
Zea menarik lagi selimut dan tenggelam di dalamnya.
Saga tidak meminta lagi dan lagi seperti seseorang yang memiliki gangguan sekzzzz. Ia berusaha menarik-narik selimut karena istrinya itu enggan untuk bangkit, banyak sekali alasan Zea.
"5 menit lagi deh bang, nunggu Nippon balik lagi kesini buat jajah, Ze lemes banget ya Allah...abang ngga kasian ih, Zea tidur jam berapa coba! Berat mata Ze, kaya ketempelan kingkong."
"Subuh dulu, nanti abis itu mau kamu terusin lagi tidurnya, abang ngga akan ganggu. Biar sarapan abang yang cari," bujuk Saga.
"Masih pegel bang," manjanya lagi, tubuhnya menggulung selimut bak pisang bolen siap dipacking dan dipasarkan.
"Abang gendong," balasnya lagi, tak ada kata nanti untuk ibadah, kalau 5 menit kemudian ternyata sang Khalik mengambil nyawanya mau bagaimana?
Zea menghela nafasnya Sagara memang niat banget benerin akhlaknya, Zea tak bisa untuk tak keluar dari selimut.
Saga duduk di tepian ranjang dan melihat wajah merengut Zea, "ikhlas ya..."
Zea menghela nafasnya, "astagfirullah...ikhlas abang..." tatapnya melunak, membuat Saga tertawa sudah mengganggunya demi kebaikan.
Cup!
Satu kecupan di sarangkan di kening Zea, "airnya nanti keburu dingin lagi."
Saga tertawa renyah, sepertinya ini akan menjadi kebiasaan istrinya di rumah, ia berdiri dan beranjak dari kasur, menyingkapkan selimut dengan hanya memakai cawattt saja dan baju atasan.
"Abang ngga bisa sembarangan masukin Izan sama Luki lagi sekarang, bahaya. Takutnya kebiasaan mereka langsung masuk... Kalo abang ngga ada kunci pintu."
"Masukin aja. Kalo di England tuh si Natalie atau anak-anak kost lain udah biasa kaya gini loh bang padahal kost'annya dimasukin temen-temen kampus, cowok pula." Enteng Zea cengengesan mengikat rambutnya.
Saga melirik Zea dengan tatapan tak terdefiniskan horornya, The lord of darkness be like, "kamu kaya gitu juga?"
Saga menghela nafas untuk kesekian kalinya, astagfirullah itu pa ha!
Zea menggeleng, "kayanya belum coba, mestinya cocok ya, ini kan negara tropis..." alisnya naik turun pada Saga.
"Coba aja. Paling nanti yang liat, abang bolongin matanya satu-satu." Saga ikut beranjak mengambil koko dan sarungnya.
Zea mengangkat kedua alisnya, "dihhh. Galak! Ini negara hukum, bung! Yang ada bung disidang PM." Ucapnya meniru gaya Moh. Hatta. Mungkin jika Clemira ada, ia sudah tertawa-tawa melihat ia mendebat Sagara dengan berbagai gaya. Wanita ini emang doyannya nyolek emosi orang.
"Ngga masalah, abang kan emang aparat penegak hukum. Yap! Ini negara hukum, dan liat-liat istri orang yang lagi telan jangan itu hukumnya haram, masuk rumah orang tanpa ijin, dimana hanya ada istri yang notabenenya berlawanan jenis itu juga dilarang, seorang istri masukin lelaki lain apalagi tanpa ijin suami itu dilarang, area ini juga sudah masuk kawasan abang, abang punya aturan main sendiri," jawab Saga mencecar, Zea malah tertawa seolah jalan pikirannya itu berbeda dari orang lain.
"Kebayang ngga sih, abang bikin papan di depan rumah, tamu wajib lapor empunya rumah, tamu lelaki dilarang masuk, masuk langsung tembak di tempat!" Zea kembali meledakan tawanya.
"Ide bagus!" balas Saga yang sudah berpakaian lengkap, ia melilitkan handuknya di pinggang Zea demi menutupi bagian bawah istrinya yang mungkin jika 5 detik lagi tak ditutupi bikin iman jebol persis tanggul banjir. Godaan terberat seorang suami itu ya setelah ambil wudhu, setannya tuh istrinya sendiri, subhanallah!
"Abang pergi dulu, kamu mandi. Kunci pintu." Ucapnya.
"Bye suami! Wa'alaikumsalam...eh belum ya?!"
"Assalamu'alaikum."
Sagara berjalan keluar dari masjid bersama Izan dan Luki seraya bersenda gurau.
"Hari ini masih latihan bersama?" tanya Sagara.
"Masih."
"Honeymoon nih kayanya," goda Luki terkekeh menaik turunkan alisnya. Mereka berpapasan dengan Rudi dan Luna.
"Saga yang engga berduaan, tetep ngenes gue liat manten baru yang kemana-mana nempel kaya prangko, Ki!" kelakar Izan ditertawai Luki, sementara Saga hanya mengulas senyuman tipis dan mengangguk sopan menyapa teman satu regunya itu.
"Zan, Ki...Ga..Zea ngga subuh juga?" ujar Rudi berbasa-basi.
"Engga bang, dirumah."
"Halah paling juga dia mah belum bangun jam segini, emang gitu sih dari dulu, waktu jaman sama bang Anka aja pemalesan, udah nikah ya tetep aja pemalesan." hardik Luna mencibir, didekapnya sajadah dan mukena di dadha seraya merotasi bola mata, mungkin jika orang yang ia cibir ada disitu mungkin Zea sudah menyumpalnya dengan batu kali dan melempar wanita itu ke neraka.
Seketika suasana hangat menjadi canggung dan tak enak, "sstthhh, sayang."
"Masih capek kali, semaleman digempur sama pilot lesawat tempur! Cuma yang ini rudalnya beda. Pfftt!" timpal Luki dapat kembali mencairkan suasana. Izan tertawa mendorong pundak Saga, membuat Rudi terkekeh getir, tak enak hati dengan Sagara, ia cukup heran saja ada masalah apa antara istrinya dan Zea, jika hanya karena Zea yang lebih memilih Saga dibanding kakak iparnya, rasanya alasan itu terlalu klasik dan manipulatif. Seperti ada alasan sebenarnya yang ia skip dan ditutupi.
__ADS_1
"Si alan. Rudal jenis apa, emangnya Ki?" tanya Izan menggoda.
"Rudal B3N1H..." jawab Saga yang sontak saja meledakan tawa kedua temannya termasuk Rudi.
"Anjiimmm." Umpat Luki.
Melihat Rudi dan Luna yang mendadak bikin paginya mendung, Saga memilih bubar jalan, "Ki, Zan, gue mau cari sarapan dulu. Zea juga pasti udah nunggu..."
Ucapan Saga justru menjadi boomerang yang dimanfaatkan Luna, "abang nyari sarapan?" serunya bertanya. Luna tersenyum miring, "istri apaan ngga bisa layanin suaminya, masa iya suami nyari sarapan sendiri, ngga guna jadi istri. Untung ngga jadi sama bang Anka..."
"Luna!" mereka terdiam, cukup terkejut dengan ucapan Luna dan bentakam Rudi. Luki dan Izan hanya bisa cengo dibuatnya dan berdehem tak nyaman.
"Sorry Ga. Luna cuma bercanda," ujar Rudi tak enak diangguki Sagara, "ngga apa-apa bang." Padahal ia juga tak tau jika sampai istri nakalnya mendengar auto Luna hilang dari bumi saat ini juga.
"Kalo gitu kita duluan, Ga...Zan, Luki."
"Iya bang." Angguk ketiganya. Rudi menarik Luna, namun wanita itu menepis tangan suaminya.
"Gila yak. Mulutnya, ada masalah apa sebenernya antara Luna sama Zea, Ga? Apa karena Luna gagal move on dari lo, atau Zea yang nolak kapten Ankara?" decak Izan tak habis pikir.
Sagara tak mau ambil pusing dengan bersuudzon ria atau menerka-nerka, ia tak peduli apa yang orang pikirkan dan katakan, asal jangan menyenggol dan mengusik dirinya, istrinya dan keluarganya saja.
"Dah lah! Ngga usah ngurusin orang, lapar gue lah! Mie instan terus bosen, lama-lama usus gue ikut melilit, cari nyarap nyok!" ajak Izan. Ketiga perwira itu berjalan mencari gerobak nasi uduk atau nasi kuning, apapun yang bisa mereka makan sebagai sarapan.
Tangan-tangan lentik itu menyalakan musik kesukaannya dengan cukup keras, kalo bisa sampai setan dalam diri melambaikan tangan dan pergi.
Dengan sapu dan mop lantai yang mungkin sejak saat ini mereka akan menjadi bestie, Zea mengitari setiap ruangan di rumah sepetak ini.
Geser sana, geser sini, gadis yang sudah berganti status semalam ini menggeser letak perabotan rumah dan membersihkannya. Benar-benar terasa sentuhan hangat wanita di rumah ini.
"Ntar gue beli wallpaper dinding ah! Kusem banget dindingnya kaya muka si Luna!" cibirnya.
"Sayurrrrr bu---ibu!" teriak seorang lelaki kencang. Zea mengecilkan volume dan mencoba menjelikan pendengaran.
"Eh, sayur!" Ia bergegas keluar meninggalkan mop lantai dan sapu begitu saja.
Gerobak berwarna coklat sudah dikerubuni oleh para ibu tetangganya, jika di luar ada wanita panggilan, maka di pangkalan ini ada tukang sayur panggilan.
"Misi ibu-ibu," Zea tersenyum ramah.
"Eh, tetangga baru? Ibu Sagara?" tembak salah satunya diangguki Zea.
"Wah, ada putrinya pak menteri."
__ADS_1
Si mamang sayur bahkan melongo, "menteri?"
"Iya bang. Menteri Rewarangga, ini tuh anak bungsunya," jawab ibu lain.
"Ohhhh! Yang kemaren nikah, disiarin beritanya di tv?!" tanya si abang lantang.
Zea mengangguk, "iya bang! Prajurit sini! Om Sagara!" jawab si ibu berdaster.
"Wahh! Moment langka," jawab si abang, "kenalin bu, saya tukang sayur panggilan. Kalo mau pesen sayur atau bahan makanan lain, wa aja wa.." balasnya sambil menyelam minum air, sambil berkenalan, promo juga.
"Iya." Zea tersenyum.
"Ibu mau belanja juga?" tanya nya, berlomba-lomba berkenalan dan mencari muka di depan Zea.
"Iya bu, masa nyatronin tukang sayur mau bikin bom bareng," kelakar Zea.
"Ini berapa bang?" Zea mengambil jagung manis.
"Itu sekilonya 20,"
"Ah, si abang! Baru kemaren harganya cuma 16 ribu. Masa sekarang udah mahal lagi!"
Zea dibuat cengo ketika emak-emak dengan sadisnya menawar, "gila. Emak-emak disini sangar-sangar kaya suaminya..." untug saja nawarnya ngga sambil nodongin senjata punya si om'nya.
Dari 20 ke 16, nawarnya ngga pake budi pekerti. "Kenapa ngga 10 ribu aja bu, biar si abang langsung gulung tikar?" tanya Zea, ibu yang lain tertawa mendengarnya.
"Ibu Sagara ini, bisa aja."
Saga yang baru saja pulang sambil menenteng kresek putih berisi nasi uduk dan gorengan itu berjalan ke arah blok rumahnya, meninggalkan Izan dan Luki yang memilih makan di tempat.
Ia mengulas senyumannya melihat seseorang yang dikenalnya tengah berkumpul mengerubungi gerobak sayur dengan sandal jepit dan dandanan khas wanita rumahan. Ia menyulap Zea dari princess menjadi wanita rumahan sederhana. Luna salah, Zea adalah istri idaman.
*Ini tuh dimasaknya enak di balado, bu*.
*Nanti saya kasih tau resepnya*.
Zea mengangguk-angguk mencoba memahami, meskipun pandangannya sempat tertegun pada jemari lentik dimana luka-luka bakar dan goresan pisau ia dapatkan waktu lalu dan baru saja hilang. *Auto codet-codet lagi nih tangan*, *nail art pasti pada rusak, mata perih lagi ngupas bawang*. Zea menghela dan tersenyum seraya mengangguk yakin, "Abang, ayamnya sekilo ya. Sama keluarga bawang mulai dari merah, putih, sama yang daun."
Zea juga melongokan pandangan ke arah kepalan uang yang tadi ia ambil dari meja, otak perempuan itu langsung beradaptasi menyesuaikan budget yang ada, rupanya begini menjadi seorang istri, ibu rumah tangga, harus pintar dalam segala hal. Angkat topi untuk para istri, ibu rumah tangga yang ada di dunia.
Tak ada ilmu yang mengajarkan menjadi ibu rumah tangga namun ujian prakteknya setiap saat, dan Zea belajar itu sejak detik ini.
.
.
.
.
.
__ADS_1