
Bukan Zea apalagi Clemira dan Dina yang bersemangat untuk makan, melainkan papa Rangga.
Lihatlah ayah dari Zea Arumi itu, sudah sibuk memilih ransum militer layaknya milih teman nasi di warung tegal. Menteri satu ini memang tak pernah menganggap dirinya harus lebih mewah dibandingkan orang lain karena jabatannya, bukan menolak keren tapi lidah nusantaranya tak bisa disandingkan dengan rasa-rasa makanan dari luar, yang katanya kurang ngena.
"Ini harus di masak dulu, toh? Oalah!" serunya.
Zea sudah mengurut kencang-kencang keningnya, bahkan sampai berkerut keriput dibuatnya melihat tingkah sang papa.
"Menteri kok kelakuane wong ndeso, piye iki?" Zea menggumam yang terdengar oleh Clemira, membuat gadis turunan Mana ado-Sabang itu tertawa jika logat Javanese Zea keluar.
Tak ada jarak diantara mereka, bahkan Rayyan ikut bergabung bersama mereka.
"Wah, pesta nih!"
"Hey om Ray! Mau coba jadi petualang sejati, mumpung masih berasa vibesnya!" jawab papa Rangga.
"Om mau yang mana?" tanya Sagara, mereka sedang duduk lesehan mengelilingi kompor kecil yang biasa dipakai para prajurit jikalau bertugas.
Papa Rangga sedikit kesulitan untuk duduk hingga akhirnya ia bersila mirip boneka beruang besar di kamar Zea, dan menyerahkan dua buah kotak ransum pada Saga, "yang ini saja, let."
"Papi. Itu ngga salah ngambil dua begitu?!" serunya bernada tak percaya, disaat orang lain hanya membuat satu, papanya justru mendekap 2 buah kaleng nutrisi tentara itu.
"Biar Ze, mungkin papamu udah 3 hari belum makan ya, pak?" timpal Rayyan. Dan tak urung pula, Sagara menerima dan membuka kaleng agar tak meledak saat sedang dipanaskan.
"Ini ukurannya kecil, nduk. Coba liat jumlah kalorinya," tunjuk papa Rangga meminta Zea melihat dengan jelas porsi kalori dalam satu kaleng makanan.
"Emangnya om Rangga sekali makan porsi normal apa jumbo?" tanya Dina semakin mengukuhkan jika papa Rangga adalah manusia terakus di muka bumi.
"Ah, cukup lah satu centong nasi, Din..." jawab papa Rangga dengan tangan yang sibuk membuka kaleng ransum satunya lagi sementara yang satu tengah dimasak Saga, kok susah ya.
"Iya satu centong, tapi sering ambilnya..." jawab Zea justru terlihat ikut memanjangkan lehernya melihat Sagara memanaskan ransum.
"Eeehhhh, papi cuma sayang aja masakan mami jadi mubadzir kalo bersisa." Alibinya akhirnya menyerah membuka kaleng ransum dan menyerahkan itu pada Sagara, "Ga, kamu prajurit ibu pertiwi, kebangaan bangsa kan?!" tunjuknya pada Sagara.
"Siap, betul pak!" jawabnya.
"Coba tolong lah, orangtua ini..."
Bwahahahahaha! Tawa mereka pecah seketika, tak sangka sosok berkharisma dan bijaksana menteri bangsa itu nyatanya sangat humoris nan hangat.
"Om Rangga ih, bilang aja ngga kuat!" ujar Clemira, Zea mencebik menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan tingkah papanya yang memang selalu begitu tak kenal tempat dan situasi kondisi.
"Bukan ngga kuat Cle, cuma ngasih kesempatan buat yang muda untuk unjuk gigi..." jawabnya pintar beralibi.
"Kita yang sudah tua ngalah ya, pak?!" timpal Rayyan bernada geli.
"Ah, ngalah apaan om...Zea heran sama papa sendiri, porsi makan gede tuh larinya kemana...ditumpuk di perut jadi lemak jenuh, nih..." Zea menusuk-nusuk dan mencium perut buncit papanya, "Zea bentar lagi punya adek!" gemasnya pada perut sang papa.
"Kamu nih!" papa Rangga malah menekan kepala Zea ke arah perutnya, hingga anaknya itu mengaduh sesak.
Mereka semakin meledakan tawanya termasuk Sagara yang berhasil tertawa renyah atas interaksi sepasang ayah dan anak itu, hingga saat makanan mereka siap disantap.
Al Fath melihat dari tempatnya kebersamaan mereka disana dengan menyunggingkan senyumannya.
__ADS_1
"Lapor ndan, sisa sandera sudah sampai di landasan dengan selamat tanpa kurang suatu apapun! Dan semuanya berjumlah pas dengan daftar manifest pesawat boeing!"
Al Fath benar-benar tersenyum bangga dan puas ketika mendengar semua sandera telah diselamatkan, tapi sedetik kemudian senyumnya pudar manakala mengingat prajurit yang gugur bersama pilot pesawat.
"Lalu status jenazah lettu Yogi?" tanya Al Fath.
"Jenazah lettu Yogi dan pilot Edward siap diserah terimakan pada pihak kesatuan dan keluarga dari rumah sakit." Jawabnya Al Fath mengangguk.
Zea berdiri bersama Clemira pagi itu, memperhatikan proses serah terima dua peti jenazah yang berisikan dua jenazah prajurit dan pilot yang gugur saat kejadian ini. Dibawah pelukan bendera negri keduanya beristirahat dengan tenang di pangkuan bumi pertiwi.
Disana pula papa Rangga bersama pihak keluarganya berada dipayungi rasa terpukul yang teramat.
"Bukan pekerjaan dan tugas yang merenggut nyawa keduanya, Ze." suara Clemira yang angkat bicara memecah keheningan dan suasana khidmat.
Zea menoleh dengan sorot mata getir, seolah ia sedang mengkhawatirkan dan takut akan sesuatu.
"Gue tau. Semua yang hidup pasti akan mati, Cle." Balas Zea.
Zea mengulas senyuman miring dan mendengus tanpa suara, "siapa sih yang ngga takut dan mikir berkali-kali, Cle. Buat nerima orang dengan resiko kematian tinggi begitu," jawab Zea memutar tubuh membelakangi pemandangan sendu dan sedih di depannya, ia paling tak suka dengan hal-hal melow begini.
"Tante Eyi pernah bilang, bukan kematiannya yang ia takutkan ketika om Ray pergi bertugas, tapi ketika kamu harus mengenang sesuatu yang membahagiakan saat bersamanya. Saat kenangan manis itu terpaksa hanya akan menjadi sejarah....lo bisa, kalo seandainya suatu saat laki lo ninggalin lo pas lo lagi hamil gede? Atau anak-anak lagi lucu-lucunya?" tanya Zea, dan ia pun berlalu dengan kebimbangan meninggalkan Clemira, "lo mau disitu liatin orang nangis atau mau ketemu temen-temen?! Gue kangen Iyang!" teriak Zea mengajak Clemira.
Hanya sehari disana, Zea beserta kawan-kawan sudah kembali ke ibukota. Bak aktris hollywood sekelas Angelina Jolie yang disambut oleh berbagai pihak.
Seketika tangis haru pecah dari keluarga para ex sandera itu, termasuk mama Rieke.
"Emak!" Iyang memeluk ibunya yang seketika membalas pelukan lebih kencang dari biasanya.
Rasa bahagia, lega, syukur, dan senang seketika bercampur baur dan pecah di bandara. Jepretan kamera liputan para pemburu berita nasional turut andil menyambut kedatangan mereka.
Zea mengusap wajah mama Rieke yang terlihat kusut, dekil meskipun sebenarnya ia masih modis nan cantik.
"Ya Allah," netra ibunya itu jatuh ke arah lengan Zea yang diperban, tanpa harus putrinya itu menjelaskan, mama Rieke tau kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Zea.
Tangannya mengusap luka Zea, "Ze kena tembak, mi. Tapi Zea kan anaknya menteri Rewarangga, jadi pasti kuat!" ucapnya seolah menjawab pertanyaan hati sang ibu dan semakin membuat mama mencelos sedih, "Zea emang anak kuat!"
__ADS_1
"Maaf Zea ngga bisa bawa piala sama mami...soalnya pialanya di pesawat. Baju Zea juga ilang semua, termasuk hape.." katanya lagi. Mama Rieke semakin terisak kuat mendengar itu dan menggeleng kencang, "Zea anak mami, mami bangga sama Zea."
Di sisi lain, Fara menunggu bersama ajudannya, "liat ngga? Eyi sama Cle?" tanya Fara.
"Siap, belum bu." Mereka rupanya tengah menunggu kedatangan Eyi dan Clemira di bandara.
Fara kembali dudul di kursinya sembari menikmati kopi dan roti, menunggu itu hal yang melelahkan dan membosankan, sudah lama lidahnya tak dimanjakan cemilan ibukota ciri khas bandara.
"Mmhh, lidah gue udah kelu sama ulet sagu. Ngerasain roti begini buat pertama kalinya lagi, kok enak ya?!" ocehnya memperhatikan roti yang telah ia gigit, "Ris, coba nanti beli lagi kalo kita pulang ya!" titahnya pada sang ajudan dan diangguki oleh ajudannya itu.
"Bu, ada istri menteri Rewarangga dan putri...apa ibu ngga mau sapa dulu?" tanya lettu Risa.
Fara melihat arah telunjuk Risa dengan acuh tak acuh menunjukan pemandangan dimana sepasang ibu dan anak sedang berpelukan kaya teletubbies, ia bergidik malas, "aduh, saya tuh lagi menikmati makan roti, Ris. Kalo keganggu berasa gimana gitu...nikmatnya ilang. Anggap aja kita ngga liat mereka," bisik Fara segera memalingkan pandangan ke arah lain dan menutupi wajahnya.
Risa terkekeh melihat tingkah istri panglima itu, jika biasanya istri-istri pejabat akan daling bertegur sapa, bahkan dari kejauhan saja sudah berteriak menyapa biar koneksi lancar di kemudian hari, sampe bela belain bawa besek dan toa masjid biar terlihat, tapi Fara justru pura-pura tenggelam.
"Saya tuh paling males kalo mesti basa-basi ngga jelas sama ibu-ibu begitu. Paling-paling nanti bahasannya melenceng ke arah lain..." ujar Fara curhat colongan, "palingan obrolannya seputar dunia waheho...bosen! Mana kalo cipika--cipiki suka lengket!"
Risa kembali terkekeh, baru sehari kenal atasannya itu sudah membuatnya tertawa berkali-kali atas ocehan absurdnya.
"Beliau itu salah satu korban sandera bu, putri Rewarangga kan ikut menjadi korban dalam penyanderaan. Ngga mau ikut bela sungkawa atau mengucapkan selamat?" tanya Risa lagi.
Fara menepis udara, "kita skip aja hari ini, pasti banyak juga tuh! Yang nyambut mereka, saya males jalan kesitunya. Lagi nyemil! Paling ngga suka kalo keganggu," jawabnya singkat dan enteng.
Risa mengangguk mengerti, "siap bu."
"Bu, itu bu Eyi!" tunjuk Risa. Baru Fara mangap hendak menggigit roti, ajudannya itu kembali menunjuk, membuat Fara kembali mengurungkan niatannya untuk melahap roti, ia berdecak kesal sambil memicing, "Ris. Bisa ngga kalo kasih informasi jangan pas saya lagi mangap?"
"Siap salah, bu!"
***
"Itu Clemira sama tante Eirene?" tunjuk mama Rieke diangguki Zea.
"Mau ketemu mereka dulu, mi?" tanya Zea diangguki mama Rieke.
"Ris, itu istri sama anak menteri kenal Eyi?" alis Fara berkerut melihat jika Zea dan mamanya mendekati posisi Eyi dan Clemira.
"Sepertinya bu," jawab Risa.
"Mhhh, jodoh bukan sih? Nolak-nolak tapi ujungnya ketemu juga?" gumam Fara.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1