
Masih dengan sang anak dalam gendongannya. Anak yang berkata kaki kecilnya sudah terlalu sakit untuk berjalan. menyandarkan diri pada punggung Enkai.
"Kamu kelihatannya banyak tau?" tanya Enkai pada sang anak.
"Tentu saja, aku pernah mengenal dan melihat Arata dari dekat." Jawab sang anak.
"Jadi bagaimana sebenarnya Arata?" Sang pemuda kembali bertanya.
"Dia? Dia sombong, tapi wajar saja. Ibunya adalah seorang dewi dan ayahnya raja neraka. Aku bertemu dengannya, saat itu dia mendirikan kuil besar yang megah. Katanya dia akan menyaingi Dewi yang menjadi majikanku. Level kemampuannya benar-benar tinggi, membuat takut khayangan. Dapat memerintah jutaan pasukan monster dan iblis di neraka." Ucap Sena, dengan wajah yang tenang hendak tertidur.
"Apa begitu hebat?" tanya Enkai padanya.
Wanita itu mengangguk."Tapi karena kehebatannya, dia dibenci oleh dewa-dewa lainnya. Menekan Arata agar tidak sewaktu-waktu menyerang khayangan. Karena itu rencana untuk melenyapkan kekuatan spiritual Arata dilakukan. Tidak peduli Arata akan hidup atau mati setelahnya."
"Lalu, apa rencana mereka?" Pemuda yang masih menggendong sang anak mengenyitkan keningnya.
"Membohongi calon istri Arata. Pada hari pernikahan, Dewi tempat Hime mengabdi memberikan hadiah perpisahan sebuah arak padanya. Merelakan pelayannya untuk tinggal di neraka bersama Arata. Tapi isi arak itu adalah racun. Malam pernikahan yang menyenangkan menjadi bencana. Arata benar-benar membenci Hime saat itu. Menginginkan kematiannya, karena itu Hime yang menuruti semua keinginan Arata, meminum sisa arak yang meracuni Arata hingga tandas. Hime memang pantas mendapatkannya, pada akhirnya tubuhnya terbakar dari dalam. Tulang daging semuanya menjadi abu, meninggalkan pakaian merah dan perhiasan pernikahan mereka. Diatas tumpukan tubuhnya yang tidak menyisakan apapun selain abu. Tidak menyisakan apapun..." Sena mulai tersenyum, lebih berusaha lagi agar dapat tertidur di punggung Enkai.
"Apa yang terjadi setelahnya?" tanya Enkai.
"Tidak tau, tapi mungkin Arata akan bahagia melihat kematian Hime. Mungkin rasa dendam dan pengkhianatan yang terbayarkan. Hime terlahir kembali di saat yang sama dengan Arata memecahkan formasi yang mengurung monster 20 tahun lalu? Itu artinya Arata berhenti menjadikan dirinya sebagai segel. Terlahir kembali sebagai bayi mungil. Bukan karena merindukan Hime. Tapi karena tidak ingin Hime hidup. Tidak rela orang yang membuatnya keracunan hingga harus meregang nyawa kembali hidup. Itulah mungkin yang ada difikiran Arata. Saat menginginkan untuk hidup kembali. Hidup agar Hime tidak kembali hidup."
"Hime hanya seorang pengkhianat. Jika terlahir kembali dia memang tidak pantas untuk hidup..." Sena pada akhirnya tertidur, terlalu nyaman dan menikmati saat ini. Jika ini sudah dekat dengan akhir hidupnya. Tidaklah mengapa, dirinya akan tetap mengikuti kata-kata Arata yang tidak menginginkan dirinya hidup.
"Hime tidak mengkhianati Arata. Dia tidak mengetahui apapun. Menerima hadiah pernikahan tanpa tau apa ada racun atau tidak di dalamnya. Mungkin Arata menyesal sudah meminta Hime untuk mati. Memang pria br*ngsek! Yang harus diberi pelajaran! Kamu tau? Di kehidupan yang dulu Sena adalah wanita bernama Hime. Jadi aku akan membawa Sena kabur tanpa rasa bersalah pada Arata! Memang dasar pria tidak becus!" Komat-kamit mulut pria yang emosi itu terdengar. Tidak satu katapun didengar oleh Sena. Tentu saja karena wanita tengah terlelap dalam mimpinya.
__ADS_1
Mungkin karena wanita itu kelelahan. Bagaimana pun rohnya hanya diciptakan dari sebatang pohon. Energi yang dimilikinya tidak begitu banyak, walaupun Arata mengajarkan beberapa sihir padanya 2300 tahun yang lalu.
Ada kalanya, kata-kata yang terucap akan terjadi. Tidak menginginkan Hime hidup? Kala rohnya lenyap, kehabisan energi atau terkena senjata khayangan maka roh wanita itu akan menghilang. Tidak ada Sena atau Hime lagi, tidak akan dapat bereinkarnasi. Roh yang diciptakan benda dari khayangan, juga akan mati olehnya.
Menjadi garda terdepan? Ini lebih beresiko pada Sena. Satu saja goresan senjata dari dewa dirinya akan lenyap. Berbeda dengan monster dan iblis yang memang tidak terikat dengan alam atas, mereka hanya akan mengalami cidera. Jika mati dapat bereinkarnasi lagi.
Hime tidak, roh wanita itu akan lenyap untuk mengabulkan keinginan Arata.
*
"Aku ngantuk!" Sang anak menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Tempat mereka berada saat ini? Tentu saja rumah Aoyama.
Sudah dua hari Enkai menghilang meninggalkan Arashi dan Kairi di rumah tersebut. Jujur walaupun bukan pemakan manusia mereka cukup takut dengan Aoyama dan para pelayannya.
"Kamu kemana saja? Apa mencari orang tua anak itu?" tanya Aoyama penasaran.
"Apanya yang anak kecil, usianya sudah ribuan tahun. Dia dulunya juga pelayan Dewi seperti Hime." Enkai menghela napas kasar mengingat benda yang kemarin ditelannya. Seorang dewa yang tidak bisa memasak? Haruskah dirinya mengajarinya?
"Kompetisi akan segera diadakan. Bagaimana caranya agar menjadi pengawal Sena? Menyusup tanpa sepengetahuan Arata. Kemudian mencuri mantan istrinya?" tanya Arashi tengah berfikir mereka harus segera kembali. Untuk membawa Enkai menjadi Dark Hunter. Mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.
"Kalian ingin menculik nona Hime?" tanya Aoyama menunjuk-nunjuk mereka menggunakan kipasnya.
"Benar! Namanya Sena, dia terlahir sebagai manusia biasa. Kami sudah menikah, ini hanya tentang kehidupan di masa lalu bukan? Berbeda denganku, kami sudah menikah. Aku memang berbuat kesalahan padanya. Bertindak egois, tidak dapat meluangkan satu menit pun waktu bersamanya. Tapi kali ini berbeda, aku akan berhenti menjadi Dark Hunter. Jika Sena kembali." Kalimat demi kalimat dari mulut Enkai membuat Arashi dan Kairi membulatkan matanya.
"Light! Tidak bisa seperti itu! Lalu kami cari makan bagaimana?" tanya Arashi memohon.
__ADS_1
"Benar! Tetap menjadi Light, seorang dark Hunter level S yang pertama ya?" pinta Kairi.
"Kalian ingin membawa nona Hime. Sebaiknya jangan, sudah aku katakan kami setia pada keluarga kerajaan. Aku tidak ingin terlibat dengan kalian. Sebaiknya pergi dari rumahku." Usir Aoyama dengan pupil mata memerah.
*
Sudah cukup baik hati menurut Enkai pria itu bersedia menampung dan tidak melaporkan rencana mereka pada pihak keamanan. Pada akhirnya mereka diusir, berjalan mengikuti seorang anak kecil. Entah kemana tujuannya.
"Kita mau kemana?" tanya Arashi pada sang anak kecil.
"Rumahku, aku memiliki rumah kecil di tepi sungai sebelah barat. Omong-omong, kakak tua berambut putih. Bola energi seharusnya sudah terserap. Bisa coba keluarkan kupu-kupu milikmu?" Ucap Sena menghentikan langkahnya kala berada di tengah hutan.
Enkai mengeluarkan kupu-kupu hitam dan putih miliknya. Kali ini sayap kupu-kupu itu terlihat lebih besar dengan lingkaran aneh bagaikan gelembung membatasi.
"Ini apa?" tanya Enkai tidak mengerti.
"Perintahkan mereka untuk hinggap pada tubuh Arashi, dan Kairi. Juga pada tubuhmu!" perintah sang anak yang menjaga jarak mundur beberapa langkah.
Seperti kata-kata anak aneh ini, Enkai menurutinya.
Mata anak yang ada di hadapan mereka tiba-tiba bersinar."Iblis, monster semuanya akan musnah. Cahaya dari gerbang akan muncul, perintah cahaya purnama untuk menebasmu!" Gumamnya beberapa saat. Anak dengan kekuatan misterius itu, menghujam ribuan daun setajam pisau silet pada mereka. Terakhir mengulurkan kedua tangannya, menembakkan kekuatan energi dengan level bagaikan bom nuklir. Benar-benar sesuatu yang tidak tanggung-tanggung.
Bagaikan dendam untuk membunuh mereka. Hingga asap menipis. Ketiga orang yang diserang oleh Sena, tidak terluka tampa goresan."Kekuatan perlindungan?" Tanya Enkai.
"Lebih dari itu, kupu-kupumu sekarang dapat meninggalkan telurnya pada tubuh monster tanpa takut pada tabir pelindung khusus." Jawaban dari Sena.
__ADS_1