
Zea mendekap tubuhnya sendiri di depan jendela lalu beralih meraih cangkir kopi pagi harinya yang baru saja diantar oleh karyawan hotel, pemandangan pagi ini begitu sayang ia lewatkan begitu saja, udah mahal-mahal bayar juga!
Padahal bikini one piece nya sudah ia keluarkan dari koper, namun akhirnya urung ia kenakan karena larangan Saga untuk berenang di kolam renang hotel, mengingat bukan hanya mereka saja yang berada disana, oh tidak! Sagara tak semurah hati itu untuk berbagi kemolekan tubuh istrinya.
Akhirnya ia membalut tubuh dengan bathrobe dan masih enggan memakai baju, sebagai bentuk protesnya. Tadinya ia ingin membalut tubuhnya pake daun pisang kalo ada, biar tinggal ngukus.
"Kalo emang mau jalan-jalan keluar, abang ngga larang. Pake pakaian layak aja, bukan bungkus tape kaya gitu..." ia duduk di sofa yang berada di depan ranjang, bersebrangan dengan televisi.
Zea menoleh dengan delikan tajam, "bungkus tape katanya shhhh..." ia menggeleng prihatin setengah kesal namun tetap melangkah menghampiri suaminya, Zea mendudukan diri di pangkuan Saga, menaruh pan tatnya dengan kasar tanpa mau bertanggung jawab jika sesuatu terjadi di bawah sana.
Ia memutar tubuh dan mengang kangi Saga, "masa Zea mau seharian di kamar, ngga asik juga kalo ke kolam renang tapi pakean mendekati soleha, mirip-mirip mau ke pengajian."
"Abang ngga asik!" dengan sengaja ia menyentuh bagian dadha Saga dan telunjuknya bermain-main disana membuat pola acak dan melingkar. Niat hati membalas perlakuan Saga yang otoriter setelah jiwa lelakinya belingsatan, lalu Zea tinggal begitu saja.
Namun iman Saga tak serapuh kulit kayu yang dimakan rayap, ia menangkap telunjuk nakal Zea, "ngapain? Jangan nanti kamu yang ngga bisa ngimbangin haz rat abang..."
"Nakal," decak Saga menggigit pelan telunjuk Zea, sontak gadis itu manyun karena niatnya terendus musuh dan sang elang tak terpengaruh aksi nakalnya, "turun, abang mau ajak kamu jalan-jalan ke danau,"
Zea menggeleng dan justru semakin merapatkan barisan, ia menjepit pinggang Saga dengan cara melingkarinya menggunakan kaki.
"Bangun aja tapi Zea tetep gini itupun kalo bisa!" tantangnya.
Alis Saga naik sebelah, yang benar saja istrinya itu menantangnya? Jangankan hanya gendong tuyul nakal macam istrinya, gendong bapaknya genderuwo juga ia sanggup.
Dan benar saja, Zea merasakan tubuhnya ikut terangkat saat Saga beranjak dari kursi, refleks ia melingkarkan kedua tangan di leher Saga dan semakin menjepit pinggang Saga.
"Abang ihhh, hahahaha!" ia tertawa melihat dirinya yang seperti anak mo nyet gelantungan di leher emaknya. Saga berjalan seperti tak keberatan meski langkahnya kadang terhenti karena jarak pandang terhalang Zea.
"Huwakkkk seger banget!" Zea menurunkan sedikit kacamata hitamnya sampai ke pangkal hidung demi melihat segarnya danau. Zea sudah persis anak ayam baru keluar kandang, ciak-ciak sambil lari-lari kecil.
Tak ada celana pendek sepa ha ataupun bikini, perdebatan alot berbuah perjanjian meja kotak tadi, Saga akan mengajak Zea jika wanitanya itu memakai baju sopan. Maka hari ini Zea memakai celana kulot hitam dan kemeja putihnya.
"Ze, mau naik kano bang!" tunjuknya ke arah perahu-perahu kecil yang menghiasi danau. Bukan hanya turis mancanegara saja yang ada disana, melainkan turis lokal pula banyak yang berlibur.
Binar mata yang tertutup sebagian kacamata itu terkagum melihat kemilau air tersinari matahari pagi diantara hijaunya perbukitan dan awan biru, belum lagi beberapa kano dan kayak yang tersebar meramaikan layaknya taburan permen warna-warni di atas hamparan air.
"Boleh." Saga tak serta merta menurunkan kacamata hitam yang sejak tadi bertengger manis, ia mengajak Zea ke arah petugas penyewaan.
Tak butuh waktu lama, ia dan Zea sudah berhasil menyewa sebuah kano berwarna biru dan siap membawa mereka mengapung di hamparan surga nyata milik nusantara.
__ADS_1
Bermodalkan pelampung di badan Zea naik hati-hati ke dalam kano dibantu Saga, cukup memacu adrenalin karena keseimbangan yang harus dijaga.
"Bisa, om?" tanya si penyewa diangguki Saga, jempolnya memberikan isyarat jika semuanya baik-baik saja. Pena namun pasti ia mendorong kano dengan Saga yang mulai mendayung lamban.
Tak perlu mengeluarkan dorongan besar, ataupun tenaga ekstra, sapuan-sapuan dayung di atas permukaan air setengah menyelam membuat dorongan maju, seketika riak air berlarian terbelah oleh kano.
Zea mencelupkan setengah tangan ke dalam air danau yang nampak bening itu, merasakan kesejukan dan rasa tenangnya.
Sejenak suara ramai itu kini sayup-sayup karena Saga membawa arah kano mereka ke area yang tak banyak dilintasi kano lain.
"Bagus ya, bang....selama ini yang Zea liat tuh negri orang jauh lebih bagus dari negri sendiri. Padahal dengan tidak disadari Zea yang bodoh. Orang lain justru berbondong-bondong datang ke negri Zea karena lebih indah."
Ada tawa sumbang yang Saga keluarkan, seiring senyuman tersungging, "abang sudah sedikit banyak menjejaki negri orang lewat latihan gabungan atau tugas militet luar, tapi tak ada yang seindah rumah sendiri."
Kini Zea yang tersenyum miring, ia memutar badannya hati-hati agar kano tak sampai oleng, "pantes umi bangun rumah dan yayasan, apa namanya bang? Kemaren umi ngga mampir ke yayasannya? Zea kok ngga tau,"
"Onai atau Honai itu rumah adat timur, burung maleo adalah spesies yang sudah hampir punah." jelas Saga menjawab kebingungan Zea.
"Rumah yang merangkul para pemuda timur untuk mengembangkan diri, yayasan yang umi bangun bersama sanak keluarga, teman, rekanan bisnis dan beberapa pejabat negri dan militer." Saga bergerak dari depan ke belakang dan samping kanan kiri, agar kano tetap bergerak mengeksplore area.
Kemudian sejenak ia menghentikan kayuhan dayung saat dirasa anglenya pas melihat keindahan di depan mata, dimana wanitanya berada diantara bukit-bukit menjulang di belakang dan payung awan biru nan putih.
Zea sedikit tersentak kagum dengan menaikan alisnya mendengar pencapaian sang ibu mertua yang terlihat absurd itu.
"Waktu kita nyari ubi sama sagu, umi berangkat sama om Rick ke Onai, ada kompetisi tingkat internasional yang harus di ikuti oleh beberapa anak Maleo di bidang teknologi informatika, bidang desain dan grafis."
__ADS_1
"Beneran?! Hebat!" decak Zea.
"Umi sarjana, dek." Helaan nafas Saga cukup lega ketika menceritakan kehebatan kedua orangtuanya, sementara ia? Masih jauh dari kata itu. Maka jika bertanya siapa idolanya, adalah umi dan abi.
"Zea pengen kaya umi, tak butuh rasa hormat atau dipandang orang. Tau-tau sudah banyak berbuat, sedikit banyaknya Zea tau. Disaat orang-orang di atas sana terekspos karena tindakan yang minim, dan hura-hura ketika rakyat menjerit. Umi sudah jauh melangkah membawa umat ke arah kemajuan."
Saga mendengus tersenyum, kemudian ia mendekatkan diri menatap Zea lebih dekat lagi, "aamiin."
"Zea mau juga jadi donatur bang, atau minimalnya saat ini karena Ze belum bisa ngasilin duit sendiri, Zea mau jadi voulenteer. Ngga bisa banyak bantu dana, tapi bantu pake tenaga..."
Saga semakin tersenyum lebar meluhat sikap Zea yang banyak berubah, ia menaruh dayung di pangkuan dan mengacak rambut Zea, "nanti tinggal bilang umi. Nama abang ada di dalam daftar donatur," jawab Saga kini senyuman itu sedikit menampakan gigi-gigi rapinya.
"Abang senyum terus dari tadi, kayanya otaknya udah kepanasan nih, ke tepian yuk! Sini gantian, biar Ze yang dayung. Khawatir deh, kelamaan disini otak abang jadi kurang se sendok!" dengus Zea menatap getir ke arah Saga. Pasalnya pagi ini, suaminya itu kebanyakan senyum, ngga biasanya!
Sagara meneymburkan tawanya hingga jakunnya naik turun, "ngaco. Dikira otak es balok. Udah aja nih?"
Diangguki Zea, "besok kita pulang malem kan? Huffttt!" lengu han berat nan lelah Zea keluhkan.
"Kenapa? Ngga mau pulang, masih betah?" tanya Saga.
"Males aja, lusa nya harus ketemu Luna di pertemuan istri prajurit...ngga inget? Kalo sekarang Luna istrinya bang Rudi, by the way satu regu sama abang?!"
Saga terkekeh, "selamat berjuang istri...yang akur ya."
.
.
.
.
__ADS_1
.