Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 81


__ADS_3

Saga tak bisa untuk tak menoleh ketika Zea terdengar lirih berucap sumbang, ia menggeleng pada Zea, "ngga usah terlalu dipikirin. Biarkan itu jadi urusan dia."


"Istri mana yang rela coba, suaminya disukain sama orang lain. Mo nyet aja marah, kalo pasangannya diambil orang..."


"Teori darimana?" tanya Saga, lantas gerbang depan sudah terlihat.


"Mon yet itu berkoloni. Satu jantan bisa beberapa betina." Lanjut Saga, "cuma sayangnya, abang bukan mo nyet," kekeh Sagara langsung di gebukin Zea tanpa ampun.


***


Zea meraih punggung tangan Saga dan menempelkannya di pipi, "Ze pergi dulu. Abang jangan punya niat berubah jadi mo nyet." Tangannya masih menggenggam tangan Saga dan justru memainkannya dengan menepuk-nepuk dan membuat kepalan lalu memukul-mukulnya di telapak tangan Saga, entah apa maksudnya, kurang kerjaan!


Sontak hal kecil nan manis itu memancing senyuman geli dari siapapun yang melihat. Saking tak mau diamnya, tangan Saga kini sudah ia daratkan di bibir semanis madu miliknya untuk kemudian ia kecup.


Saga menggeleng, sungguh manis istrinya itu, "belajar yang rajin." Jika Zea bisa semanis itu, maka ia balas dengan mendaratkan kecupan hangat di kening Zea.


"Kalo itu ngga perlu dikhawatirkan lagi, bang. Udah pasti sih, gelar cumlaude nanti Zea raih!"


"Aamiin. Ojo takabur, nduk!" balas Saga memancing tawa Zea, "abang harus makan dulu tiwul biar lidahnya cocok ngomong jawaan."


Zea memasang helm di kepalanya dan mengambil alih motor setelah Saga turun, "bye! Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam."


Sosok wanita cantik yang seperti masih gadis itu keluar dari gerbang pangkalan dengan celana jeans dan kemeja tak dikancingnya. Zea benar, Saga memang khawatir, bukan khawatir akan Luna, tapi justru ia khawatir akan lelaki lain, karena sudah dapat ia pastikan, Zea akan dengan mudahnya disukai orang.


"Istri bang?" sapa seorang perwira sambil menutup kembali gerbang pangkalan.


"Iya," angguk Saga, kini tangannya sudah memasang baret di kepala. Nampak jelas sosok gagah berkharisma gen abi Fath darinya, "duluan, Jo."


"Siap, silahkan bang!"



Anak pejabat pake SUV NO!


Anak pejabat sekaligus mantu sultan pake motor matic butut, YES!



Jika orang lain berlomba-lomba menjabarkan kemewahan yang mentereng yang dimiliki, maka Zea bergegas menenggelamkan diri di dasar.

__ADS_1



Lihatlah beberapa anak hedon yang datang dengan gaya selangit, seakan ingin dunia tau jika dirinya adalah anak sultan, punya strata sosial tinggi ketimbang ras manusia lainnya di muka bumi yang ngga ada secuil kukunya dibandingkan dengan kekayaan Tuhan, ngga peduli mobil dapet kredit dan masih nyicil, ngga peduli jajan dapet pinjol, yang penting gaya dulu. Hutang urusan belakangan.



Tak ada merk branded yang Zea gunakan selain dari ponselnya, bahkan Zea memakai tas rotan, oleh-oleh dari timur kemarin saat ini.



Nothing special, mungkin karena dirinya tak datang layaknya singa depok atau penari sintren yang memancing tatapan menyipit dan kagum semua orang. Tak banyak pula yang menyapa karena penampilannya yang seperti kebanyakan mahasiswa.



Semua berjalan selayaknya, seperti yang diinginkan Zea. Hanya ketika sang dosen memperkenalkan dirinya yang pindahan dari luar negri, beserta wajah cantik dan identitas diri....semua mulai memandang Zea dari atas hingga bawah, seolah menilai Zea adalah hal yang mutlak dilakukan.



Zea mencantelkan tas miliknya di cantelan motor, lalu memakai helm bogo miliknya. Langkah sepatu warrior itu memundurkan motor matic inventaris milik Saga seraya melihat spion.


Dugh!


Titttt!


"Santai woy!" Zea yang memang sudah merasa hati-hati sejak awal tak terima ketika suara klakson sebuah mobil mewah dengan kerasnya memekik.


Kaca jendela mobil yang tertutup penuh itu sedikit demi sedikit terbuka menampakan sosok pemuda.


"Sorry," ringis si pemuda.


"Lo minggir! Mobil kita mau lewat," suara sumbang nan sewot itu berasal dari bangku samping pengemudi.


Gadis itu menatap Zea dengan sorot mata angkuhnya dan senyuman mencibir.


"Bi," tegur si pemuda. "Sorry--sorry, gue tadi buru-buru, ngga liat pan tat motor lo mundur."


"Apa sih, yank...motor dia aja yang salah, ngga liat mobil segede ini mau lewat!" tukasnya mencebik sang kekasih.


Bukannya maju atau mengalah Zea tanpa membuka helmnya turun dari motor, "turun lo." rujuknya pada si gadis. Merasa ditantang ia turun dari mobil menuruti permintaan Zea.


"Oke...lo pikir lo siapa, motor butut aja belagu!" gumamnya menggerutu seraya turun.

__ADS_1


"Bi! Udahlah!" decak pemuda itu.


"Lo keselek golok apa gimana? mulut lo sewot amat. Udah salah sewot pula, dari tadi juga motor gue yang duluan mundur. Ngga ada ceritanya motor mesti ngalah sama yang badannya gede..."


Dengan reaksi angkuhnya ia mendelik sinis, ditatapnya Zea penuh sorot tak suka, "motor butut aja pengen dihargain! Lo ngga tau siapa Rio?" balasnya.


Zea menatapnya malas, "Tuhan? Nabi? Malaikat? Pahlawan revolusi? Atau salah satu tokoh pahlawan yang mesti gue hafalin namanya?" tanya Zea.


Biani melotot dibuatnya sementara Rio sudah mengu lum bibirnya melihat Zea, baru kali ini ada mahasiswi yang berani mendebat penuh kesengakan Biani.


"Lo tuh, be go apa to lol? Lo mahasiswi baru pasti, ngga tau. Lain kali hati-hati, gue kasih tau sama lo, kalo Rio itu anak orang nomor satu di ibukota..."


Wajah Zea semakin malas dan meredup, bukan karena takut atau khawatir, namun ia benar-benar mengantuk mendengar ocehan si gula biang ini, rambut yang di warnai mirip aromanis dari gula biang itu sejak tadi bicara pake urat.


Rio memandang gadis yang tak memiliki raut takut di wajahnya saat berhadapan dengan Biani, ketimbang takut...ia justru memasang wajah malas setengah mengantuk persis si bintang laut sobatnya si kotak kuning.


"Biar gue bisikin sama lo," jawab Zea santai menghampiri Biani, "gue ngga peduli."


Kini tatapan Zea beralih pada Rio, "wey! Lo! Minggirin mobil bapak lo, inventaris negara kan tuh!" tunjuknya ke arah mobil mewah Rio.


"Motor butut inventaris negara juga mau lewat nih." Tepuk Zea di jok motornya, ia memutar badan dan hendak kembali.


"Besok-besok kasih tau cewek lo ini, kalo mau sombong ke orang jangan pake mobil dari uang rakyat...itu fasilitas yang dikasih mereka (rakyat) lo sombongin sama yang punya (rakyat), ngga malu lo?! Mobil lo tuh gue yang bayar, dari pajak!" balas Zea menyalakan mesin motor, ia bahkan menggerung-gerung mesin saat dekat dengan Biani.


Gadis itu sontak terpundur mencebik kesal.


"Minggir, mau gue tabrak?!" sengak Zea. "Ada pertemuan nih, kalo sampe gue telat, gue geret lo ke depan ibu komandan, jangan teriak to lol padahal diri lo sendiri yang to lol." lirik Zea sekilas dan berlalu dari sana.


Biani mengepalkan tangannya, "aargghhhh, an jinnnkk.."


Zea mendengus dan terkekeh sumbang, ia seakan melihat cerminan dari beberapa sosok anak para pejabat tersohor yang ia kenali. Mungkin juga termasuk dirinya dulu.


Mungkin jika tak ingat akan kodratnya sebagai istri prajurit, sudah Zea tonjok atau ia jambak Biani. Namun ia tak mau jika harus berurusan dengan PM. Baru jadi istri prajurit seminggu harus masuk ruangan POM, kan ngga cihuy!


Ia mele nguh berat nan lelah, jika di kampus ia sudah harus menemui Biani, maka selanjutnya ia harus menemui Luna. Sepertinya Zea harus makan siang banyak, demi menghasilkan tenaga ekstra menghadapi Luna.


"Ngga dimana-mana, ketemu terus modelan begitu. Heran, punya dosa apa sih gue..." gumamnya seraya melajukan motor ke arah pangkalan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2