Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 92


__ADS_3

Rayyan memberi kabar pada orang-orang rumah jika ia sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Eyi manggut-manggut mengerti dan mengusap wajahnya yang juga sama sembabnya lalu mematikan sambungan telfon.


"Abang sama bang Fath lagi menuju rumah sakit, kak. Bang Fath naik ambulance bareng sama jenazah yang diduga dekgam,"


"RS mana kak?" tanya Zahra.


"Angkatan bersenjata tempat bernaung Saga,"


Zea meraih kunci motor milik Saga di tempat biasa digantungkannya kunci kendaraan dan berlari ke luar.


"Ze! Jangan nekat!" teriak Mama Rieke yang melihat Zea, sontak mereka yang di dalam ikut berlari menyusul.


Di luar, Russel bersama Ryu dan Kalingga serta Panji duduk tanpa melakukan apapun, tidak pula berangkat sekolah.


"Sel! Tangkap! Anter Ze ke RS, mau liat abang! Ze yakin kalo itu bukan abang!" tangisnya kembali pecah meski Zea menyusutnya, seraya melemparkan kunci motor pada Russel.


Dengan gerakan refleks baik, Russel menerima kuncinya dan beranjak, "siap!"


"Ze!"


Zea berlari bersama Russel yang sudah membawa motor, Ryu bahkan sudah membuka gerbang rumah bersama Panji.


"Susul pi!" pinta mama Rieke diangguki Papa Rangga.


Russel menggeber motor, melesat dalam kecepatan tak kurang dari 80 km/jam meskipun kebanyakan ia harus melambatkan laju karena situasi ibukota yang macet.


.


.


Suara pekikan ambulans tak jua membuat hatinya menjadi ramai atau terhibur.



Tangannya menyentuh kantung orange bertuliskan jenazah, dengan merasakan sesosok tubuh tak bernyawa di dalamnya.



"Ga, kamu kebangaan abi dan umi...bagi abi, bagi umi....kamu putra yang tak memiliki kekurangan." ia bahkan mencengkram plastik tebal itu dan menunduk menumpahkan semua rasa yang sudah ia tahan sejak semalam.



Bahu tua namun tegapnya bergetar tanda jika ia menangis dalam diam di balik seragam kebesarannya.



"Tanggung jawabmu sebagai putra abi dan umi, sudah cukup nak. Namun tanggung jawabmu sebagai imam baru saja dimulai..."



Seorang prajurit yang menemani disana ikut menundukan kepalanya tatkala melihat salah satu jendral tersohor akan ketegasan dan kedinginannya itu kini terlihat begitu rapuh disini.



Drrttt....


Drttt....



Ponsel Al Fath bergetar di dalam sakunya, bukan Fara atau adik-adiknya yang lain.

__ADS_1



"Ya?"



(....)



Tama bersama rekan lainnya merendahkan ketinggian pesawat.



"Brown Falcon, come in...unit gerak cepat sudah melumpuhkan para sniper bayaran. Dimohon melakukan penyelamatan di titik koordinat \*\*\*\*\*,"



"Dicopy, roger. Siap laksanakan!"



Tidak dengan pesawat tempur, mengingat angkatan bersenjata menurunkan unit gerak cepat anti terornya yang terkenal itu, dalam sekejap mereka sudah melumpuhkan lawan.



Tama menunjuk area yang ditunjuk sebagai area penjemputan, dengan sling ia merosot turun dari ketinggian tertentu, bersiap siaga mengangkat senjata bersiap.



Gerakan kedua jarinya menyuruh timnya untuk bergerak cepat dan maju.




Ia menekan microphone di lehernya, "Brown Falcon melapor, dua orang perwira sudah kami take, status selamat bersiap pulang ke markas..." lapornya.



Russel belum sempat memarkirkan motornya, namun Zea sudah berlari masuk ke dalam UGD rumah sakit.


Waktu seperti terhenti untuknya , ia mendadak linglung mencari ruangan itu.


"UGD...UGD...UGD dimana ya?!" ia berlarian tak tentu arah mirip anak kucing yang tak tau jalan pulang.


Hingga akhirnya ia menemukan dan masuk, melewati beberapa bilik dengan pasien berbagai macam penyakit, ia berjalan terus ke arah ujung lorong dan bertemu dengan ruangan lainnya.


...Ruang Identifikasi jenazah...


"Zea?" Rayyan berjalan bersama beberapa anggota tentara, lelaki paruh baya itu mengenyit melihat istri dari keponakannya itu tiba-tiba ada disini.


"Om," Zea mencengkram lengan baju Rayyan, "abi mana, om? Abang mana? Itu bukan abang kan, om?! Abang selamat kan, om?!" tangisnya kembali pecah semakin terisak.


Russel menyusul berlari di belakang, "Sel...ini pada ngapain disini?" tanya Rayyan.


"Abi Ray," Russel menyalaminya takzim.


"Russel barusan anter..." tunjuknya pada Zea.


"Kenapa ngga tunggu di rumah aja, Ze..." ujar Rayyan.


Baru saja mereka berbincang, belum kelae nafas yang tersengal, sebuah brangkar di dorong menuju kamar identifikasi jenazah.

__ADS_1


"Minggir---minggir....kasih jalan!" ujar bapak tentara dan para tenaga kesehatan.


Bagai gerakan slow motion, Zea tak sedetik pun mengalihkan pandangan ke lain arah.


DEG!


"Abang?"


"Abangggggg! Jangan kaya gini bang, abang tega ninggalin Zea! Zea baru mau ngomong kalo Zea telat datang bulan!" tangisnya pecah meraung-raung disana menghalangi para tentara dan nakes untuk membawa jenazah, bahkan Rayyan dan Russel sudah memegangi Zea.


"Misi, bu..."


"Ini suami saya! Abang bangun!" teriaknya pilu membuat pengunjung rumah sakit lain tak bisa untuk tak melihat kegaduhan ini.


"Bagaimana ndan?" tanya seorang prajurit pada Rayyan.


"Biarkan dia masuk, biar saya yang tanggung jawab." Jawab Rayyan.


"Ze, seharusnya ini tidak boleh. Karena menyalahi aturan dan kode etik. Tapi khusus hari ini, om kasih kamu kesempatan....dengan syarat kamu tidam mengganggu dan hanya melihat sekilas, jika kamu sudah tak kuat maka om tidak akan mengijinkan..."


Zea mengangguk, "Sel, kamu tunggu disini."


"Iya, bi."


Mereka berjalan mengekori brangkar, "ijinkan saya melihat, agar saya percaya jika ini adalah jenazah suami saya..." mohon Zea.


Rayyan melirik, "Ze, kamu yakin?! Om ngga ijinkan, Ze. Ini akan berat!"


Zea menggeleng, "Zea mau liat abang buat terakhir kalinya, om...please...kalo Zea ngga kuat, Zea mundur..." matanya benar-benar telah sayu dan banjir air mata.


Rayyan menghela nafas berat.


Ia meminta ijin pada perawat dan para petugas yang ada disana.


Dengan tetap merangkul Zea Rayyan ikut berdiri di depan kantung jenazah, ia pun harus menguatkan mentalnya.


Bagi Rayyan, sudah biasa melihat mayat ataupun jenazah yang tak utuh lagi, tapi jika korbannya adalah keluarga sendiri, ia tak yakin akan setangguh itu.


Dengan tangan bergetar Zea meraih kepala resleting, "abang....kalo emang jalan ini yang abang pilih, gugur di medan perang untuk membela negara, insyaAllah Ze akan coba ikhlaskan. Tapi Ze ngga yakin bisa bangkit lagi...." ia terisak kencang sampai sesenggukan dalam.


"Zea lepas abang dalam keadaan sehat, kenapa sekarang Ze harus terima abang dalam kondisi begini...ya Allah..."


Resleting terbuka sedikit demi sedikit, dengan diiringi deraian air mata.


Dari sepatu delta hitam, persis seperti yang Saga pakai terakhir kali Zea melepasnya, isakan Zea mengeras semakin dalam nan kencang. Rayyan mengusap bahu Zea.


Suit penerbang dengan warna yang sama, Zea ingat ia baru mencucinya 3 hari yang lalu sebelum Saga berangkat bertugas, "ya Allahhh...." apakah ia sanggup? Bahkan suit dimana ada goresan di lutut bekas pulpen yang tak hilang itu ada disana. Naik lebih atas ke arah raga atletis perawakan Sagara.


Zea semakin bergetar dibuatnya, "Ze, udah ya?!" Rayyan menghentikan Zea namun istri keponakannya itu menggeleng, masih mencoba tegar mengalahkan rasa penasaran.


Hingga sampailah di bagian dadha yang mengeluarkan bau amis nan terbakar air laut, Zea semakin kencang menangis ia tak kuat lagi untuk meneruskan ketika tak sengaja tersingkap di dadha kiri beberapa brevet, lambang kehormatan yang Saga miliki beserta luka sobekan dari peluru dan noda da rah, tertangkap oleh matanya di bagian dadha kanan nama akhir dari papan nama yang terdapat di suit.


.........nanta....


Zea seketika limbung dan tak sadarkan diri, "Ze, allahuakbar.." Rayyan yang memang berada di sampingnya, menangkap tubuh Zea.


.


.


.


Bawa aku bersamamu, cinta....

__ADS_1


"


__ADS_2