Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 55


__ADS_3

"Mau makan sama apa?"


"Apa aja."


Zea melesak ke dalam antrian makanan, katanya sih buat latihan. Iya latihan, latihan jadi istri soleha meski pada kenyataannya ia cukup dibuat jengkel ketika tamu nene-nene dengan lamanya mengambil hidangan di depannya.


"Kalo ngga takut dosa, pengen gue dorong juga nih ke dalem sayur, biar cepet! Ngambil sayur aja lama banget ngga secepet ngambil hak anak yatim!" Zea mengeratkan cengkramannya di piring berisi nasi dan bistik untuk Sagara.


Selepas obrolan seriusnya tadi bersama Sagara di luar, yang engga serius-serius amat karena kehadiran para adik sepupu minus adab Saga ganggu moment romantis dan obrolan dewasa mereka di teras gedung, Zea segera beranjak mengambilkan Saga makan, sementara Sagara berbaris di depan untuk mengucapkan selamat pada Zico, mungkin wejangan juga bagaimana caranya menghadapi amukan Zea.


"Aduh, nek...bisa cepet dikit ngga? Mau dicari apanya sih, di dalem sayur ngga akan ada berliannya...banteran juga wortel, baso sama tetelan."


Bukan, nenek barusan masih bingung memilih antara sayur atau soto, nyatanya. Damn! Bakalan nunggu sampe Gajah Mada bangkit dari kubur terus duge man ini sih!


Bahkan Saga sudah bertemu dan bertegur sapa dengan papa-mama dan Zico--Kinanti disana, sempet pula maen catur dan tenis meja bareng papa Rangga sepertinya sementara Zea masih berada tepat di belakang nene-nene berjuang mengantre makanan.


"Argghh!" Zea memilih menyalip ke depan daripada rambutnya berubah botak nungguin yang di depan ngambil sayur, karena sampe nasinya berubah jadi padi lagi pun sepertinya nene itu masih kebingungan antara milih sayur sop atau soto.




Fara memukul-mukul gemas ke punggung suaminya dengan mata penuh binar senang melihat interaksi Zea dan Sagara yang menurutnya romantis moment bikin greget, karena yang satu maksa-maksa manja, yang satu lempengnya ngalahin papan surfing. Awalnya ia melihat sosok Zea cocok bersama Kalingga, namun nyatanya gadis itu sudah lebih dulu menjalin hubungan dengan putra pertamanya, Sagara.



Al Fath kalem saja ketika ia dijadikan samsak kegemasan istrinya, pukulan-pukulan kecil Fara tak banyak memberikan pengaruh di punggung tegapnya, "Fara baru tau kalo waktu itu Saga minta restu buat deketin cewek, ternyata anak menteri bang. Selera anak kita kok tinggi ya, kaya abinya!" ujar Fara selesai dengan dimsum miliknya dan menaruh piring itu di bawah kursi.



Sontak saja Al Fath melirik istrinya dengan sorot mata tak percaya, "selera tinggi?" tanya nya dalam hati, mungkin pernyataan istrinya itu perlu digaris bawahi atau diberikan capslock dengan ukuran font 72.



"Iya tinggi. Selera abang kan kaya Fara!" jawabnya bangga. Bukan Al Fath, namun Eyi meledakan tawanya mendengar itu, "banget! Selera bang Fath tinggi! Saking tingginya abang sampe jatuh bangun!"



Kini Rayyan yang tertawa karena tau ketika lamaran dulu, Fara kepergok sedang naik tangga benerin antena tv. Sungguh definisi tinggi sebenarnya. Jika Eyi memang tinggi karena postur badannya, lalu Zea tinggi karena statusnya, sementara Fara sendiri tinggi kedudukannya yang berada di atas genting.



Selesai makan, mereka tak benar-benar langsung pulang, melainkan melakukan obrolan santai antara dua keluarga yang baru saja meng-klopkan diri.



"Papi sama om Fath udah kenal?" tanya Zea.



"Sudah Ze." Angguk Fath, menurut Zea calon mertuanya (kalo jadi) itu cukup asyik, kalem, dengan nada santai terkesan tidak membentak, tak banyak omong, singkat, padat dan jelas jadi ngga bikin kupingnya ngerasa bengkak kaya lagi direndem di minyak tanah kalo lagi ngomong.


__ADS_1


"Udah dong! Kamunya aja yang ketinggalan update'an papi." Jawab papa Rangga, lain Fath lain pula papa Rangga yang lebih banyak kosakatanya, seolah bicara banyak itu adalah suatu hal yang wajib dalam hal menjawab, dengan kata lain, papa Rangga tipe papa-papa cerewet.



Ia melepas segala perintilan jarik di pinggang juga blangkon yang melingkar di kepala, rasanya gatal dan risih saja dipakein begitu mirip manten sunat.



"Just for your information to nduk," ucap papi Rangga dengan logat North Javanese kentalnya bikin para adik sepupu Saga tertawa, pasalnya mereka melihat menteri satu ini hanya lewat layar kaca begitu berkharisma dan memiliki semacam aura gagah tersendiri, namun nyatanya image itu terbantahkan oleh fakta.



"Orang yang ngasih pesan urgent secara pribadi sama panglima Fath, itu papi loh!" ucapnya bersemangat.



"Papi udah sempet ngopi bareng di kantin pangkalan militer, ya kan pak?" tambahnya diangguki Al Fath.



"Ah masa!" gumam Zea menolak percaya.



"*Cek, buat kak Zea....bisa naik ke atas panggung...Kak Zea adik dari pengantin, boleh kita undang ke atas panggung*!"



Seketika suara empuk bak roti awan memanggil namanya kencang membuat mereka seketika diam memandang Zea, Zea sendiri sudah mengernyit kebingungan ketika namanya dipanggil oleh mc serta wedding singer untuk maju ke depan.




"*Zea, adek mas tercinta...di hari bahagia mas ini...mas mau lo nyumbang satu buah lagu sebagai hadiah pernikahan buat mas sama mbak Kinan*."



Zea seketika membeliak atas permintaan Zico, gadis itu tau jika kakaknya tau kalau Zea tak bagus dalam bernyanyi.



"Ayo Ze, naik!" Clemira ikut menyoraki sambil tertawa, ia pun sangat tau jika Zea tak pandai menyanyi. Manusia di bumi memang tak ada yang tercipta sempurna, jika Zea jago menari maka kelemahannya ada pada pita suara yang gudangnya kesalahan.



"Asemmmm," desis Zea, melihat antusiasme keluarganya dan keluarga Saga, tak mungkin ia mengecewakan meskipun keputusan yang ia pilih akan menjatuhkan kualitasnya di depan Saga sekeluarga.



"Ayo Ze, nyanyi! Biar cacing-cacing pada bangun dari lobangnya!" seru papa Rangga. Mama Rieke malah tertawa.


__ADS_1


"Oke!" Zea beranjak dari kursinya, lalu menarik ujung kebaya, tak mau membuat sang pengantin menunggu lama. Zea bahkan tak segan melebarkan senyumannya.



"Zea! Zea!"


"Yee, Zea!"



Langkahnya mantap ke arah panggung dimana Zico sudah turun hanya ada wedding band, penyanyi dan MC.



"Zea bisa nyanyi?" tanya Fara pada Saga digelengi putranya itu, Fara tersenyum lebar nan antusias saking penasaran dengan suara Zea mengingat ia pun suka menyanyi.



"Dangdut Ze," pinta papa.



"Pop melow, Ze!" seru Clemira.



"Cek...ngingggggg----"



baru cek sound saja suaranya sedikit berdenging bikin para semut pengen lempar sarangnya ke arah gadis cantik ini.



Zico bahkan sudah tertawa memegangi perutnya sebelum Zea benar-benar menyanyi, adiknya itu punya nyali juga mengambil langkah ke depan dan memegang microphone, meskipun manusia yang hadir tidak sebanyak tadi mengingat acara sudah hampir selesai.



"Buat mas Zico," suaranya tak serak basah namun pula tak cempreng.



"Mas tersayang....sama kakak ipar aku, happy wedding! Di hari bahagia kalian berdua, Zea mau mempersembahkan satu buah lagu, semoga suka dan kuping kalian ngga ber da rah setelah ini!" ucapnya.



Sagara sampai nyengir dibuatnya, meskipun tak dipungkiri ia pun begitu penasaran dengan suara Zea.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2