Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 45


__ADS_3

Skin to skin, adalah salah satu metode untuk mengatasi demam pada bayi dan hipotermia pada orang dewasa, ia bisa menyalurkan rasa hangat dari tubuh lewat sentuhan kulit, menstabilkan suhu tubuh, melancarkan aliran oksigen dan memberikan rasa nyaman.


Zea tak ada daya untuk menolak dengan apa yang dilakukan Sagara saat ini, selain karena sebelah tangannya sakit namun tenaganya seolah terkuras habis dengan apa yang terjadi padanya belakangan ini, anggap saja abis celaka Zea lantas ketiban rejeki nomplok, dipeluk-peluk sama kembarannya malaikat penjaga surga.


"Maaf sebelumnya," lirih Sagara menggetarkan hati, seiring dirinya yang meraih Zea ke dalam pelukannya.


Aroma tubuh perwira ini bikin jiwa Zea kelojotan namun pula benar-benar dibius mesra, "kalo Dina sama Cle liat, kita bisa dianggap lagi macem-macem..." katanya lemah. Sagara terkekeh, "tinggal panggil penghulu," jawabnya enteng membuat Zea terkekeh, "ke hutan gini? Yang bener aja!"


"Kan katanya abang masih dalam masa ikatan dinas. Ngga boleh nikah dulu..." balas Zea.


"Iya. Masih ada waktu setahun, kira-kira." Sagara melihat ke atas langit terlihat seperti sedang menghitung, bukan jumlah bintang apalagi jumlah hutang di warteg.


Hm....keduanya menggumam kompak, seperti sedang menghela nafas dan berpikir nasib ke depannya. Mungkin, Sagara berpikir akan seperti apa ia melamar Zea nantinya saat ia selesai masa ikatan dinas, lain hal dengan Zea yang memikirkan kuliahnya yang akan seperti apa.


"Udah bang. Nanti abang masuk angin." Zea mendongak menatap Sagara, hanya berbekal sinar rembulan namun pahatan sempurna itu jelas mengusik jiwa.


Sagara menggeleng, "masuk hutan aja ngga takut, apalagi cuma masuk angin," balasnya dengan wajah datar, Zea meledakan tawanya, ia baru tau sisi humoris Sagara, apakah benar ini seorang Teuku Bumi Sagara si jutek itu?


"Kalo kemasukan cinta aku?" kekeh Zea diantara rasa sakitnya, Saga tertawa kecil nan renyah, "dengan senang hati."


Hingga waktu memakan sang malam menggulirkan masa menuju pagi, kelopak mata Zea terasa begitu berat menanggung beban lelah hingga akhirnya dengan moment di pelukan Sagara, ia tertidur lelap dalam rasa nyaman, meskipun di bawah suara tembakan dan ledakan yang saling bersahutan sayup-sayup, sepertinya Zea sudah dapat beradaptasi. Love at the war.....


Clemira menggeliat karena rasa pegal dan tak nyaman. Terang saja, mereka tidur tanpa alas apapun dan dalam posisi yang bisa dibilang mirip bebek entog yang lagi ngeramin telor.


"Huaaaa----" gumamnya menggeliat meregangkan otot-ototnya, matanya yang indah tiba-tiba harus membeliak karena dikejutkan dengan pemandangan amboii di depannya.


Ia lantas menunjuk Sagara yang langsung memberikan isyarat pada Clemira untuk diam. Gadis itu menelan kembali semua kata yang awalnya akan ia semburkan layaknya air minum.


"Baru tidur," gumam Sagara merujuk pada Zea.


Clemira merangkak ke arah kedua sejoli yang kepergok lagi anget-angetan sementara ia harus kedinginan.


"Abang nanti dimarahin abi Fath sama umi Fara...bukan mahram, abanggggg...." thesahnya berbisik.


"Zea demam, dia menggigil. Ngga ada obat yang abang bawa, maka metode sederhana ini abang harapkan bisa menjadi pertolongan pertama," jawab Sagara tak ada niat lain apalagi niatan buruk.


"Tetep aja. Kenapa ngga bangunin Cle....biar Cle yang kasih Zea metode skin to skinnya?!" pelotot adiknya itu.


"Kamu tidur, tidur kamu bikin tangan Zea berda rah-da rah..." tunjuk Saga ke arah lengan Zea yang terbalut jaket hijaunya dan kembali merembeskan cairan merah saat Clemira tak sengaja menyenggolnya.


Clemira membulatkan mulutnya terkejut, "ya Allah! Ngga sengaja, terus sekarang gimana? Apa ngga apa-apa kita biarin tanpa penanganan medis, bang?" tanya Clemira khawatir.


"Setelah pagi, kita jalan. Kalau ngga salah jarak beberapa km sudah masuk ring 2 mereka dan militer sudah melumpuhkan area itu...."


Clemira mengangguk, "alhamdulillah."


"Kalo gitu abang minta kamu ganti abang berjaga dulu, abang istirahat sebentar." pinta Sagara, ia bukan Tuhan yang tidak pernah tidur, hanya seorang prajurit yang berusaja menjaga staminanya.


Clemira mengangguk paham, "oke."


Sagara memilih memejamkan matanya meski tak benar-benar terlelap dengan tangan dan tubuh yang masih mendekap Zea.



Sagara kembali memakai kaos miliknya dengan santai, padahal Zea sudah memicingkan matanya tajam.



Pagi-pagi belantara bagian tengah nusantara ini geger oleh suara Dina yang memergoki keduanya lagi peluk-pelukan dengan Sagara yang tanpa busana bagian atas.



"Lo berdua ya, kita berdua dianggap cctv hotel melati!" tunjuknya usil.



"Ngga usah dibahas, lagian gue ngga ngerasa berbuat hina..." jawab Zea.



Langit memudarkan kegelapannya berganti langit yang mulai membiru. Keempatnya kini kembali harus berjalan menembus belantara demi mencapai titik yang telah tersentuh pihak militer, meskipun dalam tingkat kewaspadaan yang teramat.



"Laper gue euy!" oceh Dina.



"Lo laper? Perasaan semalem udah makan hati," jawab Zea tertawa renyah, kedua gadis ini berjalan santuy bersampingan berasa jalan di pinggiran jalan car free day, kayanya kalo nemu tukang es dawet mereka auto ngaso barang seabad, sementara Clemira dan Sagara berada di depan keduanya.



Dina tertawa, "njir. Udah cukup gue makan hati kemaren-kemaren liat Dean sukanya sama Zea," akuinya ditertawai Clemira, Sagara sedikit melirik sinis pada Zea, Dean?



"Sakit yee liat orang yang disuka malah suka temen sendiri, mana mau-maunya dimanfaatin lagi!" Clemira bertindak menjadi minyak tanah yang membuat api di kompor semakin besar.



"Ini malah ngomporin." Cebik Zea.



"Iya. Tapi gue berusaha move on lah! Cowok masih banyak, bukan cuma Dean doang!" ucap Dina.

__ADS_1



Zea menepuk-nepuk pundak Dina, "lo pinter sistah! Cowok be go emang mesti dikibulin," tawanya.



"Lo ratu tega!" cebik Dina, Zea hanya nyengir. Mungkin dari sekian juta umat manusia yang tersesat di hutan dan diantara perang yang sedang terjadi, hanya ketiga gadis ini saja yang menanggapi situasi ini sesantai orang yang lagi mantai, sampe bisa ghibahin orang dan ngobrolin hal ngga penting di kondisi mencekam dan chaos begini.



Langkah Sagara tiba-tiba terhenti mendadak dan mengangkat tangannya meminta mereka diam sejenak dari aktivitas gosipnya.



"Ada apa?" tanya Zea digelengi Clemira ikut menunduk dan berjongkok. Suara orang beradu tembak semakin terdengar dekat.



Zea membeliak ke arah Clemira dan Dina, ketiga gadis ini merapatkan diri ke dekat Sagara dan waspada.



Sagara menempelkan telunjuk di tangannya lalu meminta mereka mencari tempat persembunyian, sementara ia menajamkan pendengaran dan menarik pistol dari tempatnya lalu bersiap siaga.



Zea sedikit terhenyak melihat itu, jujur saja ia sedikit tak nyaman ketika melihat orang terutama Sagara saat mode elangnya begini, cukup trauma dengan kejadian kemarin.



Letusan dan deru tembakan menghiasi pendengaran, dari arah selatan mulai terdengar orang berteriak.



"Abang," Clemira mengeratkan pegangannya di ujung baju Sagara.



Gerakan tangan Sagara meminta ketiga gadis itu menunduk dan bersembunyi.



Psyuuttt---dooorrr!



Mereka cukup tersentak mendengar itu dan refleks melindungi kepala.




Zea menggeleng tak yakin, namun Saga mengangguk meyakinkan seolah berkata dengan atau tanpa ijinnya, ia akan tetap pergi, "tunggu sebentar."



Sagara berjalan mengendap-endap setengah berjongkok melewati beberapa pohon dan semak belukar, sesekali menghindar dari pandangan dan lesatan tembakan. Nyatanya kelompok Ajay melakukan perlawanan cukup sengit, beruntung semalam mereka bisa bermalam tanpa terdeteksi.



Dorrr!


Dorr---dorrr!



Zea merasa dirinya berada dalam arena perang game onlinenya, rasanya begitu berbeda, tak ada rasa excited menghabisi lawan yang ada adalah ketakutan, ia benci dengan ini!



Hening, diantara ketiganya tak ada obrolan sesantai tadi, lebih memilih hanyut dalam pikirannya masing-masing dan situasi mencekam ini.



Sesekali Zea dan Dina tersentak kaget karena suara ledakan dan tembakan, berbeda dengan Clemira yang sudah terbiasa.



"Bang Saga mana, Cle? Kok lama..." tanya Dina berbisik sangat pelan.



"Ngopi di warung!" decak Zea, yang benar saja temannya itu kalau bertanya, ya kalee Sagara jajan dulu di tengah hutan begini, sudah pasti ia kesulitan untuk mencapai pihak militer.



Clemira menyunggingkan senyum geli, namun tak berani tertawa takut jika kelompok Ajay menemukan mereka.



Benar saja, langkah beberapa orang berlari mendekati pendengaran ketiganya yang sontak mengeratkan pegangan dan pelukannya.



"Itu siapa...." gumam Dina.

__ADS_1



Zea hanya bisa menggeleng bersama Clemira. Zea bahkan sudah menunduk ketakutan, jika sampai ketiganya tertangkap kembali, ia tak dapat menjamin jika setelah ini masih bisa menghirup udara di muka bumi, jangankan untuk kabur, melawan saja ia tak akan mampu dengan kondisi tangan yang begitu.



Tap---tap---tap....



Derap langkah sepatu delta menghampiri tempat persembunyian ketiganya, Dina tak berani melihatnya.



Sementara Zea dan Clemira terpaku melihat sepatu delta hitam terhenti di depan mereka, degupan jantung Zea mendadak berhenti, sepatu yang sama dengan milik Ajay.



*Apakah ini akhir hidupnya*?


.


.


.


.


"Abi!"



Zea terhenyak dengan ucapan lirih Clemira memanggilnya dengan sebutan abi. Sejak kapan Ajay menjadi ayah dari Clemira? Alisnya berkerut.



"Alhamdulillah." katanya saat Clemira menghambur memeluknya.



Zea mendongak dan melihat sosok tegap dengan pakaian serba hitamnya, ia menurunkan buff tengkorak dan menampilkan senyuman lega, "om Ray..."



Zea menitikan air matanya, ketika melihat sosok lain berdatangan dari belakang Rayyan, termasuk Sagara.



"Lapor, Zea Arumi, putri dari menteri Rewarangga....Clemira Ananta, dan satu kawan lainnya telah ditemukan selamat bersama letda Teuku Bumi Sagara." Ucap Pramudya.



"Ze," Rayyan melihat gadis itu senang, namun netranya jatuh pada lengan Zea.



"Lapor ndan. Zea Arumi tertembak di bagian lengan kiri saat sedang mencoba kabur tempo hari dari kelompok AJ," Sagara melapor pada Rayyan.



Rayyan mendekat pada Zea, "Lang! Unit medis mana?!" ia menyentuh lengan Zea dan membuka sling darurat di lengannya sementara Zea mulai menangis.



"Sakit, Ze? Sebentar, om coba panggil unit medis...status luka gimana, Ga?" tanya Rayyan pada Saga yang ikut berjongkok di samping Zea.



"Tembus om, peluru tidak bersarang...hanya saja da rah masih sering keluar."



Zea semakin terisak kencang, "pasti sakit. Om tau, Zea bisa tahan kan? Kita segera pulang..." senyumnya. Zea menggeleng kencang, "baru kali ini Zea seneng banget ketemu om, sampe-sampe pengen tumpengan disini tau ngga!"



"Si alan lo!" tawa Clemira mendorong kepala Zea, Pramudya dan Langit ikut tertawa renyah dibuatnya.



"Ampun nih bocah!" ujar Rayyan. Seorang unit medis membawa tas besar di punggungnya menghampiri dan berjongkok di depan Zea mengeluarkan peralatan medisnya.



.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2