
Tak ada yang lebih syahdu lagi ketika seorang lelaki dengan wewangian tertentu mendekat, yang pastinya bukan wangi kemenyan, memandang dengan penuh sorot mendamba di bawah sorot lampu kamar, udah paling cocok main guling-gulingan di bawah selimut sambil mainan has rat.
Tidak temaram, namun Saga menempelkan kertas penghalang di dekat dudukan lampu agar sinarnya tak terlalu silau di mata ketika istirahat, alasan klasik namun jelas itu cukup masuk akal mengingat ia bukan telor ayam yang mesti di lampuin sebegitu terang dan panasnya.
Ia tau, jika Zea sedang pura-pura berlagak bo doh untuk mengetahui maksudnya sekarang.
Saga membuka tiap kancing yang mendadak jadi banyak menurutnya, angka 7 sungguh bikin kesal!
Zea sendiri pura-pura sibuk melipat mukena, yang sebenarnya sudah begitu rapi, sampai sisa-sisa benang yang menjuntai hampir tak terlihat saja ia masukan ke dalam lipatan, tiba-tiba ia beralih profesi jadi petugas finishing di pabrik textile begini karena gugup dan bingung harus ngapain.
"Ze," Saga mengalah untuk membuat mukadimah sebagai pemanasan dengan memeluk Zea dari belakang lalu menenggelamkan hidungnya di rambut dan ceruk leher Zea agar wanitanya ikut terang sang sampai gadis itu menarik nafasnya dalam ketika itu terjadi, ia tak berontak ataupun melarang Saga melakukan itu.
Zea mengerti sejak kata sah tadi pagi menggema, maka dirinya milik Sagara sepenuhnya.
Ia memutar tubuhnya, "abang, Ze boleh ke kamar mandi dulu ngga?" tanya nya dengan wajah memohon.
"Jangan alesan," colek Saga di hidung Zea, ia menggeleng dan menyarangkan kedua tangannya di tengkuk Saga hingga mengalung sempurna, "Zea mau pi pis sambil ritual cewek sebentar..." jawabnya berbisik manja.
Sedikit demi sedikit Saga mengendurkan pelukannya dan membiarkan Zea melakukan apa maunya, istrinya itu terlihat membuka koper yang tadi siang sengaja dikirim kesini sebagai baju ganti meski belum semua.
Sebuah tas make up dengan tali berwarna merah muda ditenteng Zea ke arah luar kamar, "abang jangan tidur dulu..." kedip Zea nakal membuat Saga terkekeh menggeleng tak habis pikir, ia bisa mabuk kepayang juga malam ini hanya dengan kedipan menggoda dari Zea.
Zea berlari kecil pecicilan menuju kamar mandi dan menutup rapat-rapat pintunya, sejenak ia menghela nafas namun segera memuntahkan isi tas make up, ada sabun, lotion, parfum dan pengharum mulut. Bukan berarti Zea tak pede dengan dirinya yang sudah semerbak wangi bunga chamomile, namun sebagai wanita ia pun ingin mempersembahkan sesuatu yang istimewa untuk suaminya di malam pertama mereka, tanpa kurang sesuatu.
Zea bahkan membubuhkan liptin agar bibirnya basah-basah sexy nan menggoda.
Hanya berselang 10 menit saja, Zea kembali menuju kamar.
Ceklek
Pet!
Seluruh aliran listrik tiba-tiba mati, membuat pandangan menjadi gelap seketika.
"Abang, ini tuh listriknya mati atau Ze mendadak buta?!" panggilnya terkejut karena gelap. Untung saja ia sudah berada di gawang pintu kamar.
"Diem disitu. Abang cari hape dulu," titah Saga meraba-raba meja yang berada di depan ranjang. Sementara Zea mencari pegangan di daun pintu, "gagal cantik ih, gara-gara mati lampu!" keluhnya mendumel, "mau enak tuh ada ajaaaaa cobaannya!" kembali Zea mengomel mengeluhkan setiap moment bersama Saga yang mesti bersakit-sakit dahulu lalu sengsara kemudian.
Dughh!
"Aww.."
"Kamu kenapa? Disuruh diem juga di situ," omel Saga pada Zea yang sepertinya gatal jika tak pecicilan.
"Kejedot pintu ih, buru abang ih! Nyari apa sih?!" tanya Zea marah-marah, ketika flash dari ponsel Saga arahkan ke laci meja.
"Lilin," jawabnya.
Terdengar suara riuh di luar rumah.
Ini mati lampu ya?!
Semua deh kayanya!
Oalah, belum bayar tagihan listrik nih kayanya!
Nyatanya bukan hanya rumah Saga saja yang mengalami ini, namun hampir semua membuat komplek jadi gelap gulita bak alam kubur.
Sagara menemukan lilin lalu melintas melewati Zea ke arah dapur demi menyalakan lilin, "tunggu, jangan kemana-mana." ujar Saga mewanti-wanti, Zea mengiyakan, namun bibirnya terku lum saat pandangannya lebih fokus pada dadha bidang Saga yang terekspos diantara cahaya flash ponsel, sama seperti dirinya, rupanya Saga sudah siap tempur rupanya, cuma pihak gardu listrik yang nyebelin pake matiin aliran segala! Kan tetot, udah pada siap tempur juga malah diganggu!
__ADS_1
Masa iya mereka melakukan malam pertama di suasana gelap gulita mirip di jaman batu, salah-salah masukin, Saga malah masukin pedang ke lubang idung!
"Abang! Buru ih, nyalain lilinnya di Baghdad ya, lama amat!" teriak Zea berdecak.
"Iya..." Saga datang membawa lilin yang sudah menyala, lalu menaruhnya di kaleng bulat bekas biskuit lebaran dan menyimpan itu di pojokan kamar dimana tak ada barang apapun yang dapat terbakar.
"Gardunya ngga asik ah! Ngga tau apa, hari ini ada penganten baru!" omel Zea cemberut. Zea salah, justru dengan matinya aliran listrik akan menambah suasana semakin romantis malam ini.
Saga mendengus geli dan tertawa renyah, "justru gardunya asik, tau aja ada penganten baru yang malu-maluin, padahal sebenernya abang tau, dia takut..." cibir Saga meraih Zea dan merangkum wajah istri nakalnya itu dengan sebelah tangan, sementara sebelah tangan lain menangkap erat pinggang Zea.
Zea sudah bernafas mengap-mengap ketika deru nafas Saga sampai juga di kulitnya, dapat ia rasakan aroma mint pasta gigi bersatu dengan mouthwash dari mulut Saga.
Saga membiarkan tangan-tangan lentik itu bermain di dadhanya memberikan sensasi meremang dan menaikan libi do keduanya.
Saat dirasa cukup terhanyut dan tenggelam dalam suasana, Saga menarik tubuh Zea ke arah ranjang.
Saga tak langsung melakukan itu tanpa memanjakan Zea, meski keadaan dan situasi yang serba apa adanya, tapi usaha tak boleh kendor demi terciptanya first impression yang membuat melayang. Saga meraih ponsel dan memutar lagu romantis disana dengan volume yang normal bagi telinganya maupun telinga tetangga, menaruh ponselnya di meja dan membiarkan itu terputar mengiringi perjalanan panjang mereka malam ini.
Zea mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya tersadar jika dirinya sudah menjadi nyonya Sagara seutuhnya. Senyumnya tersungging mengingat kejadian semalam.
Sayup-sayup ia mendengar suara gemericik air dari belakang, pertanda Saga sedang mandi, lampu kamar juga telah kembali menyala, ia tak ingat kapan atau mungkin sudah terlelap ketika aliran listrik kembali menyala.
Wajahnya meringis ketika ingin memutar tubuh dan menarik selimut, ternyata bergu mul menyempurnakan ibadah itu cukup menguras tenaga dan pegal-pegal, terutama di bagian intinya.
Matanya masihlah mengantuk, namun otaknya sudah segar mengingat kejadian semalam yang tak dapat ia lupakan, Zea cengengesan sendiri, "gila yak...gue gitu banget...malu ih!"
*Ia kembali mengingat moment semalam* 》》Musik lagu Dealova mengalun indah menenangkan dan membuai Zea, hingga ia tak sadar jika sudah berada di bawah kungkungan Saga, piyama yang melindungi bagian atas pun telah membuka celahnya besar karena ulah Sagara.
\*\**Aku ingin menjadi, mimpi indah dalam tidurmu*...
*Aku ingin menjadi sesuatu, yang mungkin bisa kau rindu*....
"Sshhhhh ahhhhh...." Zea menjambak, lebih tepatnya mere mas kepala Saga, saat ia melahap rakus dua gunung kembar milik Zea. Ia bahkan sampai harus mencari pegangan karena rasa haus itu melanda bak kemarau panjang.
Suami pilotnya benar-benar membawa Zea terbang menembus awan biru, meski pada akhirnya ia juga menggempurnya dengan kelembutan. Apakah Sagara juga seorang nahkoda? Karena semalam ia seperti terombang ambing dalam lautan tak bertepi hingga benar-benar *basah*.
Awalnya ia dibuai mesra, namun kemudian ketika Saga melebarkan kedua kakinya, ia seolah dibawa ke dalam lautan dalam, sesak dan tertusuk sembilu, sampai sulit bernafas, "sshhhh---sakit bang," rintihnya mencengkram pinggang Saga.
__ADS_1
Tak berselang lama, rasa sakit yang membuat Zea merengek itu perlahan sirna berganti gelenyer aneh, saat Saga terasa memacu diatas sana.
\*\**Aku ingin menjadi sesuatu yang slalu bisa kau sentuh*,
*Aku ingin kau tau bahwa ku selalu memujamu*....
Seharusnya suara-suara aneh menghiasi ruang kamar dan bahkan mungkin bocor sampai luar, tapi berhubung Saga memutar lagu romantis suara sumbang yang mampu membuat jiwa jomblo meronta-ronta itu tersamarkan. Perpaduan suara dua manusia dan decakan penyatuan membuat Saga semakin bersemangat diantara rasa membuncah.
Zea tampak cantik dan seksi di bawahnya, dengan butiran keringat yang sudah bersatu. Ia tak bisa untuk tak mele nguh dan menthesah dibuatnya. Malu? Zea tak bisa lagi berpikir malam itu, mungkin besok saat ia sudah sadar, wajahnya akan memerah.
Sengatan-sengatan kecil di leher dan dadha menjadi bukti nyata keduanya memadu kasih. Gejolak has rat kedua manusia muda bercampur baur membuat malam menjadi panjang bagi keduanya.
Zea tak ingat sudah jam berapa, hanya saja saat keduanya meledak bersama dan memutuskan mengakhiri kegiatan panas mereka, hawa panas kembali menyerang membuat Zea mau tak mau menyanggupi kemauan Sagara, "sekali lagi biar genap, ya? Jadi ada banyak benih yang masuk, kemungkinan jadinya pun besar." Ujarnya masih sempat-sempatnya mengajari Zea yang bahkan sudah tak bisa berpikir lagi.
Ia mengangguk lemah, "one more time, abis itu Zea mau tidur...."
"I'm promise..." hingga akhir malam panjang itu Zea benar-benar tertidur.
\*\* *Kau seperti udara yang kuhela, kau selalu ada*....
*Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang, tanpa dirimu aku merasa hilang, dan sepi*...
Putaran lagu yang kesekian kalinya adalah bukti dari panjangnya malam yang dilewati sepasang pengantin baru ini.
"I love you mrs. Sagara...."
Saga mengecup kening Zea yang entah sudah dimana.
Zea kembali cengengesan sampai menggigit selimut mengingat itu, hingga suara dalam nan berat menyapa pendengaran.
"Dek, sudah subuh abang sudah siapin air hangat...mau solat di masjid, atau di rumah?"
Kepala Zea menyembul dari dalam selimut dan melihat lelakinya dengan lilitan handuk, "woooowww, abang godain Zea lagi nih!"
.
.
.
__ADS_1
.
Dah segitu aja, karena adegan panas bikin basah orang bukan keahlianku dan memang tidak ada niatan bikin orang mupeng, karena ini bukan kisah por no 😜 aku cuma pengen bikin moment mereka manis nan romantis aja, dah gitu.