Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA-PART 83


__ADS_3

Luna menatap dengan alis menukik ke arah wanita yang saat ini sedang cengar-cengir bersama ibu lain.


Entah Zea harus bersyukur karena Tuhan menganugerahinya dengan otak pintar atau ia yang selalu dipayungi oleh takdir hoki. Ide cemerlang datang melintas begitu saja di otaknya seperti tukang ojek.


"Ibu mau nambah, boleh--boleh bu!" tawar Zea pada istri-istri prajurit itu, membuat mata Luna semakin membeliak, "Ze..." teriakannya tertahan rasa gengsi. Terang saja si abang bakso senang, bak ketiban durian runtuh baru keluar, dagangan udah laris.


"Wah, kenyang iki. Matur nuwun loh bu, nasi di rumah awet iki..." lihatlah senyum-senyum para malaikat rumah tangga itu.


"Bahagia itu sederhana, bahagiain ibu di dunia itu balasannya surga, betul ya bu?!" tanya Zea pada ibu-ibu yang mengangguk.


Tatapan devil sejak tadi menghujani Zea, sementara si pelaku tengah cekikikan diantara Vio dan Rida.


Luna mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempangnya, dan dengan cepat menghubungi nomor sang suami, "Abang!!"



Luki tergelak puas bersama Izan di kantor, siang-siang begini harus disuguhi drama perploncoan. Bukan Zea yang notabenenya sebagai seorang junior oleh Luna sang danru, namun sebaliknya.



Diantara tugas menjenuhkan sekaligus bikin ngantuk, mereka dihebohkan oleh aduan Luna pada Rudi.



"Siap salah, ndan! Maafkan istri saya..." Saga membungkuk sekilas pada Rudi, baru saja ia mengelus dadha lega, karena di jam pertama pertemuan Zea, tak ada info atau kabar darurat dari istrinya itu, pada akhirnya ia mendengar Luna yang nangis kejer ngadu pada Rudi gara-gara Zea.



Padahal awalnya, Saga khawatir Zea akan datang padanya sepaket tangisan yang mampu membuat kantor banjir karena dibully oleh Luna yang notabenenya lebih senior dan memiliki jabatan, namun rupanya itu semua tak berlaku untuk seorang Zea.



"Atas nama pribadi dan Zea, saya minta maaf bang..." kini Saga berucap sedikit friendly sebagai tanda penyesalan pada Rudi, namun Rudi menggeleng, "tak apa, Ga. Ini hanya masalah sepele."



"Jika tidak keberatan, semua uang baso yang telah abang keluarkan biar saya ganti....berapa nomor rekening abang?" ia benar-benar dibuat garuk-garuk tengkuk dengan kelakuan Zea, baru hari pertama pertemuan, ia sudah sukses bikin danrunya nangis kejer. Saga tau ini akan terjadi, dan sudah tau pasti siapa yang akan menang.



Rudi terkekeh menggeleng, "saya tau Ga, ini akan terjadi. Tak apa, tugas kita sebagai seorang imam yaitu mendamaikan para istri, dan tidak terprovokasi." jawabnya.



Izan menggeleng, "kacau dunia permiliteran ini....siap-siap ibu danrunya babak belur. Anak menteriiii gitu loh!" ia menggumam yang langsung disikut Luki.



"Maaf sekali lagi bang," angguk Saga, Rudi menepuk pundaknya seraya mengangguk, "saya duluan, Ga. Luna sedang sedikit sensitif." Senyumnya getir.



Selepas Rudi berlalu, Izan dan Luki menyemburkan tawanya lagi, "bini lo, juara! Contoh junior yang ngga gampang ditindas!" Izan justru menjempoli tindakan Zea dan menepuk-nepuk pundak Saga yang malahan sedang menggeleng frustasi.



"Patut dicontoh," timpal Luki. Saga berdecak dan ikut keluar dari kantor demi mencari istri nakalnya itu.



"Kenyang ngga ibu-ibu?" tanya Zea.


"Alhamdulillah!"


"Puji Tuhan, kenyang bu Saga...makasih loh!"


Zea nyengir bangga, "oh itu sih kecil buat ibu danru, ya kan bu?!" ia lantas menaik turunkan alisnya pada Luna yang memasang wajah keruh, sepertinya sudah kelewat gosong karena memerah sejak tadi.


"Buat ibu danru kita ini, nothing is possible! Bintang aja bisa dia turunin dari langit cuma buat nyenengin saya!" ucapnya memancing rasa marah berlebih lagi dari Luna, "dasar cewek sableng, untung aja ngga jadi sama bang Anka. Yang ada abang gue boncos!" gemelutuk giginya senada dengan kemarahan yang sejak tadi ia tahan.


Luna mengepalkan kedua tangannya saking gemas, dan hampir menjambak Zea, namun ia urungkan karena sudah pasti PM jawabannya, dan ia tak mau itu.


"Liat aja Ze, pasti gue bales!!!!"


"Sabar, bu." salah satu rekan sesama istri mengusap-usap pundak Luna.




"Bu Saga keren!" ucap Ovi ditertawai Rida, ketika mereka berjalan hendak pulang. Tak ada kendaraan pribadi yang dipakai mereka, toh jarak dari kantor ke rumah tak sampai lintas kampung.

__ADS_1



Zea menaikan alisnya sebelah, "Ze, panggil aja Ze. Jangan Ibu, berasa tua banget..." jawab Zea mengunyah permen karet dan meletuskannya untuk seterusnya ia kunyah kembali, jika cemilan ibu-ibu tadi adalah baso, maka Zea tak memakannya. Ia justru mengunyah permen karet.



"Tapi kok ngga ikut jajan baso?" tanya Rida.



Zea hanya mengulas senyuman, "Ze jarang jajan kaya begituan."



"Oalah, kenapa to? Enak padahal bu?" angin menuju sore membawa serta rasa damai dan hangat diantara ketiganya.



Ia kembali tersenyum, "dulu sih jaga badan karena dancer, kalo sekarang udah ngga dance...udah terbiasa dari dulu engga jajan begituan."



Keduanya beroh ria.



"Bukan Ze terlalu higienis, tapi kadang suka merhatiin aja di abang-abang tukang baso gerobak atau tanggungan gitu, kalo mau layanin pembeli, bikin baso. Tangannya kadang abis garuk-garuk ngga dicuci dulu langsung ngolah..." Zea bergidik sendiri membayangkan kebanyakan tingkah abang-abang baso.



Rida tertawa, "justru mungkin enaknya karena itu!"



Zea tergelak padahal Ovi sudah berhuwek ria, "mbak Rid, ih! Aku jadi mual sendiri, abis makan baso barusan!"



Ketiga wanita ini tertawa bersama tanpa harus janjian, obrolan mengalir begitu saja tanpa harus dipaksakan satu frekuensi pikiran.



"Kalian berdua ngga mau jadi buntutnya ibu danru, juga? Bukannya harusnya kalian tau, kalo deket-deket Ze justru nantinya Luna bakal ikut-ikutan ngga suka kalian? Ngga takut?" tanya Ze.




"Justru kita segan sama mbak Zea, karena anu loh...yang kita tau, mbak Ze ini...." Ovi sedikit tak enak menyebutnya dan langsung disikuti Rida.



"Anak menteri? Atau menantu jendral?" Zea tersenyum miring bertanya. Keduanya saling lirik menandakan jika tebakan Zea benar adanya.



"Udah gue duga." Zea menggeleng, selalu alasan yang sama sejak dulu, makanya ia tak suka jika identitasnya diketahui orang.



"Kalo kalian berdua mengharapkan perlindungan, atau bisa jilat Ze...kalian berdua salah orang. Atau nantinya Ze bakalan seenak jidat disini kalian big wrong, karena nyatanya suami Ze itu bawahan berdedikasi meskipun anak jendral, dan menantu menteri. Yang ada Ze dijewer abang...."



Ovi dan Rida cekikikan.



"Kaya gini?" tiba-tiba saja sebuah tangan mendarat mulus menarik cuping telinga Zea membuatnya dan kedua istri prajurit itu terkejut.



Zea hafal betul siapa pemilik tangan dan suara itu. Dari aroma maskulin yang menguar meski sudah dimakan waktu saja ia langsung hafal.



Ovi dan Rida menutup mulutnya cukup terkejut.



"Hehehe, abang...." kekehnya, "abang udah pulang, kok ngga ada w.a? Tau gitu Ze lari sampe rumah, biar nyampe duluan..."

__ADS_1



"Kalo gitu kita berdua permisi, mbak Ze, om Saga...om...." keduanya mengangguk pada semuanya termasuk Izan dan Luki.



"Iya, sama. Ze juga permisi om-om, suami Zea mau pulang, belum ada lauknya buat makan..." wanita itu malah ingin ikut pergi, meledaklah tawa mereka termasuk Ovi dan Rida, "mbak e ono-ono wae..."



"Ampun gusti...."



"Zan, Ki...kalian berdua duluan aja. Tante Fajar, tante Gumilang..." angguk Saga menahan tangan istri nakalnya.



"Monggo..." kedua ibu berbaju ungu itu berlalu meninggalkan Zea.



"Oke...oke..." Izan mengangguk dengan masih meninggalkan tawanya.



"Jangan keras-keras sama istri, Ga." Luki melambaikan tangannya.



Zea menatap meringis ke arah suaminya, "abang nih...romantis ah!" coleknya di perut Saga, "bilang aja mau jalan berdua sama Zea, sampe ngusir mereka segala!" godanya, namun Saga tak sama sekali ingin ikut tersenyum.



Sadar akan tatapan maut dari suaminya, Zea segera buka suara, "ada yang salah?"



"Adek ngga merasa bersalah sama bang Rudi?"



Bukannya menyesal, Zea justru menggeleng, "engga. Emang abang liat atau denger Zea celakain bang Rudi? Atau Zea kepergok lagi santet danru? Engga kan? Istri abang mah baik!" katanya, "mantu abi umi mah soleha!"



"Anak papa Rangga mah cantik!" tambahnya lagi melingkarkan tangannya di lengan Saga, "udah yuk pulang! Kalo ibu danru bilang macem-macem sama abang, atau ngadu yang lain-lain sama suaminya, abang cukup percaya Allah aja. Jangan percaya sama nenek lampir yang mirip ibu danru..." jawabnya menyamakan nenek lampir dengan Luna, bukan Luna yang mirip nenek lampir.



"Dia sampe nangis, dek...kamu apain? Bener kamu nyuruh Luna traktir baso satu regu? Abang ngga enak sama bang Rudi." balas Saga, keduanya berjalan pelan menuju rumah diiringi obrolan ini.



Zea menoleh dengan kernyitan, lalu sejurus kemudian matanya merotasi malas, "elahhhh gitu aja sampe ngadu! Cepu, cuma nraktir ibu se-regu aja rugi, lebay banget kaya ngabisin berapa puluh juta aja....kan dia yang bilang mau nyambut Zea sebagai anggota baru unit penerbang. Kalo sambutan kan etisnya gelar makanan....ya 'kannn?"



Saga menepuk jidat istrinya yang magic itu, "abang tau bukan karena itu. Yang sudah berlalu biarkan berlalu, kalo Luna memang berniat begitu...." belum Saga melanjutkannya Zea sudah memotong, "maka balas! Istri abang kan bukan pengecut. Zea cuma mau dia nyadar, tidak semua yang dia pengenin bisa terlaksana, ngga semua junior bisa dia bully. Dan satu yang harus dia tau!" Kini wajah Zea menatap tajam penuh rasa mantap.



"Zea akan mempertahankan harga diri, dan sesuatu milik Zea."



Saga yang awalnya sempat kesal, tak bisa untuk tak luluh. Tangannya mengusap pucuk kepala Zea, "abang tau. Tapi jangan libatkan orang lain. Abang akan tetep hukum kamu, untuk mendisiplinkan kamu."



Senyum Zea luntur, bahkan berganti senyuman kecut, tangannya melepas kasar tangan Saga, "kok gitu sih! Bung Saga ngga asik ah!" ia berjalan duluan menghentak jalanan, dan ketika dirasa sudah sedikit jauh dari Saga ia berlari sekencangnya sambil melepas sepatu.



Saga tertawa, "nona manis mau coba-coba nantang fisik prajurit ini mah!" Saga bersiap mengambil start mengejar Zea.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2