
Ia meluaskan pandangan ke arah luar jendela mobil, menatap sisi lain nusantara dari di luar ibukota.
Baru ia tau, sisi timur nusantara....eksotis, cukup panas namun udara yang ia hirup seolah berebut menyegarkan paru-paru.
Gerbang pangkalan militer menyambut keluarga Al Fath meskipun notabenenya panglima ini sudah tidak mengabdi lagi di tanah timur, baktinya telah tuntas di daratan ini.
Zea menurunkan kacamata hitamnya, cukup dibuat terkejut dan excited dengan sambutan yang mereka berikan.
"Macee!" teriak beberapa anak menghambur memeluk Fara sambil berlomba berlarian.
Zea cukup terkesima dengan menaikan alisnya setinggi gunung, sebegitu dekatkah keluarga suaminya itu dengan orang-orang disini? Sampai tugas mereka telah selesai saja pelukan hangat mereka berikan untuk keluarga panglima satu ini, Fara terlihat begitu dekat, *semacam ibunya dari anak-anak timur*.
"Hayyy," Fara tak sungkan berjongkok demi menyamakan tingginya pada anak berkulit eksotis ini.
"Sa sudah membuat kalung, untuk mama dan *nakali* yang disana," tunjuknya malu-malu pada Zea.
Sontak saja Zea tersentak, "buat Zee?" ia menunjuk dirinya sendiri seraya melihat bergantian pada Saga dan Fara.
"Sana," Saga mengangguk dan menekan pinggang Zea dengan telunjuknya mengisyaratkan istrinya untuk menerima.
Meski dengan wajah kebingungan, Zea tetap menurut dan berjongkok setengah berlutut, "*Onomi Fokha to tanah timur, kaka. Maitua from namik kitorang, bung Gara*..."
Apa dia kata? Zea menoleh pada Saga tak mengerti, yang ia mengerti hanya kata *from* saja. Kalingga menyapa beberapa warga desa yang sengaja datang untuk menyambut, karena tau jika keluarga pangdam ini akan datang ke tanah timur.
"Uta!"
"Lingga!"
__ADS_1
Keduanya berbicara santai bahasa timur yang semakin membuat Zea ingin segera membedah otaknya karena tak mengerti. Belum ia selesai dengan pr bahasa timurnya, Zea langsung menoleh pada suara musik yang kini menggema memancing perhatian.
Segerombol lelaki berpakaian campur lengkap dengan hiasan bulu di kepala dan goresan putih di wajah. Musik bernada khas tanah timur itu mengalun beserta para penari lelaki yang membawa *Tifa, Yi, Pikon, Paar dan Kee, Kerombi dan Triton*.
Mereka menari dengan gerakan khas tarian tradisional tanah timur di remix dengan gerakan para prajurit, melihat diantara mereka pun ada beberapa prajurit berpakaian loreng ikut menyambut. Awalnya Zea merasa musik ini bernafaskan penyemangat bagi prajurit yang akan pergi ke medan perang, agak sedikit bikin merinding namun selanjutnya ia dibawa ke dalam suasana ceria.
"Sagara, nara gerotelo, bung?" seorang lelaki yang mungkin seusia Saga menghampiri.
"Lukas, baik....baik alhamdulillah." keduanya saling berjabat tangan dan berpelukan.
"Ale pu maitua, cantik ha..."
"Nona, Onomi Fokha..." sapanya menyambut Zea, dengan senyuma lebar nan manisnya ia berbisik pada Saga, "dia bilang Ze cantik ya bang?" alisnya naik turun.
\*\**O syen ( oh Tuhan*)
*Yau Yeidu, Etawari (aku merindukan rumah*)
*Etawari, to nu we ebabanai (rumah, dimana aku tumbuh besar*)
*Kemanapun mereka pergi, mereka akan selalu diterima di tanah timur, tempat mereka pulang*.
Seorang perempuan paruh baya menghampiri dan menyambut keluarga ini terutama Saga dan Zea, sontak saja putri menteri ini hanya bisa melongo kebingungan, ketika perempuan atau mama tua itu mengalungkan karangan bunga serta mencipratkan air ke wajahnya, memoleskan bubur beras di dahi Zea sebagai tanda jika ia adalah anggota keluarga tanah timur, untung saja lalat ngga masuk dan bikin sarang di mulutnya.
Lagu tradisional dinyanyikan bersama bak pesta api unggun di bawah terang bulan, Sagara bahkan ditarik Lukas untuk ikut menari. Zea sampai mendongakan kepalanya ke atas, dimana langit cerah bahkan terik menjadi payung nusantara bagian timur ini, "ini ngga akan ada hujan badai kan? Apa sekarang lagi terang bulan ya?"
Meski tak seluwes dirinya, namun di luar dugaan ia ikut bergabung dengan mereka, bikin Zea mati berdiri saat itu juga karena terkejut.
__ADS_1
"OMG...itu laki gue bukan sii? Unbelievable!" Zea bahkan tak bisa menaikan kembali rahang yang terlanjur turun, sepertinya baut engsel rahang Zea mendadak copot saking terkejutnya dan jatuh entah kemana.
Zea cengar cengir sepanjang jalan menuju rumah persinggahan di pangkalan militer itu, "Ze kaget loh, sumpah! Abang nari-nari gitu, kaya apaaa ya?!"
Saga melirik Zea, "kaya apa? Memangnya kamu ngga pernah liat tentara joget? Asal kamu tau, jogetnya tentara itu lebih kompak dari tim dance manapun."
Memang tak diragukan lagi kekompakan mereka, hanya saja...Pftttt! Zea tertawa.
"Tentara manusia, dek. Bukan robot," tambah Saga.
"Terus yang bilang boneka siapa?" Zea kembali meledakan tawanya.
Tak harus menyewa hotel, banyak pihak yang menawarkan rumahnya untuk tempat mereka bermalam sementara saat berada disini, namun Al Fath lebih memilih menerima tawaran penggantinya disana.
"Apa kabar jendral?"
"Sudah lama kami menunggu, bagaimana perjalanannya?"
Kembali mereka beramah tamah disana.
Zea memilih keluar dari ruang tamu dan menyusuri halaman serta teras sampai ke halaman belakang, jujur saja, ia tak bisa berlama-lama duduk mengobrol apalagi jika lawan bicaranya orang-orang tua dengan obrolan serius, bikin pan tat gatal dan mata ngantuk, ia memutuskan meninggalkan kedua mertuanya yang tengah berbincang santai dengan keluarga letnan kolonel Sulaksana.
"Kalingga dimana?" tanya Zea menatap cuaca yang mulai redup dan teduh menjelang sore, diantara rerimbunan dan gemerisik pohon-pohon matoa, ketika tau langkah kaki Saga mengikutinya.
"Paling di rumah Uta. Blok b, asrama prajurit kompi markas. Uta sudah berhasil masuk akademi militer, mungkin juga Lingga nginep di mess Uta malam ini," jawab Sagara.
"Itu pohon apa?" tanya Zea penasaran.
"Matoa. Sepertinya sudah dipanen. Tinggal sisa sedikit buahnya. Dulu, ini rumah dinas abi, abang dan Lingga lahir serta tumbuh disini, dek." Saga seperti sedang menyelami ke waktu lalu, Zea paham, tak akan mudah meninggalkan bayang-bayang tempatnya lahir dan tumbuh, akan selalu teringat jelas tempat dimana ia menggoreskan tinta kehidupan.
"Dulu, umma sama abba sampe kirim taman bermain di bawah situ, buat abang sama Kalingga..." Saga mengeluarkan tangan dari saku celana dan menunjuk area di bawah pohon matoa yang masih berdiri gagah sampai saat ini.
"Really?" Zea melirik, kemudian ia berjalan ke arah yang ditunjuk Saga, dimana kini hanya ada bangku taman dan meja kecil saja tempat berteduh dari teriknya cuaca.
Ia menyenderkan punggung dam merasakan tiupan angin beserta gemerisik daun. Zea memejamkan matanya, bukan tertidur, hanya sedang membayangkan saja bagaimana Saga kecil bermain disini.
Saga mengekor dan berjongkok di depan Zea, ia menyunggingkan senyuman paham apa yang sedang dilakukan Zea.
"Mau ngerasain buah yang sudah bosan abang makan? Tapi sekarang abang kangeni," tanyanya, jelas ia tidak sedang meminta jawaban Zea karena Saga sudah memanjat naik.
.
.
.
.
.
** salah satu lirik lagu, Spirit of Papua.
__ADS_1