Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 76


__ADS_3

Saga tertawa renyah dengan tangan terkepal menutup mulut melihat tingkah istrinya.


Zea berjalan bersama mama Katarina, membuat para wanita muda disana ketawa-tiwi karena bahasa nyablaknya, hingga memasuki kawasan rimbun dengan pepohonan, ia mulai senyap terkesan lebih bernafas tersendat, rupanya berjalan sambil mendongeng itu lumayan bikin pasokan oksigen menipis dari kantung udara.


"Katanya my honeymoon my adventure?" bisik Saga menyeringai setengah mencibir kemudian ia menyamakan langkahnya dengan langkah sabtu-minggu Zea. Awalnya saja semangat juang '45 saat jarak yang ditempuh baru sekitar 1-2 kilo.


Kini ia melambat, sudah seperti berjalan di padang mahsyar, padahal para mama saja sudah berjalan duluan di depannya. Komat-kamit melafalkan kalimat tasbih seolah besok mati.


Ia menggunakan lengan jaketnya untuk menyeka keringat Zea, sebelah tangannya menekan tengkuk Zea agar dapat terseka dengan bersih.


"Gilaaa, udah pada tua, tapi kuat-kuat...abang tanya dong, mereka ngga pake alas kaki, kakinya masih oke ngga? Telapak kaki ngga aus kan? Atau kakinya udah tebel kaya kulit badak?" takjub Zea melihat kaki-kaki kuat para superwomen itu, ia meraih botol minum dan meneguknya tanpa berbelas kasihan, bahkan botol air mineral itu sampai ikut tersedot dan penyok saking kuatnya hisa pan Zea, mungkin saat ini mulutnya mirip-mirip vacum cleaner.


Saga hanya mengulas senyuman, "udah biasa. Segini mah deket, belum apa-apa buat mama-mama."


Belum lagi hewan-hewan kecil melata, semut yang udah mirip semut dari daratan liliput banyak dijumpai oleh Zea. Untung saja ia belajar dari kesalahan semalam, memakai lotion nyamuk biar ngga dicium nyamuk nakal, karena di luar dugaan nyamuk disini lebih garang dan besar.


"Panassss ih...." keluh Zea berjongkok, sudah tak kuat meneruskan perjalanan. Disaat yang lain sudah berjalan duluan, ia malah mogok jalan.


Saga ikut menghentikan langkahnya diantara rerimbunan pohon, sinar mentari mampu menembus celah-celah rimbunnya dedaunan pohon-pohon tinggi.


"Mau abang gendong? Eh, tapi masa backpacker digendong?" kekehnya mencibir, ia melihat ke arah depan, dimana yang lain sudah sedikit menjauh.


"Cape, haus, lapar..."ia berkata dengan ketus.


"Nanti kalau sudah sampai ladang, kita makan. Itu, di depan udah nemu pohon sagu juga, biasanya banyak cemilan disana."


Kedua bola mata Zea melirik memicing dan mengunci mata Saga, pasalnya terakhir kali makanan lezat di hutan versi Saga itu rasanya kaya makanin lumpur!


"Boong, percaya abang tuh musyrik."

__ADS_1


Saga terkekeh berkacak pinggang, sebelah kaki yang terlapisi sepatu delta bertumpu di atas akar pohon besar, "ya udah kalo ngga percaya..." ia memalingkan wajah.


"Tau gitu, kue lontar yang tadi Zea bawa ngga akan Zea abisin dulu di jalan..." dumelnya, "abang jongkok! Zea udah kunang-kunang nih, bentar lagi pingsan deh!" gerutunya dengan kecepatan bicara melebihi kecepatan angin, dan berhembus layaknya kentut.


Saga menuruti keinginan Zea, takut jika sampai istrinya itu merajuk, ia sendiri yang rugi. Dalam sekali gerakan, ia menggendong Zea di belakang mirip mon yet dan induknya.


Wanitanya itu... apa yang diucapkan tak sesuai kenyataan, yang katanya bentar lagi pingsan buktinya masih ngoceh-ngoceh cantik di atas punggung Saga.


"Abang kelamaan tinggal di hutan mirip tarzan. Bisa bahasa binatang?" tanya nya di luar nalar.


"Ngga." Saga membuat langkah besar-besar mengingat mereka sudah tertinggal.


"Kirain," cebiknya dengan meneliti area sekitar, siapa tau nemu mall atau tukang seblak disini. Netranya jeli mengamati sekitar, "disini masih ada cendrawasih?"


"Masih, kalo kamu beruntung, suka sedekah, baik hati pasti nemu..." jawab Saga, sontak membuat Zea mencebik dan dengan mudahnya menjewer daun telinga Saga sebelah.


"Kurang baik apa coba, waktu di ibukota beli sayur aja total harganya 145 ribu, Zea tambahin seribu buat si mamang beli air mineral gelas." Jawabnya.


Sejenak keduanya terdiam dan lebih menikmati suasana hutan yang masih asri, memang sepertinya hutan ini jarang di sambangi warga, hanya sekedar dilalui untuk menuju ladang dan diambil hasil alamnya itupun beberapa bulan sekali.


"Abang, tunggu dulu. Stop-stop!" tepuknya di pundak Saga mirip nepukin tukang ojek.


Langkah kaki Saga terpaksa terhenti karena peringatan Zea, dengan setengah kebingungan ia menoleh singkat.


"Itu liat!" tunjuknya ke arah dahan pohon yang cukup jauh namun masih terlihat oleh Zea, "ahhhh lucu, rejeki anak soleha tuh begini nih!" serunya gembira tertahan agar tak mengganggu objek yang ditunjuk.


Sepasang burung dengan bulu indah nampak seekornya tengah menari-nari dengan gerakan agak rumit namun mampu memancing takjub dan tawa Zea. Diantara sunyinya rimba dan eksotisnya hutan ia dihibur dengan moment langka ini.


Bukan jaipong, atau hiburan mahal yang menjadi pengisi acara honeymoon keduanya.

__ADS_1


"Living gem, permata hidup...simbol kebangaan dan keindahan warga timur. Itu jenis Cendrawasih kerah," Saga menurunkan tautan tangan di bawah pan tat Zea, membuat istrinya ini merosot ke bawah.


"Emang ada berapa jenisnya? Kok yang Ze tau di buku pelajaran ngga kaya gitu, warnanya coklat, ekornya kekuningan setengah putih gitu..." ujarnya mengingat-ingat.


"Banyak. Yang ini khusus jantan warna dominannya hitam dengan mahkota biru kehijauan, sementara betina warnanya coklat." Sagara memilih berjongkok demi mengamati karunia Tuhan itu bersama Zea.


"Lucu ya bang," bisik Zea mengulas senyuman.


"Ada fakta unik tentang cendrawasih kerah, betinanya tuh pilih-pilih ngga akan kawin sama si jantan...kalo belum nolak 15 jantan sebelumnya," tangan-tangannya tak mau diam, dengan meraih dedaunan kering dan menyobek-nyobeknya menjadi bagian kecil lalu menjatuhkannya begitu saja di tanah, entah kurang kerjaan atau mungkin membantu proses pembusukan daun biar jadi kompos.


Zea cukup tercekat dan melirik Saga, ditepuknya bahu Saga, "cih! Ngarang!" tawanya kecil terkikik, "itu fakta burung atau abang lagi curhat?" tanya Zea geli.


Saga menoleh dengan tatapan seriusnya alis yang naik sebelah mirip sepatu hak tinggi dan wajah datar, Saga mode on! Membuat Zea meredupkan tawa dan mengangguk, "oke percaya." tangannya tertaut tanda oke, tapi kemudian ia kembali meledakan tawanya mencibir.


Dorr!


"Astagfirullah!"


Diantara atensi dan keseruan mereka, tiba-tiba saja terdengar suara tembakan yang mengejutkan, bersamaan dengan burung-burung cendrawasih itu berterbangan ketakutan.


Zea refleks mencengkram lengan Saga, "abang, itu tembakan?" tatapnya khawatir.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2