Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 67


__ADS_3

Zea dan Saga menggenggam sebuket bunga, kemudian melemparkannya sesuai aba-aba dari MC.


Uingggg!


Diantara gerombolan para bridesmaid dan gadis-bujangan yang persis gerombolan kera, karena sejak tadi riuh tak karuan meminta pengantin melempar buket bunga, untung saja buket bunga yang dipegang hanya berukuran segenggam sesuai buatan WO, coba saja jika usulan absurd Zea diterima yang menginginkan bunga sepaket dengan pot-potnya sekalian, mungkin para gadis-bujang itu sudah bonyok tertimpuk bunga.


Nyatanya sosok jangkung berkemeja navy itu menangkap buket bunga yang dilempar Saga dan Zea, postur tubuh yang tegap dan tingginya jelas mengalahkan tinggi badan dari para gadis-bujangan yang siap berebut buket bunga pengantin.


"Padahal gue udah lompat sebisanya!" Iyang sampai harus merelakan kakinya terinjak Dina, untung tak langsung gepeng.


"Bang Tama!" Zea berseru ketika Lettu Pratama menangkap buket bunga miliknya.


"Yah, curang ah, balik yuk balik, bubar! Bang Tam baru datang udah dapet aja, rejeki nomplok tuh biar cepetan kawin!" ujar Izan.


"Sorry, berarti rejeki gue nih Zan." Ia tertawa renyah dan melirik Clemira yang tampak cantik dengan pakaian dress sabrinanya.


"Bau-baunya bakalan dapet kartu ondangan lagi ini mah, Zan." Luki terkekeh renyah ke arah Tama.


"Apa kabar Zan, Ki?" sapa Tama, menyapa keduanya terlebih dahulu.


Clemira mendelik tajam dan mengalihkan pandangan dari sosok jangkung itu, ia masih marah pada lelaki itu karena kejadian waktu lalu, ditinggal di rumah makan karena tugas memanggil, sementara ia tak membawa uang sepeser pun, auto jalan kaki pulang karena hape yang lowbath, meskipun tak begitu jauh ia berjalan ojol kiriman Tama menjemputnya di pertengahan jalan.


Dari tempatnya Tama menggumamkan sesuatu, "i'm so sorry."


"Jahat!" pelotot Clemira bubar jalan.


Siapa bilang jadi ratu sehari itu menyenangkan, ternyata menyebalkan dan bikin bosan. Zea berdiri hampir beberapa jam di samping Sagara menyalami orang-orang yang 90 persennya tak ia kenal, tanpa melakukan apapun persis manequin.



Di bawah podium sana orang-orang asik makan dan dijamu suguhan band kesatuan yang isinya Izan, Luki dan beberapa perwira lain yang turut menyumbangkan keahlian dari band berjuluk 'Elang Khatulistiwa' itu.



"Abang bukan personel Elang Jawa?" tanya Zea, Saga berdecak dengan menoleh singkat pada Zea, "elang Khatulistiwa.." ralatnya, "kamu pikir abang hampir punah?"



Zea meledakan tawanya disana, hingga tawanya terhenti ketika bridesmaid yang terdiri dari teman-teman Desta X mengambil alih microphone.



"Cek."



"Udah ini teh, langsung aja ya?" tanya Iyang menoleh pada yang lain.



Pandangan Saga dan Zea sontak teralihkan pada mereka.



"Zea, neng...selamat ya atas pernikahannya, eh udah bukan neng lagi ya sekarang mah, jadi nyonya...nyonya meneer...." Iyang tertawa bak tante kun, disusul gelak tawa tamu yang lain, bahkan Zea.



"Sekarang mah udah ngga halu lagi, meskipun bukan nikah sama aktor china si saha namanya teh?" tanya Iyang pada Clemira.



"Zhang Zhe Han," sahut Clemira menyemburkan tawanya,


sambil mendorong bahu Iyang, tak urung ditertawai para tamu lain dan Zea sendiri seraya mata melotot. Tama yang duduk di bangku tamu bergabung dengan Izan dan Luki terkekeh memperhatikan gadis yang masih marah padanya.



"Yang katanya gemes-gemes pengen jambak! Awww, saking kasepnya!" Iyang sendiri tertawa karena kata-katanya, mengingat masa-masa SMA mereka, kembali mereka yang hadir di acara ini tertawa dibuatnya.



"Itu siapa sih, bu?" tanya Fara pada mama Rieke, sedikit aneh melihat ada juga lelaki pecicilan di dunia ini selain Redi dan wa ria-wa ria di luar sana, dan itu nyata hadir di acara putranya hari ini.



"Si Iyang bu, temen sekolah sekaligus satu tim dance Zea." Jawab mama Rieke, "agak aneh ya, bu?" tawa mama Rieke diangguki Fara, "kaya tulang lunak." Al Fath menyenggol istrinya yang ngomong seenak dengkul.



\*\*


__ADS_1


"Tapi semoga cintanya buat abang perwira ngga sampai berkurang karena si abang ngga mirip si ujang. Samawah till jannah ya neng," Iyang melanjutkan, Clemira turun memberikan buket dari uang sebagai kado simbolis untuk Zea dan Saga dari Desta X, aksi itu mendapatkan tepukan tangan dari beberapa tamu dan keluarga.



Zea memeluk Clemira yang menjadi saksi cintanya bersama Saga seraya menerima buket uang.



"Dan sekarang, kita mau ngasih sesuatu, mengenang masa-masa kita dulu Ze....perjuangan kita sebagai Desta X yang pernah berjaya di masanya, bagi kita lo tetep kapten tim Desta X, Ze. Kalo ngga keberatan lo bisa ikutan...."



"Lo pasti inget sama lagu ini Milah, karena dulu cita-cita lo pengen masuk JKT forty8, tapi ngga kesampean karena suara lo jelek! " mereka tertawa mendengar itu, padahal ekspresi Zea sudah melotot.



"Dan gue juga kepengen masuk, tapi berhubung gue baru nyadar ternyata gue cowok jadi langsung ditendang sama managementnya di depan pintu audisi! Sampe Clemira yang udah masuk babak kualifikasi mutusin buat ngundurin diri karena lo ngga masuk," ucapan Iyang yang mengajak mereka bernostalgia mengingat masa dulu tak ayal membuat tamu undangan seperti diajak menonton stand up comedy.



Seiring Iyang menaruh microphone, mereka turun dan membentuk barisan di depan podium.



"Lo mau pada ngapain Cle?" tanya Zea.



"Kita dance," ajak Cle. Clemira dan Zea menoleh pada Sagara sebagai tanda meminta ijin.



"*Owhhhh, rupanya temen-temen SMA mempelai perempuan ngajak kita semua termasuk mempelai untuk joget bareng*!" suara seempuk roti awan dan renyah mirip wafer milik MC kembali mengambil alih microphone.



"Serius, bisa pake baju begituan?" tanya Saga tak yakin, namun diangguki Zea.



"Ze, mau ngapain?!" mama Rieke dengan suara 8 oktafnya menahan Zea turun.




"Moy, aduh...." Fara ikut meringis menyadari betapa pecicilannya cimoy dan menantunya itu mirip-mirip ulat hongkong.



Zea melepas high heels miliknya hingga ia turun tanpa alas kaki dan mengangkat dress panjangnya persis orang mau lewat di deket kubangan.



Tiba-tiba saja dinding belakang panggung band disorot oleh infocus yang menayangkan perjalanan Desta X dan pertemanan mereka yang awet hingga kini, mulai dari kompetisi antar sekolah hingga kompetisi bertaraf internasional juga moment-moment manis semasa sekolah dulu seiring dengan musik yang mulai mengalun bertempo beat.



Zea dan Desta X menari bersama diantara tamu undangan. Pandangan Zea tentulah pada Saga seorang.



\*\* *Walaupun diri ini menyukaimu kamu seperti tak tertarik kepadaku, siap patah hati ke sekian kalinya*....


*Ketika kulihat di sekelilingku, ternyata banyak sekali gadis yang cantik, bunga yang tak benar tidak akan disadari*...


*Saat ku melamun, terdengar musik mengalun di kafetaria, tanpa sadar kuikuti iramanya, dan ujung jari pun mulai bergerak, perasaanku ini tak dapat berhenti, come on--come on--come on baby! Tolong ramaikanlah*!



"Njirrr, keren! Nikahan abang bisa sekeren ini, gue pikir nikahan orang kaku ngebosenin!" tawa Russel dihadiahi toyoran dari Kalingga.



Tidak hanya penampilan Desta X saja rupanya, beberapa perwira teman satu letting Saga yang tergerak panas melihat Desta X gatal juga untuk ikut berjoget ala-ala tentaranya, membuat suasana resepsi makin ramai.



Luna mengunyah dengan cepat dan lahap makanannya, sebal, dengan memakai suapan tenaga kuda ia mengunyah makanan dari piring, "gilakk ya, kesel ih!" Pasalnya suaminya ikut-ikutan meramaikan acara ini. Seharusnya pernikahannya tempo hari lebih ramai dari ini, bukannya malah terbanting.



Hanya saja ia lupa jika Zea adalah anak menteri dan seorang gadis yang circle pertemanannya asik, tak macam dirinya.

__ADS_1



Shanneta Amber, dj ternama ibukota bahkan ikut meramaikan dengan aksi EDM'nya secara sukarela sebagai kado pernikahan untuk Zea, belum lagi Iyang yang jago bernyanyi dangdut, membuat jiwa emak-emak dangdut lovers seorang Faranisa bangkit dari kuburnya, menjadikan keduanya partner duet maut di acara hari ini.



Al Fath menggaruk keningnya melihat kini sang istri bersama Eyi berada di atas panggung, seperti kerasukan setan biduan.



"Bi, itu umi suruh turun, aduhhhh. Dari tadi betah amat di deket mic!" Kalingga sampai mengadu pada Al Fath.



Rayyan tertawa melihat Fara dan Eyi disawer oleh mama Rieke, "udah. Biarin aja Ngga, kapan lagi umi mu kaya gitu, kasian di rumah banteran ngurusin kertas laporan seabrek-abrek. Pulang kampung bikin jiwa biduannya kembali bangkit!" Rayyan tertawa melahap buah, "sayang!!! Lagu kemesraan!" teriak Rayyan pada Eyi.



Panji menggelengkan kepalanya, beda hal dengan Al Fath yang waras, kedua orangtuanya lebih parah, sama gilanya.



"Balik yuk, Ngga..." ajaknya merasa malu setengah lelah.



"Balik kemana? Kunci mobil di om Jia.." jawab Kalingga malas, ia sudah crangky macam anak balita abis disuntik imunisasi.



"Ke mess abang dulu lah, pusing gue disini." ujar Panji.



"Ini si Ryu sama Russel kemana?"



"Udah duluan sama ma cut, katanya ma cut mesti ngurusin hal urgent di RS."



"Terus ini abang sama kak Zea mana?" tanya Panji lagi.



"Ya balik lah. Lo kalo ngajak ke mess abang salah alamat, Ji. Udah pasti dikunci, penganten baru ngga boleh diganggu!" jawab Kalingga mendengus, kedua bujang kalem ini akhirnya tertahan di acara bersama Al Fath yang juga sudah lelah.



"Seriusan ini kamar mandi buat orang? Lebih mirip kamar mandi bebek, bang. Jelek amat!" Zea menatap dengan meringis getir. Niatnya sih mau mandi, tapi melihat betapa kecil dan fasilitas yang kurang memadai dari kamar mandi rumah dinas Saga, Zea jadi ragu.


"Kenapa emangnya? Yang penting bersih, air banyak, ngga perlu susah-susah ditimba." Saga menggosok rambut dua centinya dan menggantungkan handuk di luar, air sumur yang tak perlu repot-repot ia geret dengan tali membuat badannya segar dari keringat, kotoran dan rasa lelah setelah hampir 4 jam berdiri menyalami orang.


"Cepet mandi, kita makan. Tadi umi udah simpenin makan buat kita," ucapnya membuka tutup saji yang menyuguhkan beberapa kotak makan berisi lauk untuk makan.


Zea masih mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar mandi dengan mendekap handuk dan satu pocket peralatan mandi miliknya, "ini aman ngga bang? Takut roboh gitu gentengnya nimpa kepala Ze, ngga ada langit-langitnya sama sekali loh..." ia meringis untuk kesekian kalinya membayangkan jika sedang asik mandi tiba-tiba keruntuhan genting seabrek-abrek, auto mati di tempat.


Jika tau fasilitas yang diberikan untuk prajurit negri begini, ia akan mengajukan proposal pada papa Rangga dan presiden untuk memberikan fasilitas terbaik untuk para prajurit dan keluarganya, "tau gini, Zea bakalan ngirimin proposal sama papi. Masa pahlawan negara rumah dinasnya begini amat sih..."


Saga mendengus geli tanpa berucap apapun, ia lebih sibuk mencomoti lauk nasi.


"Seenggaknya ada shower kek, bathub gitu, toilet duduk lah..." ocehnya tanpa henti.


"Alhamdulillah." jawab Saga, "harus pandai bersyukur, bukan pandai menuntut..."


Zea menoleh, "Sempit gini bang, Zea sesek mandi di dalemnya..." alasannya lagi mengeluh kan kondisi.


"Kalo sesek, buka aja pintunya, beres." jawabnya enteng.


"Enak aja!" decih Zea, "jadi tontonan por no abang waktu makan."


Saga melirik Zea yang masih diam di gawang pintu, "kamu mau mandi sendiri, atau abang mandiin?" ancamnya.


BLUGHHH!


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2