
Baru kali ini, anak cucu Ananta dapat berkumpul bersama, di acara orang pula. Bukan acara sendiri.
Zahra sudah memijit keningnya pening, mendadak bumi berputar kaya gasing tengkorak. Dunia Zahra semakin dibuat meriah dengan kenakalan remaja ala kedua putranya.
Jika ada dongeng anak kecil yang tepat menggambarkan penjabaran Sagara, mungkin ia cocok dengan sosok Marry si penggembala domba, dengan para adik sepupunya yang ia gembalakan bak domba-domba kecil nakal, terutama Russel, Ryu dan Clemira.
"Pokoknya bunda ngga mau ada kejadian begini lagi, kalo sampe begini lagi...udah! Bunda serahin kalian berdua sama abi Fath atau abi Ray!"
Dewa melirik ke arah Zahra seraya membawa mobil mengikuti mobil Fath, "sabar dikit, sayang." rayunya pada sang istri yang memang jika dibandingkan dengannya Zahra terkesan lebih tegas pada kedua putra kembarnya itu, maklumlah satu frekuensi, Dewa pernah merasakan berada di posisi anak-anaknya itu.
Sagara tak banyak berkomentar, ia hanya duduk sambil memperhatikan jalanan di luar, dibilang kesal? Ia sudah sering dibuat kesal oleh adik sepupu kembarnya itu, bukan...bukan hanya Russel dan Ryu saja, Panji pernah, Clemira sedikit intens, dan Kalingga? Zero percent, gen abi Fath mengalir deras di da rah kedua putranya. Itu kenapa, uminya selalu bilang kalo di rumah terlampau sepi.
Mobil memang sedikit berisik karena Zahra yang sejak tadi memberikan ceramah 7 hari 7 malamnya pada Russel dan Ryu, mirip acara dangdutan kawinan yang tak beres-beres, namun hati dan pikiran Saga sejak tadi larut dalam kegelisahan ucapan Zea saat terakhir ia meninggalkannya karena tugas kemarin.
Apakah gadis itu masih marah padanya?
Ataukah Zea berniat berpaling?
Hingga tak sadar mobil sudah memasuki gedung acara, dan rombongan Rayyan sudah menunggu disana.
Si kembar yang berambut harajuku tak karuan itu turun, meskipun terkesan acak-acakan namun sisi gahar nan tampan campuran Zahra dan Dewa jelas mendominasi di wajah mereka.
"Kalian bikin ulah apa lagi, Russ, Ryu?" tanya Fath.
"Engga, bi. Justru kita berdua lagi bakti sosial di Shangri-La." jawab Russel berkilah.
Clemira dan beberapanya tertawa, kecuali Saga, Kalingga, dan Zahra.
"Bakti sosial kalian bilang?!!!" Zahra sudah melepas sepatu hak tingginya untuk ia sumpalkan ke mulut putra pertamanya Russel.
"Eits, sayang--sayang...jangan mode barongsai disini," Dewa menahan istrinya yang sudah bersiap mengamuk.
"Bakti sosial ingus lo!" hardik Panji.
"Mana ada bakti sosial gebukin orang," timpal Clemira.
Kalingga mengehkeh, ia yang baru sampai ibukota 3 hari yang lalu itu langsung diajak kondangan begini, padahal ia sudah menolak mateng-mateng ajakan uminya namun keluarganya memaksa, dengan dalih keluarga yang mengundang adalah orang penting. Ia hanya malu saja, ke kondangan tapi mirip tamasya, rombongan begini.
"Iya, bakti sosial. Ngepelin lantai Shangri-La pake baju orang plus orangnya di dalemnya.." balas Ryu.
Kalingga menggelengkan kepalanya, "udah tau abang lo geret-geret orang sampe babak belur, lo bukannya misahin malah nontonin!"
"Ah, ngapain juga! Ntar gue yang kena pukul. Lagian buat apa ada satpam, kalo ujungnya gue juga yang mesti misahin. Tuh satpam makan gaji buta dong!" jawab Ryu bertos ria dengan Russel seolah itu adalah hal paling keren di dunia. Zahra sudah gemas dan menggigit kuku jempolnya sendiri dengan kelakuan kedua putranya itu, "sshhhh, huffft! Inhale...exhale!"
__ADS_1
Fara tertawa tergelak, "haduh ampun."
"Ya udah yu masuk, udah telat kayanya!" ajak Eyi mengacak rambut Ryu.
Sagara tak terdistrack dengan obrolan keluarganya itu, ia lebih memilih mengedarkan pandangan ke arah sekeliling area gedung, netranya tertumbuk pada seorang pagar ayu yang wajahnya keruh nan jelek, diantara para tamu undangan yang berjalan dan duduk si kursi, hanya ia yang duduk di pinggiran gedung persis peminta-minta, senyumnya tersungging menemukan Zea sedang sendirian disana.
"Mi, bi...duluan aja ke dalem. Saga ada perlu sebentar."
"Eh, kok gitu. Mau kemana? Ketemu kenalan?" tanya Fara diangguki Sagara biar cepat.
"Oke deh. Kita duluan." Jawab Rayyan, mereka masuk dikawal beberapa ajudan dari staf kemiliteran mengingat jabatan Rayyan dan Al Fath. Sementara Sagara melangkah berbeda arah ke samping gedung.
Zea tak memiliki kerjaan lain, selain dari meniup-niup bagian rambut depan yang jelas-jelas diberi hairspray sehingga ia tak goyah oleh tiupan Zea.
"Cewek aneh. Abang sangsi, kamu di England punya temen..." ucapnya menghampiri Zea dan duduk di samping gadis itu, bukan di kursi namun di undakan lantai teras gedung.
Sagara mendaratkan pandangan pada punggung Zea yang terekspos karena kain tile tembus pandang, punggung yang tidak mulus. Benar kata mama Rieke, Zea bertatto, namun hatinya terusik tatkala menemukan tatto Zea bertuliskan waterearth dengan font indah yang berarti Bumi dan air, apakah itu namanya? Bumi Sagara?
Zea langsung memalingkan punggungnya dari pandangan Saga seolah tak ingin Saga melihatnya, "cuma temporer. 3 harian lagi juga ilang."
"Bumi Sagara, am i wrong?" tanya Saga terkekeh bangga.
"Bukan!" sengit Zea, "water...earth, tanah air!" sengaknya lagi, dan meledaklah tawa Sagara, "katanya ngekost di England tapi bahasa nusantaranya bagus!" cibirnya.
"Ngapain kamu kesini, kalo cuma mau ngehina orang, mendingan pergi sana. Atau cuma mau ikut makan doang?! Lagian ngapain ngukir nama orang yang jarang ngasih kabar, atau jangan-jangan disini udah punya seseorang yang baru..." kesalnya dengan wajah menyembunyikan rasa marah dan malu.
"Ck!" decaknya.
Sagara menyunggingkan senyumannya, "masih marah?"
"Abang ngga mau minta maaf gitu?" tanya Zea kini mau memandang Sagara.
"Untuk? Apa abang punya salah sama Zea?" tanya Saga.
Alis Zea mengernyit, "abang ngga ngerasa salah gitu?" tanya nya tak percaya setengah dongkol.
Sagara terkekeh sumbang, "abang bukan tipe manusia sombong, Ze. Yang mahal untuk meminta maaf, tapi abang pun bukan orang yang rendah diri dengan mau-maunya minta maaf jika tidak salah. Coba bilang sama abang, salah abang dimana, barangkali abang lupa?" tanya Sagara kini mencecar Zea seraya sorot mata yang menangkap netra Zea agar tak kabur-kaburan.
Entah kenapa, seketika Zea lupa caranya melawan atau berkilah. Tapi memang ia pun kebingungan untuk menjelaskan salah Sagara dimana, apakah memang dirinya yang terlalu egois, ia tau pekerjaan yang ia jalani bukanlah sebuah pilihan hanya saja Zea masih belum bisa menerima jika dirinya harus menjadi yang kedua.
"Ze. Abang rasa, hubungan yang kita jalani ini kurang menguntungkan baik untuk kamu ataupun untuk abang. Sulit untuk kamu memahami abang ataupun abang memberikan pemahaman buat kita dalam jarak yang jauh begini. Akan selalu ada pikiran negatif baik di pikiran abang ataupun pikiran kamu," jeda Sagara.
"Terus maksud abang?" Zea sudah mulai gelisah dengan maksud yang diucapkan Sagara, bau-baunya lelaki itu akan mengakhiri hubungan keduanya.
__ADS_1
.
.
.
"Menikahlah denganku, jadilah istri prajuritku..." pinta Saga, roh itu seakan keluar dari badannya, dan menari-nari bersama para bidadara surga!
"Kalaupun kamu masih mau mengejar mimpi di luar negri, abang ngga akan melarang. Kalau kamu bisa mengikhlaskan abang bertugas, abang juga pasti bisa meridoi jalan kamu menimba ilmu." Tawaran Saga semakin meluruhkan benteng hati Zea.
Mendadak suara berisik dangdut, keroncongan, dan alat musik di dalam jadi senyap untuk Zea dan Sagara, suara hati mengalun seiring degupan jantung yang cepat membuat da rah berdesir dan hawa panas mengalir di sekujur tubuh, memancing keringat untuk keluar, bukan hanya keringat namub air mata pun.
"Udah gue bilang, ngambil dulu zupa-zupa!"
"Gue maunya siomay dimsum!"
Suara-suara sumbang nan bising datang menjadi pengganggu suasana, bukan hanya satu tapi setan pengganggu cukup bikin Sagara berdecak kesal.
"Bang, ngapain disono?! Pacaran mulu!"
"Ini pacar bang Saga?! Cielahhhhh! Kal, bentar lagi lo bakalan punya kakak ipar, ntar lo direbus!"
"Itu kakak ipar apa ibu tiri?" tanya Kalingga, "korban sinetron lo!" toyornya di kepala Russel.
Clemira tertawa akan kelakuan para sepupunya itu.
Panji duduk paling pertama di samping Sagara dengan piring pasta dan salad.
"Ini??" Zea menunjuk satu persatu bocah-bocah yang hampir seumuran itu, dan kesemuanya lelaki kecuali Cle, jika Panji dan Clemira jelas ia tau.
"Busettt, cantik! Hay cantik!" Russel menyodorkan tangannya pada Zea.
"Sopan dikit be go!" tawa Panji mendorong kembali pundak putra pertama Cut Zahra dan Dewa itu.
"Milah...kenalin, inilah adek-adek abang Sagara! Ntar kalo lo merit sama abangggg, lo bukan lagi bungsu, adek lo banyak!" tawa Clemira puas melihat wajah terkejut setengah syok Zea.
Kalingga tertawa, "adek ipar modelan setan budeg!"
.
.
.
__ADS_1
.
.