Manuver Cinta Elang Khatulistiwa

Manuver Cinta Elang Khatulistiwa
MANUVER CINTA~PART 90


__ADS_3

"Abang tau, Fara tidak tuli. Istri-istri danyon di bawah sana meributkan perihal Saga. Tentang perwira yang sudah siap dipromosikan sebagai danki...itu artinya secara otomatis Saga selangkah lebih maju dibanding Rudi. Gimana emak bapaknya ngga ngebul?!"


"Makin aja Saga menjadi incaran empuk." lanjutnya Fara emosinya sudah meluap-luap.


"Abang pergi dulu, tahan Zea semampunya."


Namun surai panjang di balik pintu itu membuat Al Fath menghela nafasnya berat, ia tidak bodoh untuk tau jika itu adalah siluet sosok Zea, karena tak mungkin Kalingga berambut panjang.


Dengan mata berkaca-kaca, Zea tidak meraung-raung atau sampai guling-guling di tanah. Sejak mengiyakan lamaran Sagara ia sudah tau resiko yang harus diterimanya sebagai seorang istri prajurit.


"Neng," Fara muncul dari balik badan Al Fath, ketika suaminya itu mendadak mematung dan melebarkan daun pintu. Sejujurnya Fara khawatir jika Zea akan histeris dan syok dengan kondisi seperti ini, secara...kehidupan menantunya ini bak putri yang dimanjakan, namun nyatanya sejauh ini aman-aman saja, ia tidak harus sampai memanggil pengusir hantu atau ustadz, apalagi menelfon dokter untuk menyuntikan obat penenang.


"Jadi abang lost contact, bi?" tanya Zea tegar, menguatkan diri dan hatinya atas kemungkinan terburuk yang terjadi.


"Iya." jawab Fath singkat.


Zea meraup nafasnya rakus, "jadi orang ini adalah orang yang sama dengan orang dibalik tragedi pembajakan pesawat waktu lalu, orang yang ngirim Ajay cs, orang yang punya bisnis human trafickiinnggg, orang yang menyebabkan trauma untuk para penumpang pesawat komersil, orang yang meraup keuntungan dari pemburuan liar? Apakah betul, bi?" kini tatapan Zea penuh sorot memohon, agar mertuanya itu mau mengatakan semuanya.


"Masih perdiksi, nak. Belum terbukti, hanya saja sudah mengerucut kesitu."


"Zea inget kata papi, waktu acara family gathering bareng temen-temen pejabat negri, kalau orang serakah itu lebih berbahaya ketimbang tero ris sekalipun. Awalnya Ze ngga ngerti, apa yang papi omongin. Sekarang Ze paham, kalo papi lagi ngomong sama om Hermawan, dan baru Ze tau kalo om Hermawan adalah ayah dari bang Rudi, apakah danyon Surya juga ada kaitannya?!"


Al Fath terdiam tak ingin berkomentar terlalu jauh, bagi seorang prajurit, informasi itu layaknya nyawa sekalipun itu kepada keluarga sendiri, ia sudah terbiasa bungkam seribu bahasa.


"Biar abi yang tangani bersama kesatuan dan papamu," Al Fath mengusap pundak Zea.


"Kenapa harus abang, bi? Kenapa ngga Zea aja?" kini air matanya tak bisa untuk tak jatuh.


"Kenapa harus sama keluarga abi? Kenapa harus melibatkan aparat, dan bikin susah semuanya? Zea tau, aparat itu adalah penegak hukum, negara juga punya wewenang. Tapi apa ngga bisa mereka, dia...ngga melibatkan orang lain?! Lantas janji di bawah al-qur'an saat pelantikan, janji terhadap negara dan warganya itu apa hanya bualan?!" tanya Zea berapi-api, menumpahkan rasa kesal, marah, dan kecewanya.


Fara meraih Zea dan mengusap punggungnya, "kenapa Allah memilih Sagara, karena Allah tau Saga mampu bertahan. Sifat manusia itu sejatinya memang tak pernah merasa puas, dimana ada kesempatan dan iman yang setipis kulit ari, maka disitu setan berkeliaran...dan itu riskan untuk orang-orang di atas sana."


Fara melihat dirinya yang dulu pada diri Zea, "mirip umi dulu, tos dulu!" pintanya. Hanya bedanya Zea justru anak seorang pejabat negri.


Al Fath kembali mengusap surai Zea, "tunggu bersama umi dan Kalingga, biar nanti mami mu juga dijemput kesini..." ucap Al Fath.

__ADS_1


Zea menggeleng memegang tangan abi Fath, "ngga mau. Zea pingin ikut bi...Ze pengen tau kabar abang!"


"Neng, jangan gitu....kamu nunggu di rumah aja dulu, do'akan suamimu selalu dalam lindungan Allah."


"Abi...Zea mau ikut! Abi..." isaknya ketika Al Fath justru berlalu sambil melepas tangannya lembut.


"Abi, bawa abang pulang biii!" isaknya.


Di tempat lain, di kesatuan.



"Pa, bang Rudi gimana?!" tanya Luna, penyesalan memang selalu datang di akhir. Ada rasa menghantam di hatinya ketika sang ayah memberinya kabar jika Rudi hilang kontak bersama dua perwira lain.



Tangisannya menganak sungai, terang saja. Terakhir kali keduanya meributkan masalah tak penting dan ego Luna lah yang paling menguasai.




Tap---tap---tap,


Langkah cepat memenuhi koridor menuju kantor resimen.


"Lapor ndan, seorang perwira berpangkat letnan satu bernama Sagara gugur, ditemukan di 3 km dari bibir pantai dengan tembakan di beberapa area vital, dan luka bakar bagian bahu."


Komandan resimen sampai menarik kerah baju anak buahnya, "yang benar kamu kalo buat laporan!!" bentaknya. Ia memijit pangkal hidungnya, apa yang harus ia katakan pada jendral militer yang notabenenya ayah dari Sagara.


"Jenazah sudah diberangkatkan dari tkp menuju markas, ndan."


Ia menjatuhkan diri di kursi, mendadak lesu tak bertenaga, satu lagi perwira kebanggaan kesatuan harus gugur.


.

__ADS_1


.


Al Fath menegakan badannya meski hati seorang ayahnya tak dapat memungkiri kesedihan yang teramat mendalam. Ayah mana yang rela putra kebanggaan gugur di medan perang, meskipun keduanya sama-sama tau akan resiko pekerjaan. Sekelebat bayangan Saga kecil melintas tanpa permisi, sepertinya langit pun ikut menangis.


"Maaf, jendral..." ucap komandan resimen tempat Saga bernaung.


"Sudah resiko pekerjaan." Jawab Al Fath, ia mengangguk, "maaf mengganggu waktunya malam-malam, jenazah akan segera tiba, apakah saya harus memberitahu ibu Sagara?"


Jendral itu menggeleng, "biar menantu saya menjadi urusan saya," jawabnya, diangguki komandan resimen, ia menepuk pundak Al Fath, "saya ikut berbela sungkawa, bang Fath."


Tanpa berkata Al Fath hanya mengangguk singkat.


Sepeninggal komandan resimen, Al Fath masih memikirkan caranya memberi kabar pada keluarga, terutama Zea.


Bawa abang pulang, bi...


Wajah penuh permohonan dan harap itu terngiang-ngiang di pikiran Al Fath. Baru saja meraup manisnya madu pernikahan, apakah Zea harus jadi janda muda?


Dipandangnya telfon kantor yang ada di hadapan, lalu ia melirik ke arah jam dinding yang telah menunjukan pukul 2 dini hari.


Apakah orang-orang rumah masih tertidur atau justru.....


Zea masih bersimpuh di atas sajadahnya, melangitkan do'a untuk kesekian kalinya.


Hanya kepada-Nya ia meminta.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2