
Ia memutar badannya ketika suara pria tua yang dikenalinya menyapa pendengaran, "Nduk."
Sagara ikut menoleh, "papi..." lirih Zea menyegerakan air matanya untuk berlinang dan berjatuhan.
"Ya Allah!" ia melihat tampilan kacau putrinya yang berbeda dari saat ia berangkat.
Diusapnya pucuk kepala ketika Zea menghambur memeluk sang papa, "maafin papi, nduk." lirih ia berkata membuat Zea menyunggingkan senyuman tipisnya disana. Zea menatap wajah lusuh nan lelah papa Rangga, "papi sakit? Atau justru papi ngga pulang, ngga makan, ngga mandi?" cecarnya.
Kini papi dapat tersenyum lepas setelah 3 hari ia merasa hampa hampir tak bernyawa, "papi mau ngerasain jadi Zea. Kalo Zea aja ngga mandi, papi juga ngga, kalo Zea ngga makan, gimana bisa disini papi enak-enakan makan..." jawabnya, membuat Zea mencebik dan melepaskan pelukannya, "ihhh! Bau dong, papi jorok!"
Saga mendengus geli melihat keduanya, daddy's little girl.
"Alhamdulillah." tatapnya pada Zea masih mengucap syukur pada Tuhan, karena putrinya masih diberi kesempatan untuk selamat.
"Mami hampir 3 hari juga ngga mau makan, ngga mau pulang dari bandara, nungguin kamu pulang..." akui papi pada Zea.
Gadis itu tersenyum getir, lalu pandangan papa Rangga jatuh pada Sagara, perwira yang sejak tadi berada bersama putrinya, sadar akan pandangan papi, Zea menoleh, "papi ngga mau kenalan sama tentara ganteng yang udah selematin Zea?" tangannya menarik tangan besar papa, membawanya pada Sagara yang juga ikut mendekat, rasanya tak sopan jika orangtua harus menghampiri orang muda.
"Pak." Saga mengangguk sopan. Bukan sodoran tangan yang papi Rangga berikan, namun pelukan hangat sebagai seorang ayah yang ia daratkan pada Saga, "terimakasih. Matur suwun. Saya tau prajurit militer nusantara itu dapat diandalkan."
Pandangan Saga jatuh pada Zea yang berada di belakang, lantas ia mengangguk meminta Saga membalas pelukan papanya lalu meledakan tawa ketika Saga melakukan hal itu.
"Cieee, papi meluk-meluk tentara ganteng! Ketularan ganteng ngga?!" tawanya mengakhiri acara pelukan Saga dan papa Rangga.
"Ganteng---ganteng! Terus kamu pikir papi jelek?! Lupa, kalo menteri paling ganteng selain menteri pendidikan sama pemuda dan olahraga adalah menteri hukum dan hak asasi?!" ia merangkul putrinya yang meledakan tawanya.
"Let...da Saga...ra," papa Rangga mengeja nama di dadhanya, ia tak kenal siapa Saga, karena sejak obrolannya dengan panglima militer tempo hari, ia tak pernah sekalipun membawa nama Sagara dalam obrolan mereka.
"Saya secara pribadi mengundang letda untuk acara makan di rumah setelah kita pulang dari sini...." ucapnya, Zea sontak menoleh bergantian pada papi dan Sagara, alisnya naik ketika bertukar tatap dengan Saga, seolah mengharapkan Sagara memenuhi undangan papanya, "suatu kehormatan untuk saya. InsyaAllah pak, beritahu saja kapan waktu dan tempatnya." jawab Sagara, Zea melebarkan senyumannya.
"Papi harus liat jadwal bang Saga dulu, takutnya dia sibuk." oceh Zea.
"Papi tau, nduk."
"Mau masuk, let?"
Sagara menyilahkan menteri negri itu untuk duluan, "silahkan pak."
"Kalo gitu saya duluan bareng Zea..."
Saga mengangguk menyetujui, "Zea duluan..." gumam gadis itu diangguki Sagara. Hingga ketika Zea mulai memutar tubuhnya, gadis itu tetap menoleh ke belakang bertukar tatap dengan Saga padahal papi Rangga sedang nyerocos mengajaknya bicara, Saga sampai terkekeh melihatnya.
Saga berjalan diantara pesawat yang terparkir dengan fokus pada obrolannya bersama umi di sebrang telfon sana.
"Iya, mi."
"Iya, mi."
Kata-kata seperti itulah yang lirih keluar dari mulutnya, ketika di sebrang sana, umi Fara ngoceh-ngoceh macam bebek minta makan.
"Umi di rumah abba--umma?" tanya nya singkat sekali, tapi jawaban uminya itu sudah ngaler ngidul.
__ADS_1
"Iya, mi. Nanti Saga sama abi langsung kesana."
Al Fath berjalan melihat Sagara sedang diceramahi Fara lewat sambungan telfon, pantas saja nomor ponsel istrinya itu sibuk barusan, ternyata ia sedang berbicara dengan putranya. Ia bersidekap tangan membiarkan keduanya sampai selesai bertelfonan, Fara sudah menjelma seperti umi Salwa sekarang, atau justru setiap wanita akan berubah jadi begitu setelah menjadi seorang ibu?
Ketika ia menurunkan ponsel, netranya tertumbuk pada seorang jendral dengan banyak tanda kehormatan yang tertempel di seragamnya itu, "bi. Barusan umi telfon." ia meraih punggung tangan Al Fath dan menyalaminya takzim di luar jam dinas.
"Abi tau. Umimu, abi telfon sibuk."
"Kapan abi sama umi sampai ibukota?"
"Dua hari yang lalu, setelah mendapatkan mandat langsung dari bapak menteri pertahanan." jawab Al Fath kini berjalan bersama seorang perwira muda cetakannya dan kesatuan.
"Abi dengar setelah ini kamu pendidikan kenaikan jabatan?" tanya Al Fath dibenari Sagara deraya menyunggingkan senyuman tipis.
"Temui umi mu dulu, minta do'a restu."
"Pasti bi,"
Kini tatapan keduanya sama-sama menunjukan sisi kedewasaan lelaki, Sagara bukan anak abg yang mesti bohong dan menutupi apa yang sedang terjadi. Lagipula sisi prianya mengatakan jika ayahnya sudah tau dari sang ibu, hanya saja Sagara bingung mengatakan jika gadis yang sedang dekat dengannya adalah anak SMA sekaligus anak menteri.
"Masih SMA kan," tembak Al Fath membuat Sagara sedikit mengangkat alisnya terkejut, "abi tau?"
"Bukan hal sulit, untuk mengetahui gelagat berbeda. Puluhan tahun menjadi personel pasukan khusus dan kurang lebih 24 tahun jadi seorang ayah, apa yang abi tak bisa tau?" balasnya.
Saga tak sekalipun menunduk di depan abinya.
"Kenapa? Takut abi atau umi tidak merestui?" tebak Al Fath, Sagara meloloskan nafas beratnya, begitu banyak poin dalam kriteria idaman Al Fath dan Fara, bukan kekayaan apalagi wajah cantik yang menjadi syarat utama.
"Apa orangtuanya tau kalau anak gadisnya sedang diincar oleh seorang prajurit?" tanya Al Fath. Sagara menggeleng, "beritahu," titah Al Fath.
__ADS_1
"Datanglah sebagai lelaki baik-baik, bukan sebagai perampok yang datang di belakang diam-diam. Minta lewat depan, perkenalkan diri pada keluarganya dan tunjukan harga diri abi serta umi..." jelas Al Fath, membuat Sagara semakin menegakan punggungnya.
"Walaupun kamu datang hanya untuk sekedar dekat, tapi dia adalah putri seseorang yang terhormat. Maka perlakukanlah dia secara terhormat,"
"Iya bi."
Al Fath melirik putranya dan menepuk pundak Sagara, "ada baiknya kalian dekat saja dulu, biarkan ia meneruskan pendidikannya sampai yang ia dan keluarganya mau, jangan sampai keluarganya menganggap kamu adalah pengaruh buruk untuknya..." lanjut Al Fath, entah Sagara harus senang atau kecewa, di satu sisi abinya itu tak pernah melarangnya bergaul dengan siapapun, atau melarangnya memilih Zea, apa yang dikatakan abinya pun benar adanya, tapi itu artinya ia tak bisa secepatnya mempersunting Zea.
Zea melotot melihat apa yang dibawa papa Rangga, meja panjang hijau ciri khas kantin prajurit itu dipenuhi paper bag makanan dengan brand ternama ibukota favoritnya.
"Papi tau disana kamu pasti ngga bisa makan."
Sagara yang baru saja selesai berbicara dengan abinya lantas masuk ke dalam dapur dan mengambil beberapa ransum militer untuk ia tunjukan pada Zea, namun sepertinya ia urungkan melihat Zea tengah di manjakan oleh semeja full makanan bawaan papanya dari ibukota.
Saga menurunkan kotak ransum itu ke belakang badannya, biarkan Zea menerima semua itu reward atas perjuangannya kemarin.
"Kenapa diumpetin, bang?" tanya Clemira mengejutkan Saga dari belakang.
"Zea pasti suka sama makanan yang abang bawa, dia kan cewek limited edition..." kekeh Clemira.
Saga menggeleng, "papanya bawa makanan, nanti mubadzir. Kalo yang ini masih bisa dimakan nanti." jawab Sagara.
Clemira menggeleng, "dia udah bosen sama makanan-makanan itu. Dia belum coba yang ini..." senyum Clemira jahil, "Ze! Om Rangga!" teriak Clemira memanggil, ia lantas berjalan mengajak Sagara untuk bergabung, hingga akhirnya Sagara menyusul.
"Cle, sini ikut makan nak! Letda Saga?!" sapa papa Rangga. Zea mendongak melihat keduanya datang saat ia justru kebingungan memilih makan apa, semuanya sering ia coba dan tak aneh rasanya, terkesan bosan.
"Ze, om...bang Saga mau ngomong!" Clemira mendorong abangnya secara tiba-tiba, seolah cuci tangan.
"Emh. Maaf pak mengganggu waktu makannya. Tadinya saya mau mengajak bapak dan putri..."
"Zea, bang Zea...sejak kapan Zea jadi putri..." cebiknya. Clemira dan Dina yang ada disana tertawa, "saravv ih."
"Maksudnya Zea." ralat Saga, "untuk makan bersama ala prajurit, memang hanya ransum sederhana pak, tapi tak afdol rasanya kalau bapak dan put...Zea belum mencoba sesuatu yang unik."
Papa Rangga menatap lekat Saga melemparkan sorot mata mendikte nan menilai dengan angkuh, namun sejurus kemudian ia menepuk pundak Saga, "kenapa ngga dari tadi! Sebenernya saya ngga begitu suka sama makanan-makanan ini, kurang masuk di lidah nusantara saya! Yo ayokkk! Ada ransum rasa apa aja!" papa Rangga merangkul Saga meninggalkan Zea bersama kedua temannya.
"Pi...papi...ini Zea gimana?!" teriak Zea.
"Eh, malah ngejogrok disitu. Ayo! Kita hidup ala prajurit, merasakan sehari jadi prajurit bumi pertiwi, asik kayanya!" ajak papa Rangga sudah duluan.
Zea lantas menyusul bersama Clemira yang menarik Dina, "yaahhhh itu makanannya gimana, sayang chessecake sama pizzanya!" tunjuk Dina.
"Udah, itu mah banyak di ibukota....kalo yang ini lo bakalan jarang banget dapet kesempatan emas coba ransum, nanti lo berasa seperti anda menjadi kapten america!" tawa Clemira.
.
.
.
__ADS_1
.
.