
Sagara bergegas berdiri dari tempatnya, meminta agar Zea senyap dan tak banyak bergerak.
"Apa itu?" gumamnya bertanya ketika Saga memintanya lebih menunduk dan bersembunyi di bawah pepohonan.
"Kalau abang tak salah tebak, pemburu liar..." jawab Saga menaruh rasa waspada dan bersiaga. Beberapa kali ia mendengar langkah kaki beberapa orang yang menginjak tanah meski hanya sayup-sayup.
Sejak tadi tangannya mencengkram erat lengan Saga dan tak mau lepas. Hingga beberapa menit berlalu keduanya melihat beberapa orang berjalan dengan terburu-buru penuh kewaspadaan.
Mungkin Zea dapat mendengar mereka berbicara, namun tak mengerti apa yang tengah dibicarakan mengingat keterbatasan bahasa daerah yang ia kuasai, kecuali bahasa mars mungkin ia akan paham betul!
Ia tak begitu peduli dengan obrolan mereka, karena yang jelas Zea sudah tenggelam dalam rasa kekhawatiran dan ketakutan, Zea hanya ingin mereka segera pergi, kalo bisa ke neraka sekalian.
"Angkat tangan, jangan kabur!!" teriak seseorang melepaskan tembakan sebanyak 2 kali, dan beberapa orang dengan buff dan sangkar di punggung itu berlarian kocar-kacir mencari tempat persembunyian.
Adegan action tersaji di depan mata, layaknya nonton aksi penyergapan penjahat, Zea menyaksikan itu semua di depan mata.
Saga yang awalnya masih diam kini mengamati dan berniat membantu.
"Adek tunggu disini, abang bantu mereka." Seketika ucapan itu dihadiahi pelototan Zea, tangannya semakin erat mencengkram jaket Saga, "ngga usah so jadi pahlawan kesiangan! Abang disini aja, itu bukan tugas abanggggggg----" desisnya kesal.
"Abang kan lagi cuti jadi aparat...ngga bisa apa, diem aja!" bola mata itu semakin membola seperti akan keluar dari tempatnya membuat Saga gemas, seperti ia sedang dimarahi oleh bocah.
"Mereka bawa senjata, abang...abang diem! Kan ngga lucu moment honeymoon abang malah keserempet peluru!"
"Lucu. Nanti kita pasang plester boneka kalo abang luka.." jawab Saga terkekeh, yang langsung ditonjok Zea di bagian bahunya. Kemudian Saga mengangguk tanda ia meminta agar Zea melepaskan cengkramannya, "sebentar aja. Abang janji ngga akan kenapa-napa..." ucapnya dengan sorot mata meyakinkan.
Ia yang ragu tak menjawab, dengan wajah khawatir Zea melepaskan cengkramannya, ikhlas tak ikhlas...
Saga mengendap-endap ke arah beberapa orang yang tengah bersembunyi, mencoba mendekati mereka. Disaat para polisi hutan mencari keberadaan para pemburu liar itu.
Gigitan di kuku jari semakin intens mana kala Saga semakin dekat. Dan dalam sekali gerakan kilat,
Heppp!
Bugghhh!
Aaaaa!!!
"Itu!"
Para polisi hutan berlarian ke arah keributan dimana Sagara sedang menahan salah satunya, namun berkelahi pula karena ia yang melawan. Bahkan yang lainnya tak segan-segan menembakan senapan anginnya ke arah Saga yang menghindar beberapa kali.
__ADS_1
Zea tak bisa diam melihatnya, refleks ia berlari ke arah Saga yang dikeroyok, meskipun tidak berada dalam posisi merugi dan justru dapat mengimbangi 4 orang disana. Zea tau Saga akan kalah jumlah, maka naluri manusianya menyuruh Zea untuk berlari membantu.
Ia mencari-cari batang pohon yang ada, apapun itu. Dan berlari membantu Saga disana, ia hantamkan batang kayu itu meskipun kecil dan tak berefek besar, "awassss, istri solehaaaa datangggg!" teriaknya membuat para lelaki itu teralihkan.
"Mamposss lu!" sesekali ia menjerit dan melayangkan bogemannya, menjambak, menendang, apapun yang ia bisa lakukan untuk membantu Saga, "berani-beraninya ganggu burung lagi kawin!"
"Lo ngga tau, pas lagi kawin terus diganggu tuh rasanya ngga enak!" ocehnya.
"Lepasinnn kamvretttt!" bentaknya sewot ingin merebut senapan angin dari salah satu pemburu, sambil melotot, ciri khas emak-emak kalo lagi ngomelin tetangga yang julid.
Tak lama, sampai para polisi hutan itu ikut bergabung. Mereka segera menyergap dan menangkap keempat pemburu liar.
"Lapor, titik koordinat ***** hutan timur, ditemukan 4 hyena orange...beserta barang bukti," ucapnya di walkie--talkie seraya melihat sekilas ke arah para pemburu liar dan sangkar burung kecil yang ia bawa, dimana satu ekor burung Cendrawasih jenis lain sudah ditangkap mereka.
"Diterima, jaguar siap meluncur..." balas dari sambungan walkie talkie.
"Hah! Ketangkep juga kan! Nih pak, bawa nih perusak rumah tangga burung nih!" sewotnya kembali menoyor kepala salah satunya belum cukup puas.
"Siang pak."
"Siang bang, kak. Mereka adalah pemburu liar yang sudah beraksi sejak bulan November 3 tahun lalu, hanya saja pergerakannya terlalu licin. Sudah banyak hewan endemik dan terancam punah yang mereka ekspor ke luar negri." ucap salah satunya.
Zea berohria, entah kenapa ia merasa terlampau senang saat ini, apakah karena ia sudah bertindak heroik? Bak wonderwomen? Memberantas kejahatan?
"Kalau begitu, kami pamit membawa mereka ke kantor. Maaf sudah mengganggu perjalanan abang dan kaka."
"Iya."
Zea menyikut udara saat mendaratkan pandangannya pada seorang pemburu liar, "apa lo liat-liat! Kurung dia pak, kurung yang lama!"
"Ck. Udah..." Saga menahan Zea yang hampir kembali melampiaskan kekesalannya padahal para pemburu itu sudah di bawa.
"Pantesan makin berkurang, orang kita sendiri yang jadi predatornya..." ucap Zea, ketika keduanya memutuskan untuk meneruskan perjalanan.
Saga mengangguk paham, paham kenapa semua jadi begini, kenapa semua menjadi serba salah.
"Saat perut anak istri menjadi prioritas, seseorang akan melakukan apapun sekalipun nyawa taruhannya," jawab Saga.
Zea menggeleng tak setuju, "iya tapi kan ngga harus begini juga, masih banyak kerjaan halal dan ngga rugiin spesies lain..." debatnya.
Saga melirik dengan senyuman tersungging tipis, "jaman sekarang, lapangan pekerjaan semakin banyak," ucap Saga membuat Zea menaikan kedua alisnya, "makin sempit bang.."
__ADS_1
"Semakin banyak, hanya pilihannya halal kah haram kah....disaat lapangan pekerjaan yang halal sulit diraih untuk kebanyakan orang dengan segala pesyaratan dan aturannya, maka pekerjaan haram yang selalu hangat menyambut...meski nyawa taruhannya. Anak--istri mereka atau negara yang merugi, hanya itu pilihan mereka."
Zea menghela nafas cukup kasar, "iya. Sama seperti yang dilakukan Ajay cs. Negara tak ada saat mereka sakit, negara tak ada saat perutnya kelaparan, maka untuk apa mereka memikirkan negara...kesejahteraan hidup mereka, hanya mereka sendirilah yang memikirkan," lirihnya menunduk.
"Ze tau bang. Kesejahteraan itu ngga merata. Bahkan tidak setengahnya..."
Saga mengacak pucuk rambut istrinya itu dengan hangat, "mama Katrina sudah menunggu di depan."
Zea mengangguk, "eh iya. Gimana Zea tadi bang? Udah kaya penumpas kejahatan belum? Seru juga ya, jadi aparat!" alisnya naik turun, dan Saga terkekeh.
"Eh iya, kayanya Ze mau daftar jadi polisi aja, gimana?! Cocok ngga, kira-kira?" tanya nya menepuk-nepuk dadha kiri dengan kepalan kecilnya, "bripka Zea Arumi," kekehnya.
"Kamu lebih cocok di dapur, jadi chef Zea..." jawab Saga meredupkan senyuman mengembang Zea, "ck! Kesitu lagi!"
Zea tau itu hanya candaan, namun setidaknya dari candaan itu, ia paham kalau Sagara tak mengijinkannya.
Sayup-sayup, terdengar tawa dan obrolan mama Katarina beserra warga kampung, mereka sudah terlihat menumbangkan satu pohon sagu yang sudah tua seraya membelah batang pohonnya.
"Mama!" Zea melambai dan mempercepat larinya demi menghampiri.
"Sini!" ajak mama Katarina.
Saga langsung membantu para om membelah batang pohon, sementara para mama memotong batangan pohon yang besar menjadi bagian-bagian kecil sekitar kurang dari 1 meter untuk selanjutnya nanti di hancurkan di mesin parut.
Zea terlihat khusyuk dan anteng dengan tugasnya, "mama ini busuk! Buang aja ya?" ucapnya saat batang sagu yang di ambilnya terlihat busuk.
"Jangan kaka. Justru dalam batang itu banyak protein yang di dapat!" ujar Friska melarang.
"Protein apanya?" ia mengerutkan dahi. Friska tersenyum lalu menghampiri Zea dengan pisaunya, "begini kaka," ia merebut batang sagu dari tangan Zea, lalu mencongkel kulit pohon rumbia itu dengan mudahnya.
Zea membelalak, seketika kulitnya meremang dan ia menggelinjang kegelian sampai-sampai melompat menjauh, "Allahuakbar!! Itu banyak uletnya!!!! Buang---buang!" sewotnya.
Saga tertawa puas melihat itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.