
Zea pamit duluan ketika Fara memilih masuk kembali ke dalam toilet. Belum sempat mereka bertemu, mama Rieke memaksa untuk pulang. Sayang sekali, padahal udah sempet mules, sempet dandan, touch up--touch up buat ketemu ibu Saga tapi mama Rieke mendadak kangen rumah, takut rumah digondol kucing katanya. Mulesnya jadi mubadzir deh!
Meski cukup kecewa tak dapat melihat ibu Saga, Zea akhirnya menurut karena rasa lelah pula yang mendera tubuhnya, setelah beberapa hari ke belakang ia sangat kurang istirahat.
"Loh, tadi bukannya ada...." Fara celingukan mencari Zea dan ibunya ketika bergabung.
Pantas saja pandangannya berasa luas karena di dekat Eyi kini hanya ada Clemira dan Risa saja, sementara pengunjung bandara lain ia anggap seperti debu yang lewat.
"Umi!" Clemira langsung salim takzim, ia ikut kebingungan melihat Fara yang seolah mencari seseorang, "umi cari siapa?"
"Kak," Eyi ikut cipika--cipiki pada Fara.
"Tadi bukannya kamu lagi ngobrol sama istrinya menteri?" tanya Fara pada Eyi.
"Oh, bu Rewarangga? Udah balik barusan." jawab Eyi.
"Yahhh, umi! Kemana aja sih, tadi ada yang pengen ketemu banget sama umi, temen Cle!" dengusnya kecewa. Fara pun ikut berseru kecewa, "yaahhh, sia-sia dong mulesnya umi, moy... Padahal udah ngarep salam tempel nih, dari bu menteri...kali aja ye kann!"
Eyi tertawa mendengarnya, "udah kaya, masih aja ngarep salam tempel!"
"Umi mules? Kenapa, masuk angin?" tanya Clemira digelengi Fara, "ngga apa-apa."
"Ya udah kita balik yuk!"
"Yuk!" ajak Fara, sambil terus mengingat pertemuannya dengan Zea, terkesan singkat tapi cukup bikin geleng-geleng kepala, langkahnya terhenti barang sekejap,"eh tunggu deh. Katanya anak itu kan mau ketemu ibu pacarnya?!" Fara mengerutkan dahinya jadi berlipat-lipat persis dosa fitnah.
"Umi, kenapa?" tanya Clemira.
"Engga." gelengnya, meneruskan langkah.
Seminggu setelah kepulangan mereka, Desta X diundang secara khusus dalam jamuan makan oleh staf kepresidenan atas perintah orang nomor satu di negara ini.
Zea masih memakai kebaya bernuansa salemnya dan menyilangkan kaki dalam perjalanan pulang, "mampir dulu ke toko buku, ya pak!" pintanya pada pak Cokro.
"Iya non."
Tanpa banyak bertanya pak Cokro membawa mobil melesat membelah jalanan ibukota, di sore hari ke arah pertokoan pusat kota. Ekspektasinya sih kepengen kaya mobil-mobil balapan liar di film-film luar, tapi nyatanya di ibukota ini sulit untuk melaju di atas 40 km/jam. Jatohnya mirip mobil iring-iringan pengantin, karena kondisi macet.
Tatapan Zea jatuh pada layar ponselnya sejak tadi, ia mengusap layar itu dengan jempolnya meski tak membuatnya jadi bersih kinclong.
Sejak kepulangannya dari belantara, Sagara hanya menghubunginya beberapa kali saja. Sekedar bertanya kabar dan kapan ujian, hingga pikiran Zea kembali hanyut ke dalam kebimbangan. Otaknya masih belum menemukan kemana kaki akan melangkahkan arah memilih fakultas terbaik disini, karena sejak dulu planingnya adalah berkuliah di luar negri, hatinya masih tertaut pada kampus-kampus impiannya di negri orang.
Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya dan ia cukup terkejut itu adalah pesan dari Sagara.
*Bisa ketemu*?
Hati berdebar itu kembali menyerang saraf pembuluh da rahnya dan memompa laju da rah ke arah jantung hingga menghasilkan perasaan berdesir dan hangat.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Euforia hari kelulusan begitu kental menyelimuti Kartika X.
...***Selamat Atas kelulusan Angkatan 202X -202X***...
Para muda-mudi berpakaian kebaya dan jas memenuhi satu sekolah yang disulap jadi ballroom acara kelulusan. Karangan bunga berjejer menggemakan rasa syukur atas lulusnya lebih dari seratus siswa tahun ini. Berbagai penampilan terbaik ekskul pilihan sekolah mengisi acara hari ini, membuat acara jadi semakin meriah.
Zea begitu cantik dengan balutan kebayanya hari ini, kebaya buatan dalah satu desainer tanah air, tak kalah paripurnanya ketika bertemu dengan orang nomor satu di bumi pertiwi ini bulan lalu.
Namun di tengah euforia itu, Zea merasa ada yang kurang dan hilang, sejak terakhir kali pertemuannya dengan Saga sebulan lalu, dan berpikir berkali-kali sampai otaknya ngebul, kepalanya ikut botak, ia belum siap jika harus menyerahkan diri untuk mengabdi menjadi seorang istri prajurit. Jiwa mudanya masih mau menggapai cita-cita dan impian, berkelana keliling dunia sesuai kemauan. Bahkan formulir pendaftaran di kampus impian sudah diisinya jauh-jauh hari dan ia serahkan secara online pada pihak universitas.
Perjodohannya dengan Ankara pun ia putuskan sepihak, ia rasa pertemuan dan obrolan kedua keluarga belumlah terlalu jauh.
Ia juga tak mau garasak grusuk dan cepat-cepat memilih Saga saat ia baru saja memutuskan perjodohannya dengan Ankara, hanya karena ia takut citra Sagara terbawa buruk di depan Ankara dan komandan Surya Praja, sebagai seorang perebut calon orang.
__ADS_1
"Congrats!" teriak Clemira menyerahkan sebucket bunga untuk Zea. Ia tersadar dari lamunannya dan tersenyum manis menerima bucket bunga lily dan crysant dari sahabatnya itu.
"Tapi gue sedih ih!" Clemira merengutkan bibirnya dengan tetap merangkul pundak Zea, "lo beneran ngga mau mikir-mikir lagi gitu, buat kuliah di dalem negri, bareng gue?" tanya Clemira, nampak cantik dengan kebaya hijaunya.
Zea mengulas senyuman tulus, "udah bayar uang kuliah satu semester, Cle. Lusa gue berangkat ke England." jawab Zea, jujur saja jawabannya itu membuat Clemira sesak untuk bernafas, sahabat selama 3 tahun susah senang bersama bahkan semua hal sudah mereka lakukan bersama sampai hal-hal terjorok sekalipun.
Clemira menghambur memeluk Zea, "gue bakal kangen lo, Milah!"
Zea membalas pelukan itu tak kalah erat, "gue juga." ia meloloskan nafasnya berat, semakin banyak ia bicara, kenapa bayangan bulan lalu saat bersama Saga semakin membuatnya merasa rindu dengannya.
"Abang udah tau, lo udah pamit sama dia?" pertanyaan Clemira itu semakin mempertegas rasa sedih di diri Zea.
🍃 Satu bulan yang lalu
Zea datang ke tempat janjiannya bersama Sagara dengan masih memakai kebaya. Bukan cafe lesehan apalagi rebahan yang dulu pernah Sagara tawarkan, kali ini cafe yang dipilih Saga berletak di rooftop sebuah gedung mall.
Zea terkekeh tanpa suara ketika melihat seorang lelaki tampan di sana, lalu menghampirinya.
Penampilannya sungguh tak cocok dengan cafe yang dipesan, Zea mendengus geli. Stelan trening dan jaket kesatuan, oh ayolah!
Sungguh ironis...gaji prajuritnya ia pakai untuk makan di tempat ini, apakah besok Sagara bakalan ngutang di warteg buat makan siang?
"Abang mau olahraga, pake begituan?" cibir Zea.
"Abang yakin kita mau jajan disini?" tanya Zea setengah mencibir.
"Kalo nanti uangnya kurang, kamu abang jaminkan sama manager cafe." Jawab Saga enteng, sontak Zea mencibir halus, "enak aja. Abang jaminin aja kartu tanda anggota abang."
"Abang mau pendidikan kenaikan jabatan, Ze. Kurang lebih 6 bulan," tembak Saga langsung menyampaikan maksud dan tujuannya.
Seketika wajah ceria itu merengut kisut kaya kerupuk kena air, "terus, Zea ditinggal gitu?! Jahat!"
Saga tersenyum geli melihat wajah keruh Zea yang mirip kingkong ngeden, "biar kamunya juga fokus ujian."
"Ujian cuma seminggu bang, pendidikan abang 6 bulan. Keburu nene-nene Zea'nya! Ubanan deh!" jawabnya berlebihan, "kalo nanem jagung, Zea udah dua kali panen tuh, nungguin abang!"
"Lumayan dong, buat modal halalin di KUA," kelakar Sagara.
Zea mencebik dan duduk, langsung meraih gelas berisi jus yang telah dipesan oleh Saga sebelumnya untuk Zea, kan sayang kalo ngga diminum, udah mahal-mahal dibeliin.
Zea meloloskan nafasnya berat lalu menunduk, "bang. Zea juga ada sesuatu yang pengen disampein," ia membuat bulatan-bulatan kecil di meja dengan air dari gelas yang mengembun, berharap itu bisa mengurai rasa gugup dan khawatirnya.
"Apa?" Saga ikut menyambar gelas dan meminum jus miliknya.
"Zea pengen kuliah di LN, bang. Seperti cita-cita Zea sejak dulu. Di kampus impian yang Zea mau sejak jaman Ze masih smp." Ucapan Zea menghentikan sedotan mulut Sagara, rasanya jus yang ia minum itu nyangkut di tenggorokan karena kerongkongannya mendadak kering kerontang. Betapa tidak, 4 tahun ia harus menunda niatan baiknya jika Zea jadi mengambil kuliah di luar negri.
Namun sedetik kemudian Sagara mengingat apa yang dikatakan abinya waktu lalu, tentang pendidikan Zea.
__ADS_1
Ia mengulas senyuman terpaksa, "boleh. Jangan jadikan hubungan kita penghalang buat kita meraih kesuksesan dan cita-cita masing-masing." Sagara hanya sedang berusaha meyakinkan Zea, jika menikah dengan seorang prajurit bukanlah halangannya untuk meraih cita-cita, apalagi hal si al.
Bukannya memeluk Sagara karena senang, Zea malah mencebik dan memicingkan matanya, "gampang banget abang lepas Zea. Ngga akan kangen gitu bang?! Oh, Zea tau, abang pasti punya cadangan." tembaknya bersuudzon ria.
"Cadangan? Cadangan makanan, cadangan dana, atau cadangan...." belum selesai Saga berkata Zea telah melayangkan pukulannya ke arah Saga, "cadangan air! Cadangan cewek lah! Abang nih, suka pura-pura be go deh."
Saga menyunggingkan senyumnya, tiba-tiba menyarangkan kecupan di kening Zea, karena sejak tadi gadis ini terlihat begitu menggemaskan di matanya, "ketemu umi sama abi sekarang, yuk. Mumpung mereka masih disini..."
"Hah!! Sekarang?!"
Saga mengangguk dan beranjak dari sana, "tapi ini jusnya belum abis, sayang udsh dibayar!" ujar Zea.
Entah dengan kekuatan apa, Saga menyedot jus miliknya yang masih 3/4 gelasnya dalam sekali tarikan, "busett! Bisa gitu?! Pake tenaga apa bang, ilmu apa itu?" serunya membeliak.
"Ilmu sedot da rah perawan, tenaganya tenaga kuda." jawab Sagara.
"Ze, mau belajar bang!" ujar gadis itu.
"Udah yuk balik. Ketemu umi," ajak Sagara.
.
.
Sebuah rumah luas nan besar membuat Zea berdecak kagum, "rumah abang?"
Sagara menggeleng namun mengetuk pagar dan berbicara dengan satpam dan salah satu pria berseragam loreng lengkap di pos satpam.
"Bukan."
"Ih, terus rumah siapa? Mau ngapain disini?" bisik Zea.
Gerbang terbuka menampakan isian halaman yang lapang nan sejuk, serta aesthetic. Sangat kontras dengan motor matic butut yang dipakai Sagara, mendadak turun mesin deh diparkirin di rumah mewah begini!
"Bang," ia membalas hormat si penjaga pos satpam saat memasuki halaman rumah.
Zea sudah seperti bocah cilik yang ngintilin Saga di belakang sambil narik-narik jaket Saga, "kita di rumah siapa? Atasan abang?" berkali-kali Zea bertanya namun hanya ulasan senyuman yang diberikan Sagara.
Terlihat di halaman samping sepasang suami istri tengah mengobrol asik sambil ngurusin tanaman, bukan asik...lebih tepatnya sang suami disewotin sang istri, karena dari nada bicaranya saja si istri udah ngegas greget.
"Maksud Fara ini ditaro di sana, abang....aduhhh! Kalo bukan suami, udah Fara telan jangin nih disini sekarang juga!" ocehnya.
Zea menghentikan kakinya saat melihat sosok Fara, mulutnya menganga seketika persis si encup di serial tv yang be go-be go ngeselin. Ada lalat lewat kunyah!
"Ibu," gumamnya lirih.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1