarti harusnya abang dapet piring?" tanya Saga memancing tawa renyah Zea, seketika ia melingkarkan lengannya di lengan Saga, "Zea mau makaroni telor, bang." telunjuknya muncul dari balik tangan swetter yang kedodoran, bikin salfok yang liat kalo Zea sedang memakai swetter curian.


"Oke." angguk Saga membelah keramaian adalah keahliannya, ia sempat pula ditawari untuk mengambil pelatihan paspampres baru-baru ini, hanya saja....Saga lebih memilih jalur lain sebagai seorang pasukan skadron khusus milik kesatuan di pangkalannya.


Zea nampak antusias saat memesan dan menunggu pesanannya dibuatkan, sementara tangannya tak lepas dari lengan Saga, "besok kalo balik ke England, Zea mau jualan aci mini gini dipakein telor di sana kira-kira laku ngga ya, bang?" tawanya, "seporsinya 2 poundsterling, wajar lahhhh!" ujarnya enteng.


"Berapa itu?" tanya Saga malas menghitung.

__ADS_1


"Sekitar kurang lebih, 38 ribu 400an..kan bawa bahan-bahannya jauh, si aci harus naik dulu pesawat kelas bisnis," jawabnya.


Saga mengangguk-angguk sambil berthesah, "kayanya menurut abang, kamu salah jurusan fakultas, dek."


Zea tersentak diam, mendadak pipinya merah merona ketika Saga memanggilnya dengan sebutan dek, "ha--ekhem. Harusnya?" tanya Zea segera menetralkan suasana hati dan kesadaran.


"Harusnya jurusan bisnis," Saga menerima pesanan Zea dari si penjual.


"Pake saos bang?" tanya si abang penjual.


"Pake."


"Jangan."


Jawab keduanya bersamaan, sontak saja si abang penjual kebingungan, "pake aja bang."


"Jangan bang." tolak Saga.


Saga menggeleng dengan mata tajam mengarah pada si penjual, sontak saja ia lebih takut pada Saga yang notabenenya memakai seragam loreng, salah-salah ia ditembak.


Sementara tangannya memberikan selembar uang ungu pada si penjual, kini pandangan Saga mengarah pada gadisnya yang ngambek karena tak diberi saos.


"Makasih." Ujar Saga diangguki si penjual.


"Abang rese! Jalan sama Cle asik tuh, sama abang kok gini sih ah!" dumelnya.


"Saosnya itu saos curah. Terlalu banyak bahan yang tidak dianjurkan," jawab Saga.


"Kalo ngga pedes gurih ngga jos!" debat Zea.


"Abang belikan saos kemasan di minimarket." Tawar Saga, mata Zea memicing, yang benar saja moment yang seharusnya tercipta romantis dan semakin harmonis malah jadi begini hanya gara-gara saos curah, semurah itu hubungan mereka.


"Ck! Ya udah," Zea akhirnya mengalah, bukan karena ia kalah atau takut melainkan karena Zea percaya jika ia adalah orang paling sabar di dunia, dan orang sabar itu kuburannya luas, mungkin nanti rumah keabadiannya bisa dibikin lapangan golf di dalamnya saking luasnya saking ia sabarnya semasa hidup.

__ADS_1


Saga tersenyum melihat wajah menggemaskan itu ketika mengunyah makanan sampai pipinya menggembung saking lahapnya, "abang jaga kesetanan...eh kesehatan, ssshhhh hahhhhh..." ia bersuhah suhah ria karena penganan yang dimakannya terasa pedas, bahkan sampai salah bicara.


Saga tertawa renyah dan meneguk cairan isotonik yang ia beli tadi bersama saos di minimarket, "Zea atur schedule pulang lagi, tapi jangan dadakan. Kasih kabar dulu sebelumnya, kapan Zea harus pulang."


Saga tak banyak berkata, hanya mengangguk atau menggeleng saja untuk menjawab pertanyaan Zea, ia lebih memilih menikmati wajah yang selalu ia rindukan setiap waktu itu. Bolehkah ia tak ikhlas melepas Zea pergi kembali? Atau bolehkah ia merubah keputusannya dengan melarang Zea kuliah di luar negri seperti cita-cita Zea? Rasanya ia tak ingin cepat-cepat mengakhiri moment kebersamaan ini.


Apakah ia sudah benar-benar siap jika kelak setelah menikah nanti Zea kembali menempuh sisa pendidikannya kurang lebih selama 3 tahun lagi?


"Oh iya bang. Besok Zea berangkat pagi, soalnya lusa Zea udah harus ketemu mister Collin," ucapnya membuyarkan lamunan Saga.


"Oh, ambil penerbangan jam berapa?" tanya Saga.


"Jam 7. Ze, udah pesen tiket pesawatnya tadi lewat om Dirwan." Zea masih lancar berucap dan memandang Saga meski kini mulai terasa saliva yang banyak di dalam mulut minta ditelan, hatinya juga mulai deg deg serrr seperti merasakan denyutan pegal.


Saga memandangnya penuh arti, "abang jaga diri, oke." Zea menelan salivanya sulit dengan mata yang mulai berkaca-kaca mirip anak kodok.


Tangan yang semula memegang botol isotonik kini menaruhnya di rerumputan samping mereka duduk lalu bebas memeluk Zea dengan erat dalam balutan swetternya.


Setetes demi setetes air mata kini turun membasahi ujung mata hingga pipi, "huffftttt....kenapa jadi melow gini sih..." gumam Zea, "harusnya kan kita seneng ya bang, ngga nyangka udah sejauh ini hubungan yang dulu tuh bisa dibilang impossible, karena abang susah untuk Zea raih." lirihnya bergetar.


"Abang sayang kamu, dek."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2