
Zea tak dapat lagi merasakan tubuhnya, ia teramat lelah dan syok.
Zea menyenderkan kepalanya di pundak Saga, "are you oke? Berenti aja lah jadi tentara, leboh cocok jadi CEO aja," ujarnya tak henti-hentinya menatap Saga. Zea sedikit mengernyit, kenapa mereka tiba-tiba sedang berada di pantai dan menikmati suasana sunset.
Saga dengan kemeja hawaiinya nampak begitu segar dan tampan, "kalo jadi CEO, perut abang ngga sixpeck lagi, yang ada kamu ngga akan suka...." cibir Saga menjawab, keduanya tertawa.
"Abang jangan tinggalin Zea, ajak Ze kemanapun abang pergi...bahkan ke akhirat sekalipun."
Saga mengulas senyuman lebar, "abang nunggu Ze, sampai Ze datang sendiri..."
Zea lantas mendongak dan menarik rahang tegas Saga dengan bibir manyun dan ekspresi merengutnya, "kok gitu! Ngga mau! Kita kan udah janji mau kemanapun sama-sama! Abang ngga sayang Ze. Abang ngga mau tau emangnya, Zea udah telat datang bulan, bang! Harusnya tanggal 1 kaya gajian, tapi ini udah lewat bulan bahkan pertengahan Zea belum datang bulan!!"
Saga melirik perut rata Zea, "kasiannya anak abang, ibunya kurus gini!" ia tertawa renyah.
.........
Zea langsung melotot, menyadari jika kini dirinya tengah berbaring di ranjang rumah sakit, matanya sedikit menyipit menghalau silaunya lampu ruangan, "awwsshhh...." ia meringis saat tak sengaja menarik tangannya kasar, rupanya selang infusan sudah tersambung ke nadinya.
"Ze," mama Rieke berdiri dan menarik nafas lega Zea sudah siuman, "alhamdulillah, mana yang sakit nduk?"
Zea mencoba mencerna yang baru saja terjadi, "abang mana, mi?" tanya nya, membuat mama menitikan air matanya, "jangan dulu dipikirin, banyak yang urus di depan. Sekarang Zea minum dulu, makan...kata mama mertuamu, Ze belum makan apapun dari pagi, kasian si utun yang ada di perut kamu," tunjuk mama dengan dagunya.
"Ya?" Zea mengernyit lalu pandangannya tertumbuk pada perutnya sendiri dan beralih kembali pada mama Rieke, ibunya itu mengangguk, "kata dokter kamu pingsan akibat dehidrasi, kelelahan dan hamil muda..." jelas mama.
Zea kembali terisak, "terus anak Zea lahir tanpa ayah gitu, mii? Ngga mau!" teriaknya histeris, membuat keluarga yang menunggu di luar berhamburan masuk termasuk Fara, "neng..."
"Umiiiii....bawa abang pulangggg!!!!" teriaknya meraung-raung, wanita itu bahkan sudah bangkit dan mencoba turun dari ranjang, meskipun dihalau Fara dan mama Rieke.
"Iya nanti umi bawa pulang..." jawab Fara, "umi usir Saga dari sini, biar dia balik aja ke rumah!" lanjutnya. Rasa sedih yang teramat begitu menyelimuti, membuat otak Zea tak bisa berpikir lagi akan ucapan ibu mertuanya, ia menangis sesenggukan.
Cekrek...
"Ya Allah, kenapa dek?" sosok pria yang baru saja datang dengan memakai jaket kesatuan datang dan mengambil alih Zea dari umi Fara dan mama Rieke.
Zea mendongak dengan wajah sembab, mata bengkak dan kuyu, pokoknya jelek untuk ukuran bumil, "itu bang, suami Zea di ruang jenazah! Zea ngga mau ditinggalin abang, Zea ngga mau jadi janda muda, Zea ngga mau nanti anak Zea lahir tanpa ayahhhh...." tangisnya pilu menatap Sagara.
Fara tertawa tergelak bersama mama Rieke yang ampun-ampunan menepuk-nepuk jidatnya.
"Kamu pulang, Ga. Tadi Zea nyuruh umi buat bawa kamu pulang!" ujar Fara tergelak lagi.
"Tolong bawa suami Zea balik bang..." tangisnya lagi pilu.
Ting!
Otak dan penglihatannya baru saja sinkron, melihat sosok di depannya, sampai sempat terdiam dan melongo dibuatnya, hingga sejurus kemudian ia tersadar, "abangggggg!" teriaknya memeluk Sagara, Saga menaikan Zea kembali ke atas ranjang, "kata om Ray, kamu pingsan. Istirahat, jangan berdiri..."
"Hamil muda mendadak bikin kamu kelilipan, dek?" tanya Sagara.
"Tapi tadi....tadi...itu di ruangan jenazah, abanggggggg! Huwakkkk...." tangisnya kembali kencang, tak percaya. Fara sampai menahan bagian bawahnya tak kuat ingin pi pis melihat tingkah Zea, "umi kebelet ah!" Fara keluar dari sana.
Mama Rieke yang mengerti ikut keluar, "mama di luar sebentar ya, liat papi..." diangguki keduanya.
"Nama di name tagnya itu Ananta, bajunya juga baju yang baru Zea cuci 3 hari lalu..." akuinya diantara sesenggukan. Saga menarik senyuman, "pake so-so'an kuat liat jenazah. Liat ayam sayur aja kamu geli..." cibir Saga.
Zea menatap Saga lekat-lekat dan menyarangkan kecupan hangatnya di punggung tangan Saga, "maaf abang telat pulang, apa jadwal filmnya masih tayang di bioskop?" ujar Saga. Zea masih menyisakan sesenggukannya, seraya mengangguk.
"Kalo gitu, besok abis pulang calon mama dari rumah sakit, kita nonton," ajak Saga.
"Congrats sayang, sudah jadi calon ibu dari anak abang...sehat-sehat kamu sama calon anak abang," kini bergantian Saga yang meraih punggung tangan Zea dan mengecupnya. Zea terus tersenyum melihat sosok di depannya itu, "Zea lagi ngga mimpi lagi kan, bang?"
__ADS_1
Saga mendengus geli seraya terkekeh.
"Terus tadi yang Ze liat di ruang jenazah pake baju abang, siapa?" tanya Zea.
Saga menatap infusan yang tergantung demi menyuplai kadar air dan gula dalam darah Zea. Pikirannya melanglang buana mengingat kejadian sebelumnya.
.
.
"Target terlihat, ada 3 orang disana."
Beberapa orang sniper mulai membidik dengan senapannya.
"Baju abang basah, mau ganti pake punya saya?" tawar Saga, Rudi menggeleng, "tak apa, Ga. Biar saja sudah mau kering juga. Nanti kamu kedinginan."
Saga mengulas senyum tipis, "masih ada rompi dan kaos. Saya baik-baik saja."
Rudi tetap menolak dan memilih merebahkan dirinya, hanya berbantalkan potongan kayu. Ketiganya sengaja memposisikan diri di dekat pantai agar nantinya memudahkan penjemputan, meskipun cukup tersembunyi demi menjaga keamanan.
Dipandanginya langit malam yang entah kenapa malam ini begitu indah disertai hamparan bintang, apakah itu Vega, Deneb lalu Althair? Hm...sepertinya bagus jika ia mengajak Luna berbulan madu sambil liatin bintang dan membicarakan tentang rumah tangga mereka yang semrawut sejak awal dari hati ke hati.
"Saya cari air minum dulu bang, barangkali danru dan abang mau minum..." Jajang beranjak dari sana, "jangan jauh dan lama, Jang. Saya tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi sedetik lagi."
"Siap ndan."
Sagara menekuk lututnya dan menaruh kedua tangan yang tengah memegang ranting kayu. Malam ini begitu terasa dingin menusuk kulit, apa yang sedang Zea lakukan, apakah tertidur pulas? Seharusnya ia sudah pulang dan memeluk Zea saat ini. Ada janjinya yang harus ditunaikan pada sang istri, nonton bioskop bareng.
"Ga,"
"Ya, bang?"
Saga mendengus, ia menggeleng seraya tersenyum miring, "beda orang beda karakter, bang. Zea tipe wanita yang..." ia tertawa jika harus menceritakan karakter istri magicnya itu, karena selama hidup bersama Zea yang hampir 2 bulan, sikap Zea selalu bisa meluluhkannya, ia sering bersungut-sungut, marah-marah, tapi kembali, ia juga yang tak tahan untuk berlama-lama marah.
"Istri saya itu wanita soleha, bang." jawab Saga kembali, "tak pernah sekalipun dia marah atau meninggikan suaranya. Yang harus saya bujuk-bujuk dikala saya sudah lelah dengan pekerjaan."
Mungkin jika Zea disana ia akan mencibir, BOKIS BANGET! GOMBAL!
Satu yang Saga pelajari dari hubungan abi dan uminya, adalah selalu menyimpan keburukan pasangan dari orang lain. Demi mencegah keburukan lain datang menerjang rumah tangga mereka.
Rudi terkekeh sumbang. Saga tidak sekepo itu untuk bertanya apa yang terjadi antara Rudi dan Luna.
"Luna sepertinya masih mengharapkan kamu, Ga. Saya tau.." lelaki itu tertawa sumbang. Sagara menoleh tanpa ekspresi, "saya sudah punya Zea, bang."
"Saya tau, Ga. Maafkan Luna, tolong sampaikan itu pada Zea..."
Sagara mengangguk, "insyaAllah, nanti jika kita berhasil pulang, saya sampaikan pada istri."
"Kamu beruntung dapat putrinya om Rewarangga, Ga. Zea tak pernah munafik. Dan memang benar...dia anak baik. Berasal dari keluarga baik-baik dan jujur," Rudi tersenyum getir.
Namun ssjurus kemudian ia terkekeh, menatap lurus ke atas diantara dahan dan daun yang tak begitu rindang, seperti sedang membayangkan kejadian waktu lalu, "sepertinya dia calon menantu idaman ibu-ibu pejabat, karena tante Rieke sering bawa Zea buat dipromosiin ke temen-temennya termasuk mama. Banyak juga yang kepincut sama Zea....sayangnya dia masih bocil waktu mama ngasih fotonya sama saya..." tawanya seperti menertawakan kejadian lalu.
"Oh ya?" Sagara baru tau fakta tentang itu.
"Diantara anak pejabat, dia yang paling bikin pusing mama--papanya kalo ada acara halal bihalal. Anak-anak pejabat lain datang pake baju sopan, batik atau baju dinas demi terlihat membanggakan, dengan kabar berita mereka kuliah di luar negri, mereka bekerja di pemerintahan, atau mereka berhasil meraih sesuatu....cuma dia yang datang pake mukena sambil bilang abis jadi merbot masjid," Rudi kini bisa tertawa.
Saga ikut terkekeh renyah, meski tanpa suara yang kencang, "abang kenal Ze, tapi Ze ngga kenal abang?"
Rudi mengangguk sekali, "saya jarang terekspos. Jarang muncul untuk dinas, hanya beberapa kali saja itu pun tak pernah banyak muncul."
__ADS_1
"Hm."
Kemudian ia melenguh berat, "Zea memang langka, Ga. Maka butuh lelaki yang spesial dan khusus juga untuk mendapatkannya."
Rudi mendadak murung dibuatnya, seperti sedang memikirkan sesuatu, hanya saja Saga tak berani bertanya.
"Abang istirahat saja, biar saya yang berjaga...."
Cekrek...
Tembak sasaran!
Dorrrr....
Dorrrrr......
Saga dan Rudi refleks melompat mencari perlindungan di balik pepohonan ketika tiba-tiba mendapatkan berondongan peluru.
Rudi mengintip dari balik pohon begitupun Sagara, Saga melihat Jajang yang baru saja datang dengan mengendap-endap, suara berondongan tembakan itu jelas terdengar olehnya.
"Kemana perginya?!" tanya seorang dengan rokok dijepit mulutnya seraya tangan memegang senjata laras panjang.
"Ingat, cecar dan bunuh perwira yang bernama Sagara saja, jangan sampai anak dari bos ikut menjadi korban. Habis kita kalau si Rudi ikut mampuss!"
Saga dan Rudi sontak saling pandang dengan sorot terkejut.
Sagara memberi aba-aba pada Jajang untuk diam sampai ia memintanya bergerak.
Jajang bergerak mendekat, "lapor ndan, regu rescue sudah terlihat dari titik koordinat *****, di sebelah barat daya pulau."
Rudi melirik Sagara, "Jang. Kamu duluan mencapai titik penjemputan, katakan pada komando markas, jemput saya dan Saga di titik baru dekat bibir pantai. Ada yang harus saya lakukan terlebih dahulu..." ujar Rudi, Jajang sedikit ragu namun akhirnya ia menuruti perintah danrunya.
"Siap, laksanakan dan!"
Sementara beberapa pembunuh bayaran itu terus maju mencari Saga, Saga dan Rudi sudah menyusun rencana di balik diam mereka.
Dalam jarak yang sudah dekat, Saga dan Rudi langsung menyerang dengan tangan kosong pembunuh itu dan merebut senjata mereka sehingga terjadilah kontak senjata diantara mereka.
Dorrr!
Dorrr!
Seorang penjahat tumbang, bagaimana pun jagonya mereka, Saga dan Rudi sudah lama terlatih dan terdidik bahkan seringkali mengikuti latihan gabungan bersama prajurit dari negara lain.
Saga menyeret salah satu penjahat yang memiliki postur sama seperti dirinya dan memakaikan suit miliknya pada badan si penjahat, lalu Rudi memberondongnya dengan tembakan di bagian dada dan beberapa luka lain agar terlihat kacau.
"Saya yang menjadi target mereka bang," ujar Saga.
Rudi menatap Saga dengan tatapan getir nan bersalah, "saya tau. Maafkan ayah saya, Ga..." ujarnya benar-benar menyesal. Rudi kini mengerti darimana uang-uang yang dimiliki ayahnya, kenapa ayahnya begitu berambisi mengalahkan Rewarangga, nyatanya ialah musuh dalam selimut negara.
.
.
.
.
.
__ADS_1