
Dushhhh!
Duarrr!
Ledakan tak sampai mengenai badan pesawat para perwira terlatih itu, hanya mengepulkan asap merah dan hitam pekat. Pasukan zombie dari pasukan bersenjata darat menyisir di bagian dalam belantara, Al Fath benar-benar memaksimalkan usaha dengan mengerahkan unit pasukan khusus di darat, dan udara.
"Lapor komandan, pihak laut telah siap menambah unit pasukan dan armadanya jika diperlukan..."
Al Fath melipat tangannya di dadha, mendekap sebagian ide dan taktik cemerlang serta hati nuraninya, "detasemen raden joko masih bertugas di pesisir?"
"Siap betul ndan!"
"Biarkan. Biarkan mereka mencari jejak dari dalang penculikan ini. Untuk saat ini, unit yang ada saja kita fokuskan untuk penyelamatan sandera, namun tidak pula lengah dalam pencarian jejak sang otak. Karena disaat gempuran inilah, saat terlemah mereka." Al Fath menggerus udara di kepalannya seolah dengan rencananya ini ia tengah mere mas para pembajak itu di tangan.
"Siap ndan!"
Ankara yang sempat mendapatkan hukuman akibat dari kelalaiannya terpaksa diturunkan kembali, karena skadronnya lah yang memiliki jam terbang dan kemampuan cukup baik diantara detasemen lain.
"Saya tau track record kamu kemarin. Jangan kecewakan negara kali ini!" ujar komandan di kesatuannya. Al Fath menatap kelam junior yang jelas jauh di bawahnya itu, meskipun tak tau jika nyatanya junior yang berulah itu telah mencolek Sagara secara tidak profesional.
Kalaupun tau, ia tak akan ambil sikap persis ayam sayur, baginya urusan Sagara tidak ada sangkut pautnya dengan jabatan atau mandatnya. Di dalam kesatuan ia dan Sagara murni hanya sebagai senior dan junior.
"Siap ndan!" ia menghormat dengan postur tegapnya, ingin terlihat seperti prajurit sejati di depan para jendral militer negri itu, kemudian ia pergi dari ruangan.
"Siapa?" tanya Al Fath.
"Prajurit berpangkat kapten, ndan. Putra dari komandan Surya Praja..." jawabnya pada Al Fath, "oh."
Ankara bertemu dengan Tama di pangkalan saat hendak briefing, mereka berjabat tangan.
"Lettu Tama?"
"Siap. Kapten Anka?"
"Semoga bisa bekerja sama..." ucap Ankara, Tama mengulas senyuman lebar, meski dalam hatinya ragu. *Really*?
"Siap kapten," tukasnya biar cepat.
Sagara melesatkan berondongan tembakannya ke arah belantara.
"Rajawali come in, amunisi peluru hampir habis, meminta status..." suara yang terhubung dari intercom masuk ke dalam pendengaran Sagara.
"Dicopy Rajawali, tetap on position hingga markas memerintahkan status baru..." jawab Sagara.
"Mengerti."
"Mamposs lo bangsathhh!" umpat mereka menembakan rudal dan amunisi peluru secara sembarangan, yang penting mereka berhasil menuntaskan hazrat, amarah, emosinya pada negara. Negara yang seharusnya memberikan lapangan pekerjaan bagi mereka warganya, negara yang seharusnya mensejahterakan rakyatnya sesuai pedoman yang selalu mereka junjung tinggi di setiap langkahnya. Negara yang seharusnya memberikan rasa aman, mengayomi bukannya menjadi penghalang kesuksesan mereka dan langkah mencari sebutir nasi.
Balada bantuan akhirnya datang, Tama langsung terhubung dengan Sagara, "Brown falcon come in, skadron Delta dan Alpha siap bergabung," ucapnya.
Skadronnya dan Anka kini bergabung menggantikan posisi personel yang ditarik mundur karena bahan bakar dan amunisi peluru.
"Siap, ndan."
Sagara melihat amunisi pelurunya yang masih tersisa, ia memilih masih berada di lapangan saat ini, berusaha memaksimalkan usaha dan tak akan mundur lagi kedua kalinya dalam menggapai Zea serta Clemira, apalagi komando ini langsung dari ayahnya, kepercayaan yang tak boleh disia-siakan.
"Red Crow come in, blue eagle diijinkan mundur!" ucapnya membuat Sagara bahkan Tama mengernyitkan alis.
"Siap maaf kapt. status blue eagle sesuai SOP dari komandan panglima, tidak menerima perintah yang tidak di briefing..." balas Sagara.
Ankara menggertakan giginya, masih saja bertindak egois disaat-saat seperti ini. Sementara di bawah sana serbuan tembakan masih menyerang lapisan langit bumi pertiwi, entah seberapa banyak amunisi yang mereka miliki yang jelas tak ada gencatan senjata sedikit pun yang terjadi diantara mereka. Sagara memutar pesawatnya hingga membuat gerakan vertical dan memutar di udara demi menghindari serangan.
__ADS_1
Zea dapat melihat kekacauan disini, ia ditarik oleh Ajay untuk mengikutinya pergi, "mau kemana kita?" tanya nya seperti dora, apakah perlu Zea bertanya pada peta, atau justru si Ajay ini adalah boots?
"Pergi, kenapa? Nona tak suka? Mau menonjok wajah sa seperti nona menonjok Todi?" Zea menatapnya penuh dengki. Seiring teman-temannya yang di giring keluar dari ruangan macam orang kena razia obat terlarang, Dina bahkan di dorong dengan senjata.
Pandangan Zea jatuh lagi ke arah pintu, dimana kini ia melihat gadis-gadis yang mungkin seumuran atau lebih tua sedikit darinya keluar tanpa paksaan.
"Kau lihat nona," tunjuk Ajay diantara suara bising tembakan di sekitar mereka.
"Mereka...dengan senang hati menyerahkan diri untuk bekerja demi sesuap nasi keluarga di rumah...hidup itu memang tak ada pilihan, ingin menjadi apa....pilihan hanya untuk orang-orang seperti nona, enteng bicara....saya benci." ujar Ajay, terlihat jelas mereka pun memasang tampang kebingungan dan syok mendengar hujan tembakan disini.
Beberapanya bahkan bertanya ada apa, namun dengan santainya para penjahat itu berkata ini hanyalah bentuk pelepasan dan perlindungan mereka dari negara yang menentang pekerjaan mereka karena belum memiliki ijin usaha dari negara.
"Karena mereka tak tau telah kalian tipu, mereka tak tau telah kalian perdaya, setan!" umpat Zea menghardik.
Ajay menggertakan rahangnya kuat-kuat dan menunjuk wajah Zea, "jaga ucapanmu, nona. Kalau tak mau kurobek mulutmu!"
"Jay! Lapor!" ia berlari dengan nafas tersengal, peluh yang mengucur menandakan jika ia cukup kewalahan mengatasi gempuran demi gempuran pihak militer.
Zea dan Ajay menoleh, "ada apa?"
"Ring 1 telah luluh lantah, pasukan bermobil amfibi menembus medan terjal sana...mereka pun banyak yang terluka dan mati karena serangan udara,"
Wajah Ajay berubah keruh, sementara Zea menyunggingkan senyumnya. Sadar akan senyuman mengusik jiwa itu, Ajay segera beranjak meminta mereka mempercepat transfer manusia, "jangan dulu tersenyum, nona. Karena ini terakhir kalinya nona melihat tanah bumi pertiwi..."
Melihat kelengahan Ajay dan kesibukan para anak buahnya, Zea melihat ke arah teman-temannya termasuk Clemira, ia mengangguk dan memberikan kode arahan untuk secepatnya kabur.
Zea menampar wajah Ajay sekeras yang ia bisa, "selama gue masih bisa bernafas, maka tak ada manusia yang boleh menentukan kemana nasibku akan membawa, terkhusus iblis macam lo!"
Dalam sekali hentakan ia menghempaskan tangan Ajay yang sempat melonggar karena tamparan kecilnya, seketika teman-temannya berlarian membuat kacau suasana disana.
Para gadis itu berlarian tak tentu arah berusaha menjauh, tangan Dina kembali tertangkap sementara yang lain mencari perlindungan di balik pohon.
"Anj inkkk!" Ajay mengejar Zea, karena memang Zea lah yang mereka butuhkan, dorr! Dorr! Tembakan dimuntahkan oleh senapan milik Ajay demi meredakan kekacauan, tapi bukannya mereda mereka malah semakin berlarian bersembunyi.
"Dina, Ze!" teriak Clemira.
Zea berlari menghindari tembakan peluru yang dilesatkan para penjahat itu secara sembarang ke atas, bermaksud memberikan peringatan pada gadis-gadis itu.
Ia melompat ke arah Ruri dan menyarangkan pukulan-pukulan telak agar Dina bisa terlepas dari cengkaramannya.
"Ze, ayo!"
"Guys! Militer semakin deket, kita juga harus mendekat!" teriak Zea.
"Ze! Tolongin gue! Aaaa!" Risa, Mira, dan beberapanya tertangkap kembali oleh Todi dan kawan-kawan.
"Ze, buru!" Clemira mengajak Zea berlari bersama dengan Dina, demi menjauhi kekacauan disana.
Suasana chaos dan kacau semakin menjadi ketika pasukan udara berhasil memborbardir pertahanan di ring 2, Ajay.
Belum lagi, Rayyan dan kawan-kawan yang mengendus setiap markas dari Ajay dan melaporkannya pada pusat, semakin membuat pasukan mereka berkurang.
Al Fath menyunggingkan senyuman disana melihat adik playboynya yang masih setangguh dulu, Rayyan memang selalu dapat diandalkan, "lapor ndan, detasemen Raden Joko telah berhasil melumpuhkan markas C di dekat tepian hutan bakau. Diduga itu adalah transportasi Ajay cs untuk membawa para korban ke luar..."
__ADS_1
Al Fath mengangguk sekali tanda paham.
"Bos, masuk! Bos!" Ajay berusaha berkomunikasi dengan atasannya sembari menangkap para gadis itu satu persatu lagi, menghentikan kekacauan yang ditimbulkan Zea.
Tuut...tuut...tuut....
Tak ada jawaban, "Setan!" Ajay mencebik, giliran sudah begini yang diatas seakan cuci tangan.
"Bang sathhh! Kejar anak menteri itu, dan ikat yang lain! Tutup kepala mereka, agar tak berontak, hubungi Duta, untuk mengetahui situasi pesisir!" Ajay dan kawan-kawan berhasil menangkap kembali beberapa teman Zea.
Zea masih berusaha berlari menembus belantara dengan kibasan tangannya di dalam kejaran para penjahat itu, tak peduli tangannya tergores atau terluka, sesekali ia dan Dina terjatuh namun kembali bangkit. Rasa sesak dan panas di dadha tak menjadi penghalang untuk mereka berlari sejauh mungkin. Kaki-kaki terbungkus sepatu putih itu menjejaki medan berlumpur dan berbatu, Clemira bahkan sampai terpeleset jauh karena kontur jalan menurun dan curam, serta licin karena air embun dari dedaunan.
Sreeeettttt!
"Cle!" Zea dan Dina mengerem langkahnya, Clemira mencoba menggapai sesuatu untuk menghentikan laju pan tat yang meluncur di tanah hingga ia meraih batang pohon yang cukup kasar dan besar setelah sebelumnya ia meraih dahan-dahan kecil yang malah tercabut akibat tak kuat menahan beban tubuh Clemira serta kecepatan ia meluncur.
"Gue ok! Gue oke," jawabnya dengan nafas tersengal, baginya yang memang besar di lingkungan militer, hal ini sudah biasa ia temui di puslatpur ketika menemani om-om nya berlatih.
"Hey nona!!!" Dorrr!
Teriak mereka, Zea menarik Dina untuk ikut merosot turun menyusul Clemira, "turun....turun Na!" ia bergegas menjatuhkan diri dengan perlahan namun pasti.
Sreetttttt!
Zea sampai tak bisa merasakan lagi rasa sakit itu seperti apa, ataukah lelah itu seperti apa saking besarnya rasa takut yang ia rasakan.
Si alnya ia merosot lebih jauh dari Clemira menuju dasar tanah paling rendah.
"Be go," kekeh Clemira, "raih pohon peak..."
Zea malah berguling-guling tak karuan, "awww njirr ih sakit," keluhnya.
Dina berada di bawah kaki Clemira berpegangan pada sebuah akar pohon besar, "besok lulus sekolah, gue mau daftar akmil aja lah. Biar bisa survive. Kalo ada kejadian beginian lagi," ujarnya.
"Ze, lo oke?" tanya Cle.
"Oke apaan, gue udah kaya kambing guling gini, gelindingan di tanah..." jawabnya meringis, terbaring di tanah.
Dorrr!
Suara itu terdengar masih dekat di telinga, teriakan kasar masih menggema di pendengaran mereka, sejenak Clemira, Dina serta Zea diam.
Zea bangkit dan bersembunyi diantara semak belukar, Dina memerosotkan dirinya turun dan ikut bersembunyi, sementara Clemira ia lebih memilih menempel dan menarik tetumbuhan untuk menutupi diri, mengingat tak akan sempat ia untuk turun.
"Si alan, dimana mereka?!" Clemira sedikit mendongak melihat para penjahat itu beberapa meter diatasnya.
Salah satunya menjatuhkan pandangan pada dedaunan dan tanah yang seperti terlewati sesuatu yang besar dan meluncur ke bawah.
"Tod, lihat...." tunjuknya, Clemira melotot dibuatnya, ia lupa dengan jejak bekasnya terpeleset dan meluncur.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.