Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 43


__ADS_3

Zea menunduk tak menjawab apapun, mungkin ragu atau mungkin sariawan? Ia lebih memilih meraup buah dari tangan Sagara dan melihatnya dari jarak dekat di depan matanya, "kaya tomat, tapi kecil...enak ngga sih?" tanya nya berkilah.


Sama halnya Zea, Saga tak menjawab pertanyaan Zea sebagai bentuk pengalihannya. Jelas Zea sedang berusaha menghindarinya, apakah ini? Gadis itu sedang berusaha menjauh atau tengah bimbang?


"Enak...untuk ukuran makanan yang ngga ada makanan lagi selain itu," jawab Dina panjang lebar berbelit-belit kaya ular dari ujung pasar senen sampe ke sarinah balik lagi ke pasar senen, padahal Zea sudah melahapnya dalam sekali lemparan dan merasakan manisnya si buah ciplukan.


Trukk....suara buah itu pecah dalam mulutnya, matanya langsung membeliak, "mmmhhh! Buah banget!"


"Hahaha, saravv njirrr! Iyalah buah, lo pikir ini umbi-umbian!" Clemira mendorong pelan kepala Zea. Sagara hanya menyunggingkan senyumnya melihat interaksi ketiga gadis itu.


Bertahan hidup nyatanya tak semudah kelihatannya, sistah! Dan lebih sulit lagi ketika gelap menyergap awan yang sudah terlalu berat menanggung beban mendung kini menjatuhkan pasukan hujan se-kelurahan.


"Eh hujan ih!" Dina langsung berdiri menempelkan badannya di bawah pohon tempat mereka bernaung. Zea, Clemira dan Sagara mendongak, "hujan air?" tanya Zea terkekeh.


"Ya iyalah, masa hujan golok!" decak Dina.


"Ya lagian, hujan aja heboh. Ini pohon kan gede buat berteduh...." ujar Zea.


Tanpa dikomandoi lagi Sagara bergegas mencari dahan-dahan tinggi dan daun lebar untuk sekedar dijadikan payung berlindung.


"Yah kenapa harus hujan sih!" Clemira mengomel namun tak urung membantu Sagara, sementara tak ada yang bisa dilakukan oleh Zea sekarang selain dari melihat ketiganya saja, terlebih Sagara yang cekatan.


Jika di luar sini ia sedang kehujanan, maka di dalam hatinya sedang terjadi angin kebimbangan yang berkecambuk. Ia baru tau kehidupan prajurit yang sesungguhnya, atau mungkin baru sebagian kecilnya saja. Selama ini, yang ia tau kehidupan prajurit itu ya memang perang, tapi tak pernah tau perang itu seperti apa, tidak seperti dalam game yang ia mainkan jika terluka dan mati maka akan hidup kembali.


"Ze!" ia tersentak kaget ketika Dina dan Clemira sudah menyentakan namanya keras berkali-kali.


"Wah, nih anak beneran kesambet jin penunggu hutan!"


Clemira menarik tangannya yang sebelah dan memintanya berteduh di bawah tenda darurat buatan Saga, sementara si abang itu masih mengikat disana-sini agar tendanya kuat.


Tak ada api unggun yang menghangatkan tubuh untuk sementara ini, benar-benar dingin dan basah.


Tapi anehnya, Dina dan Clemira sudah bisa bersandar diantara gelapnya malam, bukan lagi gelap namun seperti dunia ditelan kegelapan.


Zea dapat merasakan keheningan berteman suara binatang malam, termasuk suara hewan-hewan nocturnal penguasa malam yang membuat bulu kuduk merinding.


"Ini kalo ada anj ing hutan gimana? Kalo ada ular..." gumam Zea berada di tengah-tengah antara Dina dan Clemira.


"Ada abang, kamu tidur aja."

__ADS_1


Zea sontak menoleh ke samping, terhalangi oleh Clemira yang terlelap berbantalkan bahu Saga.


"Kamu masih khawatir dengan nasib rekan-rekanmu disana? Atau luka di lengan kamu, atau khawatir kalau abang bakal nembak kamu?" senyumnya tersungging seolah sedang tertawa sumbang.


"Kamu juga belum jawab pertanyaan abang yang tadi, lebih memilih menghindar," Sagara menyenderkan kepalanya ke belakang hingga kini Zea dapat melihat jakun Saga yang naik turun tengah menelan saliva sulit.


Sagara kini menoleh menatap gadis bermata bening di bawah sinar rembulan dan hamparan bintang itu, mungkin hujan sudah reda berganti keindahan malam sebenarnya.


Kini di mata Zea, ia melihat lelaki berseragam prajurit lengkap dan memiliki tanda kehormatan di beberapa tempat itu sedang bicara dari hatinya.


"Aku ngga tau." Jawabnya singkat, jelas kata ngga tau bukanlah jawaban yang diinginkan Sagara.


"Selama ini, Zea cuma tau sisi luar dari seorang prajurit. Zea tau kalo tugas prajurit itu perang, menjaga kedaulatan negara. Tapi ngga pernah tau kalau tugasnya memang seberat ini, sampai bertaruh nyawa." Zea menjeda ucapannya dan memilih memandang langit malam.


"Setelah berpikir, Zea ngerti bukan maunya kalian terlihat sadis sebagai pencabut nyawa para pemberontak atau perusuh negara. Karena jelas pilihannya hanya ada dua, terbunuh dan dinyatakan gugur atau membunuh jikalau mendesak."


Kini Zea melihat Sagara dengan sorot mata memelas, "apa....kalau setiap tugas perang begini, maka hati ikhlas akan kehilangan harus menjadi nomor 2 setelah do'a? Apa kalau tidak membunuh maka pilihannya adalah terbunuh?" tanya Zea lagi.


"Apa kalau nanti pasangan memiliki kesalahan, maka sikap arogan seperti itu akan terbawa sampai di rumah?" tanya nya serius.


"Apa kalo nanti suatu hari Zea jadi seorang istri prajurit, Zea harus siap ditinggalkan?" Zea mencecar Sagara dengan berbagai pertanyaan.


"Butuh wanita tangguh dengan hati yang lapang untuk menemani seorang prajurit, Ze. Semua pertanyaan kamu, belum bisa abang jawab tanpa menyertakan bukti dan testimoni...kalau kamu mau tau jawabannya, maka...." jedanya.


"Hoammmm!"


Clemira bergerak meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


"Ihhh!" keluh Zea menepis tangan Clemira si perusak suasana. Ibarat kata kalo makan udah tinggal gleserrrr....turun ke perut, ini malah nyangkut di tenggorokan.


"Apa? Pegel Ze..." nyengirnya, sejurus kemudian ia mengernyit melihat bergantian ke arah Zea yang berwajah keruh dan Sagara, "kenapa sih?"


"Lo tuh kaya paku berkarat yang disebar orang di jalan tau ngga, nusuk-nusuk di kaki, ganggu langkah mulus orang yang pake sendal jepit." Perumpamaan yang Zea berikan sungguh tidak keren.


"Suruh siapa pake sendal jepit, jadi ada paku keinjek."


"Bukan itu maksudnya peak.." sewot Zea.


Clemira terkekeh tau maksud temannya itu, "ya udah, gue pura-pura tidur lagi deh..."

__ADS_1


"Ngga usah, gue yang mau tidur!" tukasnya ngegas, dengan segera gadis itu menjadikan bahu Dina sebagai sandaran, "Din," colek Zea membuat Dina membuka matanya sedikit, "apa?"


"Gue pinjem bahu lo buat bersandar ya,"


Dina mengangguk, "ngga pengen yang lebih lebar, Ze?"


"Bahu siapa?" tanya Zea.


"Bahu jalan!" tukas Dina dan Clemira kompak lalu tertawa termasuk Saga.


"Kan si alan, kan!" lengan kanannya langsung melingkari lengan Dina dan bersandar disana mencoba memejamkan matanya.


"Ze," lirih Saga.


"Hm," Zea hanya menjawab dengan gumaman.


"Kalau kamu mau tau jawabannya, maka kita harus coba, Ze."


Kedua kelopak mata yang sudah tertutup itu mendadak terbuka lebar, badan yang sudah ia sandarkan pada Dina kembali tegak, Zea melongo terkejut dibuatnya.


Clemira sendiri menoleh kebingungan dengan maksud ucapan abangnya itu, "apa sih yang dicoba-coba?"


"Ngga ajak-ajak ih! Jahat!" sewot Clemira.


Dina yang setengah sadar setengah mamposs itu sontak terbangun mendengar kata jahat, "hah?! Mana penjahat?! Ngumpet-ngumpet!" ia langsung refleks menunduk di atas tanah dengan posisi sujud melindungi kepalanya.


Zea meringis melihat kedua makhluk yang setengah sadar setengah mimpi itu, "kalo kalian berdua masih ngantuk mendingan tidur deh, daripada gini kan?! Bikin heboh!" omel Zea. Seharusnya ini menjadi moment romantis, tapi kenapa jatohnya jadi mirip sketsa komedi?


Zea melirik Sagara yang melihatnya menunggu jawaban.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2