Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 88


__ADS_3

"Om Handa, ikut om. Mani--pedi ngga akan bikin om langsung cantik kok!" bujuk Zea, sementara Fara sudah memilih perawatan apa saja yang akan memanjakan tubuhnya, mulai dari masker emas, mandi susu, mandi kembang, mandi uang pun ia sikat! Toh duit tabungan Al Fath ngga akan langsung habis.


Letnan satu itu menggeleng kencang, yang benar saja! Ia anak jantan, mana mungkin menyentuh barang perempuan, sekalipun kulit terbakar dan kasar, justru itu adalah bukti nyata bahwa ia lelaki sejati.


"Han, ikut?! Saya yang bayar...kebanyakan dijemur sama suami saya, kamu jadi kerupuk terasi!" ucap Fara, bukan Zea yang tertawa namun pegawai salon yang sedang mereka datangi saat ini. Handa menelan saliva sulit, benar-benar keputusan sulit, bagaimana jika selepas dari sini kulitnya jadi lembut bak baby?


"Maaf bu, saya di luar saja." ujarnya menolak.


Namun bukan Fara atau Zea namanya jika tidak mendapatkan keinginannya, masa iya mereka santai-santai sendiri sementara ajudannya hanya menunggu mirip patung kucing di toko kue keranjang, bikin takut para pegawai salon.


"Ck. Udah---ngga usah terlalu mikirin kerjaan. Ze denger, om masih jomblo! Siapa tau balik dari salon om jadi glowing cewek cantik pada ngejar! Ngga jomblo lagi deh!" desaknya mendorong punggung Handa. Bagaimana jika sudah begini? Handa bisa apa? Lebih baik melawan musuh yang tinggal ditembak lalu mati.


"Mbak! Ini kasih perawatan buat om saya ya, ngilangin komedo sama peremajaan kulit, pake masker yang ngandung bengkoang juga biar glowing, sel-sel kulit matinya ilang!" pinta Zea diangguki karyawan salon. Handa mundur beberapa langkah ketika karyawan yang menanganinya lelaki bengkok.


"Sini mas ganteng, duduk disini!" pintanya gemulai, Fara menyemburkan teh chamomile yang diteguknya, ia baru ingat jika ajudannya itu sedikit khawatir dengan lelaki bengkok macam capster ini.


"Bu, saya...."


"Kenapa sih?" kini Zea yang kebingungan sendiri melihat Handa yang ogah-ogahan dan Fara yang tergelak puas.


Tak usai disana, setelah puas memanjakan diri di salon bersama Handa yang mulai sawan, keduanya berbelanja, mulai dari pakaian, sepatu, dan tas serta aksesoris.



Di tempat lain



Al Fath baru saja pulang, ia masuk tanpa membuka sepatunya, "Lingga, umi sama kakak iparmu belum pulang?" tanya nya celingukan mencari sosok sang istri. Dilihatnya hanya ada putra keduanya yang tengah duduk di ruang tengah seraya menatap layar laptop.



Kalingga menggeleng dengan tangan yang masih bergerak lincah di atas laptop, mengerjakan tugas, "belum. Emangnya umi ngga bilang lagi dimana? Biasanya abi ngawasin umi lewat om Handa?"



Sebenarnya Al Fath tau dimana Fara 30 menit yang lalu, Handa mengatakan mereka sedang dalam perjalanan pulang, tapi nyatanya sampai detik ini kedua wanita itu belum jua pulang.



"Kemana sih ini?!" akhirnya Al Fath geram juga dan menatap arlojinya.



\*\*\*



"*Merah putih teruslah kau berkibar! Di ujung tiang tertinggi*....."



"Wohooooo! Kerennnn!" seru Zea bertepuk tangan sambil mem-video sang ibu mertua yang bernyanyi diiringi musik para pengamen jalan lampu merah di taman kota.



Dalam perjalanan pulang ketiganya dari mall, ketika mobil berhenti di stopan lampu merah sekelompok anak memainkan gitar, kendang sederhana dari paralon dan kecrekan bernyanyi di samping mobil, berharap mendapatkan sepeser dua peser untuk mereka makan malam nanti.



Fara mengeluarkan uang recehan dari saku tas depannya, namun Zea menahan tangan Fara, "umi mau karaoke dengan nuansa berbeda ngga?" senyumnya menaik turunkan alisnya.



"Karaoke?" alisnya terangkat dengan mata bening yang berbinar, Handa melirik atasannya dengan wajah frustasi, apalagi ya Allah! Ia mengusap wajahnya kasar, bisa-bisa sampai rumah ia dihukum oleh sang jendral jika sampai terlambat.

__ADS_1



Jadilah mereka disini atas ide cemerlang Zea.



"Temen-temen kalian panggil, coba! Ada ibu Faranisa disini, beliau mau nyanyi tapi pengennya diiringin musik satu jalanan ibukota!" ucap Zea pada para pengamen.



Ya salam! Handa melenguh berat.



Sontak saja para pengamen itu berseru senang, kapan lagi dapat rejeki rame-rame.



Kini para pengamen stopan sekitar berkumpul tak kurang dari 15 orang dengan membawa alat musik mereka sendiri-sendiri yang biasa mereka pakai untuk mengamen, bahkan ada diantaranya yang membawa biola. Jangan salah! Meski mainan mereka cuma jalanan, tapi kualitas mereka panggung opera!



Bahagia itu sederhana, meski harus menguras kantong dompet!



Apa yang mereka lakukan secara tak langsung memancing atensi orang sekitar, tak sedikit pula yang mengabadikan moment langka ini dan membagikannya di sosial media, suara Fara sudah tak perlu diragukan lagi.



Zea menjadi penonton paling depan dan yang paling heboh, "Wwooooo! Umi feat. Jekardah Ansambel!" teriak Zea.




***Klik***!



***Dibagikan***



Handa memang merasa repot, tapi senyuman tipis jelas tersungging dari ajudan Al Fath ini, istri atasan dan menantunya itu memang agak gila, tapi mereka begitu spesial. Coba hitung, ada berapa banyak istri pejabat seperti mereka? Yang secara tak langsung benar-benar mengabdikan dirinya untuk negeri.



"*Biar saja ku tak sehebat matahari, tapi slalu kucoba tuk menghangatkanmu*...


*Biar saja ku tak setegar batu karang, tapi slalu kucoba tuk melindungimu*...."



Zea benar-benar melubangi kantong Saga untuk memesan makanan via online untuk mereka disini, "makasih pak! Tip nya udah Ze kirim ya," senyumnya menerima beberapa kantong kresek ciri khas warung nasi padang.



Ia tersenyum, "makasih mbak." si bapak yang membawa serta kantung makanan di jok belakangnya itu tersenyum puas seraya mengeluarkan kresek kantong terakhir dari dalam sana, "eh, ngga usah. Yang itu buat bapak makan aja."



Lembaran demi lembaran biru Zea tarik dari rekening pribadinya untuk ia berikan pada setiap pengamen yang baru saja ia mintai datang.


__ADS_1


"Makasih kak, berkah selalu ya. Lancar-lancar rejekinya, biar sering-sering..." kekehnya berseloroh, Zea dan Fara tertawa, "makanya do'ain biar rejeki mantu saya lancar, kuliahnya lancar juga..."



"Ini bukan lagi nyaleg kan bu?" tanya salah seorangnya, sontak membuat Zea dan Fara saling lirik lalu tertawa bersama dan menggeleng, "bukan. Saya bukan dari partai manapun."



Zea meralat, "partai ulat sagu kayanya, mi... Atau matahari timur?" tawanya seraya mengepalkan kertas nasi dengan tangan yang berlumuran bumbu.



Keduanya berdadah ria selepas makan bersama dan naik kembali ke dalam mobil, "bu, bapak sudah menunggu sejak tadi." ujar Handa diangguki Fara.



"Saya tuh seneng kalo liat mereka seneng. Cuma dapet beginian aja udah bikin mereka berasa menggenggam dunia," lirih Fara menatap kumpulan pengamen yang kini mulai bubaran, mobil mereka pun sudah mulai melaju meninggalkan taman kota menjelang magrib.



Zea tersenyum, kebaikan Fara menular padanya, entah kebaikan Sagara?



"Neng, tadi abis berapa? Biar umi ganti...takutnya nanti jadi masalah rumah tangga kalo kamu ngabisin uang gede," Fara menoleh pada Zea, menantunya itu menggeleng, "Ze yakin, abang ngga akan masalah. Lagian untuk makan tadi pake uang Zea, mi. Zea masih kalah start dari abang sama umi soal kebaikan, mi."



Fara tersenyum dan mengusap kepala Zea, "semoga rejekinya tergantikan yang lebih ya neng."



"Aamiin."



"Blue eagle come in, pesawat stabil...area clear, meminta status ganti..."


"Laporan dicopy. Sepertinya armada sudah siap pakai di medan tempur, uji teknis selesai." Danru Rudi mengambil alih.


"Skadron XX kembali ke pangkalan, bersiap menghadap..."


"Dicopy, ndan!" seru para pilot penerbang. Namun baru saja mereka memecah formasi di udara serangan udara menghujani langit sore itu.


Dorrrr...


Dorrr....


Duarr....


"Pigeon come in, badan pesawat saya tertembak!"


"Blue eagle, come in!"


"Markas come in, skadron XX meminta status para pilot?!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2