
Bukan di cafe-cafe mahal ataupun restoran ternama ibukota. Hanya secangkir kopi instan di kantin, tempat para prajurit makan, itu yang papa Rangga minta pada Al Fath. Setidaknya kedua lelaki ini memiliki satu persamaan, sama-sama tak suka bermewah-mewah ria.
Papa Rangga menatap para prajurit yang berlalu lalang sejak tadi, sorot mata penasaran saat melihatnya dan Al Fath duduk bersama beberapa kali papa Rangga tangkap dari mereka.
Menteri yang sudah menjabat hampir di 2 periode masa pemerintahan ini menarik batangan kecil tembakau dari dalam kotaknya lalu mendorong itu ke depan meja Al Fath.
"Lagi puasa pak, takut ketahuan istri..." jawab Al Fath mengundang tawa papa Rangga.
"Saya juga cuma nyesep gini kalo lagi banyak pikiran atau menemani klien makan siang," balas papa Rangga menyulut rokok miliknya, lalu mengepul lah asap putih di udara.
"Bapak pengusaha?"
Papa Rangga mengangguk mantap, "properti. Ngga banyak, sisanya istri saya yang punya, bisnis skincare dan tektek bengeknya perawatan perempuan," kekeh papa Rangga seolah malas membicarakan salah satu hal teribet yang dilakukan perempuan versi dirinya. Salon, pedicure, manicure, skin care, bla-bla-bla dari ujung rambut hingga ujung kaki yang bikin wanita makin glowing dan kantong pria jebol, tak ia pungkiri ada uang ada wanita cantik, begitulah kehidupan berjalan.
Al Fath mengangguk mengulas senyum, lalu menikmati kopi miliknya, "Ada uang ada istri cantik, bukan begitu pak?" kekeh Al Fath diangguki papa Rangga.
"Bisnis bapak memang tak banyak, hanya properti, tapi penghasilannya cukup buat 7 turunan," seloroh Al Fath dicebiki papa Rangga, apa yang tidak ia tau di dunia ini bahkan semut yang lagi kasmaran pun Al Fath tau, apalagi informasi tentang seorang Rewarangga Priyatnokusumo, selain dari ia menteri, ia pun pebisnis yang cukup disegani di bidangnya.
Tak ada obrolan berat disini, sebagai pelepas rasa lelah dan penat. Hidup dan pekerjaan keduanya saja sudah berat, please lah! Ndak usah ngomongin pula hal berat di waktu ngopi begini, takut rasa kopi bertambah pahit.
"Anak-anak saya," papa Rangga mendengus geli jika mengingat anak-anaknya.
"Kalo diajarin bisnis itu----yang satu asyik nonton, yang satu asik maen game...ujung-ujungnya kalo saya mengeluarkan kata sakti, hidup tak ada yang tau kapan mati, mereka kabur dengan alasan ngantuk."
Al Fath dapat menilai seberapa dekatnya pria di depannya itu dengan putra-putrinya, dapat ia rasakan perasaan yang sama saat ini ketila tau Clemira menjadi salah satu sandera disana.
"Abi Fath! Bang Saga'nya nakal! Pites aja lehernya biar patah, ngga bisa nengok lagi!" teriakan Clemira kecil yang manja dan sering mengadu jika diusili Saga mendadak bergema keras bak kepakan sayap nyamuk.
"Zea Arumi Jamilah, putri bungsu saya...." tiba-tiba saja papa Rangga membawa nama Zea dalam obrolan santai itu. Entah kenapa ia bisa semudah itu percaya pada orang baru, tak ada kata rayuan dari Al Fath atau bahkan janji manis yang diucapkan panglima militer itu padanya, atau mungkin papa Rangga sedang berusaha membangun rasa iba Al Fath agar berusaha sekeras mungkin untuk menyelamatkan Zea, apapun akan ia lakukan untuk putrinya.
Ia mengurut keningnya tanda jika ia begitu terpukul, "anaknya ceria, sering ceplas-ceplos, banyak kalimat absurd yang kalo ngga kenal bikin orang naik da rah..." jelasnya seolah menjabarkan sosok putrinya itu pada Al Fath, "pintar, selalu berpikiran kritis, cita-citanya itu setinggi langit, kadang terlihat antipati, tapi dia...." papa Rangga menghembuskan nafasnya berat.
Entah, Al Fath merasa ia melihat sosok Fara muda di dalam semua penjabaran tentang Zea, apakah gadis itu secantik Fara'nya?
"Apapun yang dibutuhkan untuk memfasilitasi para prajurit dan tidak ditanggung negara, akan saya usahakan jendral, tapi tolong maksimalkan usaha untuk menolong anak-anak itu, bukan hanya putri saya...."
Kalimat terakhir yang papa Rangga ucapkan masih teringat jelas di otaknya.
Ia langsung mengambil alih komando bersama para komandan angkatan lain.
Sagara bersama perwira lain langsung berdiri ketika kedatangan seseorang yang memiliki tanda kehormatan banyak di dadha itu mengambil komando.
"Saya ambil komando," suara Al Fath berat nan dalam, meski usia tua tak menjadikan perwira gagah itu hilang dari dalam dirinya.
Sagara tersenyum mendengus, bisa-bisanya impian kecilnya dulu terwujud sekarang.
"Abang mau kerja sama abi, abang mau ikut abi bertugas!" ia berdiri diantara kaki-kaki pendeknya, "lapor komandan, letnan Sagara siap bertugas!"
Al Fath tertawa mengacak rambut anaknya itu, "laporan diterima."
Ada rasa bangga yang teramat ketika sosok Al Fath mendekatinya dan tiba di hadapannya, Sagara menghormat pada ayahnya, "letda Teuku Bumi Sagara, siap bertugas jendral!"
Al Fath membalas hormatnya dan mengangguk penuh sorot bangga. Bukan tidak tau, jika prestasi Saga di kesatuan begitu membanggakan dan itu sampai ke telinganya.
Bibit mata garuda memang tak diragukan lagi,
Bukan karena saya, tapi karena dirinya sendiri.....
Al Fath menyusun strategi dan memprioritaskan penyelamatan sandera.
"Jika memang berkesempatan, hancurkan. Sebagai ultimatum untuk mereka jika negara tak main-main menumpas sindikat ha ram."
Tangan-tangan besarnya membuka map belantara dan mendengar laporan dari setiap perwira termasuk Sagara yang tempo hari berada di lapangan. Hingga siasat di dapatkan, mereka tak menunda lagi waktu, segera mereka terbang menuju nusantara bagian tengah.
__ADS_1
Mereka menjadikan landasan udara pangkalan militer terdekat dari lokasi yang sudah dikerucutkan sebagai markas darurat.
Helm berselang oksigen dipakai Sagara, nama negri terpatri di dalam sanubari, atas nama perdamaian dan kemanusiaan, ia ikhlas bertugas.
Langit belantara kini dihiasi kembali asap putih para pejuang bangsa.
Salah satu anak buah Ajay di pos ring 1 menatap langit diantara celah-celah dedaunan pohon-pohon tinggi, segera ia berlari ke arah dalam, ia mengambil walkie talkienya, "Tod masuk, langit belantara beberapa kali dilewati pesawat jet loreng!"
Todi langsung berlari mencari tempat melihat lebih jelas untuk memastikan, sedikit lebih jauh dan harus naik ke salah satu pohon yang tinggi disana.
"Jay!" Todi berlari dan mengetuk pintu ruangan Ajay berada. Ajay yang sedang mengelapi senjata api kesayangannya itu menghentikan gerakannya, "Ya?" jawabnya terhalan batangan rokok di mulutnya.
"Lihatlah langit, sepertinya para pasukan militer kembali bergerak mendekat." teriaknya.
Ajay membuang dengan kasar lap di tangannya ke atas meja lalu menurunkan kaki yang ia naikan sebelumnya, "asuuu! Rupanya mereka tak main-main!" Ajay keluar untuk memastikan dengan alat teropong miliknya, "bangsathh."
Ia segera melaporkan hal itu pada bos besar untuk meminta rencana selanjutnya.
"Kalau begitu perang dimulai..."
.
.
.
.
.
Selongsong peluru rudal di tempatkan di posisi cukup tinggi.
"Rudal tipe XX siap memakan korban nyamuk-nyamuk loreng itu, icik bos!" kekeh mereka tertawa jahat.
Sayang sekali langit bumi pertiwi yang indah nan elok begini harus dihiasi pertumpahan da rah dan kedengkian manusia-manusianya.
Ajay meminta anak buahnya bersiap sembari ia menyusun rencana keluar dari belantara, "Tod! Tius! Bersiap transfer orang!"
Selama yang lain melindungi, kamu bersiap keluar dan kirim mereka! Gerakan mulut pria itu memberi perintah pada Ajay.
"Siap!"
Zea, Clemira dan yang lain terkejut ketika suasana hening itu terbuyarkan oleh pecahnya suara riuh.
Dugg---dugghhh---dughhhh!
Brakkkk!
Pintu digedor dan ditendang dengan keras.
__ADS_1
"Astagfirullah!"
"Hey berdiri kalian!"
"Ze!" Ke 6 gadis itu langsung berdiri dan saling mendekat satu sama lain berlindung di belakang badan Zea dan Clemira.
Tangan Zea diraih dengan kasar oleh Todi, "nona-nona adalah tahanan spesial e--- terutama kamu....IKUT!" sentaknya menarik Zea sekencangnya hingga terdengar suara kretek dari sendi Zea yang tertarik, ia juga menodongkan moncong senjata pada yang lain agar mau menurut dan tak membantah.
Sorot mata Zea memendam rasa benci, "ngga usah pegang-pegang! Gue bukan anak bayi yang perlu dipegangin!" sengitnya, membuat Todi menyalak, "sombong sekali kau!" ia mencapit wajah Zea dan melihatnya lekat-lekat dari jarak dekat gadis cantik namun galak ini, kulit kenyal dan sehalus kulit bayi begitu kontras dengan kulit tangannya yang kotor, kasar dan hitam, begitupun pahatan indah buatan tangan Tuhan itu membuat siapapun lelaki tak bisa untuk tak tersihir oleh kecantikannya, Todi baru saja ingin mendekatkan diri lagi pada Zea, namun gadis itu dengan beraninya menonjok rahang Todi.
"Ngga usah ngimpi!" sengak Zea, meski tonjokannya tak keras, namun cukup membuat pikiran kotor Todi buyar, dan sontak wajah lelaki itu teralihkan ke samping.
Ia mengeraskan rahangnya menatap Zea murka, "denganku kau masih bisa melawan, tapi tidak dengan pembelimu, nona!"
PLAK!
Clemira dan yang lain tergelonjak kaget ketika Todi menampar Zea, "Lebih baik mati ketimbang melayani lelaki breng sekk macam lo, an jinkkk!"
Todi terpancing amarah dan menempelkan moncong senjatanya di kening Zea, "aaaa!" teriak mereka memancing atensi Ajay.
"Todiiii!" teriaknya marah. Seketika Todi menurunkan senjatanya dari Zea yang mengulas senyuman miring.
"Hati-hati kau!" tunjuk Ajay membawa Zea bersamanya terpisah dari yang lain, Zea menatap nyalang pada Clemira dan yang lain lalu mengacungkan jari tengahnya pada Todi, "f\*ck you!"
Terdengar suara hujanan tembakan dan ledakan dari tempatnya yang membuat mereka seketika terhenti dari aktivitas ricuhnya.
Zea menghentikan langkah dan menatap sembarang, ada seulas senyuman terbit ketika mendengarnya. Itu artinya militer sudah kembali bergerak, syukurlah....
"Blue eagle come in, skadron X ijin melakukan serangan," ucap Sagara.
"Dicopy blue eagle, markas come in...serangan diijinkan pada titik arteri musuh," jawab pusat.
Jempol tertutup sarung tangan itu memencet tombol tembakan.
Dusshhhh!
Ada semacam gerakan lonjakan yang terasa di badan pesawat ketika selongsong peluru itu melesatkan tembakannya.
Dorrr!
Dorr!
Mulai dari tembakan peluru yang jumlahnya tak hanya satuan, dan begitu intens menyerbu pertahanan musuh.
"Negara kedaulatan harga mati!"
Sayap pesawat jet menukik tajam ketika bermanuver menembak sekaligus menghindari serangan musuh.
__ADS_1
Perlawanan terjadi dari pihak musuh