
Luna menyeringai puas, suaminya selalu percaya jika dirinya meminta sesuatu, saking sayangnya. Termasuk hari ini, saat ia menelfon Rudi atas kelakuan Zea terhadapnya meskipun ujung-ujungnya Zea juga yang membayar bakso para istri prajurit dan sukses mempermalukannya di depan para istri regu penerbang, namun Rudi tak ayal mengirimkan sejumlah uang ke dalam rekening miliknya.
"Lain kali kamu jangan mencari perkara dengan Zea, berapa kali mas bilang, yank...." ujar Rudi melepas pakaian lorengnya di kamar.
Luna mengangguk, "Luna mau tas kaya Zea, bang! Istri satu regu muji-muji, masa danrunya kalah!"
Rudi melenguh, apakah ia harus kembali meminta uang pada sang ayah untuk memanjakan istrinya itu?
"Tapi yank..."
"Mas tuh ngga sayang, Luna!" cebiknya marah.
Zea masih manyun di atas ranjang, mengeringkan rambut yang masih basah. Hukuman dari Saga membuatnya harus banjir keringat.
Saga menyodorkan segelas susu coklat ke depan Zea, "cashback dari abang, layani abang dapet segelas susu coklat hangat..."
Zea yang awalnya menatap sengit seketika tertawa mendengar itu, "apaan pake cashback segala!"
Saga terkekeh, "biar ngga kapok buat bikin kesalahan lagi." ia duduk di tepian menatap Zea dalam-dalam. Zea kembali tergelak mendengar kata-kata Saga, dimana-mana suami itu ngajarin biar ngga lakuin kesalahan yang sama, bukan malah nawarin lagi bikin kesalahan.
.
.
Sebuah mobil mewah terhenti di depan gerbang, lebih tepatnya pos jaga serambi depan.
"Udah kan, pak? Bukan tero ris kan? KTP nya seumur hidup tuh!" tunjuk Dina ke arah selembar ktp dengan foto dirinya yang masih unyu-unyu pada jamannya.
"Sabar, say...si Jamilah kebangetan banget! Nyuruh kita nyamperin ke lobang macan gini," cebik Iyang, ia menyugar rambutnya dengan sebelah daun telinga telah dipasangi anting, gayanya sudah menyerupai idol k-pop. Kuliah dan nge-kost di korea sedikitnya merubah penampilan Iyang.
Clemira terkekeh dengan celotehan Dina dan Iyang, lain hal dengan dirinya yang sudah terbiasa dengan pemeriksaan seperti ini, Dina agak sedikit risih karena ini pertama kalinya ia ada hubungan dengan kemiliteran beserta keluarga, selain dari dulu ia yang pernah mengunjungi rumah dinas ayah Clemira.
"Ribet amat sih, mau ketemu si Zea. Kenapa ngga ketemu di cafe aja?! Kaya biasa kita dulu!" Dina menyeka keringatnya penuh mengeluh.
"Kaya lo ngga tau aja, Zea sekarang sibuk jadi ibu prajurit." Clemira memasukan kembali ktp miliknya, "udah kan om, boleh masuk kan?"
"Boleh dek. Silahkan," gerbang terbuka lebar mempersilahkan mereka masuk.
Dina merapikan dompet dan menarik rem tangan untuk melanjutkan perjalanan ke rumah dinas Sagara.
Zea baru saja keluar dari gedung pertemuan bersama istri prajurit lainnya, "jangan lupa, babak penyisihan kita sama unit tempur."
"Siap," jawabnya dan beberapa istri prajurit menjempoli.
"Si Milah dimana, Cle? Coba chat. Itu banyak ibu-ibu PKK pada bubaran..." tunjuk Iyang ke arah depan mobil.
"Itu Zea bukan sih....anjirrrr!" tawa Dina penuh rasa kagum melihat seorang wanita yang terlihat berkharisma dan cantik diantara wanita-wanita yang keluar dengan seragam ungu'nya. Zea bahkan tengah cekikikan bersama Ovi dan Rida disana.
"Iya. Itu si Milah! Klakson Din," suruh Iyang.
"Bentar-bentar, gue deketin dulu mobilnya!" Dina menaik turunkan alisnya.
Bukan lagi sekali, Dina sengaja membunyikan klakson mobilnya berkali-kali demi membuat Zea marah.
Tiit...tiit...tiit...tiit!
__ADS_1
Bukan hanya Zea yang terperanjat, para istri prajurit yang mendengar sontak menoleh terkejut dengan kedatangan sebuah mobil mewah yang tiba-tiba membuat gaduh di kawasan militer.
"Si anjirrr, mau cari masalah disini!" Clemira menggeleng terkekeh di bangku belakang.
Bukan Zea yang maju untuk menegur, melainkan para ajudan dan beberapa prajurit yang ada disana.
"Woy!"
"Cilaka, Din!" ujar Iyang.
Clemira tertawa, "mamposs lu!"
Zea mengernyit melihat mobil itu dan ikut menghampiri.
"Turun mas, mbak hey!" tegur ajudan ibu komandan.
"Buka buruan Din, turun--turun..." pinta Clemira. Dina mematikan mesin mobilnya dan dengan segera turun bersamaan dengan Iyang dan Clemira.
Zea langsung tersentak melihat ketiga temannya itu, "Dina, Iyang?!"
"Maaf ya pak, bu...maaf..." ucap Dina, Iyang langsung memusatkan pandangan ke arah Zea, "Milaahhhh!"
"Iyaangggg!"
"Aaaaa!!!" kehebohan mereka tak bisa lebih bertambah lagi, bikin geger satu pangkalan militer.
"Iyangggg, gue kangen banget sama lo!"
Ovi, Rida bahkan Luna sampai menganga melihatnya. Luna menaikan alisnya sebelah, "dia...selingkuhannya apa gimana, sampe manggil Ayang?" gumam Luna.
Ovi tak heran dengan melihat ini, hanya sedikit dibuat minder saja melihat teman Zea yang datang, modelan muda-mudi keren begini.
Clemira membungkuk pada ajudan ibu komandan, "maaf atas kejadian barusan bu, saya janji tak akan terulang...." Clemira juga berbicara langsung dengan ibu komandan yang kebetulan ada disitu.
"Lo ngga kangen gue, Zee?!" Dina cemberut karena Zea lebih memilih memeluk Iyang.
Zea menoleh dan tertawa dengan tangan yang masih gelayutan di leher Iyang, "kangen dong! Gimana kabar Thailand, Angkor Wat masih aman kan? Ngga ada yang bopong?" tanya nya membuat Dina tertawa, "si alan!"
"Angkor Wat kembang kuburan, kali..."
Gadis itu berlari kecil dan memeluk Zea gemas, sama halnya dengan Zea, "kangen banget kalian."
"Gila deh! Setaun ngga ketemu kalian udah berubah tau ngga!" ujar Zea senang melihat teman-temannya, Iyang yang berperawakan lebih keren dengan rambut berwarna ungu dan maroon berpakaian layaknya para lelaki cantik dari negri ginseng, nampak lebih putih ketimbang saat SMA.
"Pangling tau ngga, kaya oppa--oppa korea!"
"Cakep engga? Jangan punya niat mau selingkuh sama gue, Ze..." tawanya.
__ADS_1
"Sstttt, cabut guys! Jangan disini, di rumah gue aja yuk!" ajak Zea.
"Yokkk---yokkk, gue kepengen liat kandang lo sama abang gantengnya gue bikin keponakan unyu-unyu!" jawab Dina membuat Clemira dan Zea sontak mendorong kepala Dina bersamaan.
Zea berpamitan pada Ovi dan Rida lalu masuk ke dalam mobil Dina, yang terbuka bagian atapnya, "kabriolet lo kemana Ze? Ngga pernah dipake lagi?" tanya Dina.
"Gue sekarang lebih nyaman pake truk Reo." jawab Zea ditertawai Clemira, "saravv njir!"
Luna mengatupkan mulutnya, hatinya selalu panas jika Zea lebih darinya. Zea bersama ketiganya berlalu menuju rumah dinas Saga.
"Tadaaaa! Inilah home sweet home gue sama abang, ini pun rumah dinas punya negara!" Zea turun dan mengajak ketiganya masuk, lain halnya dengan Clemira yang sudah terbiasa datang, Iyang dan Dina nampak tak percaya.
"Seriusan? Seorang Zea Arumi tinggal melarat sekarang?" gumam Dina, "kok gue sekarang mengurungkan niatan ya buat kenalan sama abdi negara," lanjutnya bergumam.
Iyang mendorong kepala Dina kembali, entah karena sering ditoyor jadinya Dina paling oon disini.
"Ya udah sii, panas ah di luar!" Iyang mengekori Zea dan Clemira masuk. Namun baru saja menginjak halaman, Zea langsung menahannya, "stoppp!"
"Eh, kenapa? Ada apa?!" Iyang ikut terkejut dan mengerem langkahnya dengan pakem, padahal Clemira bisa lancar jaya masuk ke dalam rumah.
Dina yang tak tau apa-apa ikut terkejut dan refleks tiarap, mentang-mentang di kawasan militer bawaannya tiarap.
"Khusus buat lo jangan dulu masuk, batas lo disitu dulu...bahaya!" ucap Zea dikernyiti Dina dan Iyang, sementara Clemira sudah tergelak dengan itu, "dasar saravvv, abang gue kebawa saravvv hidup bareng lo, Ze." Ia melengos ke arah dapur demi mencari minum.
"Kenapa sih, ada ranjau apa bom?!" tanya Iyang panik.
"Lo boleh masuk duluan Din," titah Zea.
"Terus gue?" tanya Iyang.
Zea tersenyum lebar, "lo tunggu dulu, bentaran lagi. Tunggu suami gue balik...."
Iyang mengernyit, "ngapain sii nungguin laki lo, kan gue kesini mau ketemu lo, peak!"
"Laki gue bikin aturan, kalo laki-laki lain dilarang masuk selama abang ngga ada di rumah, selangkah lagi lo maju, abis pala lo..."
Dina tergelak, "apes banget jadi lo, Yang..."
"Ck. Ngaco! Mana ada ah, lo ngerjain gue! Bilang aja lo ngusir...emangnya kapan laki lo balik?! Buru ah, panas nih!" tanya nya kesal.
"Bentar lagi lah, 2 jam'an lagi kalo dia ngebut larinya!"
"Jamilaaahhhhh!"
.
.
.
.
.
__ADS_1