Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 42


__ADS_3

Zea merasa dirinya belum merasa aman, dan justru masih sama seperti saat ia bersama Ajay. Tidak seperti dirinya yang biasa.


Dina yang melihatnya sudah pasti akan menganggap jika Zea sedang mengalami gejala canggung, gugup, mendadak diare, mendadak jantungan, dan meleleh seketika saat dibopong-bopong prajurit ganteng gini.


Namun lain halnya dengan Clemira yang melihat keanehan lain, pasalnya Zea tak pernah canggung pada lelaki termasuk pada pria yang ia sukai, ia cenderung akan melakukan hal-hal bersifat memalukan, itu sungguh bukan Zea.


Clemira sungguh ingin bertanya, tapi ia urungkan karena dugaannya pasti alasannya berkaitan erat dengan Sagara.


"Kita istirahat disini dulu." Zea langsung memerosotkan diri dari gendongan Saga, "Ze, bisa jalan sendiri bang, jadi abang ngga perlu cape gendong lagi." Ia langsung membuang muka ketika Saga menatap lawan bicaranya, kenapa dengan gadis ini?


"Sini Ze," dan Zea langsung memutar badannya ketika Dina memintanya duduk di sampingnya, memberikan space di bawah pohon rindang yang entah apa namanya, namun sudah pasti bukan pohon toge.


"Kamu istirahat aja dulu, abang cari minum atau makan dulu," ucapnya mengedarkan pandangan ke segala arah.


"Jauh ngga? Biar Cle temenin..." ujar Clemira bermaksud membantu, tapi Sagara menggeleng, "tunggu disini, hemat energi kamu. Temani dua kawanmu yang tak tau soal bertahan hidup." Ia menyarangkan usapan lembutnya di pipi sang adik sepupu, Sagara memang mematikan saat di lapangan, tapi tidak jika bersama keluarga, ia adalah sosok yang lembut.


Tatapannya tertumbuk pada Zea yang rupanya sejak tadi memperhatikan Sagara dan langsung mengalihkan pandangan ketika Sagara melihatnya.


"Din, lo ngga apa-apa kan, ada yang luka ngga?" tanya Zea terlihat so sibuk. Sagara mendengus geli ketika Dina malah terbengong-bengong, "hah? Gue oke kok, ngga usah khawatirin gue."


Gemas sekali, gadis itu terlihat begitu canggung dan gugup kepergok tengah memperhatikannya.


"Kalian berdua tunggu disini bareng Clemira, anggap aja lagi pramuka."


"Pramuka," gumam Zea memeletkan lidahnya dan merotasi bola matanya tanda mencibir yang justru terdengar oleh Sagara, "kenapa?" tanya nya, sontak saja Zea tergelonjak kaget, "ha? Engga-engga, ngga apa-apa, semangat yaaa cari makannya, kalo bisa nasi padang..." kilahnya nyengir.


Clemira menyemburkan tawanya, "dikira ini kota!"


Langkah sepatu delta itu semakin menjauh, mencari sumber makanan yang dapat mereka makan langsung tanpa perlu dimasak, sebab tak mungkin Sagara bertindak ala-ala master chef di belantara begini yang akan memancing perhatian musuh.


Zea menghela nafasnya dan bersandar di batang pohon besar tempat mereka bernaung, setidaknya itu mengurangi rasa lelah ketiganya.


Dina lebih memilih memejamkan matanya barang sejenak, walaupun tak bisa untuk benar-benar terlelap, serangga hutan sungguh mengganggunya.


Pukk!


Pukk!


Secara intens ia menepuk dan menepis nyamuk-nyamuk hutan yang sebesar-besar gajah. Ia juga menggidikan kepalanya ketika kepakan sayap mereka terasa mengganggu, hingga Dina harus menaikan hoddie miliknya demi melindungi kesehatan telinga.


"Njiirrr, nyamuk disini segede aki-aki, sekali nyedot da rah perawan abis!" ujar Zea membuat Dina tertawa renyah bersama Clemira.


"Mana tangan gue sakit lagi, ah! Ngga bisa lebih si al lagi gitu hujan!" kesalnya mengomel.


Gludukkkkk! Awan mendung menggelayuti belantara dan sebagian langit nusantara.


Ketiga gadis itu menengadah ke atas langit, "mulut lo Ze, kaya si pahit lidah...ucapan adalah do'a!" Clemira mencibir sewot.


"Sue banget gue kejebak bareng kapten tim ng33 hee gini!" tawa Dina semakin pecah.


Zea menghembuskan nafas berat, seraya memperhatikan tangannya yang tak berdaya, "kira-kira gue bakalan mati disini ngga ya?" tatapnya getir.


"Hush! Ngaco! Abang bilang kan lo ngga bakalan kenapa-napa," jawab Clemira.


"Tau, udah istirahat lo. Kebanyakan ditampar cowok jadi be go kan!" timpal Dina ditertawai Zea, "awas lo berdua, jangan ribut masalah ini di sekolah. Malu banget gue!"


"Ternyata gini rasanya ditembak cowok..." lanjutnya mengoceh.

__ADS_1


Alis Clemira dan Dina terangkat, ketiga gadis ini duduk bersampingan menekuk lutut mirip penunggu pohon beringin.


Clemira seakan tau kemana arah pembicaraan kawannya itu, ia menyunggingkan tawa geli, "sakit?"


Dina benar-benar sudah lemas tertawa dengan ocehan Zea dan Clemira, "banget. Ngga nyangka gue ditembak cowok bisa sampe berda rah- da rah gini...."


"Aduh, gue pengen pipis!" Dina meringis menahan tawanya.


"Ke belakang sana! Buruan jangan di tahan ntar tau-tau bau pesing, lagi!" ujar Zea.


"Dimana?!" Dina terkejut tak mau.


"Tuh belakang pohon, ngga ada yang bakalan ngintip kaleee, bang Saga kan lagi nyari makan-minum, lagian udah biasa buat dia liatin bo kong..." ucap Clemira, membuat kedua temannya ini gagal fokus, terutama Zea, "maksud lo?! Abang lo player gitu?!" Zea menarik alisnya sambil bergidik tak percaya jika orang sekalem Sagara adalah seorang pemain di atas ranjang panas.


Clemira tertawa, "iya bo kong, bo kong mo nyet!"


Dina semakin keras menahan bagian bawahnya tak kuat, sementara Zea mencebik, "si alan."


"Udah buru. Hati-hati, permisi-permisi dulu Din..." tukas Zea.



Sagara mengumpulkan makanan seadanya, mulai dari buah yang ditemukan, pakis, daun, lumut, air yang ia tampung dengan daun.



"Abang cuma bisa nemu ini, untuk malam ini makan yang ada saja." Ia menumpukan satu kaki sebagai penopang lengan menghadap ke arah ketiga gadis ini, jika Clemira sudah mencomot buah, maka beda hal dengan Zea.



"Ini apa?" tanya nya menatap getir penuh keraguan.




"Becanda. Yang ini lumut hati, sudah abang bersihkan. Ini pohpohan, buah yang lagi dimakan Cle itu ciplukan, daun semanggi sama daun paku sayur."



Dari wajahnya saja, Zea sudah menaruh rasa tak selera dan Saga tau itu.



"Enak Ze," timpal Dina sudah menyahut sambil mengunyah daun paku sayur yang menurutnya bentuknya lucu.



"Nah yang ini!" tunjuk Dina, "krenyes-krenyes rasa tanah!" tunjuknya pada lumut hati, membuat Clemira tertawa tergelak.



Bukannya mengambil apa yang sudah Sagara cari, Zea justru menangis sesenggukan.



"Gue bakal mati disini...huwaakkkk!"

__ADS_1



Clemira baru saja ingin meraihnya, namun rupanya Sagara sudah lebih dulu beranjak meraih gadis itu.



"Hey, abang tau ini tak akan mudah untuk kamu. Tapi tolong mengertilah, kita akan segera keluar, abang akan segera bawa kamu ke pusat pertolongan medis."



Zea menggeleng dan melepaskan tangan Saga, lagi.


"Ze, cuma mikir nasib temen-temen lain, yang masih disana. Harusnya tuh sekarang, kita udah sama-sama kumpul di rumah bareng keluarga, atau minimalnya udah lepas dari cengkraman penjahat. Zea ngga tau, apa sekarang mereka diperlakukan dengan baik setelah Zea kabur atau justru jadi pelampiasan mereka..." tangisnya menganak sungai melewati garis wajah yang chubby hingga bermuara di dagu dan menetes membasahi pangkuannya.



"Terus dengan kamu ngga makan apa itu bakal membantu? Atau justru kamu mau balik lagi kesana? Dan kasih nyawa kamu dengan cuma-cuma?" tanya Sagara sukses membuat Zea melihatnya memicing, "Zea ngga nyangka pernah suka sama laki-laki yang ngga punya perasaan, kasar, pembunuh, sadis. Respect sedikit!" Zea menyarangkan pukulannya di dadha Saga.



Saga mengu lum bibirnya, "apa abang perlu mengheningkan cipta sekarang?"



"Ngga lucu!" cebik Zea mendelik.



"Jadi----" Saga mengulurkan tangan yang menggenggam buah ciplukan ke depan Sagara.



"Apa rasa itu sudah hilang? Apa kamu udah ngga suka saya lagi?" lanjut Sagara, Zea menatapnya getir namun tegas, "apa kasar dan sadis ngga ada di daftar sifat lelaki idaman kamu?"



Dina menelan salivanya sulit, di samping Clemira, "berasa jadi bibit kacang ngga sih?" bisiknya, Clemira mengangguk menyetujui ucapan Dina, "banget, kepala gue udah tumbuh tunasnya malah!"



"Baru gue tau, kalo perwira yang ditembak Zea dulu waktu bela negara itu abang lo?"



Clemira menoleh pada Dina, "kemana aja, baru tau?"



Dina tertawa, diantara Zea dan Sagara yang masih bersitatap dengan latar belantara yang sudah mulai gelap.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2