Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 85


__ADS_3

"Zeaaa, gilak!" teriak Iyang, tapi orang yang diteriaki malah tertawa tergelak.


"Panas ih, berasa lagi di mos tau ngga!"


Clemira tersenyum melihat teman-temannya berkumpul begini.


"Panas? Ini baru panas dunia loh Yang, belum panas neraka!" tambah Dina membuka kaleng minuman dingin yang ia ambil dari kulkas Zea dan duduk di kursi depan rumah dinas Zea.


"Bentar Yang, gue nelfon dulu abang....boleh engga masukin lo, kayanya elo sih pengecualian, kelaki-lakiannya patut dipertanyakan!" jawab Zea menscroll layar ponselnya dan mencari kontak Saga.


Dina sempat tersedak softdrinknya, "aduh ih, ampun deh ah! Sampe tumpah-tumpah gini," ia mengusap bibir dan dagunya yang basah karena minuman.


"Tega ya lo, gue jauh-jauh dari negri ginseng, nyampe tanah air jadi akar ginseng beneran karrna lo jemur!" omelnya macam emak-emak.


Zea berdecak, "kenapa sih, ini ngga nyambung! Yaaa...lupa lagi, gue ngga punya kuota, coy!"


Lantas Dina dan Clemira tertawa tergelak mendengar seorang Zea tak memiliki kuota.


"Ampunnn anjirrrrr, malu-maluin abang gue aja!" Clemira menoyor kepala Zea.


Dina tertawa sampai memegang perutnya, "orang kaya ngga punya kuota, hahahahaha!"


"Manusiawi ngga sih? Gue sekarang pengabdi loh! Pengabdi masyarakat!"


"Pengabdi setan, lo mah!" jawab Iyang meledakan tawa Cle dan Iyang kembali, siang ini rumah Zea terdengar ramai sekali, padahal hanya didatangi 3 orang saja.


Saga berjalan bersama Izan dan Luki, "yaaa...yang penganten baru mesti pamit nugas luar besok, siapin stamina dan bekal, Ga!"


Saga mengurai senyumnya, cepat atau lambat, memang Zea harus terbiasa dengan dirinya yang begitu. Karena begitulah tugas seorang abdi negara, menjaga perdamaian tanah air di setiap inci daratan, lautan dan langit bumi pertiwi. Menjaga rasa aman nan tentram setiap masyarakat negri. Menjaga tidur nyenyak dari setiap penghuni bumi khatulistiwa.


"Cuma patroli sambil uji coba pesawat yang baru, bukan tugas perang." Saga berucap seolah itu dapat meredakan hatinya dari rasa beratnya meninggalkan Zea, apa karena keduanya baru hidup 2 minggu?


"Kalo abang ngga kerja, adek mau makan apa, ya Ga?" alis Luki naik dengan bahu menyenggol Saga.


"Ck. Percaya lah! Abang Sagara mah meski pensiun jadi tentara juga masih bisa ngasih makan bini sampe anak cucu! Anak sultan!" keduanya cengengesan, langkah ketiganya berbelok ke arah blok rumah dimana mereka tinggal.


Dari jarak beberapa meter saja terdengar suara riuh yang berasal dari rumah Sagara.


"Ada siapa, Ga?" tunjuk Izan ke arah mobil mewah yang terparkir manis di depan rumah mereka, begitu kontras dengan kondisi rumah, mobil itu menandakan jika pemiliknya bukanlah orang sembarangan, alias sultan punyahhh!


Sagara mempercepat langkahnya, kesana dan alisnya mengernyit melihat ketiga wanita itu tengah membully Iyang di halaman rumah.


"Abang!" Zea menyeru lalu berlari kecil tanpa alas melewati Iyang begitu saja.


"Alhamdulillah!" seru Iyang.


"Dek."


"Itu..."


"Ada Dina, sama Iyanggg! Kalo Cle mah ngga perlu aku kenalin lagi, dia sering kesini tanpa diundang..."


"Hayyy abang ganteng! Apa kabar?!" Dina menyapa yang diangguki Saga, begitupun Iyang, "abang! Lama amat pulangnya, gue dijemur sama bini kurang aj ar lo nih bang, sampe jadi akar ginseng gini. Rambut aja udah jadi maroon gini kejemur!"


Zea tertawa, "itu mah elu nya aja kecentilan. Rambut lo celupin ke limbah pabrik," jawabnya. Dina tertawa tergelak lagi, "duhhh ini yang bikin gue kangen, ngga mau balik ke Bangkok lagiiii, maunya disini!" rengeknya.


"Gue malah pengen beli tiket balik ke Korea lagi kalo bakalan tau di bully Jamilah! Abang gue boleh masuk rumah kan bang? Bini abang larang aku masuk, katanya takut kepalaku ditembak bang Saga!" omel Iyang.

__ADS_1


Saga hanya menyunggingkan senyumnya dan mengangguk. Iyang langsung berlari kecil dan merebahkan dirinya begitu saja di gawang pintu rumah Zea dan Saga, "aahhhh alhamdulillah!"


"Awas bekas ee ayam tuh lantainya, si Milah kan jorok, jarang bersih-bersih!" seloroh Dina.


"Enak aja!" tukas Zea.


"Rame bener!" Izan melihat Dina, gadis cantik dengan otak setengah itu tampak cantik nan manis.


"Hay om, om-om ini...yang dulu..."


"Iya!" Izan langsung mengulurkan tangannya setelah sebelumnya mengelap telapak tangannya itu di seragam lorengnya, "kita yang dulu nyelamatin sandera di pesawat komersil..." lanjut Izan, entah apa tujuannya berucap so super hero, apa biar kelihatan hebat di mata Dina? Apa ia sedang mencari perhatian si bocil oon ini?


Dina terlihat berpikir keras, sementara Zea mengu lum bibirnya, Luki mendorong bahu Izan yang sepertinya tau maksud si buaya.


"Emhhh, lupa. Maksudnya tadi, Dina tuh mau bilang yang dulu ada di acara bela negara, yang mau gombalin Milah tapi kena tolak kan?"


Bukan hanya Luki, namun hampir semuanya tertawa termasuk Saga.


"Asem." Izan membuang muka nya yang kecut.


"Peak, njirrr." gumam Iyang, "minum oyyyy! Haus nih gue! Ni tuan rumah kagak gablek air mineral apa ya?!"


Clemira meledakan tawa, sementara Zea mencebik, "elo sendiri tamu kurang aj ar. Mana ada tamu main rebahan aja di gawang pintu, minggir mau gue sapu bareng sampah?!" ia berkacak pinggang dan masuk ke rumah diekori Dina.


Clemira menghampiri Saga, "bang..." ia salim takzim, "ada yang mau Cle bisikinn---" ia nyengir tak jelas, mesam-mesem kaya orang kesetrum.


"Apa?" alisnya terangkat satu, lantas menebak apa yang akan diutarakan Clemira, "Tama?"


"Kok tau!" Clemira melotot dan berseru, darimana pula abangnya tau jika Tama berniat.....hanya saja ia masih takut pada abinya yang overprotektif, niatnya sih datang kesini buat minta tolong pada Sagara untuk merayu abi Ray.


Saga menggeleng sekaligus memijit pangkal hidungnya, pandangannya tertumbuk pada Zea yang justru bercanda bersama Iyang dan Dina, istrinya itu bahkan menyeret kaki Iyang masuk padahal pemuda itu sudah menjerit-jerit minta dilepas, dan Dina hanya bisa menjadi tim hore dan tergelak. Namun, pikiran Saga sudah berputar pusing, baru kemarin Russel datang ke rumah dan curhat jika ia menyukai gurunya di sekolah. Kini Clemira yang minta bantuan melancarkan hubungannya dan Tama.


"Asiap! Ganti baju dulu!"


"Gue mandi kembang, biar pesona gue ngena!" jawab Izan.




Asap mengepul beraromakan daging dan bumbu panggang, Izan dan Luki sedang mengipasi ikan, daging serta bahan lainnya di atas bara api.



Di pojok kanan Clemira duduk sambil memandang layar ponsel dimana Tama berada di sebrang panggilan.



*Lagi di rumah bang Saga sama Ze, jaga kesehatan di sana. Bawa vitamin kan*?



Tama terlihat mengangguk dengan kaos kesatuan, sepertinya ia sedang rebahan di asrama, karena jelas kasur tipis menjadi alasnya.



*Salam buat Saga dan yang lain*.

__ADS_1



Clemira mengangguk.



Di depan bara api, Izan Luki bersama Dina dan Iyang asik mengipasi dengan sesekali mencicipi ikan yang sudah matang.



"Ini, masih ada nih!" Zea keluar dengan dress rumahan dan rambut yang dijepit serta sandal jepitnya membawa serta tempat plastik berisikan jagung dan paprika.



Ia menyerahkan kotak itu pada Iyang dan Luki lalu duduk di teras samping Saga.



"Besok abang nugas 2 hari, dek." katanya tanpa mukadimah. Zea menoleh, "2 hari? Kemana?" alisnya mulai mengernyit.



"Patroli di luar pulau, sekaligus uji coba pesawat tempur baru."



"Kenapa harus sampai nginep gitu? Ngga bisa pulang, ya?" tanya Zea seolah berat dan tak mau ditinggal.



Saga meraih kepala Zea, "kalo harus bolak-balik boros waktu, bahan bakar."



Zea menatap Saga dengan mata beningnya di suasana malam, seolah suara riuh disana tak mengganggu suasana hati keduanya.



Alisnya terangkat menanti jawaban Zea yang justru berkaca-kaca, "Zea libur dibelai dong..." ia menubrukan wajahnya di dadha Saga.



"Mmm...belum juga ditinggal ih, udah ngga ikhlas aja."



"Mau abang anter ke rumah umi? Atau nginep di rumah papa? Atau ditemenin Clemira disini?" tawar Saga.



"Mau nginep di rumah umi."


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2