Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 53


__ADS_3

Zea berjalan semakin mendekat, wajah keduanya kini tercetak dalam ingatan masing-masing, setelah sekian lama tak bertemu. Ada rasa canggung di diri keduanya saat jarak semakin terpangkas habis, gugup-gugup pengen peluk gituuuuu!


Rambut setengah blonde yang terurai bebas, semakin panjang dengan gelombang di bawahnya, wajah Zea pun sedikit dipolesi make up tipis sekarang, bak idol k-pop yang bikin kaum adam jerit-jerit mirip simpanse puber.


Membuat Saga dilanda rasa khawatir untuk kembali melepas gadis nakal itu menimba ilmu di negri ratu Elizabeth, kecantol bule kan repot!


"Ze, kangen!" Clemira sudah terlebih dahulu memeluk Zea melepas rasa kangennya, sayang Sagara tak bisa melakukan itu terlebih di depan mama dan papanya sekarang, salah-salah meluk anak gadis orang disuruh kawin saat itu juga, ide yang bagus! Setelah itu image baik yang telah dibangunnya hancur seketika. Anak soleh abi Fath berubah jadi anak solehot abi Ray, yang suka colek-colek anak gadis orang.


"Hay bang." sapanya tersenyum lebar, betapa ia sangat merindukan lelaki datar itu, jahatnya! Ia seperti tak balas merindukan Zea, dengan jarangnya memberi kabar kaya minta difitnah--merawanin anak menteri aja--, biar bisa ditempelin Zea tiap waktu kaya tuyul!


Saga mengulas senyumnya begitu hangat, "apa kabar, sehat?" sungguh pertanyaan basi bin old, tapi Zea cukup dibuat melayang.


Diluar dugaan mama Rieke justru mendaratkan jewerannya di kuping Zea hingga gadis itu mengaduh dan menghancurkan vibes juga aroma-aroma manis yang sudah dibangun keduanya.


"Awww! Aw mihh!"


Seketika Clemira dan Saga terhenyak mengernyit melihatnya.


"Kamu tuh, udah mulai nakal sekarang!" tariknya lebih kencang, percayalah Zea yang niat bikin adegan uwu mirip drama-drama korea dengan Saga seketika cemberut karena mendadak gagal total gara-gara dijewer mama.


"Aw mi ih!" aduhnya mengusap kuping saat mama Rieke sudah melepasnya, papa Rangga bukannya menolong ia malah terkekeh menertawakan moment memalukan ini, "nah kena, kan."


"Siapa yang nyuruh pake-pake tatto segala, biar keliatan keren atau biar ngga bisa bersuci?!" pelototnya mencecar, baru sedetik Zea berada disini, bahkan genggaman di handle kopernya belum terlepas, ia sudah kena omel mama Rieke. Kalo begini caranya, seminggu berada di tanah air, kupingnya sudah copot dan mungkin dimasak mama Rieke bareng wortel dan bihun.


"Itu tatto temporer mi, kemaren ada acara temen kampus..." cicitnya melirik pada Saga dengan wajah merengut minta tolong.


Sagara terkekeh tanpa suara di tempatnya melihat moment yang seharusnya haru justru berakhir menggelikan untuknya.


"Jadi Zea balik cuma mau dimarahin nih? Ya udah Zea balik lagi aja ke England." ujarnya ingin memutar badannya.


"Ck!" mata mama Rieke semakin melotot seperti akan keluar dari tempatnya. Turunan ratu horor, kalo melotot satu bandara dibuat kaya lagi di rumah angker.


"Udah--udah, pulang yuk! Nungguin kamu lama nih, papi udah kesemutan!" baru saja papa Rangga hendak meraih handle koper Zea, Saga sudah menyambarnya terlebih dulu persis elang yang cepat dan sigap, "biar Saga aja, om."


Zea sampai melupakan jika Saga sejak tadi memperhatikannya karena amukan mama Rieke.


"Welcome back sist!" Clemira melingkarkan tangannya di lengan Zea.


"Yuk, kalian ke rumah tante dulu kan?!" tanya mama Rieke melihat Clemira dan Saga bergantian.


Percayalah, Zea merasa gugup ketika harus kembali berhadapan dengan Sagara untuk pertama kalinya lagi setelah sekian lama tak bertemu, mirip anak gadis mau ketemu jodoh!


Mama dan papa berjalan lebih dulu disusul Zea dan Clemira serta Saga, "kurusan sekarang, capek?" tanya Saga berjalan di samping Zea, tatapannya sempat menoleh sejenak pada Zea kemudian lurus kembali ke depan.


"Zea kurus karena kangen berat sama abang!" jawabnya, Clemira meledakan tawanya, tak mungkin ia tak mendengar obrolan keduanya di samping Zea, salah tempat dan posisi kalo gini! Cuma bisa kambing conge doang!


Weekend bukan berarti ia benar-benar merasakan libur, beginilah resikonya mengabdi pada negara, menyerahkan seluruh jiwa dan raga untuk kepentingan negri. Selesai menjemput Zea, Sagara mendapatkan panggilan bertugas dari kesatuan.


__ADS_1


"Maaf abang ngga bisa lama," ucapnya hendak pamit dari rumah Zea, dimana saat ini rumah menteri itu sedang ramai-ramainya.



"Baru juga ketemu sebentar, abang udah balik lagi! Kok hubungan kita ngenes amat sih!" gerutunya sambil menghentakan kaki kesal ke lantai.



"Nanti kalo selesai nugas, abang hubungi Zea."



Inilah yang membuat Zea terkadang bimbang menjalin hubungan dengan Sagara, ia selalu dinomor duakan setelah bumi pertiwi oleh lelaki itu.



"Terserah abang lah! Ngga kangen apa, sama Zea! Udah setaun loh kita ngga ketemu! Abang juga jarang hubungin Zea, gimana kalo nanti kita nikah. Zea ditinggal-tinggal kaya gini, gitu? Termasuk kalo lagi hamil atau ngelahirin anak abang?! Atau justru abang tuh ngga serius sama ucapan abang dulu?" akhirnya semua yang tersimpan rapat dan hanya ia maklumi saja, meledak jua.



Kesibukan di belakang tak membuat suasana diantara keduanya jadi mencair, Saga menatap Zea penuh memohon, sementara Clemira membiarkan keduanya berbicara saat sebelumnya Saga sempat pamit bertugas, baginya itu hal biasa. Abi'nya pun sering melakukan itu, bahkan apesnya mereka sedang melakukan trip ke Bali untuk liburan, abinya sampai harus membatalkan kursi pesawat miliknya dan membiarkan Clemira hanya pergi bertiga bersama umi dan Panji.



"Ze, abang harap Zea mengerti. Inilah yang abang maksud, seorang wanita tangguh di balik para prajurit yang rela dimadu oleh negaranya."




"Abang pergi Ze," katanya lagi tak menunggu sampai Zea menjawabnya, dirangkumnya sebelah pipi Zea oleh tangan kekar Saga dan diusapnya sekilas dengan jempol Saga, meski tak ada respon dari gadisnya. Zea tetap memalingkan wajahnya saat Saga menjauh ke arah carport, meski ia tak meledak-ledak manja, tetap saja ego yang dimiliki masihlah tinggi, wajar kan?! Sudah sekian lama tak bertemu, giliran ketemu malah ditinggal! Beginikah rasanya, jika menjadi seorang pasangan abdi negara? Harus lapang dadha, legowo ketika hati diduakan. Ketika rencana indah, hanya tinggal rencana. Zea menatap ke arah gerbang sesaat setelah Saga pergi.



"Tau ah!"



Hingga rentetan prosesi berlangsungnya acara pernikahan Zico dan Kinanti digelar, wajah Zea tetap menggariskan awan mendung, tak seceria biasanya, ia lebih banyak diam tak sepecicilan si kancil namun hal itu tak cukup disadari oleh mama dan papa yang notabenenya terlalu sibuk dengan tamu dan prosesi adat.


Zea balik besok,


Zea menghapus kembali ketikan pesannya dan mengurungkan niatannya mengirim pesan singkat pada Sagara, kekesalan kemarin-kemarin masih bercokol dan menggantung cantik dihatinya, akan ia tembak sekalian perwira satu itu, yang katanya sudah naik pangkat jadi lettu dengan bazzoka!


Seharusnya hari ini, ia ketawa-ketiwi bareng yang lain dan pengantin, dimana ini adalah hari bahagia Zico. Tapi seakan tak ada daya, Zea malah duduk di dekat stand es krim, siapa tau hatinya ikut dingin kalo lama-lama disana. Keluarga Clemira belum terlihat datang, begitu pula Sagara.


"Ze," suara seseorang sukses membuat Zea mendongak dari posisi wajah yang tenggelam dalam kekecewaan. Ia tidak bisa lebih kecewa lagi ketika mendapati Ankara yang hadir dengan stelan batik dan rambut cepaknya sepaket senyum yang tak pernah luntur, "bang Anka," balasnya.


"Kok disini, ngga foto bareng penganten di sana?!" tunjuknya ke arah podium, dimana antrian mengular berebut bersalaman dan mengobrol serta berswafoto bersama pengantin dan empunya hajat.

__ADS_1


"Rame gitu, takut kedorong-dorong terus jatoh. Toh itu tamunya mas Zico--mbak Kinan, papi sama mami, bukan tamu Zea."


"Boleh gabung?" tanya Anka.


Zea celingukan ke arah sorot mata Anka yang mengarah padanya dan karyawan catering, "mas, si abang itu mau gabung jadi tukang es krim, boleh ngga? Tapi awas nanti kerjaan mas diambil nih orang," tanya Zea pada karyawan yang menjaga es krim.


Ankara terkekeh dalam diam, Zea memang selalu membuat tingkah konyol.


Sontak saja si karyawan es krim itu hanya bisa nyengir, "bukan nyengir mas, ditanya tuh sama kapten militer! Jawab, kalo ngga mau ditembak sampe mati..."


Zea tak tau saja jika setelah kejadian pembajakan kemarin, ia terkena sanksi dan penangguhan jabatan atas kecerobohannya.


"Eh boleh mas," angguknya takut.


Ankara tersenyum lebar sebab ia berpikir bisa mendekati Zea kembali, meski gadis itu sempat memutuskan perjodohan mereka, tapi usaha boleh kenceng kan?! Baginya, ia belum bisa menyingkirkan bayangan Zea di hati dan pikirannya.


Namun baru ia hendak bergabung di samping Zea, gadis ini sudah beranjak, "disini kan bukan warteg ya bang. Jadi ngga boleh rame-rame, kalo bang Anka mau gabung jadi tukang es krim, monggo...Zea permisi dulu, udah kenyang makanin yang manis-manis!"


"Loh, Ze...." panggilnya ke arah Zea yang semakin menjauh, tak bisa lebih si al lagikah hidupnya kini?!


Zea berjalan cepat ke arah luar gedung, mencari angin segar dari hingar bingar resepsi pernikahan.


"Gabung---gabung, dipikir lagi pengajian mau gabung segala!" dumelnya keluar gedung, setidaknya disini angin berseliweran bikin semriwing hati dan kulit, ia memperhatikan area sekitar luar samping kanan gedung.


Dua mobil terparkir rapi di antara deretan mobil kolega bisnis dan rekan staf kementrian, Al Fath dan Rayyan sengaja memilih waktu setelah orang nomor satu di negara hadir, karena jika bersamaan mereka khawatir gedung acara lebih ramai dan sulit mengakses makanan dan tempat duduk.


"Ini kita datang telat ngga apa-apa gitu?" tanya Eyi.


"Engga. Kan acaranya masih sampe jam 3," Rayyan turun dari mobil membantu si mantan model itu turun. Begini kalo keluarga besar militer, kemana-mana bawa rombongan plus ajudan.


"Om gondrong sama ma cut masih dimana?" tanya Clemira.


"Di belakang mobil abi Fath," jawab Panji.


"Kebiasaan telat!" cibir Clemira merapikan rok jariknya dan bercermin di kaca mobil.


"Russel sama Ryu yang bikin mereka telat," jawab Eyi. Sudah bukan hal aneh lagi jika anak kembar Zahra mirip dengan Dewa, sampai-sampai Rayyan atau Fath harus ikut turun tangan menggeret kedua bocah yang baru menginjak manisnya SMA itu dari club malam.


"Kenapa lagi?" tanya Ray.


"Russel gebukin anak orang, bang. Abang ngga tau, kalo Saga temenin Dewa ngurusin mereka tadi pagi?" tanya Eyi, Rayyan hanya terkekeh mendengarnya, sudah pasti adik bungsunya Zahra kembali menempelkan koyo di pelipis kalo sudah begini. Ners yang sudah menjadi kepala perawat di rumah sakit umum milik pemerintah kota itu terkadang dibikin mabok oleh kelakuan kedua putra remaja yang tengah gencar-gencarnya mencari jati diri itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2