
Zea mengeratkan jaket bulu tebalnya, "iya---iya...ini juga bentar lagi Zea ke bandara."
Zea mematikan panggilannya lalu menyeruput coklat panas yang hampir hilang uapnya karena ia tinggal untuk menerima panggilan dari mama Rieke. Tatapannya jatuh ke luar bersama pikiran yang tenggelam dalam kenangan setahun lalu, "apa kabar kamu bang?"
Ia menyesap kembali coklat cair nan manis itu demi menghangatkan tubuh diantara musim dingin yang memeluk daratan England.
Kesibukan. Itulah jawaban yang membuat komunikasi Zea dan Sagara mengalami kesulitan selama berjauhan.
Orang-orang berbalutkan mantel tebal mirip biri-biri wara-wiri beraktivitas di luar sana, meskipun sebentar lagi musim dingin akan berganti ke musim semi.
"Ck. Ngga asik banget, mas Zico nikahan pas disini mau musim semi...sayang banget gue mesti ninggalin acara festival musim semi!"
Kemudian Zea melihat jam di tangannya dan menyambar tas lalu di gendongnya.
"Zee, berangkat sekarang? Sayang sekali kamu harus pergi saat musim semi akan datang." Natalie teman satu kost dan kampusnya keluar dari kamar kost'nya ketika Zea mengetuk pintu kamarnya.
Gadis yang sudah mengecat rambutnya sedikit blonde di ujung ini mengangguk, "kakakku menikah, Nat."
Natalie mengantarkan Zea dengan taxi menuju bandara setempat. Hampir dua jam lamanya, Zea menunggu pesawat yang delay, bahkan mama Rieke sudah beberapa kali menelfonnya.
Selama setahun hidup mengembara di negri orang mengajarkan Zea tentang kemandirian dan ketangguhan, walaupun lingkungan dan pergaulan sedikit memberikan perubahan pada penampilan gadis ini.
Bukan sekedar mencari ilmu saja, hitung-hitung ia pun belajar menjadi pribadi yang lebih baik dan tak manja lagi. Katakanlah saat ini Zea bisa memasak makanannya sendiri, meskipun baru sekedar makanan instan dan ala kadarnya karena keterbatasan waktu, alat dan bahan.
Ia menatap ujung jemari yang sempat tercium panasnya panci, ketika merebus pasta. Kuku-kuku yang terhiasi nail art dan kutex cukup terdistrack dengan luka bakar di telunjuk dan punggung jari tengahnya, belum lagi telunjuk dan jempol kiri dimana luka sayatan pisau bekas mengupas dan mencincang bawang putih juga onion ikut mengukir sejarah dalam perjuangan pendewasaan seorang Zea Arumi.
Zea tersenyum miring melihatnya, "mesti dikasih reward nih gue, balik ke Indo udah bisa masak mie instan sama nasi goreng," cibirnya pada diri sendiri.
Ia menyenderkan sejenak punggung di sandaran kursi bandara sambil memejamkan mata barang setaun! Tugas-tugas kuliah mulai menumpuk di akhir semester 2.
Ternyata menjadi mahasiswa ditambah tanpa adanya kehadiran keluarga cukup membuatnya kerepotan, hidup tak semudah apa yang diucapkannya dulu, ia belajar akan hal itu.
Announcer akhirnya memberitahukan keberangkatan penerbangan yang Zea tumpangi untuk transit di negri singa putih, ia beranjak membawa serta sandwich di paper bag yang dipegangnya masuk bersama puluhan orang penumpang lain.
Sempat terdiam beberapa saat, ketika rasa takut dan khawatir kembali menyergap. Ingatan yang sudah lama kembali menyerang, yap! Trauma akan pembajakan pesawat yang dilakukan Ajay cs yang sampai sekarang belum terungkap siapa dalang di balik peristiwa itu hanya bergulir bak bola panas di ruang lingkup pemerintahan dan sampai saat ini masih membekas di pikiran dan hati Zea.
"Yo kuat, Ze...bisa! Pasti bisa!" ia menghembuskan nafas panjangnya dan melangkah. Ia duduk bersampingan dengan seorang ibu-ibu lain yang juga orang nusantara sama sepertinya.
Zea mengangguk sopan lalu duduk di kursinya yang kebetulan di samping jendela.
Hanya beberapa lama, akhirnya ia sudah memasuki zona udara nusantara.
__ADS_1
Srettt...
Zea membuka tirai di kaca pesawat, lukisan Tuhan yang begitu indah hanya milik bumi pertiwi.
*Aku kembali ke nusantara, bumi tempatku lahir dan besar. Bukan karena keindahannya saja melainkan karena cinta*.....
Zea tersenyum saat menyadari waktu kepulangannya berbarengan dengan mentari yang baru saja terbit dari ufuk timur.
Dengan wajah lusuhnya, Zea menghela nafas sesaat setelah pesawat landing, "ibukota."
Gadis setengah blonde ini menyalakan ponsel miliknya. Baru saja menyala, puluhan pesan berebut masuk ke dalamnya, diantara serbuan pesan mama Rieke dan Clemira terselip nama Sagara di dalamnya.
Alis Zea mengernyit melihatnya, sang pujaan hati yang telah lama tak bersua tau kedatangannya ke tanah air, meski dalam pesan ia hanya bertanya saja kepastian Zea yang pulang ke tanah air hari ini, serangan jantung dadakan itu tetap datang tak terkontrol.
Ia segera menggeret kopernya berhubung mama Rieke berkali-kali menghubungi, "ish cerewetnya emak gue!" gerutunya berjalan cepat.
Langkah kaki Zea dipaksa berhenti, ia cukup tersentak dengan pemandangan di depannya.
"Ze!" teriak Clemira melambaikan tangannya.
Deg---deg---deg
Mungkin bunyi genderang perang saja kalah keras ketimbang suara degupan jantung Zea dan Sagara saat ini.
~ Sagara ~
Ia memutuskan pulang ke rumah abba hari ini, sementara abi dan umi tengah mengurus kepindahan mereka ke ibukota terutama sekolah Kalingga, yap! Setelah mengabdi sekian puluh tahun di tanah timur akhirnya sang panglima kembali ke ibukota untuk mengabdikan diri di markas besar menggantikan jendral Wicak sampai sisa masa tugasnya sebelum pensiun.
"Yuhuuuu! Assalamu'alaikum!" Clemira langsung menjatuhkan badannya begitu saja di sofa setelah bergulat dengan mata kuliah, rambut yang bau matahari dan badan bau asem.
"Air dingin mana air dingin!" pintanya. Tidak berteriak pada asisten rumah tangga atau Eyi dan Panji yang kebetulan sedang berada disana juga melainkan ia beranjak dan mengambil sendiri.
Sagara ikut merasakan lelah mendera tubuhnya namun tak sampai menjerit-jerit seperti Clemira layaknya cacing kepanasan minta disiram es jeruk.
"Abang pulang kesini?!" tanya nya antusias lantas diangguki Sagara yang membuka kancing seragam lorengnya, "kenapa, ngga boleh?"
"Ck. Bukan gitu. Tumben aja!" Clemira kembali meneguk minumnya namun sejurus kemudian ia tersentak ingat sesuatu, "abang!" ia membeliak.
Saga memejam, "bisa ngga? Ngga usah teriak, Cle?" kebiasaan, Clemira selalu rusuh dimanapun dan kapanpun.
Clemira memegang dan mengguncang lengan Saga, "Cle baru inget, kemaren ketemu tante Rieke! Beliau nganter undangan nikahannya mas Zico ke umi,"
"Siapa Zico?" Sagara ikut meraih botol berisi air mineral dingin dari kulkas.
__ADS_1
"Kakaknya Zea lah, masa lupa!" Sagara menyadarkan dirinya sendiri, kenapa bisa sampai lupa! Sudah berapa lama ia tak berkomunikasi dengan Zea karena kesibukan masing-masing.
"Terus?"
"Zea datang besok bang! Dia ngga kasih tau abang gitu, mau pulang ke tanah air besok?!"
Saga menghentikan tenggorokannya saat tengah meneguk air, hingga debit air yang masuk ke dalam kerongkongannya terhenti begitu saja. Netra kelamnya melirik Clemira yang sudah menaik turunkan alisnya sambil tersenyum usil, "cieeee!"
"Kapan, kenapa Ze ngga bilang abang kalo dia mau pulang?" Saga malah balik bertanya. Senyum jahil gadis ini timbul tanpa permisi, "hayooo! Abang pasti jarang hubungin Zea, apa jangan-jangan Zea udah punya yang baru di luar sana?! Kayanya sih bule ya, awwww acikiwir!" godanya berlalu meninggalkan Saga dengan segala pikiran negatifnya.
"Si Jamilah kaya apa ya sekarang, pasti udah ketularan wajah blasteran deh, secara tiap hari makannya keju, sereal sama roti!" teriak Clemira antusias yang hampir hilang ditelan jarak, "telfon ah!"
Sagara bergegas mengambil ponselnya untuk menghubungi Zea, namun nihil...ponsel gadis itu sibuk.
"Argh! Telfonan sama siap sih, so sibuk!" gerutu Sagara.
.
.
.
Bukan hal sulit bagi Saga mengetahui kapan Zea pulang, dengan dalih mengantar Clemira menjemput Zea, Sagara ikut dalam acara penyambutan Zea di bandara.
***
Sejak tadi jantungnya ini tak mau dikondisikan sesuai kemauan si empunya karena dari tadi ia berdetak begitu cepat tak karuan menanti kedatangan seseorang, kenapa rindu dan resah semenyebalkan ini, apakah harus ia tuntaskan dengan cara melamar Zea sekarang juga? Agar ia bisa tidur nyenyak dan bertugas dengan damai.
Saga sudah tak enak duduk, ia bahkan memilih berdiri sementara Clemira, tante Rieke dan om Rangga duduk di kursi.
"Duduk dulu, Ga. Kayanya masih lama, apa mau ngopi---ngopi?!" tawar om Rangga. Sagara menggeleng, "udah kebanyakan ngopi, om tadi di rumah."bohongnya, Clemira saja sampai mengu lum bibirnya, "ngopi angin?!!"
Tatapan Saga jatuh pada Clemira untuk tak bongkar aib dan kebohongannya pada om Rangga.
Sejak tadi pandangannya tak ia geserkan barang seinci pun dari gerbang kedatangan, hingga tepat pukul 7 lewat 30 menit pagi, seorang gadis cantik yang semakin cantik di mata Sagara berjalan celingukan mencari beberapa orang.
"Ze!"
Tatapan mereka bertemu setelah setahun lamanya tak bertemu, yeah! Benar Clemira bilang, Zea semakin cantik dan modis dari sebelumnya, meskipun badannya agak sedikit lebih kurus, mungkin karena lelah belajar, namun overall Zea terlihat lebih dewasa dan menggemaskan dalam waktu bersamaan.
.
.
.
.
.
__ADS_1