Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 80


__ADS_3

"Yang ini berat, isinya apa?" Zea menepuk-nepuk permukaan kardus seraya menebak-nebak isi salah satu kardus bekas produk mie dalam negri yang dikirim Fara sesaat setelah keduanya sampai di rumah dinas, beratnya persis lah seperti berat dosa Zea belakangan ini.


"Ubi kayanya," Saga tidak sedang menebak, namun tangannya langsung menarik dan membuka kardus itu. Voalah! Isinya adalah ubi sebesar-besar pa ha emak kingkong.


"Ubi sebanyak ini mau diapain?" tanya Zea.


Jangankan membayangkan makan ubi, ngolahnya saja ia tak pandai. Kebayang kan, ubi segini banyaknya cuma untuk dirinya dan Saga? Padahal jika dihitung-hitung bisa dibikin takjil kolak ubi buat satu kompi.


"Kasih papa-mama, mas Zico---mbak Kinan. Atau tetangga, nanti kresekin buat Luki, Izan sama bang Rudi," tanpa repot-repot mengeluarkan isinya, Saga menggusur kardus menuju bawah meja biar tak berantakan dan menghalangi jalan. Mendengar nama Rudi, ia jadi ingat Luna, yang benar saja! Saga memintanya memberi ubi pada Luna? Sampai desa konoha dipimpin sama si cepot saja ia tak ikhlas!


Zea hanya menggidikan bahunya tak acuh, ia lebih memilih fokus pada noken, tas rotan dan batok kelapa yang ia beli dan bawa dari timur. Cewek sih begitu, lebih pilih aksesoris ketimbang bahan mentah apalagi Zea, dikesampingkannya urusan ubi yang bisa bikin kepala pusing, hati ngga ikhlas.


Mirip seperti bocah yang punya mainan baru, ia membawa barang-barang miliknya ke kamar, kalo bisa mau ia kasih figura deh, biar cantik! Harganya itu loh, lumayan lah! Ketimbang harga tas di tanah abang, haruskah ia post kan saja? Sebagai ladang cuan, kali aja sukses seperti uni-uni atau cici-cici di tanah abang. Masa iya, oleh-oleh khas haji saja ada! Lalu khas timur kalah pamer.


"Abang, besok Ze udah mulai masuk kampus juga by the way, siang menuju sorenya pertemuan istri. Jadi besok Ze super-super sibuk!" sambarnya ketika Saga baru saja masuk ke dalam kamar menghentikan sejenak bidikan kameranya dari arah tas-tas itu demi menoleh.


Saga mengangguk paham, lantas barusan itu istrinya sedang woro-woro atau minta diperhatikan? Saga mengambil inisiatif untuk bertanya, "mau diantar? Atau diantar pak Cokro?" tanyanya sambil meraih t shirt yang sudah tergeletak rapi di atas ranjang. Bagaimana pun ia tak bisa untuk tak mengulas senyuman tipis atas perhatian kecil ini. Itu artinya Zea membiasakan dirinya untuk melayani Saga bahkan sampai hal terkecil sekalipun.


"Kalo Ze pergi sendiri pake mobil Zea, haram engga?" ia bertanya terlebih dahulu pada Saga selaku prajurit, pasalnya setau Zea ada aturan yang melarang para istri abdi negara untuk bermewah-mewah ria, tidak sesuai dengan aturan dan sumpah. Padahal niatnya pingin pamer sama mantan saingan, kali aja iri. Zea paling suka mancing-mancing emosi Luna.


Channel, atau Rolex cukup lah buat bikin Luna ngebul di hari bolong apalagi dibarengi ia yang turun dari mobil kerennya, janganlan Luna lalat aja minder buat hinggap.


Sayangnya, suami Zea itu kelewat soleh, rendah hati dan tidak sombong, gagal deh pamernya! Zea berdecak ketika jawaban yang didapatnya adalah gelengan kepala, "motor matic ada, atau taksi online masih banyak. Biar lebih irit bensin. Lagian abang khawatir kamu kebut-kebutan."


Bibir manyun Zea semakin manyun menyerupai monc ong monorail, secenti lagi mentok nih sampe stasiun!


"Kalo gitu Ze mau bawa tas hermes keluaran terbaru!" binar matanya kembali terang, seterang lampu jalan.


Saga kembali menggeleng, "merk biasa ngga punya?"


Dan, tokk! Benar, bibir Zea mentok sampe tukang cendol depan pangkalan.


Roll rambut masih menggulung poni mirip bolen pisang, namun dirinya sudah sibuk bersama spatula dan garpu.



"Abang, sarapannya sama omelete aja ya...." teriaknya pagi-pagi.



Buku...buku....pulpen, garem....eh!



"Belum punya anak aja gue udah heboh gini, astaga!" kikiknya tertawa sendiri mengakui kehebohannya. Zea membuka penanak nasi yang sudah mengepulkan asap harum nasi, dan baru matang.



"Abang sarapannya udah siap!" Zea masih berkutat dengan maskara di depan cermin setinggi 60 cm, yang ia bawa dari kamar ke karpet depan.

__ADS_1



Saga yang baru keluar dari kamar dan sudah siap dengan seragamnya mendengus geli melihat Zea, pemandangan ini yang akan selalu menghiasi hari-harinya.



"Kamu udah sarapan?" tanya Saga, lirikan Zea melihat pantulan Saga dari cermin di depannya, "belum, touch up dulu! Biar paripurna, masa istri letnan satu dekil..." jawabnya.



\*\*\*


Saga tak sampai harus berbohong demi membuat hati istrinya senang, sementara lidahnya sudah kelu gara-gara rasa yang tak termaafkan, toh Zea sudah terlatih hidup mandiri semasa di England. Ia makan dengan lahapnya.



"Ada sim?" tanya Saga, Zea mengangguk menepuk-nepuk tas dimana dompetnya berada. Saga mengeluarkan stnk dari dalam dompetnya lalu menunjukan layar ponsel miliknya ke depan Zea, "uang jajan, sama uang makan udah abang transfer, hemat-hemat," ucapnya.



Alisnya sempat berkerut demi melihat angka nol di belakang angka nyata, "itu nolnya pada kemana? Abang tendang ya?!"



"Abang bagi-bagi. Uang makan, jajan, transport, bayar kuliah, dana darurat, nabung sama sedekah."




"Kalo gitu bekal, jadi uangnya bisa dipake jajan cemilan." See, Saga itu ngga akan kalah. Zea mengangguk paham.



Zea naik ke atas boncengan belakang, Saga akan menumpang sampai depan kantor.


"Bang Izan!"


"Wey! Kapan balik, Ga, Ze?"


"Semalem." jawab Saga diangguki Zea, "ada oleh-oleh bang, buat bang Izan sama bang Luki. Tapi nanti aja ya, pulang Ze dari kampus..."


Seketika senyuman Izan merekah, "siap! Udah turun lo, bareng gue aja ke kantor, mentang-mentang bini bening, ditempelin mulu!"


Saga hanya mengulas senyum tipis, "takut Ze nyangkut di mess taruna, bang!" tawanya lantang, Izan ikut tertawa, "lanjutkan kadet!"


"Ashiap!" jawab Zea sama gilanya.


Saga tak banyak berkomentar atau menegur keduanya, ia hanya geleng-geleng atau manggut dan mendengus saja, tak ingin menimpali ketidakwarasan keduanya.

__ADS_1


"Apa sih, rame-rame?!" Luki ikut keluar dari rumahnya dengan menenteng sepatu, menepuk-nepuk telapak kaki dan bersiap memakai kaos kaki.


"Ini, lagi godain manten baru!" jawab Izan.


"Bang Luki, mau oleh-oleh ngga dari timur?" tanya Zea. Tentu saja Luki langsung berseru, "mau lah!"


"Ada, koteka tapinya..."


"Dek," tegur Saga, sementara Izan sudah tergelak, dan Luki ikut tertawa, "boleh, siapa tau bisa memikat gadis!"


"Saravvv nji rrr!" Zea langsung membekap mulutnya keceplosan. Gelengan Saga semakin intens mendengar ketiganya, "udah. Nanti kamu telat. Zan, Ki...gue duluan motornya mau dipake ngampus..."


"Sip! Sampai ketemu di kantor," jawab Luki dan Izan, sementara Saga menstater motor matic dan pergi dari sana, "bye abang-abang perwira! Salam buat tentara yang ganteng ya!" teriak Zea, Saga langsung menyentakan gas motor sampai-sampai Zea refleks memeluknya karena motor yang tiba-tiba loncat.


Izan dan Luki tertawa kembali melihat drama sepasang pengantin itu.


"Abang ih!" Zea menepuk pundak Sagara.


Sepanjang jalan menuju gerbang depan, Zea melingkarkan tangannya erat di perut Saga, menumpukan dagu di pundak sang suami.


"Abang harum, mau Ze bekel harumnya abang buat di kampus...do'ain Ze dong! Katanya do'a suami itu mujarab."


"Do'a?" awalnya Saga sempat mengernyit tapi kemudian ia menurut, "iya. Belajar yang rajin. Dimanapun kamu belajar, sama aja. Semoga lancar kuliahnya..."


"Bukan do'a itu."


Kembali Saga mengernyit diantara fokusnya mengendarai motor, "terus pengen di do'ain apa?"


"Do'ain biar Zea ngga banyak lirik-lirik cowok di kampus..."


Saga meledakan tawanya, bersama Zea yang juga tertawa.


Bughh!


"Malah ketawa ih! Abang ngga takut gitu punya istri cantik gini dilirik-lirik orang!"


Saga mengangguk-angguk, "iya..iya...takut, semoga ngga ada cowok gila yang mau sama adek," balasnya, pukulan-pukulan itu kembali dilayangkan Zea di punggung Saga.


Ditatapnya seorang perempuan yang ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam rumah bersama dengan lelaki berseragam loreng menarik tangannya, seperti sedang membujuk.


"Bang Rudi, pagi-pagi udah ngemis cinta aja..." lirih Zea membuat Saga mengedarkan pandangan ke arah yang ditunjukan Zea. Saga menatap getir sekaligus kaku, "itu urusan rumah tangga orang. Kita sebaiknya ngga usah ikut campur atau suudzon."


"Kasian bang Rudi. Dia masih suka abang, Zea bisa liat itu bang...." tambah Zea.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2