Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA-PART 69


__ADS_3

Gerbang sepinggang cukup bagus menjadi pembatas lahan masjid dengan jalan. Mentang-mentang rumah ibadah, bawaannya adem, entah ia yang keluar di waktu magrib bersama keturunan Elsa frozen.


Zea menghela nafas lega, "kenapa?" tanya Saga melihat apa yang dilakukan Zea.


"Engga," gelengnya.


"Cuma lega aja, masih banyak orang yang ibadah, dunia belum mau kiamat." jawabnya kurang kerjaan mikirin akhir dunia.


Ada-ada saja istrinya itu, otaknya bisa berpikir sampai akhir dunia padahal orang-orang baru brojol bin brusut ke dunia.


Tak sedikit yang tersenyum menyapa Sagara dan Zea, gadis ting-ting yang dalam hitungan jam melepas statusnya secara penuh itu menoleh tak habis pikir pada si tampan bersongkok, apakah ia salah satu dari list penghuni surga? Aamiin! Pasalnya orang-orang yang datang untuk beribadah kenal pada Saga, itu artinya Sagara adalah pengunjung tetap rumah Tuhan.


Namun sejurus kemudian alisnya mengerut sempurna dan tenggelam dalam pikiran absurdnya, "abang kok temennya aki-aki sama nenek-nenek? Dari tadi yang nyapa yang udah udzur semua?" tanya nya dengan nada mencibir.


"Karena yang sering ngabisin waktu lama di masjid kebanyakan orangtua, jadi mereka yang sering ketemu sama yang muda-muda, yang datangnya cuma sekilas kaya abang." jawab Saga, seketika Zea melengkungkan mulutnya mencebik, "bilang aja abang mau pamer, kalo abang suka ke masjid. Ancang-ancang, membungkuk buat melesat!"


Saga tertawa renyah, "udah tau nanya. Bukan abang loh yang punya pikiran begitu. Tapi kamu yang mikir abang rajin ke masjid," ucap Saga.


"Gila yah! Zea baru tau kalo abang ternyata sombong loh!" akui Zea diangguki Saga, "baru tau?" tawanya melihat wajah kecut Zea.


Di masjid yang ubinnya sedatar dan sedingin Sagara dulu, shaf antara lelaki dan perempuan terpisah oleh tirai yang membentang.


Zea masuk lewat pintu samping, "Abang masuk lewat sana.." tunjuknya ke arah dua pintu dari pintu masuk Zea.


"Iya. Nanti abis solat Ze tunggu di sini lagi."


Keduanya berpisah disana, ketika Zea masuk ke dalam dan Saga melengos saat Zea sudah menentukan shafnya bersama para ibu lain yang melakukan ibadah disana.


"Mendadak soleha gini, emm," gumam Zea, awalnya ia merasa malu ketika Saga sudah bersiap melakukan solat berjamaah dan hatinya tergerak begitu saja untuk ikut, namun kini setelah masuk ke dalam sini, hatinya justru merasa lebih damai, apakah selama ini ibadahnya kurang benar? Ia jarang sekali masuk masjid, jika melaksanakan ibadah kebanyakan ia melakukannya di rumah sendiri, terkesan lebih buru-buru dan tak khusyuk.


Dari tempatnya, ia cukup bisa mendengar sayup-sayup suara Sagara dari depan tirai, ternyata memang benar ia jodoh dengan suaminya itu. Tanpa harus janjian, ia dan Saga ditempatkan berdekatan.


"Ga, sendiri?" tanya seseorang yang sama-sama datang.


"Sama istri, di shaf perempuan." Jawab Saga.


Zea tersenyum lebar, benar itu suara suaminya, hafal betul! Namun ia tak mau salah, Zea sampai bersujud demi bisa melihat di celah-celah tirai yang menggantung.


Beberapa orang makmum perempuan yang merupakan istri prajurit juga sampai terkekeh dan mengalihkan pandangannya melihat tingkah Zea, "liat opo to mbak?" tegur ibu di sampingnya.


"Liat suami saya mbak." Jawabnya santai tanpa mau menghentikan aksi konyolnya itu.


"Lah dalah, memangnya kelihatan? Yo pasti cuma kakinya to..." dengan bo dohnya ia meniru yang Zea lakukan dengan memiringkan kepala hingga menempel di atas karpet sajadah bagiannya.


"Iya mbak. Cuma kakinya, tapi saya hafal...bener sii itu abang," Zea langsung menegakan posisinya dan menoleh pada si ibu yang bertanya, alisnya naik, "mbak ngapain? Mau ngintip kaki suami saya juga?" tanya Zea.


"Astagfirullah, ya ndak to mbak! Masa saya ngintipin kaki suami mbak, ngapain?!" jawabnya, Zea terkekeh, "santai aja kali mbak, kaya tertuduh pelakor aja... Saya Zea Arumi," Zea mengulurkan tangannya.


"Sri," jawabnya, "istri Letda Andi, dari satuan penerjun."


Zea beroh singkat tanpa bersuara, "mbak?"

__ADS_1


"Istri Lettu Sagara, satuan pilot penerbang."


"Wah, kita beda ya mbak. Tapi tetep ketemu nanti hari rabu..."


"Ya?" tanya Zea mengerjap kebingungan.


"Iya, jadwal pertemuan hari rabu, mbak eh siap salah, bu..."


Gadis itu kembali mengerjap ketika Sri terkesan mirip serdadu pake siap salah segala, wait ibu???


Gue? Ibu-ibu? Tanya nya dalam hati.


"Oh, hari rabu...Oke." angguk Zea.


"Salam kenal bu. Tapi maaf nih bu, bukan maksud saya lancang, usia ibu sepertinya masih muda gitu loh..."


Zea meringis menatap Sri, "iya. Makanya jangan manggil ibu, saya masih muda, baru mau otewe 20. Ngga usah so baku gitu lah bahasanya suka pusing sendiri, ngga biasa, berasa kaya ketemu sama customer service motor..." jawabnya.


Sri terkekeh, "siap salah bu, eh..."


"Ck." Zea berdecak, daripada pusing mendengar Sri, ia lebih baik ngusilin suaminya di depan tirai.


Zea berjongkok dan merangkak mendekati tirai, ia terkekeh-kekeh karena belum juga melakukan aksi usilnya ia sudah merasa geli.


Sagara yang sudah duduk melengos karena dari arah mimbar seorang pengurus masjid memintanya komat.


"Bang, sutthhh!" bisiknya, ia lalu mencolek seseorang di depan sana daru balik tirai, "meongggg mpusss!"


"Batuk pak haji, garuk pake sikat toilet! Jawabnya gitu banget!" omelnya mendumel.


"Abang!" bisiknya kesal, mencolek-colek dari balik tirai. Sosok itu menggeliat, "ini siapa sih?!" Zea cukup dibuat terkejut ketika suara yang angkat bicara nyatanya beda dengan suara Saga.


Sosok di depan itu mengangkat ujung tirai agar dapat melihat pelaku usil yang sejak tadi mengganggunya.


Seketika Zea menegang ketika tangan besar itu menyingkapkan tirai, namun dengan tanpa dosanya Zea menunjuk ke arah mbak Sri yang tak tau menau di sampingnya.


"Dia om." ia menggeleng melimpahkan kesalahannya pada Sri.


"Mbak..."


"Opo to?" tanya mbak Sri yang kebingungan melihat wajah geram si bapak.


"Udah---udah om, jangan marah...tuh udah mau solat. Biar nanti aku aja yang tegur sama kasih tau mbaknya..om tutup lagi tirainya, bukan mahrom!" Ucap Zea.


"Ck. Colak-colek dipikir saya sabun!"


"Opo to mbak, si bapaknya kenapa?!" sewot mbak Sri pula.


"Tau, mungkin akhir bulan mbak...istri di rumah ngamuk...jadi bawaannya ga jelas!" jawab Zea, "pindah yu mbak, pindah..." ajak Zea.


Asem, si abang pindah ngga bilang-bilang, jadinya gue salah colek! Benaknya tertawa.

__ADS_1


"Sorry mbak Srii...." gumamnya dalan hati seraya mencari tempat baru dengan tangan merangkul dan mengajak mbak Sri pindah tempat.


Zea melingkarkan lengannya di lengan Saga sambil berjalan pulang, "di rumah ada beras?" tanya Zea. Pertanyaan yang bisa dibilang naik level semenjak keduanya menjalin hubungan.



"Ada."



Zea mengangguk, "tapi kalo untuk masak, Zea masih belajar, bang..."akuinya.



Saga menoleh dan tersenyum, "ngga apa-apa. Kita belajar sama-sama, dari nol...biar abang jadi kelinci percobaan kamu," jawab Saga.



Ia terkekeh, "ya ngga nol-nol banget sih bang. Setaun di England lumayan lah kalo cuma bikin nasi goreng, pasta, sama oseng-oseng tumisan, Zea bisa..." angguknya mantap.



"Alhamdulillah, ngirit uang dapur. Biasanya tiap pagi ada tukang sayur panggilan ibu-ibu prajurit yang lewat."



Zea mengangguk cepat mendengar itu, oke! Besok ia sudah mulai cosplay jadi emak-emak berdaster yang nawar tukang sayur.



Obrolan santai ini membawa langkah mereka masuk ke blok rumah dinas Saga. Suasana yang menurut Zea lebih ramai ketimbang komplek rumah papa Rangga, meski tak seramai kost'an mahasiswa mampu menciptakan suasana hangat.



Pintu terbuka menampilkan suasana rumah sama seperti saat mereka meninggalkannya tadi. Sagara tidak berniat membawa Zea ke rumah Ananta atau hotel manapun, baginya rumah ini pun sudah cukup sepi dan aman untuk keduanya melengkapi ibadah pernikahan, toh keduanya tidak akan sampai teriak-teriak kaya korban pembu nuhan atau kaya korban banjir dan gempa macam yang dibilang Izan dan Luki.


"Dek, mau lanjut ibadah berdua? Bikin pahala bersama?" Saga membuka songkok dan kancing kokonya setelah mengunci pintu rumah sebelumnya.


Alis Zea terangkat sebelah, "ibadah apa lagi sih? Dzikir? Itikaf? Sedekah? Bukannya sekalian tadi di masjid sih!" gerutu Zea melengos ke kamar, membuka mukenanya dan melipat itu.


Saga menyeringai dan menyusul Zea.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2