Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 73


__ADS_3

Bukan pesawat militer yang mereka pakai untuk menyebrangi pulau dan lautan nusantara menuju timur, melainkan hanya pesawat komersil berkelas eksekutif saja, mengingat perjalanan yang dilakukan bukanlah tugas kenegaraan.


"Dulu, hidup umi tuh susah." ucapnya pada Zea curhat colongan, ketika mereka sedang berada di ruang tunggu bandara, kali aja cerita hidupnya itu bikin terharu dan menarik hati produser untuk menjadikannya film.


Jika Al Fath tengah mengobrol santai dengan ajudannya dan Saga, yang sudah pasti tak masuk di otak Fara maupun Zea, Kalingga lebih memilih sibuk dengan dunianya sendiri. Kedua telinganya tersumpal earphone, entah lagu apa yang sedang di dengarkannya yang jelas ia mengangguk-angguk asik.


"Masa, umi?" pertanyaan yang lebih seperti pernyataan tak percaya.


Fara mengangguk, netranya menatap jauh lurus ke depan, seolah membayangkan masa-masa sulitnya dulu bersama nyak Fatimah.


"Padahal umi tuh sarjana, tapi tetep aja sama kaya lulusan sma, smp, jadi pengangguran. Buat nyari sesuap nasi aja mesti ngemis kerjaan sama temen...dibayar dibawah upah seharusnya, dan jauh dari kata layak untuk seorang mahasiswa yang biaya kuliahnya aja ngga murah..." ujarnya menerawang.


"Jangankan buat sebongkah berlian, buat jajan aja mesti mikir seribu kali takut besok ngga punya ongkos buat ngemis kerjaan lagi," lanjutnya meyakinkan.


"Umi tangguh..." puji Zea, menyimak.


"Pernah jadi sales presto, terus ketemu orang galak, judes..." katanya bercerita.


"Wajar sih umi, orang tuh ngga semua nerima sales. Mami aja kalo ketemu sales bawaannya suka pengen ngusir, katanya berisik, maksa, risih..." balas Zea dikekehi Fara.


"Kalo itu mah udah biasa, door to door, dikejar an jink juga sering..." kedua wanita ini tertawa bersama membuat para lelaki kecuali Kalingga terpaksa memalingkan sejenak pandangan, berasa ngobrol di warteg! Pada ketawa tergelak.


"Umi pernah di gigit?" tanya Zea.


Fara menggeleng, "lari umi kenceng. Ngga ada an jink yang mampu ngejar umi," jawabnya jumawa.


"Wah, hebatnya mertua Zea." Ia tersenyum lebar.


Fara tertawa, "iyalah umi lari nyegat mobil bak terbuka...terus nebeng..." tambahnya, membuat keduanya kembali tergelak bersama, "Zea juga pernah kaya gitu umi, waktu kabur nonton tim basket kesayangan! Bela-belain naik bak terbuka sama Clemira, ternyata seru, semriwing-semriwing gitu kena terpaan angin."


"Sekarang udah nikah sama abinya Saga, tetep aja susah." omelnya lagi memajukan bibir kesal, sontak saja Zea melengkungkan bibirnya, "ah masa? Abi ngga pernah kasih umi uang kah? Ngga mungkin..." geleng Zea tak percaya jika mertua lelakinya mirip si qorun apalagi sama istri sendiri.


"Iya susah. Dulu susahnya karena ngga punya duit, mau apapun dan kemanapun ngga ada cuannya. Sekarang giliran cuan udah banyak, tetep aja susah, mau milih kelas pesawat aja mikir 2 kali, mau beli barang branded, liburan ke luar negri mikir 10 kali, takut dikira hasil korupsi, belum lagi peraturan yang mengikat untuk istri prajurit, dilarang hidup bermewah-mewah ria. Dipikir-pikir lagi, apa umi itu memang lahir dari kesalahan ya? Kok hidup tuh serba salah..."


Zea meledakan tawanya, "dulu pengen punya duit karena pengen hidup mewah, sekarang giliran udah banyak duit justru ngga bisa hidup mewah...kayanya umi diciptakan buat jadi orang sederhana, ngga cocok hidup mewah, takut lupa diri." Jawab Zea menguatkan ucapan Fara, kini Fara yang tertawa, menertawakan nasibnya sendiri.


Fara mencebik, "padahal pengen ngerasain, rasanya foya-foya tuh kaya gimana. Takut keburu mati, nanti mati penasaran."


Zea masih tertawa, "nanti kapan-kapan Zea ajak umi buat foya-foya ala Zea...gimana? Mau?"


Fara mengangguk, "banget! Biar muda lagi!"


"Kalo gitu, kuras dulu brangkas abi... Ze juga bakal minta uang sama abang," bisik Zea.


"Sip! Oke!" dikedipi Fara.


Sepasang mertua-menantu gila ini sudah janjian buat foya-foya bersama dan ngabisin duit laki. Dimana lagi nemu pasangan yang klop gilanya, disaat orang lain berlomba-lomba untuk hemat buat beli pertambangan emas, keduanya malah janjian buat foya-foya.




Saga membuka gorden jendela pesawat saat dirasa badan pesawat menurunkan ketinggiannya.



Zea langsung mendaratkan pandangan keluar jendela pesawat, dimana pemandangan pertama yang menyapa adalah danau terluas di daratan timur yang sepertinya jika ber-kayak ria akan menyegarkan pikiran dan pandangan.



Hijaunya perbukitan yang membu jur diantara awan putih yang terhampar bergerombol bak kapas cocok untuk melakukan olahraga parasut.

__ADS_1



"*Onomi Fokha* to tanah timur nona..." ucap Saga memancing rasa hangat sekaligus menggelikan di diri Zea. (**selamat datang**)



"Abang lahir di negri yang indah, pantes abang pun indah...." jawab Zea menangkup rahang tegas Saga dengan sebelah tangannya.



Mereka turun dari pesawat untuk melakukan transit sejenak, menikmati keindahan di kawasan ini.



"Ini kita transit doang, bang? Engga check in di hotel yang ada disini?" tanya Zea, ia terlampau nyaman dan penasaran jika tak mencoba menjelajahi daerah terkenal di dataran timur ini.



"Kita pulang dulu, nanti sebelum pulang ke ibukota, abang pesankan hotel disini."



Zea mengulas senyuman manisnya, tak ada akar rotan pun hayuk lah! Maldives gagal, tanah timur tak kalah bikin bersiul kagum.



Al Fath sekeluarga sempat mencari tempat makan sebentar.



"Ini apa?"




"Ngga ada nasi ya?" tanya nya mengernyit, perut padi ya agak oleng kalo disuguhin papeda.



Kalingga melipat bibirnya kencang-kencang melihat ekspresi Zea yang terlihat kebingungan.



Saga tersenyum, "coba dulu makanan kami, baru boleh nanyain nasi." Ia memintal papeda dengan alat makan semacam sumpit yang disebut gata-gata hingga tergulung rapi, lalu menaruh papeda bagian Zea ke piring istrinya itu.



Oke, jika sushi ia terbiasa memakannya menggunakan sumpit. Lalu ini? Yang benar saja.



"Abang becanda?" serunya membeliak, "daebakkk!" ia berdecak kagum, "bisa gitu ya?!"



Kalingga menyemburkan tawanya melihat seorang anak menteri nusantara namun tak tau seluk beluk nusantara.



Fara ikut tertawa, "awalnya pasti susah neng, tapi dicoba dulu. Dulu umi juga sampe lempar gata-gata nya karena keburu laper!"

__ADS_1



"Coba-coba sekali lagi, ajarin Ze...heran, ini kan sagu lembek gitu....kok bisa!" ucapnya tak percaya setengah kagum, emejing! Orang tanah timur punya jurus apaa?! Benaknya kampungan.



Al Fath menggelengkan kepala seraya mendengus, seseorang yang duduk di pemerintahan mengatasnamakan warga nusantara saja tidak menjamin ia mengenal bangsanya sendiri, miris...bahkan anak, istrinya pun lebih mengenal budaya luar ketimbang negri sendiri, yang dalam sumpahnya menjunjung tinggi tanah air.



"Kamu tuh harus sering-sering keliling ibu pertiwi, neng. Miris, anak jaman sekarang tuh ngga kenal negeri sendiri, lebih kenal dan mendalami budaya negri orang." Ujar Fara.



Percobaan pertama, gagal! Ia hanya menyumpit udara! Argghhhh! Zea kesal.



"Pake sendok aja neng," kata umi.



Namun Zea menggeleng, ia justru semakin tertantang untuk menaklukan papeda menggunakan gata-gata.



"Kok si alan ya," gumamnya.



"Udah kak, bisa belajar lagi nanti...ntar keburu dingin kuahnya," ucap Kalingga.



Saga menyuapkan papeda berkuah kuning ke dalam mulut Zea, yang dengan naluri manusia laparnya, Zea melahap makanan di depan mulut.



"Ini kalo mau makan, keburu Netherland balik lagi buat rampok rempah ini mah!" omelnya diantara kunyahan kecilnya.



Percobaan kedua dan ketiga ia masih tetap gagal.



"Anda belum beruntung," cibir Saga.



"Coba lagi," kemudian cibirnya lagi. Fara sudah tertawa-tawa bersama Kalingga, sementara Al Fath sudah selesai makan dan menikmati air nira dinginnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2