
Tidak ada yang tersisa, hanya wanita ini dalam dekapannya. Dirinya mengeratkan pelukannya, tidak tidur sama sekali semalaman.
Tubuh mereka berbalut selimut tebal, sama sekali tidak mengatakan apapun. Merapikan anak rambut wanita yang kembali mendekapnya.
"Tidak tidur?" tanya Sena padanya, penuh senyuman membuka matanya.
Bagaimana rupa mereka saat ini? Benar-benar berbeda dengan sosok Arata dan Hime. Dua orang yang 2300 tahun lalu terlihat bagaikan pria dan wanita dewasa berusia sekitar 28 tahun, benar-benar lebay dan romantis, kisah cinta penuh gairah saling menggoda. Tapi kini, mereka benar-benar masih muda, wajah pasangan yang masih terlihat manis itu baru berusia 20 tahun.
Suara lonceng angin terdengar dari luar ruangan. Benar-benar tempat yang tenang."Sena setelah ini kita benar-benar akan kembali kan?" Enkai menyakinkan, memeluk Sena lebih erat.
"Aku janji..." Jawaban darinya. Entah jawaban nyata atau tidak. Dua orang dengan wajah yang masih remaja, kembali berciuman. Tidak ada yang mereka lakukan semalam. Hanya tertidur bersama dalam salah satu ruangan.
Kembali keluarga berselisih jalan, bagaikan tidak saling mengenal. Enkai hanya terdiam mengikuti segalanya, jika kemampuannya sebagai Arata kembali setidaknya dirinya dapat tinggal di alam tengah dengan Sena tanpa takut akan alam atas. Hanya mengikuti rencana gila ayah, sahabat dan kekasihnya tanpa mengetahui apa rencana mereka sebenarnya.
*
Hingga hari tengah hari telah menyapa. Pertandingan kembali dimulai. Tapi entah apa yang ada di fikiran Sena. Wanita yang tidak berwujud sebagai anak kecil lagi itu turun dari lantai dua, diikuti oleh sekitar 10 dayang yang berbaris di belakangnya.
Langkahnya mendekati Kairi, sedikit energi yang diserapnya semalam dari Enkai dimasukkan dalam buah khusus, satu-satunya buah langit yang tersisa. Wanita yang melangkah anggun melewati Enkai, bagaikan semalam tidak terjadi apapun diantara mereka.
"Sena?" Kairi mengenyitkan keningnya, menatap wanita di hadapannya.
"Makanlah, ini hadiah dari Arata. Jangan berfikir ini racun." Ucap wanita dengan pakaian merah itu. Sedangkan Enkai hanya melihat ke arah lantai dua tanpa mempedulikan Sena yang ada disana.
Memincingkan matanya, berfikir apa sebenarnya rencana mereka untuk mengembalikan kemampuannya secara paksa.
Dua orang yang kembali berselisih jalan bagaikan dua orang yang tidak saling mengenal. Itulah yang harus mereka lakukan, Sena dengan pemikirannya yang ingin menipu Enkai. Sedangkan Enkai dengan pemikirannya yang rumit, ingin mengikuti keinginan keluarganya. Mengikuti arus, kala kemampuannya berhasil kembali dirinya dapat meyakinkan ayahnya untuk kembali ke neraka.
Tapi apa benar akan semudah itu?
*
Sudah beberapa menit biji buah aneh itu ditelan oleh Kairi. Tidak ada peningkatan apapun yang dirasakannya. Hingga pada akhirnya dirinya dipanggil untuk maju.
"Mampus!" Hanya satu kata itu yang ada dalam otaknya, menelan ludah melihat lawannya kali ini. Seseorang dari ras iblis, memakai pakaian hitam, rambutnya berwarna merah dengan wujud pemuda rupawan. Membawa pedang sabit sepanjang 1,5 meter.
Tanda pertandingan dimulai, terdengar. Kairi semakin menelan ludahnya dirinya ketakutan saat ini.
"Jangan salahkan aku, kamu yang mengantar nyawamu..." Senyuman merekah di wajah sang monster.
Pedang yang dipegangnya terbakar menunjukkan api yang menyala. Benar-benar mengerikan, terutama bagi Kairi.
__ADS_1
Pada akhirnya dirinya berusaha mengeluarkan gas metana. Membelakangi sang iblis, raut wajahnya terlihat benar-benar berusaha. Tapi.
Phus!
Hanya kentut biasa yang keluar. Dirinya benar-benar sial! Buah yang diberikan Sena malah membuat kemampuannya menghilang.
"Bagaimana ini!?" gerutu Kairi sembari berlari, berkeliling area pertarungan.
"Jangan lari! Mati kau!" teriak pemuda yang terlihat berusia sekitar 16 tahun itu, sambil mengayunkan pedang sabit yang tingginya hampir menyerupai dirinya.
"Mama! Tolong!" teriak Kairi ingin menangis rasanya. Tapi dirinya tetap percaya Sena tidak mungkin mengkhianati pria setampan dirinya. Karena itu.
"Api!"
"Air!"
"Tanah!"
"Es!"
"Jaring laba-laba!"
Semuanya diteriakkan olehnya sambil mengulurkan tangannya. Tapi, sialnya tidak ada yang terjadi. Berbaur dalam kepanikan hatinya dirinya hanya dapat kembali berlari dan berlari.
Huas!
Huas!
Huas!
Pedang itu kembali berayun, hendak menyerang dirinya. Melompat, berlari menghindar.
"Mati kau!" teriak sang iblis semakin senang saja.
"Palu petir!"
"Keluar cakar baja dari tanganku!"
"Perisai!"
"Baju besi!"
__ADS_1
"Menjadi monster hijau!"
"Aku bisa terbang dan kuat!"
Komat-kamit dirinya ingin mengeluarkan kekuatan super aneh. Membuat hampir semua orang yang melihat semuanya menahan tawanya.
"Kamu hanya akan menjadi bahan obat!" Sang iblis semakin menyeringai.
Sementara Arashi yang memiliki penglihatan tajam tentang kemampuan Kairi tengah memakan pisang. Memakannya hingga benar-benar habis. Matanya terlihat fokus, bagaimana pun Kairi adalah sahabatnya. Sebagai rasa setia kawan, dirinya haruslah menolong Kairi. Karena itu, berusaha untuk tepat sasaran.
Hus!
Srak!
Brug!
Kulit pisang dilempar tepat di tempat kaki Kairi akan memijak hingga pemuda itu jatuh tersungkur. Benar-benar teman laknat.
"Arashi! Kita bukan teman lagi!" teriak Kairi yang menangis terisak.
"Tidak ada yang mau berteman dengan tukang kentut kecuali aku." Arashi tersenyum, mengalihkan pandangannya, pura-pura tidak melihat.
Takut, tidak ingin mati segalanya bercampur menjadi satu. Kairi benar-benar ketakutan, hendak mengangkat tangannya mengatakan dirinya menyerah. Tapi apa bisa, tubuhnya tidak dapat bergerak, mata iblis itu berubah menjadi hitam sepenuhnya. Diri ini merasa bagaikan dikendalikan bahkan untuk bergerak atau bicara pun sulit.
"Tenang saja, setelah mati aku akan memakanmu dengan baik," senyuman merekah di bibirnya. Dirinya seharusnya di usir dari Dungeon, karena kerap memangsa iblis dan monster lainnya seperti monster ikan yang sebelumnya dilepaskan Furohito di danau.
Tapi entah kenapa, dirinya dibiarkan bebas bahkan mengikuti pertarungan ini. Senyuman terlihat di bibir Sena. Mengetahui kemampuan yang dimiliki Kairi saat ini.
Srak!
Pedang berbentuk sabit, menebas tubuh Kairi. Cipratan darahnya terlihat, bersamaan dengan senyuman yang semakin merekah di wajah sang iblis.
Tapi ada yang aneh, darahnya berwarna hitam pekat. Kairi tidak dapat berkata-kata, kesulitan bagaikan tercekat. Darah yang bergerak statis bagaikan hidup.
"A...apa ini?" gumam sang iblis merasa aneh. Kala cipratan darah hitam itu bergerak. Perlahan menembus kulitnya. Menelan bagaikan seluruh energinya dari dalam.
"Agghhh!" Kairi menjerit, urat-urat di lehernya berubah warna menjadi hitam pekat. Tapi hanya sejenak wajahnya tersenyum. Tanda kesetiaan pada dewa terbentuk di tangan kanannya.
Tubuh iblis itu melemah, benar-benar melemah. Bagaikan kupu-kupu putih milik Enkai, kemapuan yang Kairi dapatkan adalah mencuri kemampuan makhluk lain menggunakan darahnya.
Darah yang mengganas, bergerak bahkan ingin keluar dari area menyerang orang-orang yang menyaksikan. Bagaikan haus akan energi.
__ADS_1
Sang iblis yang menjadi lawan Kairi tiba-tiba menua, tidak dapat berteriak atau menjerit. Berakhir menjadi abu.
Energi terasa di setiap aliran darahnya. Energi yang diserap dari lawannya. Kemampuannya meningkat, drastis. Semua orang menjauhi area mengingat darah itu semakin mendekati semua orang. Terkecuali Enkai dan Arashi tentunya, kedua orang yang masih tetap berada di sana. Untuk menghentikan Kairi yang haus akan energi.