
"Tidak ada..." Jawaban dari Sena penuh senyuman. Bagaimana ini? Enkai tidak dapat marah sama sekali melihat senyuman memuakan itu. Pada akhirnya pemuda itu kembali duduk.
"Sudah terlalu sore, aku pergi dulu. Omong-omong kamu bilang akan bekerja sebagai kasir di minimarket dekat halte bukan? Kita searah, aku juga akan pergi ke halte bis." Ucap Furohito mulai bangkit mengenakan jaket dan mantelnya.
"Iya!" Sena segera bangkit, melepaskan appron-nya, mengambil tasnya dengan cepat."Enkai aku pergi bekerja, banyak-banyaklah istirahat." Pesan dari Sena, entah kenapa untuk pertama kalinya, wanita itu berjinjit mencium pipinya. Sedangkan Enkai bagaikan membeku, enggan bergerak sama sekali. Hingga beberapa belas detik, apa Sena memiliki kemampuan seperti Akihiro, menghentikan waktu? Tapi kenapa Enkai terpengaruh? Namun, sejatinya tidak. Pemuda itu memegang dadanya menghela napas berkali-kali.
Sebelum menyadari istrinya tengah pergi dengan pria lain. Matanya kini menatap ke arah etalase."Wanita si*lan!" hanya itulah umpatan yang tersisa.
Saat ini salju tidak turun sama sekali. Benar-benar kerena searah, dua orang ini berjalan bersama. Furohito sedikit melirik ke arah Sena sembari tersenyum."Kamu menyukainya kan?"
Sena tertunduk, tersenyum malu kemudian mengangguk.
"Ada kesalahan yang tidak dapat dimaafkan. Tapi ada juga kesalahan yang meninggalkan penyesalan. Aku memiliki sebuah cerita tentang itu, tentang orang bodoh yang memaki dengan kata-kata kasar, kemudian menangis hingga ingin mati." Furohito menatap ke arah langit yang tetap terlihat mendung.
"Sena, bagaimana? Apa kamu ingin memperbaiki separuh wajahmu?" tanyanya.
Sena menggeleng."Aku cukup puas dengan kehidupanku saat ini. Tidak ingin berharap lebih, berharap kesembuhan itu terlalu menyakitkan. Saat mengetahui tidak akan mungkin terwujud."
"Bagus! Inilah dirimu, tapi jika suatu saat nanti kamu berubah fikiran, temui aku. Panggil namaku dua kali maka aku akan datang dimanapun kamu berada." Kalimat yang diucapkan Furohito mulai duduk di halte bis. Sedangkan Sena kembali melanjutkan perjalanannya, menuju minimarket kecil tempatnya bekerja, menganggap semua kalimat yang diucapkan Furohito hanya candaan.
Furohito menatap kosong ke arah bis yang baru tiba. Tidak menaikinya sama sekali. Wajahnya tersenyum menyeringai, melihat ke arah punggung Sena yang perlahan pergi ke tempat lain.
Pria akan lebih tertarik pada fisik dibandingkan dengan hati. Seorang pria yang mencintai seseorang wanita karena fisiknya, tidak mengenali hatinya sama sekali. Tapi hanya mencintainya penuh kecurigaan, hingga sampai saat ini.
Konyol bukan? Napsu, cinta, rasa curiga, menganggapnya sebagai pengkhianat, menghancurkan pria itu pada akhirnya. Dirinya melihat sendiri apa yang terjadi padanya 2300 tahun lalu. Seseorang yang mengorbankan hidupnya untuk hal yang tidak penting, mati dalam penyesalan tanpa senyuman sama sekali.
Apa tujuan Furohito? Dirinya menatap ke arah langit ingin membalas segalanya.
Pemuda yang pada akhirnya memasuki bis lain, entah kemana tujuannya.
*
__ADS_1
Tepat pukul 8 malam. Pemuda yang tidak tenang itu mengecek keberadaan Sena, membuat ruang dimensi di bawah mesin kasir, agar tidak ada orang yang terkejut melihat hanya kepala yang keluar.
Namun kala membuat ruang dimensi, Enkai kembali menutupnya."Biru! Kenapa aku melihatnya! Aku bukan tukang intip!" geram Enkai tidak sengaja melihat pakaian dalam Sena yang duduk di kursi kasir.
Pemuda yang kembali berjalan menuju kamarnya dalam apartemen. Seperti biasanya, dirinya akan mengambil misi di kasino.
TV di ruang tamu masih menyala. Menyiarkan secara langsung tentang penangkapan kepala keluarga Zen. Reputasi keluarga mereka hancur, tapi siapa yang peduli? Itulah yang ada dalam fikiran Enkai.
Hingga dering suara phonecell terdengar, phonecell murah yang dibelinya sebulan lalu dari gajinya bekerja di restauran ayam goreng milik Sena. Seseorang menghubunginya, siapa lagi jika bukan nyonya keluarga Zen.
"Ada apa?" tanyanya menyalakan loadspeaker.
"Anak tidak tau sopan santun! Percuma aku membesarkan dan menyekolahkanmu! Kembali ke rumah sekarang!" bentak wanita itu murka.
Mata Enkai sekelebat memerah, tanpa disadarinya."Menyekolahkanku? Aku mendapatkan beasiswa penuh. Dan tentang biaya hidup karena telah membesarkanku, panti asuhan lebih ikhlas dari pada kalian. Aku menjadi supir pribadi tanpa digaji selama dua tahun. Pelayan gratis, sekaligus orang yang mengerjakan kertas ujian serta pekerjaan rumah putramu dari sekolah dasar. Kenapa kalian tidak menitipkanku di panti asuhan saja? Setidaknya beberapa tulang rusukku tidak perlu patah."
"Jika ada yang melukaimu hingga tulang rusukmu patah, kamu tidak akan dapat hidup sampai sekarang! Jangan membual!" Ucap seorang wanita di seberang sana.
"Lalu apa maumu sekarang?" tanya Enkai mencoba untuk lebih tenang.
"Pulang ke rumah! Jangan bawa putri keluarga Wen! Karena kami sudah cukup merawat satu benalu di rumah kami!" jawab wanita yang mungkin tengah dalam kepanikan.
"Tidak..." Hanya itulah jawaban dari jimat keluarga Zen, mematikan panggilan. Phonecell di non aktifkan olehnya, matanya sedikit melirik. Ada yang tidak beres dengan ajudan yang berada di samping Akihiro. Sesuatu yang disadarinya saat melihat siaran langsung.
Enkai meraih laptop yang dibelinya beberapa hari lalu. Memutar ulang siaran langsung di televisi, dan benar saja. Bayangan sang ajudan bergerak berbeda dengan tubuhnya.
"Bukan manusia..." gumamnya, membuat ruang dimensi, mengambil jaket coklat berbahan kain tebal dengan bulu sebagai penutup kepalanya. Kali ini tidak mengganti pakaiannya, atau memakai topeng. Datang sebagai Enkai.
Firasat yang benar-benar tidak enak, dirinya dapat merasakan sang ajudan memiliki kemampuan level tinggi, bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan Akihiro. Awalnya dirinya tidak begitu peduli, namun kini Enkai menyadari, itu bukan energi milik sang ajudan, tapi makhluk yang bersembunyi dalam bayangannya.
Memasuki ruang dimensi, sembari menenteng sepatu olahraga. Benar-benar hanya baru mengenakkan kaos kaki dan sandal selop berbentuk kelinci.
__ADS_1
Teleportasi yang membuatnya ada dalam salah satu bilik toilet. Dengan cepat Enkai membuka pintu, sembari menenteng sandal berbetuk kelinci, usai memakai sepatu olahraganya.
Brak!
"Kita tidak bisa terus seperti ini! Jika perlu tangkap Dark Hunter yang sudah membuat kekacauan!" bentak seorang petinggi militer di ruang rapat. Dengan layar proyektor menampakan gambar Light.
Beberapa petinggi militer juga ada disana. Sebagian besar Hunter level S. Enkai mengelus dadanya yang terkejut, rupanya dirinya kini tengah berada di toilet ruang rapat HO.
"Permisi, maaf aku tersesat..." Ucapnya tertunduk sopan, bagaikan iklan yang lewat kala episode menegangkan terjadi.
Semua orang melirik padanya dengan tatapan tidak biasa.
"Tunggu! Kamu siapa!? Kenapa kamu bisa masuk ke tempat ini!?" bentak orang yang memimpin rapat.
Enkai menelan ludahnya."Mampus!" hanya satu kata itu yang tertahan.
Hingga akhirnya raut wajahnya berubah sedih."Aku adalah anak dari ayah Akihiro. Saat ini usiaku 17 tahun."
"Akihiro punya anak di luar nikah?" tanya seseorang yang memimpin rapat.
Enkai mengangguk."Dia menghamili ibuku saat usianya 16 tahun, dan ibuku berusia 17 tahun. Mereka berencana menikah saat sudah cukup umur. Tapi siapa sangka ibuku meninggal saat melahirkanku..."
Air matanya mengalir, matanya seperti menahan rasa duka."Kami terpisah karena aku ikut nenek dan kakekku. Aku baru bertemu dengan ayah kandungku hari ini. Ingin merasakan bagaimana memiliki seorang ayah. Maaf..." Ucapnya tertunduk, membungkuk 90 derajat.
Anak laki-laki yang malang beberapa petinggi militer yang ada disana menitikan air matanya mendengar cerita memilukan tentang atasan mereka yang br*ngsek.
"Nak! Temui ayahmu, tinggallah dengannya." Ucap sang pemimpin rapat, menepuk bahu Enkai.
"Terimakasih paman," Enkai memeluknya erat, membuat semua orang terharu.
Mari berikan piala Oscars padanya.
__ADS_1