Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 51


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," sapa Saga, kedua pasang orangtuanya itu langsung menoleh.


Bukan raut wajah terkejut atau menganga macam ayam sakit yang ditunjukan Fara, namun senyuman hangat untuk Zea, "Eh."


"Bang, anak menteri..." bisik Fara pada Al Fath, benar-benar menempelkan bibirnya di dekat cuping telinga Al Fath, suami jendralnya itu langsung menatap penuh rasa heran, "kenal?"


Fara diam, antara bingung untuk menggeleng atau mengangguk, "disebut kenal banget sih enggak, cuma kenal selewat!" jawabnya langsung menaruh gunting stek di tangannya dan membuka sarung tangan, "Umi tebak, ini Zea Arumi! Anak pak Rewarangga yang rumahnya di ibukota!" sapa Fara menghampiri Saga dan Zea, menginggalkan Al Fath begitu saja.


Zea tersenyum meraih tangan Fara, tak memperdulikan wajah heran Sagara, "assalamu'alaikum bu," sapa Zea sopan.


"Wa'alaikumsalam."


"Wah, ingatan umi sekuat-----" Zea memicing mengingat-ingat, hewan apa kiranya yang memiliki ingatan kuat, mau bilang lumba-lumba takut tersinggung, apalagi mirip mo nyet.


"Lumba-lumba? Mo nyet?" tembak Fara satu pikiran, "berarti dia anak mo nyet!" tunjuknya pada Sagara. Zea meledakan tawanya.


"Umi sudah kenal Zea?" tanya Saga masih belum mengerti dengan interaksi kedua wanita ini.


"Udah, bahkan udah pernah ghibah bareng, ya neng?! Yu masuk!" ajaknya merangkul Zea, "tangan umi bau ee ngga? Soalnya abis ngasih pupuk kandang, tapi ngga apa-apa ya...gimanapun surga mah ada di telapak kaki dan tangan ibu! Bau-bau pun diisep aja!" ujarnya. Kalo cewek sudah bersatu, mereka ngga butuh cowok buat ngikutin.


Al Fath dan Sagara tertinggal di belakang, "bi," sopannya menyalami Al Fath.


"Pasti baru pulang acara kelulusan? Gimana lulus?" tanya Fara membawa Zea masuk ke dalam.


Zea mengangguk, "lulus dong bu, meskipun bukan yang terbaik tapi lumayan lah!" jawabnya enteng mengibas-ngibaskan tangan.


"Kuliah dong?!" tanya Fara, "bi! Mau minta bikinin minum ya, sekalian cemilannya ada tamu!"


"Kuliah bu,"


"Dimana?"


"Universitas di England, bu. Alhamdulillah udah daftar disana," jawab Zea lagi, sedikitnya jawaban itu membuat Fara melirik Sagara. Fara bukan tak mengerti jika kedatangan Zea ke rumahnya bukanlah kebetulan yang tak disengaja, bukan untuk minta sumbangan pembangunan masjid apalagi sumbangan anak yatim, kedatangannya bersama putra sulungnya Sagara adalah tanda perkenalan Saga atas Zea sebagai gadis yang tengah dekat dengannya, inilah jawaban Sagara atas pertanyaan Fara selama ini.


Tentang ijinnya waktu lalu, tentang restunya tempo lalu. Karena belum pernah Saga membawa seorang gadis ke rumah untuk kemudian ia bawa bertemu dengannya dan Al Fath.


"Wooww! Keren--keren!" seru Fara sedikit terlambat. Zea tersenyum sembari melirik sekilas pada Saga, ibu bangga sama aku! Katanya lewat tatapan.


"Gimana luka tembakmu?" tunjuk Al Fath ikut duduk.


"Luka tembak?" tanya Fara menoleh pada Al Fath yang mengangguk, "iya. Kejadian pembajakan kemarin, Zea kena tembak di bagian lengan kiri."


Fara menutup mulutnya dengan tangan, "ya Allah! Masih sakit, gimana bisa gitu?!"


Zea tersenyum, "udah ngga apa-apa, bu, pak. Cuma bekasnya doang..."


"Iya bu, gara-gara Zea katain dia jomblo, eh Zea ditembak! Itu tuh meleset loh, kayanya sih harusnya langsung ke jantung ya. Tapi abang muncul, gagalin tembak menembak si siapa ya namanya, Zea lupa!"


Fara tertawa, "sakit?"


"Apanya?" tanya Zea, "ditembak cowok?"


Fara semakin tertawa dibuatnya, ini obrolan macam apa cobak! Seharusnya kan tegang-tegang mendebarkan, tapi kok jatuhnya ngobrol bareng Zea mirip ia yang ngobrol dengan diri sendiri.


"Kalo waktu ditembak di lengan sakit banget. Ze ngga nyangka ditembak cowok sesakit itu, bu. Sampe berda rah-da rah, roh berasa minggat dari badan."


Seorang ibu paruh baya datang membawa serta 4 cangkir minuman termasuk untuk Zea, "eh, makasih ibu." ucap gadis ini, "ini boleh diminum ngga? Soalnya Zea aus banget!" katanya lagi, Fara yang baru saja akan mempersilahkan Zea minum, justru tertawa karena keduluan si tamu.


Saga menggelengkan kepalanya bak tutup bertemu pancinya, langsung klop.

__ADS_1


"Baru ibu mau tawarin kamu, kamu udah minta duluan."


Zea terkekeh dan menyeruput seraya mengangguk pada Al Fath yang ikut menyilahkannya.


"Emmhh, kok teh disini manis banget sih, bu?!" serunya.


"Masa sih, bibi bikinnya kebanyakan gula apa gimana?" dengan percayanya Fara ikut mencoba teh miliknya.


"Apa karena Zea minumnya sambil mandangin anak ibu, ya?!" lanjut Zea.


Byurrrr!


Fara sampai tersedak dibuatnya, "njirrr!"


"Dek," tegur Al Fath, Saga kini tertawa renyah serenyah wafer seribuan.


Pertemuan ini semakin hangat dan lumer oleh tingkah receh Zea yang apa adanya dan Fara, tanpa harus saling mengerti kedua wanita itu sudah sama-sama memahami satu sama lain.


"Dahhhh! Datang lagi nanti, siapa tau nanti kita jadi bestie!" Fara merasa muda kembali saat bersama Zea, setelah selama ini ia hanya bergaul dengan burung cendrawasih dan kasuari, akhirnya ia merasa seperti terlahir kembali jadi manusia.


Saga mengantarkan Zea dengan mobil milik abinya.


Terlihat rumah mewah papa Rewarangga bermandikan cahaya senja, berdiri gagah diantara deretan rumah mewah lainnya.


Bunyi suara rem tangan ditarik menjadi satu-satunya suara di dalam mobil, ketika mesin mobil berhenti melaju tepat di depan rumah Zea.


"Kapan kamu berangkat ke England?"


"Lusa, bang." Zea menunduk mengulas senyuman getir. Begitu pula Sagara, ingin rasanya ia menyampaikan rasa keberatan namun ia tak bisa menghalangi langkah Zea, kejarlah keinginanmu, Ze ...


"Abang sendiri, kapan mulai masuk asrama?"


Zea kembali melebarkan senyumannya meski bibirnya bergetar sedih.


"Jangan lupa pulang kalo lagi cuti kuliah."


Zea mengangguk cepat, namun bibirnya sudah tak mampu berkata-kata, kenapa disaat keduanya sudah membuka hati satu sama lain, waktu yang dimiliki seakan tak bersisa? Ketika keduanya mulai dekat, ego dalam diri tumbuh tanpa permisi dan memberikan jarak diantara keduanya. Zea dengan segala keinginan menggebunya kuliah di luar negri, dan karir militer Sagara yang tengah menanjak.


"Jaga kondisi disana, karena ngga ada mama sama papa yang bakal urus."


Zea kembali mengangguk cepat dengan bibir yang semakin bergetar menahan isakan. Rasanya ia ingin memuntahkan seluruh isi hati, tapi lidahnya mendadak kelu, persis ditotok pake jurusnya IP MAN.


Saga mengantarkan Zea sampai masuk ke dalam rumah, bahkan ia sempat berbincang dengan papa Rangga dan mama Rieke yang tak kalah welcome terhadapnya.


🍃 Flashback off


Clemira benar-benar memeluk Zea erat, "abang udah tau. Udah ijinin juga, justru abang nyuruh gue buat kejar apa yang gue impikan."


Clemira menggeleng, "tapi gue tau hatinya kecewa."


"Kalo lo ngga bisa ikut anterin gue ngga apa-apa. Gue tau kok, abang juga berangkat lusa." Zea tersenyum diangguki Clemira, "janji, kalo lo bakalan hubungin gue tiap waktu?!" ia menunjukan kelingkingnya pada Zea.


"Gue ngga janji. Gue anak kost disana jadi ngga janji bisa beli kuota tiap saat!" tawanya membuat Clemira mencebik diliputi kekesalan.




Digeretnya koper diantara lantai bandara yang bersih nan kinclong, surat-surat penting termasuk urusan administrasi untuk kuliah sudah terpacking rapi di satu map di dalam koper.

__ADS_1



"Sebulan sekali mami tengok kamu, baik-baik disana." Zea mengangguk.



Zico memeluk adik satu-satunya itu, "nanti gue jemput kalo udah deket-deket hari H." ucapnya.



Zea mengangguk, "sorry mas, Zea ngga bisa ikut di acara lamaran mas Zico sama mbak Kinanti." Jawab Zea.



"Ngga apa-apa, Kinanti ngerti. Jaga kesehatan, belajar yang bener!"



"Titip papi sama mami, pokoknya periode ini, papi ngga boleh jadi menteri lagi, mas!"



"Siap! Papi udah tua, biar nanti gue aja yang gantiin!" kelakarnya langsung dihadiahi cubitan dari adiknya itu.



*Selamat tinggal tanah air, sampai jumpa cinta pertama*!



Zea tak memalingkan sedikit pun wajah dan pandangannya dari keluarga yang mengantarnya sampai ia benar-benar masuk ke dalam antrian penumpang dan hilang dari pandangan sambil berdadah ria.



.


.


.


.


.


Sama halnya dengan Zea, Saga mencangklok tas loreng di punggungnya, "Saga pamit bi, mi...assalamu'alaikum."



"Wa'alaikumsalam."



Langkahnya pasti, sama-sama melangkah untuk masa depan yang gemilang, di usia muda.



"*Good luck*."


Gumam Zea dan Sagara bersamaan di tempat berbeda, dalam keadaan yang sama. Sama-sama berjuang menempuh pendidikan.

__ADS_1


__ADS_2