
"Mana mungkin, suamiku...pulang ke rumahmu...."
Zea meledakan tawanya, baru juga di gawang pintu rumah sang mertua, ia sudah tergelak seperti ini karena sambutan nyanyian sang ibu mertua. Ia sampai menepuk bahu Saga karena kelakuan ibu jendral satu itu.
"Ya ngga mungkin, abisnya abi mau pulang kemana coba?! Kalo ngga ke rumahnya sendiri." selorohnya, Saga menggelengkan kepalanya, umi memang seperti itu, "kamu juga sama gilanya," jawab Saga mencubit pipi Zea.
Lingga terlihat melintas dari tangga menuju lantai bawah tepatnya dapur, dan cowok kalem itu sudah terbiasa jika rumah selalu jadi panggung dadakan umi, kalau ada waktu senggang ya begitu kerjaannya.
Zea semakin tergelak, "ngga nyangka, di balik cowok-cowok kalem ada musik dangdut dibaliknya, buat mencetak karakter cowok-cowok cool!" Zea semakin tergelak yang kemudian ditertawai oleh umi dan lebih absurdnya lagi tawa itu menggema keras karena Fara masih memegang microphone.
"Mertua, menantu sama-sama ngga beres," gumam Lingga meneguk air putih sambil menahan tawa.
"Apa kabar neng?" ia mengulurkan tangannya ketika Zea memintanya untuk salim, "baik umi. Umi apa kabar? Abi pulang ke rumah kan?"
"Pulang kok pulang, ngga pulang umi luluh lantahkan kesatuan." jawabnya menerima pula kecupan sayang dari Zea.
"Ada apa nih, udah rapi-rapi begitu? Pake seragam, saking bangganya jadi tentara apa gimana?" tunjuk Fara dengan dagunya ke arah Saga yang sudah berpakaian lengkap dengan baret. Jelas ia sangat tau jika pakaian seragam lengkap lapangan begitu, itu artinya seorang prajurit akan berangkat.
Zea merengek manja, "abang mau pergi, mi. 2 hari..."
Fara berohria mematikan pemutar musik karaokenya, "oh, jadi istrinya diungsikan, begitu?" tembaknya menaikan alisnya pada Saga.
"Mi, titip Zea selama abang pergi."
"Ck. Dititip-titip kaya bocah aja." Cebik Zea, Fara terkekeh melihatnya, seperti melihat dirinya dan Al Fath dulu, aaaaa! Pengen jadi penganten baru lagi! Ngga mau tua!
"Kapan berangkat?" tanya umi lagi. Saga melengos ke arah dapur seraya menjawab, "bentar lagi."
Ditatapnya Zea yang menatapnya dan Saga getir, "setia, strong, Ldr...seorang istri prajurit, ngga boleh menye-menye.." ucap Fara merangkul bahu menantunya, yang kemudian membalas dengan senyuman, "iya umi."
"Biarkan mereka menunaikan tugasnya sebagai abdi negara, kita mah let's go aja!" ajaknya berbisik seraya menaik turunkan alis.
Zea berseru pelan, "oh iya!! Kita kan ada janji buat foya-foya ya umi. Ze sampe lupa!"
Fara mengangguk setuju, "nah kan!"
Rambut cepak yang tak bisa Zea jambak itu selalu tercium wangi ketika kepalanya tidur di pangkuan Zea, "abang berangkat jam berapa?" tanya Zea menatap Saga yang memejamkan matanya, merasai sentuhan tangan Zea yang menyugar lamban.
"Sebentar lagi," tak tau kenapa, kini ia yang tak mau pergi, padahal Zea sudah tak lagi merengek memintanya tinggal saja. Zea menyentuh dari ujung kening Saga dan menelusuri tulang hidung bangir hingga ke bawah dagu dan jakun suaminya.
Kini kelopak mata sayu itu terbuka demi menatap istrinya dari bawah, "jangan nakal disini, jangan nyusahin abi--umi..." ia mengusap pipi chubby Zea dengan sebelah tangannya.
Alis itu terangkat naik, "kapan Zea pernah nyusahin orang?" balasnya. "Zea mantu idaman loh!"
Saga terkekeh mendengarnya, ia lantas mengangkat kepalanya dari pangkuan Zea, "udah jam segini, abang berangkat dulu." ia memasang baret kebangaan di kepala.
__ADS_1
Bukan koper atau tas laptop yang Zea angkat melainkan ransel prajurit, "berat amat, apa isinya sih?" tanya nya meringis membawa tas Saga keluar rumah.
"Cinta." Jawabnya datar. Zea meledakan tawanya melihat ekspresi suaminya itu, "gombal!"
"Cinta untuk ibu pertiwi, sama separuh cinta buat calon ibunya anak-anak abang...." lanjutnya, Zea sampai berteriak dan tergelak membuat seisi rumah kaget dibuatnya. Kalo kuat, mungkin tas ransel itu sudah ia layangkan ke kepala Saga, "abang salah makan ya?!"
Pelukan kembali ia sarangkan saat berada di gawang pintu, "abang jaga kesehatan. Kangennya di tumpuk dulu 2 hari, pokoknya pas abang pulang, Ze mau nonton film di bioskop terus jajan sushi..." ucap Zea.
Saga mengulas senyuman diantara pelukan hangat keduanya, bahkan tangannya masih erat melingkari pinggang Zea di belakang, "siap bu!" jawabnya lantang.
"Janji dulu," Zea menyodorkan kelingkingnya di depan Saga, "insyaAllah..." Saga meraih kelingking Zea dan menggigitnya pelan.
Saga melepas pelukan dan menerima salim takzim dari Zea, "abang pergi,"
*Tuhan, jaga dia....lindungi dia, Ze disini nunggu dia*.
*Tunaikan pengabdian abang untuk ibu pertiwi*.
Mungkin Zea saja yang lebay, semalam ini ia tak bisa tidur nyenyak.
Zea sudah berbalik ke samping kanan lalu samping kiri, tapi tetap saja tak jua membuatnya nyaman. Padahal tak banyak nyamuk seperti saat di timur, kasur jauh lebih empuk ketimbang yang ada di rumah, dan ruangan jelas lebih luas dari kamar di rumah dinas.
Tapi ada resah dalam hati yang tak terkendali, membuat Zea tak bisa memejamkan matanya lama. Baru satu jam ia tertidur, lantas Zea terbangun. Ia mencoba memejam kembali dan baru tertidur setelah 2 jam kemudian, namun satu jam setelah itu ia kembali terbangun.
"Shhhhh, ini tuh kenapa sih?" ia sudah menyerah untuk kembali memejamkan matanya, diliriknya jam yang baru menunjukan pukul 2 malam.
Zea memutuskan bermunajat disepertiga malam, nyatanya bukan hanya dirinya saja disini yang terbangun di waktu malam begini.
Zea melihat lampu kamar mandi bawah menyala, itu artinya ada manusia lain selain dirinya.
Sesosok lelaki berperawakan tinggi keluar dari sana, "abi.."
"Bangun juga?" tanya Al Fath diangguki Zea.
__ADS_1
"Kalo gitu abi ke kamar duluan, takut waktunya ngga sempet..." Zea kembali mengangguk mengiyakan.
"Ze, neng! Sarapan dulu," teriak umi Fara, tak harus menunggu sampai umi bawa orkes dangdut ke kamar, Zea sudah keluar dari kamar dengan pakaian casualnya lengkap dengan sepatu dan tas.
"Kuliah pagi?" tanya abi.
"Iya bi."
Bunyi klakson terdengar dari arah depan, memancing reaksi dari para penghuni rumah, "siapa? Tumben." Kalingga ikut menoleh sejenak menghentikan aktivitasnya menyendok nasi.
"Pak Cokro," tukas Zea beranjak dari kursi makan demi menemui pak Cokro di depan sana.
Al Fath melirik istrinya yang melebarkan senyuman, "ada apa, Zea minta pak Cokro kesini? Ngga pergi sendiri atau diantar Handa?"
Fara menggeleng, "Zea ngajak jalan nanti sepulang ngampus, umi juga kan mau ke resimen dulu..." Fara tersenyum lebar. Merasa curiga dengan senyuman istrinya itu, Al Fath menaruh sendoknya, menatap Fara dengan lekat.
"Umi sama kak Zea cuma pergi berdua? Kemana? Ngapain?" tanya Lingga ikut menginterogasi seolah mewakili pertanyaan Al Fath.
Ibu 2 anak ini menatap suami dan putranya bergantian, "kenapa sih? Pada gitu banget liat umi?" tanya Fara.
"Mi, nanti Ze jemput umi di resimen pangkalan militer?" Zea muncul menenteng kunci mobil miliknya yang barusan diantarkan pak Cokro dan sontak mendapatkan sorotan juga dari ayah mertua dan adik iparnya.
"Ada yang salah?" Zea ikut kebingungan.
.
.
.
.
__ADS_1
.