
Zea menaruh tangannya di tengkuk Saga dengan lembut, tatapannya melemah ketika pria dengan baret dan seragam kebangaannya itu merengkuh pinggang Zea penuh rasa.
Bukan di padang sabana atau rerumputan tinggi layaknya film-film romantis anime Jepang, moment manis itu terbingkai menjadi kolase foto prawedding Zea dan Saga tepat di pangkalan militer dimana Saga bertugas, dengan latar beberapa pesawat tempur dan orang-orang yang melintas menjadi figuran, tak apalah yang penting gratis!
Mereka seolah menjadi saksi pentasbihan cinta keduanya menuju hari sakral.
Keduanya tak sempat merencanakan pernikahan secara matang, mengingat kesibukan Saga dan Zea serta pengalaman yang nol, keduanya menyerahkan urusan pernikahan pada keluarga besar Zea dan Ananta.
...**You are my everything.......
...Takdirku datang seperti bintang jatuh....
...Membiarkanku bertemu dengan seseorang sepertimu....
Zea mengusap dadha dengan beberapa tanda brevet disana termasuk sebuah pin wings yang menandakan jika Sagara adalah seorang pilot satuan khusus penerbang pesawat tempur.
"Dengan ini, Zea mentasbihkan diri siap mendampingi abang di kala suka ataupun duka, mendampingi abang memenuhi tugas negara..." ucapnya. Saga menyunggingkan senyuman, "aku, perwira penerbang satuan khusus skadron X pesawat tempur, letnan satu Teuku Bumi Sagara Ananta dengan ini mengucapkan terimakasih dan mencintai kamu sepenuh hati, Zea Arumi," balasnya.
Senyuman terhangat dan terbaik terpotret indah dalam jepretan lensa kamera milik Al Fath oleh Ryu.
"Cut! Oy!" teriak Russel.
"Udah--udah, yang disini pada baper oy!" lanjutnya seraya melepaskan leher kipas ketika Ryu sudah menangkap foto paling bagus di pose ini.
"Anjirrr banget, kirain disuruh kesini ngapain...disuruh ngipasin baju biar ada efek terbang!" dengan masih memakai seragam SMA'nya pemuda ini mengomel. Yap! Demi menekan budget dan acara yang dadakan itu, kedua calon pengantin ini memanfaatkan sumber daya yang ada.
Ryu yang hobby fotografi dan sering mengikuti ajang fotografi tingkat nasional di dapuk jadi fotografer dadakan foto prewed Saga-Zea.
Umat klan Ananta banyak, kenapa tak dimanfaatkan, daripada cuma jadi sampah masyarakat yang doyan bikin onar saja lebih baik bikin aksi yang berfaedah.
Saga menoleh dan menghampiri Ryu, "gimana Ryu?" tanya nya memanjangkan leher ke arah kamera abi Fath, kamera bersejarah yang masih awet sampe hari ini, jika dilihat dengan mata batin, mungkin kamera ini sudah jenggotan dan ubanan saking tuanya.
"Bagus bang. Coba abang liat aja. Kamera abi Fath badass lah, ini dipasaran masih lumayan mahal loh bang, padahal udah puluhan taun," Ryu menscroll beberapa hasil jepretannya sambil ngoceh muji-muji kamera dari generasi ketiga klam Ananta itu mirip orang lagi kumur-kumur.
Zea mele nguh lelah disana, ia berjongkok sepaket baju panjang yang sampai menyapu landasan, cukup risih juga memakai pakaian begitu, takut di gigit dan ditarik guguk namun demi sebuah foto aesthetic ia mau saja. Russel ikut bergabung bersama Zea disana sambil tangannya membuka tutup botol minuman isotonik karena sejak tadi tenggorokannya itu berasa seperti sedang musim kemarau, "dadakan banget sih, kak."
"Mumpung ada waktu, Sel. Lagian Zea males kalo mesti janjian sama fotografer, terus deal-deal'an. Emangnya kamu ngga mau duit jajan dari abang?" tanya Zea ikut memanjangkan lehernya ke arah keresek putih ciri khas minimarket dan mengambil minuman lainnya.
"Ya maulah! Lumayan, buat beli sesuatu yang menyenangkan!" alisnya naik turun, Zea tau apa artinya itu, pasalnya otak Russel dan otaknya bisa dibilang satu tipe, satu frekuensi dan satu 'spek komputernya.
Zea langsung menoleh, "beli apa yang menyenangkan? Jangan macem-macem Sel, abi-abi sama abangmu itu pihak aparat! Nanti bundamu juga ngamuk!" Zea mewanti-wanti.
Russel menyunggingkan senyumnya menggeleng, "yang penting ngga ketauan. Dan nga kebanyakan."
Zea menggelengkan kepalanya, "lo mah ih ngga bisa dibilangin!" decih Zea menyipitkan mata, ia cukup kepikiran untuk membuat adik sepupu dari Saga berubah, senyum seringai tercetak dari bibir manisnya, "kalo gitu, khusus buat lo yang sukanya hal menyenangkan bikin melayang. Nanti Zea yang kasih! Gimana?"
Russel menyipitkan mata curiga, "beneran?" alisnya naik sebelah, "lo tau merk yang bagus, ka?"
"Absolutely!" angguk Zea mantap.
"Oke. Percaya gue, lo cewek gaul, mainannya pasti diatas Shangri-La, diatas tahun '94 ya, jangan lupa.." ujar Russel, yang salah menilai Zea. Ia memang anak gaul Jekardah, tapi tak sampai hati untuk membuat mama Rieke mati berdiri.
Saga menghampiri Zea dan Russel yang asik mengobrol sambil jongkok persis anak kecil yang lagi pada kumpul sambil mainan gundukan tanah.
"Udah kan bang, gue mau ketemu temen-temen..." ujar Russel diangguki Saga, "nanti abang transfer buat jajan."
"Eh, ngga perlu bang! Biar nanti Zea aja yang kasih khusus buat Russel!" larangnya segera.
Russel tersenyum lebar, "iya bang. Biar kak Zea yang kasih," ia menaik turunkan alisnya. Ryu mencium bau-bau konspirasi antara kembarannya dan Zea yang roman-romannya sesuatu menguntungkan namun ia tak diajak, "lo dikasih apa?" tanya Ryu mencari tau penuh rasa penasaran.
__ADS_1
"Ntar gue bagi!" balas Russel tersenyum usil.
"Oh, oke." tak mau banyak bicara dan memperpanjang semuanya, Saga hanya menyetujuinya.
"Kalo gitu, Ryu sama Russel pulang dulu bang."
"Oke, hati-hati."
Hari menuju pernikahan sudah tinggal menghitung hari saja. Baik di rumah kediaman Ananta maupun menteri Rangga tengah sibuk menyiapkan pernikahan keduanya. Dan moment-moment seperti ini menjadi ajang berkumpulnya keluarga Ananta, meskipun calon manten lebih sibuk bekerja.
"Paket!" si kurir sedikit ragu mengantarkan paket kiriman, karena dengan jelas ia menangkap pemandangan keramaian acara dari luar.
"Siang pak, betul ini alamat-----" si kurir berjaket hijau memperlihatkan alamat yang tertera di layar ponselnya pada seorang penjaga berseragam loreng, ia juga tak salah lihat tengah berhadapan dengan prajurit bersenjata di depannya, rumah apakah ini?
"Betul."
"Ini ada paket untuk Russel,"
Belum ia menyerahkan kotak berbungkus paper bag itu pada tentara bawahan Al Fath, Russel keluar dari rumah kediaman Ananta dengan celana box ernya.
Jika tentara yang berjaga langsung menarik tangannya, lain halnya dengan kurir yang refleks memberikan dengan segera paper bag itu pada si empunya, "mas Russel kan?!" tanya nya takut-takut, Russel terkekeh atas aksi jahilnya, "iya."
Ia menerima paket dan melihat pengirim, "dari Zea.." ia mengembangkan senyumannya.
"Thanks mas!"
Ia membawa itu ke dalam, bukan ke dalam rumah melainkan ke samping rumah dimana para sepupunya berkumpul.
"Apaan Sel?" tanya Clemira. Kalingga menghentikan petikan gitarnya dan ikut melihat kedatangan Russel.
"Kiriman dong! Dari calon kakak ipar terkasih!" tawanya.
__ADS_1
"Kak Zea?" tanya Panji.
"Milah?" tanya Clemira, "tumben. Lo sama Milah sejak kapan deket, sampe kirim-kirim barang segala?"
Ryu tersenyum lalu menyerbu Russel, "yang waktu itu?" tanya nya diangguki Russel.
"Yoi brother! Emang nih kakak ipar satu kubu sama kita, Ryu..." kekehnya memuji.
Clemira menaikan alisnya, "satu kubu dalam hal apa?"
"Ngga beres nih. Senyum doi ngga beres Cle." ujar Kalingga. Russel tertawa renyah, "udaahhh...orang suci diem aja! Kayanya lo sama kakak ipar ngga akan akur, Ngga..." ucap Russel duduk di kursi teras di barengi Ryu, "buruan buka Sel," tukas Ryu tak sabar.
Cukup penasaran, Panji ikut melihat, Clemira yang tau akan sikap Russel sempat melarang Panji.
Sebuah kotak kardus berwarna biru navy ia keluarkan dari dalam paper bag, senyumnya masih melebar.
"Widihhh, kotaknya aja keliatan estetik oy! Rum apa wine nih?" tanya Ryu ikut antusias. Russel menoleh ke segala arah demi keamanan dirinya dan isi kotak dari para orangtua, terutama bundanya.
"Aman ngga nih, Ryu?" tanya Russel pada kembarannya.
"Aman."
Russel membuka kotak kiriman Zea dengan harapan sebesar bulan, ketika ia buka kotak itu meledaklah tawa Kalingga, Clemira, Panji dan Ryu.
"Hahahahaha! Mamposss, makan tuh wine!"
...***sesuai pesanan, sesuatu yang menyenangkan dan bikin melayang....have a nice day 😂😂😂***...
.
.
.
__ADS_1
.
.