
"Pastikan letnan Sagara yang mati. Jendral breng sek dan menteri si alan itu mulai mengendus keterlibatanku dengan Ajay, beserta bisnis-bisnis gelapku..."
"Tapi bos, bukankah disana ada..."
"Putraku," potongnya mengepulkan asap putih di udara diantara ruangan kantor yang banyak ditempeli kepala hewan langka yang telah ia awetkan.
"Itu artinya kalian harus benar-benar teliti. Luka sedikit tak apa, agar tak membuat kecurigaan. Jangan sampai mati..."
Acara patroli dan uji teknis pesawat tempur baru yang damai seketika berubah menjadi tragedi.
Tak ada perang yang mereka hadapi, tak pula persenjataan lengkap yang mengawal, surat perintah untuk pulang hari ini sepertinya berubah jadi mandat untuk menyelamatkan rekan.
"May day, pesawat saya mengalami kebocoran bahan bakar..."
Terhitung 3 pesawat yang terkena ledakan.
"Meminta titik koordinat mendarat darurat, pusat?"
Sagara, Rudi dan letda Jajang terpaksa melakukan pendaratan darurat di sekitaran kawasan hutan lindung dengan titik koordinat pendaratan berbeda.
Saga mengembangkan parasutnya, dengan sedikit berhati-hati ia meneliti dan mengarahkan parasut.
Letda Jajang jatuh di dekat bibir pantai, sementara sang danru di kawasan hutan mangrove, dan Saga adalah letak terjauh pendaratan, meski masih satu kawasan dengan kedua lainnya.
Sagara berhasil melepaskan parasutnya, "jam 4," ia menjatuhkan pandangan pada jam tangan, mengedarkan pandangan ke sekeliling medan dan mulai mencari jalan keluar dari sana untuk bergabung bersama Rudi atau Jajang.
Sementara Rudi, ia cukup meringis kesakitan. Dibukanya suit penerbang bagian tangan dan bahu yang meninggalkan kesan hangus, akibat dari terkena ledakan tadi.
__ADS_1
"Argghhh---" ia menyandarkan diri di jembatan kayu yang sengaja dibuat oleh pihak setempat untuk mengitari kawasan mangrove, setelah sebelumnya sempat tercebur diantara ratusan tanaman mangrove.
Sagara masih berjalan cepat menuju pantai, meskipun sedikit jauh namun ia tak menghentikan langkahnya, khawatir hari keburu gelap.
Cari mereka, bunuh letnan satu bernama Sagara.
Perintah sudah didapat, sekelompok orang bayaran berangkat ke lokasi jatuhnya para pilot demi mencari lettu Sagara, putra dari jendral yang kini menduduki jabatan nomer satu di komandan pasukan khusus militer negri, sekaligus menantu dari menteri hukum Rewarangga.
Sudah sekitar 2 jam lebih Saga berjalan, bahkan hari sudah meredup gelap mengaburkan pandangan. Hanya saja deburan ombak air laut mulai terdengar nyaring di telinga itu artinya ia sudah sampai di kawasan pantai.
"Ck, abang lama!" Zea berdecak, padahal bibir udah dimerah-merahin, bulu halus udah dia waxing sebelumnya, parfum andalan sudah ia semprot dimana-mana terutama area leher, kalo bisa ia nyebur sekalian ke dalam drum berisi cairan parfum biar wanginya bikin mabuk kepayang.
Diliriknya berulang kali arloji meVah di tangan lantas sudah beberapa puluh chat ia kirimkan pesan pada Sagara, namun tak jua berbalas.
Al Fath mengalihkan pandangannya ke arah menantunya yang sudah berwajah murung setengah kesal.
"Proses serah terimanya yang agak lama, neng. Kalo cuma uji teknis dan patroli saja pasti sesuai SOP dan waktu."
Ia mendudukan diri di samping Lingga yang asik bermain game online, mau tak mau Zea ikut nimbrung mengingat itu adalah hobbynya dulu, tak ada perasaan yang aneh menggelayuti siapapun disini termasuk Zea, entah ia istri yang kurang peka.
"Jangan pake item yang itu, kalo Angela itu harus bisa makenya..." ujar Zea angkat bicara membuat Lingga tak bisa untuk tak menoleh.
Sebuah panggilan berbunyi merujuk pada ponsel Abi Fath, namun tak membuat penghuni yang lain lantas menengok curiga.
"Lettu Sagara bersama dua lainnya hilang kontak di titik koordinat ****** saat selesai bertugas."
Al Fath sedikit menjauh dari ruang tengah, sesekali melirik situasi disana, dimana Fara masih cekikikan melihat acara talkshow, dan Zea bersama Kalingga asik main game online.
"Baik." Al Fath mematikan panggilan, ia mengingat-ingat kawasan yang dilalui jalur patroli dan test drive bukanlah kawasan zona merah, terlebih tak ada masalah apapun yang tengah ditangani pihak militer dalam negri selain dari daerah-daerah perbatasan di timur dan barat, lantas siapa yang lolos dari pengawasan?
.
.
.
__ADS_1
Kesatuan mengirimkan regu rescue demi menyelamatkan ketiga perwira penerbang yang jatuh, seraya menyelidiki motif di balik serangan yang tiba-tiba menyerang pihak militer.
***
Sudah 3 ronde battle yang Zea mainkan, dan ia sudah jenuh.
"Niat balik ngga sih?!" dumelnya kembali ke kamar.
"Ze, apa ada kabar dari Saga?" tanya abi tiba-tiba bertanya saat Zea sudah berada di pertengahan menuju kamar.
Zea menggeleng, "abang ada kasih kabar ke abi?" Al Fath terdiam, ia bingung harus berkata apa pada menantunya.
"Saga akan terlambat pulang, jadi kalau Ze mau tidur, tidur saja dulu."
Fara melihat suaminya, ia merasa ada yang tak beres, "biar nanti umi bangunkan, neng. Kalo Saga pulang."
Zea tanpa rasa curiga, melengos ketika sudah beberapa kali ia menguap karena mengantuk. Seharian menghabiskan waktu bersama umi membuatnya lelah.
Fara mengikuti suaminya yang berlalu ke ruang kantornya, "ada apa bang? Saga ngga apa-apa kan?"
Al Fath tak bisa untuk tak menyembunyikan kenyataan dari Fara, wanita yang sudah menemaninya selama puluhan tahun itu tentunya sudah tau ia luar dalam, sudah pula merasakan asam manisnya kehidupan sebagai bagian dari kemiliteran.
"Abang boleh bohong sama Zea, tapi ngga bisa bohong dari Fara," tatapnya penuh berharap.
Al Fath menghela nafas dan setengah duduk di meja kerjanya, diraihnya tangan Fara yang masih kencang dan selalu lembut itu, "Saga hilang kontak bersama dua pilot lainnya. Terjadi serangan tiba-tiba yang tak terduga entah darimana, saat mereka selesai uji coba dan patroli."
"Kelompok bersenjata merdeka?" tanya Fara sudah tak karuan rasanya hatinya sekarang.
Al Fath menggeleng, "belum bisa di prediksi. Sebab posisi mereka sedang tidak di zona merah."
Fara menegakan badannya berusaha mencerna semuanya, "apa..."
Al Fath mengangguk seolah ia tau dengan pikiran sang istri, Fara mengerjap dengan lenguhan lelah, "udah Fara duga, bang. Stop it, bang! Fara udah bilang sama abang, sama pak Rangga, sudah hentikan...dia orang berbahaya," jujur saja, kejadian silam saat ia menghadapi Denawa masih membekas di hati dan pikiran. Mungkinkah ini Denawa-denawa yang lain? Atau Arjuna--Arjuna yang lain?
"Butuh seorang dengan power yang kuat untuk menghadapi orang berbahaya, kalau abang dan pak Rangga saja tak bisa membongkar boroknya terhadap negri, lantas siapa yang bisa?" tanya Al Fath.
"Tapi keluarga kita jadi incaran!" tak sengaja Fara dengan emosi yang menggebu-gebu membalas ucapan sang suami.
Hingga tanpa sadar ada telinga yang mendengar di balik pintu yang tak tertutup rapat itu.
.
.
.
.
__ADS_1