
Dina tersenyum senang saat duduk di bangku helikopter yang mengangkutnya bersama kedua temannya. Zea dan Clemira, yang sejak tadi tak lepas memeluk lengan ayahnya, Rayyan.
"Akhirnya gue bisa mandi juga hari ini, Cle. Ngga pernah ngerasa seseneng ini mau mandi."
"Besok gue mau sewa kolam renang hotel Horison seharian cuma buat gue, Ze." Ucap anak dari pengusaha batu bara itu dengan entengnya, nyewa hotel mahal saja berasa lagi beli cilok, apa kabar dengan telinga dan dompet para prajurit yang mendengarnya di heli ini, jiwa miskinnya auto jerit-jerit, "mau ikut ngga?" tawarnya.
Zea melirik, "lo pikir dengan tangan gue yang begini, gue mesti gaya apa? Batu?!" sengitnya sewot, seisi heli dibuat menyemburkan tawanya termasuk Rayyan, "mau belajar renang tanpa menggunakan tangan, ngga?" tawarnya.
"Terus pake apa, om? Pake gigi?" balas Zea.
"Hahaha sarav!" Clemira mendorong kepala Zea.
"Pake tenaga dalam!" jawab Rayyan.
"Hahaha, lupa! Om Rayyan kan keturunan manusia gurita, jadi begitu masuk air langsung berubah, banyak tentakelnya..." Rayyan tidak sakit hati, ia justru tertawa tergelak, Zea adalah rival debatnya jika soal bergurau begini saat Clemira menjadi tim horenya.
Ia menggeleng geli.
"Ya elah Ze, lo biasanya juga cuma nyantai di pinggiran aja sambil minum soda sampe kembung!" cebik Dina, Clemira meledakan tawanya, "lah, lo! Sambil menyelam minum air sampe kembung!"
"Tul!" angguk Zea setuju. "Lagian tiap renang lo lama, lagi belajar buat gantiin peran dugong atau pengen gantiin si spongebob. Kulit belum keriput belum naik, heran deh...seneng amat cosplay jadi nene-nene..." balas Zea tak kalah menyakitkan, namun ketiga gadis ini tak pernah sakit hati satu sama lain, memang beginilah gurauan mereka. Clemira kembali tertawa melihat perdebatan kedua temannya itu.
"Lo berdua nih, kalo udah debat mirip emak-emak gang senggol yang labrak pelakor, ngomongnya sambil bawa tabung gas!" ujar Clemira.
Pramudya menggeleng, "hadeuhhh nih bocah dua, berasa lagi nontonin lenong, berisik pula, gimana kalo tetanggaan!"
"Untung kita ngga tetanggaan ya!" tawa Dina, Zea ikut tertawa dibuatnya. Mereka kembali sibuk dengan percakapan santai, tapi Zea tak lepas menatap ke arah bawah, dimana 3 hari ini ia berada di dalam belantara sana, mungkin masih ada trauma dalam dirinya saat ini. Ia telah melalui segalanya, mulai dari kenangan buruk hingga hal manis yang setidaknya meninggalkan bekas di hati dan pikirannya.
Sagara yang berada di dalam helikopter bersama mereka tak pernah lepas memperhatikan Zea, setelah tadi ia hanya menjadi pendengar setia saja mendengarkan ocehan absurd ketiga gadis itu bersama Rayyan.
"Tinggalkan luka, dan kenanglah sesuatu yang menurutmu manis." ucapnya pada Zea.
Gadis yang masih tenggelam dalam pikirannya itu menoleh melemparkan senyuman getir, jika Sagara mudah berbicara maka ia begitu kesulitan melupakan kejadian pahit serta kenyataan yang ia dapat tentang kehidupan keras, entah itu kehidupan prajurit ataupun orang-orang seperti Ajay, serta para gadis korban penipuan Ajay cs, apakah setelah ini mereka akan lepas dari jerat kemiskinan dan penipuan?
Deru mesin dan baling-baling helikopter begitu dinantikan beberapa personel dan orang yang sudah menanti kehadiran Zea cs.
Baru saja helikopter mendarat di pangkalan darurat, beberapa orang telah menunggu.
"Umi!" Clemira turun dan berlari menghambur ke arah Eyi sepaket wajah sembab dan bengkaknya seperti habis disengat tawon. Zea hanya bisa tersenyum getir, tak ada papa ataupun mama Rieke disana menyambutnya.
"Tante," Dina ikut menyalaminya takzim.
"Dina," Eyi memeluk Dina.
"Ze, ya Allah!" Eyi kini menoleh pada Zea yang masih memangku tangannya dengan sling di pundak, gadis itu masih takut jika lukanya tersentuh atau tangannya bergerak.
"Maafin Zea, tante." lirihnya di pelukan Eyi. Ia lantas menoleh pada Rayyan pula yang setia di belakang bersama Sagara, ucapan gadis itu sontak membuat mereka mengernyit tak mengerti.
"Maaf buat apa?"
Zea menunduk, "semua ini gara-gara Zea. Gara-gara kerjaan papi, kalo papi ngga kekeh buat lanjutin perkara yang sekarang lagi ditangani kementrian, Clemira sama temen-temen ngga perlu alamin kejadian ini. Sasaran mereka tuh Ze, tante. Kalo aja Zea denger kata mami untuk ngga ikut ke three lion, mungkin sekarang pihak militer ngga usah repot-repot kaya gini, tante ngga perlu nangis sampe mata bengkak gini..." bahunya bergetar menangis.
Eyi mendekapnya bersama Rayyan yang mengusap pundak Zea, "engga. Bukan salah Zea atau papanya Zea."
Tap-tap-tap....
Langkah seorang jendral kini menghampiri moment haru di dekat landasan.
Sagara melihat jika Al Fath datang langsung menyambut kedatangan mereka, tapi ia disuguhi oleh pemandangan haru Zea, dan keluarga Rayyan.
__ADS_1
"Abi Fath!" Clemira meraih punggung tangannya dan salim takzim.
"Alhamdulillah, anak abi sehat wal'afiat." Jawab Al Fath mengusap pucuk kepala Clemira.
"Alhamdulillah, bi."
Al Fath melirik Sagara dengan bangga, "terimakasih. Atas dedikasi tinggimu."
"Siap, ndan!" jawab Sagara tegas membuat mereka sontak menghentikan aktivitas harunya.
Zea tak tau siapa komandan gagah itu, yang jelas ia terlihat begitu berkharisma dan....sedikit tua.
"Lapor!" Rayyan menghormat, "Zea Arumi, beserta 2 sandera lainnya telah ditemukan di titik koordinat **,** bersama pilot penerbang letda Teuku Bumi Sagara dari skadron X yang jatuh tempo hari!"
Al Fath mengangguk sekali, "laporan diterima. Terimakasih..."
Al Fath menghampiri Zea, "bapak menteri sedang dalam perjalanan, ananda baik-baik saja?"
Zea mengangguk, "iya om. Makasih banyak atas perhatian dan kinerjanya. Maaf udah ngerepotin banyak pihak. Tapi kalo bisa, mami Ze jangan dikasih tau dulu...nanti heboh satu batalyon...markas militer bakal dilanda gempa bermagnitudo 9 skala richter berdampak tsunami karena diacak-acak sama mami!" jawab Zea ditertawai Eyi, "hahaha, berasa liat kak Fara tau ngga! Ada kurang aj arnya gitu."
Saga dan Al Fath menyetujui ucapan Eyi.
"Kak Fara siapa tan?"
"Calon mertua lo!" tawa Clemira berseloroh. Zea semakin mengernyit dibuatnya, sementara Al Fath melemparkan tatapannya pada Sagara, ia teringat dengan ucapan Sagara pada istrinya yang meminta ijin dan restu, apakah gadis yang dimaksud adalah gadis depannya ini? Anak menteri?!
"Sebaiknya kamu mendapatkan perawatan terlebih dahulu, luka tembak jangan dibiarkan lama."
Zea mengangguk, "iya om. Makasih..."
Sekali lagi Al Fath menatap Zea yang malah semakin membenarkan ucapan Clemira dan alibinya sendiri.
Gadis itu menoleh pada Sagara, seolah sedang berpamitan dan Saga mengangguk singkat pada Zea.
"Iya. Baik-baik nak, lekas sembuh..." Eyi mengusap-usap pipi Zea yang lengket.
Kehadiran ketiga gadis ini sontak memantik euforia tertentu untuk pihak militer. Dari sudut manapun dapat Zea lihat para prajurit berseragam loreng memenuhi pangkalan.
Ia dapat tersenyum lega diantara rasa traumanya, setidaknya penglihatannya kali ini tak akan menghianati, ia sedang berada di pangkalan militer, berjalan di dampingi salah satu personel militer menuju ruang medis.
****
Zea menatap lurus ke arah dinding ruangan yang terlihat tak ada hal menarik apapun disana selain semut-semut yang lagi salam-salaman padahal hari ini bukan lebaran, gadis itu tersenyum-senyum sendiri seperti orang kurang seons.
Nyatanya moment manis belakangan ini dapat menjadi anestesi alami untuknya selama dokter militer menjahit luka tembak di lengan Zea.
"Udah dikasih obat antiseptik sama antibiotik dari unit kesehatan di lapangan?" tanya nya seraya menarik benang dari simpul.
Zea menggeleng namun terkekeh anjay," ahhhh...bingung jawabnya," jawabnya merengek gemas, sontak dokter lelaki itu mengernyit kebingungan, "ko bingung?!"
"Bang Saga tuh...ihhh gemes ah! Tapi gue bisa ngga ya beradaptasi sama kehidupan militer, berat--beratt....ck!" oceh Zea.
Dokter militer itu terkekeh tak mengerti, sebenarnya jiwa nih anak lagi dimana? "Jangan-jangan nanti kalo saya tanya udah makan apa belum, jawabnya mau mati..." oceh dokter itu, sontak membuat Zea mengalihkan pandangan padanya.
"Ha? Bilang apa dok, siapa yang mati?" tanya Zea, ia tak mau berbaring di ranjang kaya orang sekarat, lebih memilih duduk saja sambil merhatiin dinding dan membayangkan wajah Saga disana bersama debu-debu ruangan.
Ia tertawa menggeleng, "engga. Sudah! Hebat!" ia memberikan jempolnya pada Zea, "kebahagiaan adalah anestesi terbaik!"
Zea menaikan alisnya, "dokter cenayang? Bisa tau kalo saya lagi berflower?"
__ADS_1
"Saya turunan..." balasnya.
"Keren! Turunan mbah google? Berarti dokter lahirnya di download!"
Dokter muda itu tertawa dengan anak menteri ini, "kenapa mbah google?" tanya nya membereskan peralatannya.
"Kan yang serba tau itu mbah google, bukan lagi mama loreng!" jawabnya.
"Hahah, bisa saja."
***
Zea keluar dari ruang medis di pangkalan yang dibuat secara darurat.
Gadis itu menatap jalan di depannya dan melambatkan langkah, mengingat kembali bagaimana nasib teman-temannya. Bukan ke arah kamar yang ditunjukan, melainkan ia berhenti di depan landasan yang tengah sibuk hari itu.
Zea menatap langit yang mulai meredup ke senja, menikmati sore hari tanpa harus merasa khawatir lagi.
Dengan tanpa di dampingi, ia berjalan ke arah alutsista yang terparkir, meski disana aktivitas terlihat begitu sibuk, mungkin diluar sana Ajay cs belum menyerah, atau teman-temannya masih belum diselamatkan.
Ditatapnya pesawat tempur yang dengan gagahnya terparkir untuk sekedar beristirahat, may be.
Baja bercorak loreng itulah yang mampu menyelamatkan sebuah kata perdamaian negri, meski harus terjadi pertumpahan da rah.
"Pesawat tempur jenis su...., memiliki kemampuan mumpuni, efektif jika digunakan untuk melalukan serangan di medan darat, dipersenjatai 6 misil antiradar, 6 misil berpemandu laser, bom udara kendali canggih, tembakan, mampu menyerang secara presisi...." jedanya berdiri di samping Zea.
"Dilengkapi sistem radiolocation, mampu melacak sampai 10 target. Dia mampu melaju sampai maksimum 2120 kilometer perjam dan menjelajah dalam jangkauan radar 3000 km. Dapat menampung 2 kru di dalamnya...." lanjut Sagara.
Zea tersenyum, "apa lagi yang harus Ze tau?" tanya nya.
Di bawah payung senja, Saga memutar badannya menghadap ke arah Zea, "persyaratan menjadi seorang istri prajurit," ia meraih kedua lengan Zea dan mengusapnya lembut ketika yang sebelah terhenti di bagian perban Zea.
"Udah ditindak?"
Zea mengangguk, "udah dijahit. Dikasih obat juga....tapi ada yang Zea ngga suka," jawabnya menatap Saga mendongak.
"Apa? Disuntik?" tanya Sagara.
Ia menggeleng, "buffnya pahlawan Zea dibuang sama dokter, katanya buff itu udah kotor, takut bikin infeksi."
Sagara tersenyum simpul dan memperpendek jaraknya hingga kini keduanya saling bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.
"Mau ketemu umi ku?"
"Kak Fara?" kekeh Zea.
"Umi Faranisa...." jawab Sagara, gadis itu mengangguk, "siapkan mental,"
Zea menyunggingkan senyuman, "apa kalo anak menteri, ngga punya kartu emas?"
Saga mendengus geli, "umiku ngga mempan disogok jabatan."
Zea berdecak berseloroh, "sayang banget."
.
.
.
__ADS_1
.
.