Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 82


__ADS_3

Belum ia meluruhkan seluruh rasa lelahnya, Zea sudah harus bersiap kembali untuk menghadiri acara pertemuan istri prajurit.


Ia menyambar handuk di jemuran belakang dan pergi mandi, setidaknya bisa menyegarkan badan yang telah lengket setengah hari karena debu jalanan dan penatnya belajar.


Kondisi rumah masih sama seperti saat ia meninggalkannya tadi pagi, "kirain nih rumah berubah jadi istana pas gue balik?!" dengusnya geli masuk kamar.


Diantara baju-baju menggantung adalah pakaian dinas Saga dan dirinya, Zea tertawa tergelak melihat warna merah nyempil di tengah-tengah sebagai pembatas bajunya dan baju Saga.


"Baju dinas malam nih," dengan sengaja ia menggantung pakaian jaring diantara pakaian penting, biar pas Saga buka yang terngiang di otak suaminya itu adalah badannya yang aduhai, cerdas!


Ia menggeser hanger dan meraih pakaian bernuansakan ungu. Pakaian seragam yang saat dikenakan menambah kharismatik seorang wanita.


"Cantik banget gue pake ini, udah kaya gubernur !" ia kembali tertawa dengan kelakarnya sendiri, "pilih saya, nomor 3!" ia berucap seraya mematut diri di depan cermin, "gen papa Rewarangga nih, nempel banget di gue!"


Mungkin Saga harus segera membawa istrinya itu ke rumah sakit jiwa, karena yang Zea lakukan saat ini mirip kelakuan orang yang otaknya kurang secentong, efek lelah ya begini! Ngoceh-ngoceh absurd.


******


Ngga perlu repot-repot makan siang dulu, Zea malas jika makan sendiri. "Ntar aja lah, balik pertemuan." gumamnya menyampirkan tas di pundak kanan lalu mengunci pintu.


Abang, nanti baliknya jangan lupa angkat jemuran.


"Done." Kini Zea bisa pergi dengan tenang, macam almarhumah menuju gedung pertemuan meninggalkan rumah, setelah sebelumnya melirik baju-baju yang tadi pagi ia jemur terlebih dahulu.


"Lama-lama sidik jari gue ilang kebanyakan nyuci seragam abang, nih!" ia melirik sekilas jemari tangan dan dirinya lagi di kaca jendela.


Cantiknya anak papa! Siap ketemu dunia!


Zea tak mau cape-cape berjalan, ia memilih naik motor.



Disana sudah banyak perempuan-perempuan berseragam sama dengan Zea, netranya jatuh pada seorang wanita yang ia sangat kenali. Tengah mengobrol manja dengan istri prajurit lainnya, haha-hihi ngga jelas mirip kuntilanak di atas pohon randu.



"Tante Saga?" sapa seorang wanita muda yang mungkin hampir seumuran dengan Zea, juga memakai seragam yang sama.



Sontak saja Zea menatapnya horor, kurang ajar disebut tante...emangnya gue keliatan banget kaya emaknya lont3!



"Gue?" tunjuknya kebingungan macam orang oon.

__ADS_1



"Zea, nama saya Zea. Istri lettu Sagara. Bukan tante Saga..." ralatnya tak suka dengan panggilan itu, wanita yang satunya sampai tertawa sementara yang baru saja niat berkenalan adalah Rida.



"Saya Ovi, istri dari lettu Fajar. Salam kenal mbak..." ia mengulurkan tangannya seraya mengangguk, "maaf mbak, yang ini...."



"Saya Rida, istri dari letda Gumilang. Maaf mbak, maksudnya...." ia menggaruk tengkuk kebingungan menjelaskan.



"Shhh, ya udah lah!" Zea tak ingin ambil pusing. Ia kembali mendelik melihat ke arah dalam, tentu saja rival kesayangan sudah menunggu dengan tatapan ratu ularnya. Rupanya Luna sudah membentuk pasukan pengikutnya macam minion.



Zea menghela nafasnya, masuk.



"Saya Zea Arumi Jamilah. Istri dari lettu Sagara, salam kenal dan mohon bimbingannya dari ibu semua..."


"Selamat datang, ibu Saga...selamat bergabung dan mohon kerjasamanya..." balas ibu komandan mempersilahkan Zea duduk.


Ia mengedarkan pandangan pada wajah-wajah ramah para istri prajurit yang memenuhi ruangan, kecuali wajah keruh sepaket bau kecut Luna.


"Zea..."


"Zea..."


"Iya, makasih...salam kenal tante,"


Zea membalas dengan ramah beberapa istri prajurit yang menyapanya welcome.


Mereka melanjutkan beberapa agenda yang menjadi pembahasan setelah penyambutan Zea, sesekali istri danki dan danru ikut menimpali ibu komandan.


Hoammm!


Sudah kesekian kalinya Zea menguap, sungguh pertemuan ini bikin Zea merasa di nina bobokan. Padahal yang lain begitu bersemangat mengikuti pertemuan, termasuk Luna yang selalu ingin terlihat.


"Jelas, ibu-ibu?" tanya ibu komandan.


Jelas!!!

__ADS_1


"Jelas," angguk Zea ikut-ikutan paling terlambat. Entah apa yang jelas? Yang jelas baginya sekarang, ia sudah benar-benar jenuh dan mengantuk.


"Pertemuan dicukupkan sekian, untuk laporan dari setiap regunya, saya serahkan pada setiap ibu danru.."


Semua beranjak dari duduknya, termasuk Zea. Namun ketika ia baru menyampirkan tas di pundak, Luna memanggil.


"Untuk unit istri penerbang, bisa ikut saya?" tanya nya membuat sebagian dari ibu-ibu yang merasa sebagai istri prajurit penerbang menoleh segan.


"Siap, ada apa bu?" tanya Ovi.


Ia berjalan sedikit angkuh, seraya menatap Zea, "sebagai istri dari danru penerbang...saya mau menyambut anggota baru kesatuan yang baru saja bergabung dengan kita..."


Zea menatap Luna, ia baru tau jika Rudi adalah danru. Ia juga mencium aroma-aroma niat busuk yang seperti bang kaiii dari tatapan Luna padanya.


Ia tidak takut, apalagi merasa kerdil meski kini semesta berpihak pada istri danru yang kurang sekilo itu.


"Sebagai sambutan, dari regu penerbang pada istri dari letnan berprestasi....maka saya sebagai istri danru,"


"Traktir kita semua jajan basoooo!!!! Yeeeeee!" teriak Zea berseru mengejutkan.


"Terimakasih banyak ibu danru! Ibu memang istri danru teladan, danru terbaik sepanjaaanggg masaaa!" Zea menarik tangan Luna dan menjabatnya dengan penuh semangat, bagaimana Luna dapat membalas, wong wajah-wajah para ibu lain kini tersenyum padanya.


"Kalo gitu, saya panggil tukang baso langganan saya, bu...gimana?!" tanya Rida ikut antusias.


"Boleh tuh, boleh!" Ovi mengangguk, ketika Rida langsung merogoh ponsel dan melakukan panggilan.


"Suruh masuk bu, biar nanti saya telfon om Gagan yang lagi jaga serambi, buat ijinin tukang baso masuk!"


"Ta..."


"Tapi...." Luna terbata dan tergugup, wajahnya bahkan mendadak pucat, gaji tak seberapa jadi danru harus dihabiskan mentraktir sekian puluh mangkok baso.


"Yukkk! Keluar yuk ibu-ibu! Nunggu tukang baso!" ajak Zea segera berlari keluar sambil cekikikan diikuti yang lain.


"Arghhhh, si al!" pekiknya tertahan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2