
"Clemira, Eyi!" sapa mama Rieke langsung memeluk penuh rindu pada keduanya, "sehat nak?"
"Tante, alhamdulillah!" jawab Clemira menerima kecupan sayang mama Rieke di keningnya. Eirene tersenyum lebar, "mbak."
"Ze, tunggu bentar disini....mau ketemu tante Fara ngga? Uminya abang?!" bisik Clemira. Sontak saja gadis itu membeliak penuh rasa antusias, "dimana?!" Zea mendadak merasa jika tampilannya tak kece dan seketika merapikan rambutnya, ia mencari-cari cermin karena tiba-tiba merasa tak pede.
"Ntar dulu, mungkin di ruang lain atau lagi jalan kesini!" Clemira mengedarkan pandangan ke sekeliling dimana ruang bandara selalu sibuk dan penuh, terutama hari ini. Lebih terkesan kacau dengan adanya wartawan dan pemburu berita.
Sayangnya penglihatan mereka tak sejeli Risa dan Fara, entah karena terlalu lelah atau memang sudah rabun, posisi Fara dan Risa tak jua mereka temukan.
"Mumpung masih belum datang, gue ke toilet dulu deh! Kok mendadak mules ya, excited mau ketemu orang terhormat!" ucapnya gemas, Clemira tertawa renyah, "lebay ah! Ya udah sana, jangan lama-lama!" dorong Clemira.
"Mi, Zea ke toilet dulu sebentar ya...mules!" ia berbisik bak lebah sambil menarik-narik lengan mama Rieke.
"Ck. Jangan lama-lama. Ngga bisa ditahan aja, apa?!"
Zea berdecak, "masa iya ditahan mi, kalo cepilit di celana gimana?!"
Tangannya refleks memencet hidung, "ih! Jorok, ya udah sana!" pelototnya.
Ibu tuh begitu, sedetik sebelumnya anak dipeluk-peluk disayang-sayang bak berlian, detik selanjutnya beda cerita!
"Ditemenin nduk?" Zea menggeleng, "ngga usah sebentar aja!" jawabnya berlari mencari toilet.
Fara memegang perutnya mulai merasakan sesuatu yang ganjil terjadi di dalam sana, sepertinya roti-roti dan makanan lain yang telah dilahapnya mulai memberontak minta dibuang, maklumlah perut orangtua udah mulai ngga bisa diajak kompromi, kenyang sedikit begah minta sampah dibuang, pedes dikit udah minta ngocor kaya keran air.
"Ris, saya mules. Ke air dulu deh, bilang sama Eyi kalo saya ke toilet bentar!" ucap Fara memberikan potongan roti yang masih tersisa pada ajudannya itu.
"Ibu sakit perut?" tanya Risa memastikan.
"Bukan! Sakit hati, iyalah masa sakit hati megangnya perut!" cebiknya galak, lagian ajudannya ini ngga smart deh! Orang mules diwawancara, kaya minta di tampol selop!
"Ibu mau ditemani?"
"Saya di dalem perut nyak aja sendiri, cuma ke toilet doang mah bisa sendiri ngga perlu ditemenin, kamu mau ikut ke dalem bilik juga, nungguin saya bok3r?!" omelnya. Risa menggeleng nyengir.
"Ya udah, sana ketemu Eyi nanti saya nyusul, bilang aja saya lagi nanem saham di bandara!" katanya sambil celingukan mencari arah toilet.
Zea masuk ke toilet wanita dan segera mencari bilik yang kosong, rasa deg-degan dan gugup membuat perutnya tak bisa dikondisikan, meskipun ia tak tau hajatnya bakal keluar atau tidak. Hanya berselang 2 menit kemudian, Fara masuk juga ke dalam toilet wanita, semua bilik nyatanya telah terisi.
"Aduhhh!" aduhnya kelimpungan menahan hajat, mirip-mirip nahan rindu, bikin ati nyesek.
"Yang di dalem bisa gercep ngga?!" teriaknya, "hey excuse me! Somebody can hurry!" ujarnya berteriak mirip gorilla lagi masa kawin.
Zea mendengar itu, mirip-mirip suara announcer yang ngumumin keberangkatan, tapi ini lain.
"Siapa sih, malu-maluin banget pake teriak-teriak..." gumamnya sambil merasakan nikmat mules dan duduk di toilet duduk.
Tak lama pintu bilik toilet samping Zea terbuka, setidaknya yang Zea dengar kini sudah terisi kembali, mungkin oleh ibu-ibu modelan toa barusan.
Suara gesekan pakaian yang diturunkan terdengar di sampingnya sambil ngomel-ngomel, "ah pake ada acara mules segala lagi!"
Zea terkekeh tanpa suara mendengarnya, hingga tanpa sadar ia berucap membalas, "mules ngga tau tempat ya bu, kaya saya dong!" jawabnya.
__ADS_1
"Eh," Fara terkejut mendengar balasan di bilik samping, ia tertawa, rupanya omelannya maha dahsyat sampai terdengar ke bilik sebelah, mirip-mirip suara bisikan tetangga. Atau justru inilah definisi bisik-bisik tetangga yang sebenarnya.
"Iya nih. Biasalah kalo perut kenyang suka pengen langsung nyari tol exit aja..." Fara berbicara sambil ngeden, membuat Zea tak bisa menahan tawanya, rasa mules yang ia rasakan mendadak hilang entah kemana.
"Kalo ibu karena kebanyakan makan. Kalo saya karena gugup bu," jawab Zea, jatohnya kedua wanita beda generasi ini malah saling curhat diantara bilik toilet sambil ngomongin hal jorok, sungguh memalukan! Untung tak ada wartawan yang meliput sampai toilet.
"Oh iya, saya juga suka gitu neng. Kalo gugup suka mules padahal ngga bisa buang..." jawab Fara terdengar membuang air, wushhhhh!
Zea terkekeh, "iya bu. Ini juga ngga ada yang mau pamit dari dalemnya..."
"Gugup mau ketemu sama ibunya cem-ceman..." lirih Zea lagi melanjutkan kalimatnya.
"Oh...ya ya..." Fara mengangguk dari tempatnya sambil bersiap ngeden lagi.
"Takut emaknya galak ya? Judes---judes?"
"Iya. Takut beliau ngga suka saya...setau saya beliau orang terhormat, bedalah circlenya sama saya yang cuma bubuk biskuit celup."
Fara tertawa disana, "taun 202X udah ganti jadi bubuk biskuit celup..." gelengnya bergumam.
"Hmmm, gitu ya bu. Iya sih bu, dilarang suudzon ya!" angguk Zea.
"Iya. Tapi kalo emang udah keliatan gelagat mirip mertuanya si marimar mah, santet aja neng! Tuman! Manusia modelan ngga ada akhlak kaya di sinetron ikan asin mah mesti dimusnahkan!" lanjut Fara ditertawai Zea.
"Saya juga sebenernya sekarang lagi ngga pede, mau ketemu pejabat neng!" akuinya merasa kerdil.
"Oh, ibu mau ketemu pejabat juga?"
"Oh, neng juga?"
"Iya bu. Mamanya orang spesial aku cukup punya pengaruh di nusantara, prestasinya wadidaw lah!"
"Oh sama dong ya, padahal mah saya males kalo ketemu emak-emak sosialita begitu. Omongannya ngga masuk di otak saya, pergaulannya terlalu tinggi buat saya yang cuma kaum mendang-mending!" jawab Fara. Karena pegal, Zea menyudahi acara duduk cantiknya dan memilih keluar untuk bercermin, "bu, saya duluan keluar ya..." ujar Zea.
"Oh iya. Semangat ya neng!"
__ADS_1
Obrolan mereka lancar selancar proses keluarnya sampah Fara, tanpa memperdulikan pengguna toilet lainnya yang sejak tadi merasa berisik dengan keduanya, toilet berasa milik sendiri, yang lain dianggap bakteri.
Ia membuka topi yang menghiasi kepalanya sejak tadi juga jaket, "kayanya ngga sopan deh, apalagi kalo salim terus nunduk...masa iya nanti kepentok pad topi." gumam Zea merapikan rambut dan pakaiannya.
Fara keluar dari dalam dan berdiri di samping Zea ikut bercermin.
"Ibu yang barusan di sebelah saya?" tanya Zea, Fara mengangguk, "neng yang barusan ngajak saya ngobrol di dalem?!" diangguki Zea.
"Idih, anak cantik gini masa ngga pede!" ujar Fara, bagaimana bisa ia lupa dengan wajah Zea, atau mungkin karena kejauhan terus memakai jaket dan topi jadinya wajah Zea tak terlihat oleh Fara.
Zea tersipu, "ah engga bu. Biasa aja, segini tuh Zea belum pede malahan. Takut ibunya abang ngga suka,"
Fara melihat wajah Zea dari pantulan cermin, "kalo saya jadi ibunya pacar kamu, bukan penampilan yang saya nilai...tapi akhlak dan pola pikir...dia juga sayang engga sama anak saya yang cuma seorang pion," jawab Fara mengusap pundak Zea.
"Justru itu yang saya takutkan bu, takut beliau ngga suka sama akhlak saya yang minus...kalo sayang mah udah ngga perlu dikhawatirkan lagi sih, udah pasti sayang saya tuh, sama abang!" jawab Zea.
Fara tersenyum, "bilang saya kalo dia ngga suka kamu, biar nanti saya kenalin sama anak saya. Saya tebak kamu masih SMA atau kuliah?"
Zea mengangguk, "bentar lagi lulus bu. Kepengen kuliah di luar," jawab Zea.
"Berarti cocok buat anak saya...."
"Kalingga, namanya! Mau kenalan ngga?!" senyum Fara, "eh, tapi kamu udah punya pacar ya?! Ngomong-ngomong nama kamu siapa? Anak siapa, tinggal dimana?"
"Saya Zea Arumi, bu. Ayah saya namanya Rewarangga, tinggal di ibukota..."
Fara melotot dibuatnya, "Rewarangga, kaya nama menteri itu?!"
Zea mengangguk, "iya. Kenapa bu?"
"Mendadak mules lagi!" Fara menelan salivanya sulit.
.
.
.
.
__ADS_1
.