
Jika ada moment paling kampungan di hidupnya, maka moment inilah juaranya.
Saat Sagara menunggu jawaban Zea tentang permintaan hati yang terselubung dalam kata testimoni hubungan, bukan Zea yang terdengar lirih menjawab.
Kruyukkkk....
Suara perut gadis itu lebih terdengar nyaring ketimbang suara hatinya.
Bwahahahahaha! tawa Clemira yang mencoba untuk kembali menyelam di alam bawah sadar tiba-tiba saja harus di kejutkan dengan bunyi genderang perang yang bertabuhan di lambung Zea.
"Perut si alan emang, ngga bisa diajak kompromi. Gagal cantik ini mah!" omelnya. Bahkan Sagara menutup mulutnya dengan kepalan tangan, gadis yang mengaku tangguh dan kuat puasa itu ternyata terkhianati oleh lambungnya sendiri.
"Bunyi apaan sih itu? Kruwek-kruwek terus kaya suara balon menciut gitu?" tanya Dina. Clemira semakin tergelak mendengar pernyataaan Dina.
"Bukan balon menciut, tapi lambung kawan kita ini yang menciut karena lapar..." jawab Clemira mencibir, padahal mata gadis di sebelahnya itu sudah memicing layaknya pisau daging.
Dina meledakan tawanya, "aduh, njirrr ngakak! Suara lapar lo jelek banget, Ze. Fals tau ngga!"
Sagara semakin tertawa puas sampai memegang perutnya meski tak tergelak.
"Terus menurut L, suara lapar gue mesti gimana? Seriosa'an gitu biar merdu?" sungut Zea, "tolong harap dimaklum dong ya! 2 hari gue ngga makan nasi, namanya juga lambung nusantara, belum makan nasi tuh belum afdol, apalagi cuma masuk buah segede upil gini doang....mana kenyang!"
"Terus kalo lo merit sama abdi negara yang mencloknya ngelilingin nusantara mau gimana, harus siap sedia dibawa ke hutan sekalipun? Apalagi tempat yang makanan pokoknya bukan beras?! Mati dong, lo?"
Alis Zea berkerut, "abdi negara kan bukan mo nyet, yang kemana-mana mesti gerombolan. Yang bener aja, masa iya nugas ke hutan gendong-gendong anak bini." debat Zea memang ada benarnya juga, tapi mbok ya perumpamaannya itu loh!
Dina tertawa, "lo berdua tuh ngomongin abdi negara apa koloni tarzan sih?! Kan bingung gue'nya."
"Lagian gampang lah kalo nanti gue sampe diajak hijrah ke kutub utara!" jawab Zea enteng, "gue telfon koko Andrew dari pasar minggu buat kirimin gue beras pake ekspedisi, apa sih yang ko Andrew ngga bisa," lanjutnya.
Clemira menaikan bola matanya dan mengangguk, "iya sih, lo bener juga!"
"Iso! Iso! Nanti siang langsung meluncur ta kirimi, njih bu menteri!" Zea dan Clemira menirukan gaya bicara koko Andrew, jika mereka sedang menemani mama Rieke berbelanja pada langganan toko sembakonya, keduanya lantas tertawa bersama sementara Dina mengerutkan alisnya, "koko Andrew siapa?"
"Langganan sembako mami gue, dia tuh mantap chiwa!" jawab Zea ditertawai lagi oleh Clemira.
"Mantap chiwa?" kini Sagara yang angkat suara.
Clemira mengiyakan, "mantan turunan petapa china jawa. Nih! Ni anak yang kasih julukan," tuduh Clemira pada Zea.
Kini Zea yang tertawa, "gemesh banget deh, be gonya mirip siapa sihhhh?!" balasnya mencubut pipi Clemira gemas. Clemira tertawa, Zea sudah kembali ke stelan awal, Zea yang menyebalkan dan konyol. Bisa-bisanya kedua gadis ini malah saling berdebat dan menertawakan satu sama lain, padahal keduanya tengah terjebak di tengah hutan, tapi kalau sudah berdebat begitu udah berasa lagi di warung tegal.
Malam ini dilewati dengan tertidur saling bertumpuk, sudah mirip roti lapis. Sagara sampai harus memisahkan Zea karena ia meringis sakit ketika tangannya tersenggol Clemira. Dibandingkan kedua temannya yang tidur pulas layaknya di hotel, hanya Zea yang kesulitan untuk tidur.
Beberapa kali ia terbangun merasakan tubuhnya yang mulai terasa tak beres.
"Aduh," keluhnya. Sagara yang memang terjaga melangkah ke depan Zea, "aww!"
"Kenapa, kesenggol Clemira?" tanya nya, Zea mengangguk.
"Pindah-pindah..." pinta Sagara. Zea menurut dan berpindah, namun saat Sagara menyentuh kulit gadis itu, Zea terasa panas.
"Ze, kamu demam." Mata Zea begitu sayu, wajahnya pun memerah, namun terlihat jelas kulitnya yang meremang, "dingin bang, huffhhh..." Zea menggigil.
__ADS_1
Saga segera melepas baju luarnya hingga menyisakan tubuh tegap terlatih berbalut rompi anti peluru dan kaos putihnya, lalu memasangkan itu ke badan Zea.
Zea memandang wajah Saga meski dalam gelap, rasa nyaman dan aman kini menyeruak memberikan kehangatan untuk hatinya, ternyata ketakutannya tak beralasan, kini dapat ia rasakan sisi kelembutan Saga.
Jawaban atas pertanyaan sifat arogan seorang prajurit adalah, bagaimana pribadi seseorang, ia boleh sadis di lapangan namun tidak saat memperlakukan orang di luar pekerjaannya.
"Bang,"
"Hm? Pusing?" tanya Sagara. Zea menggeleng, "sedikit."
"Abang cari minum dulu," ijinnya.
"Besok aja. Gelap, kasian jalannya ngga keliatan." Lebih baik ia menahan rasa laparnya, mengingat terlalu besar resiko untuk Saga mencari makanan di malam hari, salah-salah langkah auto ia yanh dijadikan makanan binatang hutan. Lagipula makan malam itu tak bagus.
Sagara kembali mencari posisi enak lalu menepuk-nepuk bahunya sebagai kode untuk Zea bersandar, "kalo kamu ngga keberatan."
Lama Zea menatapnya, "Ze, mau nanya sama abang. Apa abang bersikap lembut kaya gini karena tugas atau memang hal lain?"
"Dan untuk sandera istimewa begitu, sudah pasti ada perlakuan istimewa sepaket rasa segan. Apa abang terlihat segan saat ini, mengistimewakan kamu dibanding Dina dan Clemira?"
Sagara menegakan lehernya, "apa sifat dingin abang sudah menular ke kamu? Sampai-sampai kamu tak bisa merasakan, mana yang namanya mandat mana yang namanya perhatian tulus?"
Sagara benar-benar membuat Zea tak bisa berkutik dengan segala manuver dan serangannya.
"Abang mau nikung bang Anka?" tembak Zea menebak, tapi di luar dugaannya, lelaki ini justru dengan terang-terangan berani mengatakannya.
"Kalau sikap dan tindakan abang sekarang kamu anggap begitu, maka abang iyakan."
Zea menghela nafasnya panjang, "bukannya abang bilang kalo abang..."
"Ngga suka kamu?" potong Sagara.
"Ternyata hati abang mengkhianati mulut," jawab Sagara mengakui seraya menghela nafasnya lega, karena telah mengungkapkan perasaannya yang sempat tertunda selama beberapa hari ini, mirip orang sembelit, tiap mau ngeluarin susah bikin hati nyesek sampe kulit merinding.
__ADS_1
Zea mengernyit, lantas sedetik kemudian ia cengengesan dan tertawa renyah, "abang seriusan?"
"Abang masih ada ikatan dinas." Sagara kini menunduk menatap sebelah tangan Zea yang terikat di sling darurat yang ia buat lalu menyentuhnya memastikan jika tangan Zea baik-baik saja, atau mungkin ia sedang menutupi rasa gugupnya.
"Abi bilang, seorang lelaki sejati itu tidak pernah memainkan sebuah janji, apalagi pada perempuan. Tidak memberi harapan jika memang tak suka dan akan menyakiti pada ujungnya, meskipun umi bilang semuanya butuh penjajakan, bukankah itu cuma buang-buang waktu, energi dan materi tentunya?"
Sagara mendongak dan bertemu tatap dengan Zea yang melunturkan raut wajah gelinya, mata kelamnya seiras dengan alis tebal yang terlihat menukik serius, "Zea Arumi, jika waktunya sudah memungkinkan....apa kamu mau mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kamu tadi dengan abang?"
Zea terhenyak, apakah lelaki ini sedang melamarnya?
"Tap...Zea...itu...anu...apa sih..." Zea menggaruk kulit kepalanya yang mendadak teraliri keringat begitu deras.
Kepalanya lumayan kleyengan, badannya tak karuan, entah panas tapi dingin pula, ia berada diantara nervous namun pun merasa jika tubuhnya kini bermasalah.
"Abang ngga niat ngajak pacaran dulu atau apa gitu, kalo tiba-tiba ditodong gini kan, Zea ngga ada jawabannya..." gadis itu memposisikan diri bersandar di pohon, ia sudah tak kuat menanggung beban kepala yang mulai berat.
Zea mengusap keringat yang mulai mengucur dingin sampai banjir.
Sagara melihat ada yang tak beres dengan Zea, ia menempelkan punggung tangannya di kening Zea.
"Demam." Sagara mengeratkan seragamnya di badan Zea yang tiba-tiba menggigil.
"Istirahat aja, ngga usah dipikirin dulu ucapan abang barusan."
Tak ada termometer apalagi obat-obatan, sementara Zea semakin dilanda kedinginan, apakah itu efek luka di lengannya atau karena hipotermia? Yang jelas Sagara refleks membuka rompi miliknya dan bersiap memeluk Zea demi menyalurkan suhu tubuhnya pada gadis itu.
"Abang mau ngapain?" ucapnya bergetar lemah.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1