
Dua orang yang berjalan bersama di hari libur mereka. Tidak bekerja paruh waktu malam ini. Syal menahan rasa dingin yang menusuk. Mengenakan sarung tangan tebal dan jaket coklat.
Dua orang yang baru saja menutup restauran. Sena menonggakkan kepalanya, menatap bulir-bulir salju yang turun menerpa tubuhnya.
"Ayo pergi!" Ucap Enkai penuh senyuman menarik jemari tangan wanita di hadapannya.
Toko kue menjadi tujuan mereka. Hendak mengunjungi rumah keluarga Zen. Tidak ingin kembali, sejatinya itulah yang ada di fikiran Enkai kini.
Tangannya memegang erat jemari tangan Sena. Rasa takut menghinggapi tubuhnya. Namun Sena menariknya antusias ke halte bis setelah membeli kue.
Enkai begitu pintar dan rupawan, walaupun anak angkat namun kedua orang tuanya menyayanginya. Itulah yang ada di fikiran Sena meraba wajahnya yang rusak. Bagaikan melihat hidup orang lain lebih baik.
Tidak menyadari Enkai yang juga terdiam. Tidak ada hubungan darah, diperlakukan seperti orang asing. Bahkan untuk makan pun, harus di tempat yang berbeda, sama dengan pelayan. Begitulah kehidupannya, yang sekolah hanya mengandalkan beasiswa.
Untuk apa keluarga Zen mengadopsinya. Sebenarnya alasan yang konyol untuk Enkai. Kala dirinya ditemukan oleh kepala keluarga Zen saat invasi monster dan iblis dimulai, dirinya sejatinya ingin dititipkan pada panti asuhan.
Namun ada biku yang menghentikan mereka. Mengatakan anak ini akan membawa keberuntungan pada keluarga Zen. Dan benar saja, toko obat semakin besar, bahkan keluarga Zen memiliki rumah sakit dengan beberapa cabang saat ini. Anak kedua (paman angkat Enkai) dari keluarga Zen yang dulunya hanya memiliki toko emas, kini memiliki perusahaan pengimpor emas dan berlian.
Bisnis rakasa, yang membuat mereka memasuki jajaran keluarga konglomerat yang dihormati. Tapi tidak dengan nasib jimat pembawa keberuntungan mereka.
*
Beberapa tahun lalu.
Byur!
Wajah Enkai dipaksa dimasukkan ke dalam toilet. Tapi dirinya berusaha untuk melawan, hingga air disiramkan dari atas kepalanya. Membuatnya kesulitan bernapas, tangannya lemas. Membiarkan wajahnya tersentuh oleh tempat menjijikkan itu beberapa detik agar mereka puas.
Kala dirinya bangkit dua orang itu tersenyum terlihat sedikit kepuasan dalam diri mereka. Menjijikkan? Itulah yang dirasakannya, inilah arti saudara. Sebuah pelajaran yang terukir dalam benaknya.
Mencuci wajahnya dengan cepat, tidak dapat menangis lagi. Dirinya kini berusia 14 tahun. Kejadian yang terlalu sering, seperti ini. Pemuda yang menatap wajahnya di cermin.
Lalu apa arti seorang ibu untuknya? Sesuatu yang lebih mengerikan dari apapun. Kala dirinya berjalan keluar, segalanya dimulai. Nyonya Zen sudah menantinya.
"Kemari!" perintah wanita karier tersebut.
__ADS_1
Mengikuti langkah sang ibu dilakukannya. Derap langkah ragu kala memasuki ruangan ini lagi.
"Gulung tangan dan kaki pakaianmu!" Ucap wanita yang memandang sinis ke arahnya, mengambil sebuah rotan.
Enkai mulai gemetar, menggulung celana panjang dan kemejanya ini akan dimulai lagi. Rasa perih yang ada di tubuhnya.
Plak!
Plak!
Plak!
"Kamu tau berapa biaya hidupmu!? Dari bayi kami membesarkanmu tapi kamu tidak pernah membanggakan ibu! Kenapa Daici tidak mendapatkan nilai sempurna!? Sementara kamu mendapatkan nilai sempurna!?"
Plak!
Plak!
Plak!
Plak!
Plak!
Plak!
Datar tanpa ekspresi, bahkan menangis pun tidak bisa. Bolehkah dirinya mengadu pada kepala keluarga Zen. Mengada-ada, tidak tahu diri, ibumu benar kamu harus mengalah pada anak sah. Berterimakasih sudah dibesarkan dan diberikan makan.
Berterimakasih? Berterimakasih karena sudah dipukuli dan diminta untuk mengalah? Menjadi bodoh? Kala pagi menjelang, entah kenapa luka di tubuh Enkai telah sembuh. Ini sudah biasa terjadi padanya. Berterimakasih, itu lah yang sering dilakukannya. Membatu pelayan, bahkan mengerjakan tugas sekolah dari kedua anak sah keluarga Zen.
Tidak ada senyuman di wajahnya. Datar tanpa ekspresi, menjadi siswa idola di masa sekolahnya dengan tatapan dingin dan wajah rupawannya, serta otaknya yang cerdas. Saat itulah dirinya semakin dibenci Daici. Masa SMU, dimana dirinya selalu mendapatkan tumpukan coklat di lokernya kala hari valentine tiba. Bahkan dari wanita yang disukai Daici mati-matian mengejarnya.
Rasa benci sang anak sah yang mendarah daging.
Bug!
__ADS_1
Bug!
Bug!
Bahkan lebih buruk lagi, Enkai terdiam kala seluruh tubuhnya dipukuli oleh Daici dan teman-temannya. Merasa muak dengan anak angkat yang hanya menjual tampang dan kecerdasan.
Masih diam tanpa senyuman, hanya sakit sebentar saja. Kala pagi menjelang lukanya akan sembuh dengan sendirinya tanpa bekas. Tidak perlu menyinggung anak sah, atau tersinggung dengan pukulan ini. Karena sebagai anak angkat hanya akan mendapatkan cacian pada akhirnya.
Keluarga konglomerat, namun enggan mengeluarkan biaya kuliah untuk anak angkat mereka. Menjadikannya supir yang selalu mengantar dan menunggu setelah SMU, bahkan seorang supir dibayar. Namun, Enkai tidak dibayar sama sekali, hanya mendapatkan makanan. Bukan makanan lezat ala keluarga konglomerat, namun makanan biasa seperti pelayan.
Karena itu, kala Daici yang kuliah di universitas ternama berhubungan dengan seorang wanita di mobil dirinya tidak mengadu sama sekali. Membiarkan anak sah merusak masa depannya sendiri, bahkan ada kalanya datang dalam keadaan mabuk berat, mentato seluruh tubuhnya, dirinya hanya diam. Tidak berniat mengadu sama sekali, membiarkan saudara br*ngsek itu mati dengan sendirinya di jalanan.
Tapi ternyata itulah yang menjadi cikal bakal dirinya keluar dari keluarga Zen. Kala mobil kepolisian menjemput Daici.
Tuduhan penggunaan narkotika, alasan pemuda itu ditangkap. Namun, yang paling memuakan, keluarga Zen menggunakan uangnya. Membuat Enkai menggantikan Daici di penjara selama dua bulan.
Pemuda yang tidak meratap dan menangis hanya diam tanpa ekspresi sama sekali. Tepat di hari kebebasannya dari penjara, jimat ini dibuang. Keluarga Zen merasa tidak memerlukan Enkai lagi. Tidak bersedia orang yang pernah tinggal di penjara tinggal kembali di kediaman mereka yang besar.
Kala itulah dirinya dibawa ke sebuah restauran, bertemu dengan keluarga Wen. Menjodohkan dua benalu agar segera menyingkir dari rumah mereka.
Pada awalnya, pemuda itu hanya diam, menatap dingin. Namun, Sena terbatuk-batuk, menyembunyikan wajahnya menggunakan daftar menu. Wajah yang rusak.
"Apa wanita ini dapat menjadi jalan untuk lepas dari keluarga Zen?" Itulah yang ada di fikiran Enkai pada awalnya. Menikah terlalu muda di usia 20 tahun.
Namun, tepat setelah acara pernikahan. Wanita itu membuatkan makanan hangat untuknya. Kemudian tersenyum."Ki...kita tidak saling mengenal, jadi jaga jarak."
Kalimat di malam pertama, bukan wanita yang mengejarnya mati-matian, membabi-buta karena wajah dan kecerdasan seperti saat SMU. Tapi wanita ini terlihat natural, membuatnya nyaman seakan sudah lama mengenalnya.
Karena itu dirinya tersenyum, mulai bercanda agar wanita ini tidak takut padanya. Hingga akhir menjadi seperti ini.
Bersama kembali mengunjungi kediaman keluarga Zen. Kali ini tidak seperti dulu, dirinya memiliki seseorang yang harus dijaganya. Seseorang yang dapat disebut sebagai keluarga.
Wajah Enkai tersenyum."Jika mereka salah berucap di depanmu, akan aku buat mereka memohon untuk dibunuh."
"Kamu bilang apa?" tanya Sena yang memang dari tadi memakai earphone, dalam bis yang melaju.
__ADS_1
"Aku bilang, saat kita pulang nanti, kita makan gurita bakar!" Ucap Enkai mulai menyandarkan punggungnya pada kursi, berusaha tidur sejenak.