
"Bagaimana saksi?"
Setelah Saga mengucapkan kalimat janji sehidup sematinya di depan papa Rangga dan keluarga besar serta penghulu dan saksi dalam sekali tarikan nafas, degupan jantungnya belum berakhir sampai disitu.
"Sah," angguk menteri berpeci hitam itu.
"Alhamdulillah barakallah...."
Izan menepuk-nepuk pundak Luki, tak menyangka jika orang yang paling banyak diamnya itu yang paling pertama menikah diantara ketiganya, padahal mereka yang paling gencar menggoda setiap gadis cantik.
Pagi hari yang cerah di ibukota ini, menjadi pengantar Sagara melepas status bujangnya dan menghalalkan Zea untuk dirinya.
"Alhamdulillah," Fara menjatuhkan wajahnya ke arah pundak Al Fath tak peduli bedaknya nempel di bagian pundak baju sang suami, rasa haru dan lega bercampur menjadi satu, putra kebangaannya yang sekian lama berjauhan kini telah memiliki pendamping. Setidaknya Fara tak perlu khawatir jika Saga akan sendirian.
Mama Rieke bukan lagi, tak tau apa yang dirasa karena semua rasa bak campuran permen nano-nano, dan yang jelas air matanya terus saja meleleh menganak sungai melepas Zea, "tissue mana tissue, aduh...sampe ngucur atas bawah ini!" ucapnya mengipasi wajah takut make up ikut luntur persis kesapu banjir.
Karpet merah yang telah digelar menjadi napak tilas saat kaki-kaki putih bersih nan mulus itu berjalan tanpa alas kaki didampingi Zico dan barisan bridesmaid dimana Clemira, Dina bahkan Iyang ada disana.
Ketujuh Cunduk mentul di atas kepala ikut bergoyang seiring langkah Zea menyusuri karpet.
Berkali-kali ia menarik dan membuang nafas demi mengurangi rasa mules yang selalu menyerang ketika gugup.
"Mas, belok dulu deh yuk ke toilet dulu, ngga kuat gue pengen bok3r ih!" bisiknya, Zico sontak saja berdesis diantara wajah freshnya yang brewokan.
"Gue tebas juga leher lo, Ze. Tahan aja tahan, mau gue ambilin batu engga? Sekali lagi lo bilang bok3r disini, gue sumpel pake ronce melati mulut lo." gumamnya tertahan pagar gigi yang mengatup karena Zico sudah memasang senyuman lebarnya demi terlihat bagus di depan khalayak ramai.
Zico bahkan sempat menjitak kening adiknya yang mendadak lapang persis lapang sepakbola karena gaya khas pengantin Jowo.
"Duh, jidat gue terang gini kena sinar lampu, mas. Tau gitu pake adatnya keluarga bang Saga...biar bisa nutupin jidat..."
Zico tak bisa untuk tak terkekeh, ia lalu menghela nafas dan menoleh pada Zea, "bisa ngga Ze, sedetik aja gue ngga ngerasa kalo rumah bakalan sepi setelah kamu pergi?" ia kini mengulas senyuman getir tanda belum rela melepas adiknya, sementara di ujung sana Saga dan yang lain sudah menunggu.
Suasana yang awalnya ceria penuh canda berubah jadi haru, Zea menghela nafasnya kembali mengajak Zico melangkah lebih cepat.
Belum apa-apa kelopak mata Zea telah dilinangi air mata demi melihat ibu yang telah membawanya ke dunia ini duduk bersama Kinanti dan keluarga besarnya. Mata berlensa itu sudah memutar ke atas agar lelehan air mata tak segera jatuh.
Dilihatnya Saga yang gagah bersama papa Rangga, saksi, dan penghulu. Degupan jantung Zea semakin tak bisa ia kontrol, mungkin satu dunia pun bisa mendengarnya saat ini.
Langkahnya semakin dekat, hanya berjarak beberapa meter saja, pandangan yang awalnya menyapu sekeliling aula kini terfokus pada Saga seorang, pria yang beberapa menit lalu telah mengucapkan ijab kabul di depan dunia, mengikatnya sehidup semati.
Senyuman terhangat Saga lemparkan padanya, hingga sebuah cincin tersemat di jemari lentik Zea yang mengikatnya untuk seumur hidup dipasangkan Saga, begitupun Zea melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Dan sebuah kecupan manis mendarat di kening Zea seiring sorak sorai riuh memenuhi aula. Zea kini tau maksud dan tujuan para perias membuat keningnya bersih dari apapun termasuk rambut, rupanya untuk menyambut kecupan hangat dari Sagara.
"Cieee,"
Panji membuat suitan keras diantara sorak sorai saking ikut bereuforianya. Putra letkol Al-Rayyan itu duduk di samping Kalingga dan keluarganya.
"Bang....senyum bang, bilang happy marriedddd!" seru Ryu mengarahkan kamera pada kedua pengantin baru ini.
"Ck. Bosen happy married. Sini biar gue aja yang foto!" Russel merebut kamera yang masih menggantung di leher adik kembarnya, "ketawa lebar, bilang belah durennnnn!" titah si fotografer amatiran yang lagi ngambek pada Zea.
Saga dan Zea bukan lagi tertawa dengan tingkah Russel, apalagi melihat Ryu yang ikut tertarik lehernya, "lo ngambek sih ngambek Sel, tapi jangan leher gue ditarik-tarik gini!"
Mahar yang dibingkai di dalam kotak cantik Saga serahkan pada Zea, buah dari hasil keringatnya yang Saga kumpulkan tanpa mencomot uang jajannya dari Al Fath.
3 batang logam mulia dengan berat masing-masing 10 gram berdampingan cantik dengan set perhiasan. Di bingkai berbeda, sejumlah uang dalam bentuk rupiah di tata sedemikian rupa dalam figura kaca dengan nominal tanggal lahir Zea memakai pecahan uang lama hasil barternya pada abba Zaky sang kolektor uang lama, tentu saja cukup menguras dompet prajuritnya karena uang-uang itu sudah tidak diproduksi lagi oleh bank negara. Belum lagi sekotak perlengkapan solat hasil desain om Redi yang tengah berada di Italia, langsung diterbangkan untuk Saga dan Zea.
Gerbang yang telah terbuka lebar membuka akses para tamu undangan untuk masuk menyaksikan prosesi pedang pora. Satuan polisi dan militer membentuk detasemen dan unit di beberapa titik demi menjaga keamanan selama acara berlangsung.
Para tamu undangan diharapkan membawa surat undangan untuk hadir di acara ini mengingat tamu-tamu yang hadir adalah petinggi negara dan militer.
Ankara menghela nafasnya, "kalo kamu ngga siap, ngga apa. Ngga usah datang, Anka." Ujar sang ibu.
Anka menggeleng, "seorang perwira tak akan kalah dengan cinta, ma. Mungkin memang Zea bukan jodoh Anka." angguknya mantap, komandan Surya menepuk pundaknya, "bagus. Tegakan kepalamu dan berikan ucapan selamat pada mereka, biar om Rangga tau kamu baik-baik saja tanpa Zea."
Seorang danton menghormat pada Al Fath, "lapor, prosesi pedang pora sudah siap dilaksanakan!"
"Laksanakan."
__ADS_1
"Siap, laksanakan!" ia berbalik kanan dengan tegas menuju rekan satu lettingnya yang siap melaksanakan upacara wajib dari kesatuan militer.
Sinar silau dari flash kamera bersahutan tanpa bisa dilarang dari tamu undangan yang sengaja hadir lebih awal untuk menyaksikan upacara ini.
Pintu aula terbuka, menampilkan sosok Zea dan Sagara dalam balutan pakaian pengantin ala militer, kebaya yang Zea pakai adalah rancangan umma dan om Redi menjuntai sampai menutupi lantai.
Sajak prajurit mengiringi langkah Saga dan Zea diantara lorong pedang yang diangkat setiap perwira.
Tangan yang menggenggam erat lengan Saga menyalurkan rasa gugupnya.
Jutaan pasang mata kini mengarah pada keduanya, acara ini disaksikan hampir seluruh tanah air. Tidak seperti saat pernikahan Fara dan Al Fath, pedang pora kali ini Zea--Saga diikuti oleh keluarga di belakangnya melewati payung pedang para perwira hingga ke ujung dan bertemu dengan ibu komandan resimen.
"Welcome Zea Arumi, ibu Sagara di keluarga besar korps penerbang...."
Zea menoleh sesaat pada Saga dengan tangan menerima baju seragam yang akan menjadi kebanggaan setiap istri prajurit, "terimakasih bu."
.
.
.
.
.
__ADS_1
Note:
\*cunduk mentul : kembang goyang yang ditusukan di sanggul pengantin pada adat Jawa.